ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 76


__ADS_3

Reyhan dengan setia menemani Syifa yang tak sadarkan diri. Tubuhnya terasa dingin membuat Reyhan semakin cemas.


" Sayang, Mas udah datang. Bangunlah, Mas kangen pengen lihat senyum kamu." lirih Reyhan.


Reyhan menciumi tangan kekasihnya agar gadis itu menyadari kehadirannya. Karena lelah, Reyhan merebahkan dirinya di samping Syifa dan memeluk gadisnya dengan erat. Dia tertidur sambil mendekap kekasihnya dengan penuh kasih sayang. Rasa cinta Reyhan sangatlah besar untuk kekasihnya. Apapun yang terjadi, dia tidak akan pernah meninggalkan Syifa. Bagi Reyhan, Syifa adalah penyemangat dalam hidupnya.


Soni dan Ardan hanya geleng - geleng kepala melihat tingkah Reyhan yang masih saja mencari kesempatan untuk bisa dekat dengan Syifa.


# # #


Pagi hari, waktu shubuh sudah tiba. Seseorang membuka matanya setelah lama tertidur. Dia merasakan tubuhnya berat dan sulit untuk digerakkan.


" Aakkhh...! Apa ini? Kenapa tubuhku sulit bergerak." gumamnya.


Ya, dia adalah Syifa. Gadis itu tersadar dari koma setelah mengalami kecelakaan kemarin. Syifa menoleh ke samping dan kaget melihat siapa yang saat ini memeluknya.


" Mas Reyhan? Kenapa dia ada disini?" batin Syifa.


Beberapa saat yang lalu, Syifa seperti bermimpi melihat kekasihnya yang tengah berbicara padanya. Walaupun Syifa hanya diam, namun Reyhan tak pernah berhenti bercerita.


Syifa berusaha untuk bergerak walaupun tubuhnya terasa kaku. Tangannya perlahan bergerak untuk membangunkan Reyhan. Berkali - kali mengguncangkan tubuh pria itu, namun tetap saja tak ada pergerakan.


Tiba - tiba muncul kejahilan di pikiran Syifa. Dia menghela nafas pelan lalu mencubit pinggang Reyhan dengan keras. Sebelum pria itu menyadarinya, Syifa kembali menutup mata dengan posisi tangan seperti semula.


" Auwww...!" teriak Reyhan.


Reyhan merintih sambil memegangi pinggangnya. Dia langsung turun dari brankar dan mencari siapa yang sudah mengerjainya.


" Siapa yang mencubit pinggangku? Disini hanya ada aku dan Syifa, apa mungkin ada hantu ya? Tidak mungkin, disini tidak ada yang namanya hantu. Syifa, tapi dia belum sadar dari kemarin. Apa aku hanya bermimpi? Tapi rasanya benar - benar sakit." gumam Reyhan.


Syifa yang mendengar gumaman Reyhan mencoba menahan diri agar tidak tertawa. Dia menghirup nafas dalam - dalam tanpa sepengetahuan Reyhan.


Reyhan melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan waktu shubuh. Ia bergegas keluar ruang rawat Syifa untuk sholat shubuh.


" Sayang, Mas keluar sebentar ya? Cepatlah bangun, Mas sangat merindukanmu." bisik Reyhan seraya mencium kening Syifa.


Syifa yang mendengar bisikan Reyhan merasa sangat terharu. Ingin rasanya ia menangis dan memeluk Reyhan saat itu juga. Namun Syifa tetap bertahan dengan memejamkan matanya karena ia ingin bertemu dokter terlebih dahulu untuk mengetahui kondisinya saat ini.


Setelah Reyhan pergi, Syifa menekan tombol untuk memanggil dokter yang berada di samping brankarnya. Tak lama dokter datang bersama seorang perawat. Mereka heran karena di dalam ruangan itu tidak ada orang lain selain pasien yang kini tengah memejamkan matanya.


" Suster, tadi benar yang memanggil dari kamar ini?" tanya Dokter.


" Benar, Dok. Ruangannya benar disini." jawab suster.

__ADS_1


" Tapi disini tidak ada orang, pasien ini sedang koma."


" Mungkin tadi ada keluarganya yang memanggil, Dok."


" Jika mereka memanggil, pasti ada salah satu dari mereka itu ada disini."


Mendengar perdebatan dokter dan suster di depannya, Syifa yang tadinya tertidur membuka matanya.


" Saya tadi yang menekan tombol pemanggilnya, Dokter." kata Syifa.


Dokter dan suster itu terkejut melihat Syifa yang tersenyum ke arah mereka.


" Nona, Anda sudah sadar? Syukurlah, biar saya periksa dulu."


Dokter umum yang berjaga shift malam itu bergerak cepat memeriksa Syifa dan menyuruh perawat untuk menghubungi Dokter yang bertanggung jawab menangani pasien.


" Nona, bisakah Anda menggerakkan kaki? Pelan - pelan saja, mulai dari jemari - jemarinya dulu." kata Dokter.


Syifa mencoba menggerakkan jari kakinya dan berhasil. Dokter memeriksa tekanan darah dan detak jantungnya, semuanya sudah normal.


" Apa Anda merasa pusing, Nona?"


" Tidak, Dok. Tapi lutut saya sakit saat di gerakkan."


" Tidak apa - apa, jangan dipaksakan. Yang penting syarafnya masih normal, ini hanya memar diluar saja yang membuat rasa nyeri di lutut Anda."


" Tidak, Nona. Tapi jangan dipaksakan untuk bergerak dulu. Nanti Dokter yang menangani Anda akan menjelaskannya lebih rinci lagi."


" Terimakasih, Dok."


" Ya sudah, saya keluar dulu. Jika ada yang Anda butuhkan, silahkan menghubungi kami."


" Iya, Dok."


Setelah dokter yang memeriksanya pergi, Syifa kembali tiduran karena tubuhnya masih sangat lemah. Tak lama, Reyhan dan tiga orang lainnya masuk ke ruang rawat Syifa. Melihat gadis itu masih memejamkan mata, mereka merasa sangat sedih.


" Fa, bangunlah. Jika kamu bangun sekarang, aku akan belikan boneka beruang putih yang di Mall waktu itu." kata Deni.


Deni ingat, beberapa tahun lalu Syifa sangat menginginkan boneka itu namun Deni menolaknya. Menurutnya, Syifa sudah dewasa jadi tidak pantas masih bermain boneka.


" Fa, nanti kalau kamu sembuh kita makan bakso langganan kita saat sekolah dulu. Aku masih ingat, kamu sangat suka makan disana." ucap Ardan.


" Iya, Fa. Kamu bangun ya? Abang pengen ajak kamu ke suatu tempat yang indah. Kamu pasti menyukainya." imbuh Sony.

__ADS_1


Reyhan menatap tiga pria di hadapannya. Mereka semua menjanjikan sesuatu pada kekasihnya. Reyhan sangat bersyukur karena kekasihnya di kelilingi oleh orang - orang yang baik.


" Sayang, jika kamu mau bangun sekarang... Mas akan ajak kamu ke Amerika. Mas akan antar kamu melihat patung Liberty secara langsung." kata Reyhan seraya menggenggam tangan kekasihnya.


Syifa yang sebenarnya tidak tidur, bersorak gembira dalam hati. Ingin rasanya ia berteriak sekencang mungkin untuk meluapkan rasa bahagianya.


Syifa sedikit membuka matanya untuk melihat wajah - wajah para pria di hadapannya. Tersirat rasa khawatir dalam raut wajah para pria tampan itu.


Syifa merasa tidak tega mengerjai empat pria yang sangat menyayanginya itu. Tapi dia juga ingin tahu sebesar apa cinta mereka untuknya.


" Sayang, apa kamu tidak lelah tidur dari kemarin? Kamu tidak kasihan sama mama dan papa. Mereka pasti sangat sedih jika tahu keadaanmu seperti ini. Mas tidak berani memberitahukan tentang kamu pada papa dan mama. Mas tidak mau melihat mama dan papa menangis melihat kamu seperti ini lagi." ujar Reyhan.


Reyhan duduk di samping Syifa seraya mengelus lembut puncak kepala kekasihnya itu. Reyhan juga berkali - kali mengecup kening gadisnya itu.


" Son, apa Syifa akan tertidur lama?" tanya Ardan.


" Aku tidak tahu, Dan. Tapi semuanya sudah normal, hanya kakinya saja yang memar, mungkin masih agak sulit untuk berjalan lagi sementara waktu." jawab Sony.


" Saya tidak tega melihat Syifa seperti ini." kata Ardan.


Saat ingin membuka matanya, tiba - tiba dokter datang bersama suster yang membawa obat dan sarapan.


" Permisi, saya mau memeriksa kondisi pasien." kata Dokter Darma.


" Silahkan, Dokter. Tapi... makanan itu untuk siapa?" tanya Sony.


" Itu untuk pasien, memangnya kenapa? Apa ada masalah dengan makanan ini?" tanya Dokter Darma.


" Tapi, Dokter... bukankah Syifa masih belum sadar?"


Dokter Darma terkejut dengan penuturan Sony. Pasalnya tadi pagi ada perawat yang berjaga malam menghubunginya memberitahu bahwa Syifa sudah siuman.


Dokter mendekat ke arah Syifa dan melihat tangan gadis itu sedikit bergerak. Dia tersenyum melihat wajah Syifa yang terlihat menahan diri untuk tidak membuka matanya.


" Saya akan memberikan suntikan untuk nona Syifa biar cepat bangun. Mungkin obat ini nanti efeknya gatal - gatal di seluruh tubuhnya untuk merangsang otot syarafnya bergerak." kata Dokter.


" Tidaakkk...!!!"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2