ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
13


__ADS_3

Sampai di rimah Arini langsung masuk ke kamarnya dan hanya keluar saat mandi dan makan malam. Kemudian masuk kamar lagi dan tak keluar keluar. Kejadian hari ini benar benar membuatnya terguncang dan sakit hati. Tapi anehnya dia tidak bisa menangis meski hatinya sangat sakit.


"Kenapa anak itu? " tanya ayah yang mulai kesal dengan gelagat anak gadisnya yang cuek pada Candra


"Mungkin dia sibuk belajar, mungkin besok di kelasnya ada ulangan yah" ibupun mencari alasan yang tepat supaya ayah tidak ribut lagi.


"Candra, jangan di ambil hati ya! Anak ayah memang seperti itu. Besok ayah akan menasehatinya" kata ayah lagi


"Tidak apa apa ayah, arini masih muda biarkan dia bersekolah dulu dengan baik" kata Candra


"Terimakasih karena kamu sudah sangat pengertian" senyum ayah


Keesokan harinya seperti biasa Arini di antar oleh Candra. Teman teman yang melihatnya pun semakin heboh dan penasaran di buatnya. Tapi Arini cuek mendengar teman temannya berbisik bisik membicarakannya dengan Candra. Arini dengan wajah datar dan dengan langkah yang pasti terus menuju kelasnya. Pemandangan kelas yang membuat Arini sesak nafas di pagi hari. Bagaimana tidak? Pagi pagi sekali Arian sudah bermesraan dengan Cantika.


"Rin cepat taruh tasmu dan ambil sapu! Hari ini kamu piket kebun" kata Arian


"Terus yang lain?" tanya Arini


"Yang lain sudah cuma kamu dan Wira yang belum" kata Arian


"Cepet dikit Rin aku mau ke kantin nih" kata Wira sambil memegang perutnya


"Rin aku temani ya" kata Asti


"Ok... Makasi As"


"Aku mengantar mereka ke kebun dulu ya" kata Arian pada Cantika

__ADS_1


"Kenapa bukan Yudha aja yang mengantar. Atau biar mereka pergi sendiri aja. Yang lain juga sendiri sendiri kalau piket tidak pernah ada yang mengantar" kata Cantika


"Wira orangnya kan curang jadi harus di awasi" kata Arian


"Gimana bawahannya ga curang? Orang mereka kan meniru atasannya" kata Cantika lagi


"Magsudmu apa? " kata Arini geram. Dia merasa kesal karena dialah ketua kelompoknya Wira.


"Sudah jangan diladeni Rin, ini masih terlalu pagi untuk berantem" kata Wira sambil memegangi Arini


"Arian, kamu diam saja di sini temani tuan putrimu jika tidak matanya yang ganjen itu bisa melirik peria lain lagi nanti" kata Arini kesal


Kata kata Arini membuat teman temannya tertawa cekikikan termasuk Arian yang tidak bisa menahan senyumnya. Gadis itu terlihat sangat imut saat kesal


"Sudah sudah ayo jalan" kata Arian


Mereka ber empat kemudian menuju kebun sekolah. Arini dan Wira mulai menyapu dan mengumpulkan sampah dari daun daun yang gugur.


"Aku kira kamu tidak sekolah hari ini" kata Asti


"Hey ngomong ngomong siapa cowok yang kemarin?" tanya Wira penasaran


"Dia sepupuku" kata Arini


"Tapi kata Wati dia calon suamimu" kata Asti


"Gak ngawur dia" elak Arini. Wajahnya pun memerah karena malu

__ADS_1


"Jangan bohong kamu! Berani apa kamu jika dia bukan calon suamimu? Berani kamu tidak lulus ujian? Tanya Wira menggertak


"Iya dia calon suamiku" kata Arini pasrah wajahnya tertunduk dan pipinya memerah


"Hhhaaaaa.... " kata Arian, Wira dan Asti kompak seakan tidak percaya. Mereka mengira itu hanya sekedar gosip saja.


"Kalian tinggal satu rumah? " tanya Adrian yang mulai merasa cemas. Entah dari mana datangnya prasaan cemas ini, dia sangat berharap bahwa apa yang di gosipkan Wati tadi pagi itu salah.


"Iya" jawab Arini. Seketika jawabannya membuat ke tiga temannya semakin kaget tak percaya. Terutama Arian yang hatinya semakin cemas tak karuan. Diapun memalingkan mukanya tak sanggup melihat rona merah pipi Atrini karena lelaki lain


"Terus kalian udah ngapain aja? " tanya Wira


"Gak ngapa ngapain" jawab Arini


"Bohong kamu" kata Wira tak percaya


"Aduh di bilangin gak percaya, emangnya kamu kira aku cewek apaan? " bentak Arini


"Siapa tau kamu di perkosa" kata Wira lagi


"Di perkosa? Emangnya dia berani?" jawab Arini dengan nada sangar


"Iya juga ya? Siapa juga yang berani sama cewek galak kayak kamu? " ledek Wira


"Terus kapan kalian akan menikah? " tanya Asti


"Menikah? Aku tidak suka padanya, aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri. Aku tidak mau menikah dengannya" jawab Arini. Seketika keresahan dalam hati Arianpun sirna. Jawaban Arini membuatnya gembira.

__ADS_1


"Ayo cepat kerja keburu bel nanti" kata Arian sambil memungut sampah yang masih berserakan


"Kesambet setan apa bocah ini? Tumben dia rajin membantu" gerutu Wira. Arini dan Asti hanya bisa melongo melihat tingkah Arian


__ADS_2