
Siang hari, seluruh keluarga memutuskan untuk pulang. Reyhan duduk di belakang bersama Syifa. Biasanya Syifa yang selalu tidur di pangkuan Reyhan. Namun kali ini, Reyhan yang sedang demam langsung tertidur di pangkuan Syifa begitu masuk ke dalam mobil.
" Jangan pergi," lirih Reyhan dalam tidurnya.
" Mas_..." ucap Syifa pelan.
" Jangan tinggalkan aku," Reyhan kembali mengigau.
" Fa, suhu badan Reyhan naik lagi ya?" tanya Sony.
" Iya, kak. Apa kita bawa ke rumah sakit saja?"
" Tidak usah, tapi kita pulang ke Apatemennya saja. Reyhan tidak akan mau jika orangtuanya tahu dia sedang sakit."
" Tapi siapa yang akan mengurus dia disana? Aku harus pulang, ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan." kata Ardan.
" Iya, aku juga ada jadwal operasi sore ini." ujar Sony.
" Biar Syifa aja yang jaga mas Reyhan." ucap Syifa.
Sony tampak berpikir lalu melirik sekilas lewat kaca spion. Dia bisa percaya dengan Syifa, namun dengan Reyhan? Nampaknya Sony belum percaya 100% untuk melepas Syifa berdua saja dengannya.
" Ya sudah, tapi_..."
" Iya, kak. Syifa tahu maksud kakak."
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang, akhirnya mereka sampai di Apartemen Reyhan. Sony menyuruh Syifa untuk memberikan obat pada Reyhan saat dia bangun nanti. Dia harus banyak istirahat karena akan melakukan perjalanan jauh malam nanti.
" Kak, apa Mas Rey bisa melakukan perjalanan jauh dengan kondisi seperti ini?" tanya Syifa.
" Mudah - mudahan saja kondisinya bisa membaik nanti, kakak akan kesini sebelum maghrib untuk cek kondisinya apakah layak jalan atau tidak."
" Terimakasih, kak. Bang Ardan juga..." ucap Syifa nyengir.
Setelah Sony dan Ardan pergi, Syifa mendekati Reyhan lalu duduk di tepi ranjang. Apartemen yang cukup mewah dan pemandangannya sangat indah untuk bisa melihat pemandangan kota dari balkon kamar.
Ini pertama kalinya Syifa melihat pemandangan indah seperti ini dari ketinggian yang cukup membuatnya ngeri juga membayangkan jika jatuh dari sana.
Apartemen ini adalah tempat tinggal Reyhan semenjak masih SMP dulu. Dia jarang sekali pulang ke rumah karena orangtuanya juga lebih sering di luar kota atau luar negeri untuk mengurus pekerjaannya.
Syifa sempat beberapa kali ke rumah Ardan dan Sony, namun belum pernah ke rumah Reyhan ataupun Apartemennya ini. Biasanya Reyhan yang berkunjung ke rumah Syifa sekedar meminta makan katanya.
Jika mengingat masa lalu, Syifa jadi teringat dengan kehidupan keluarganya yang serba pas - pasan karena sang ayah hanyalah seorang guru honorer di sebuah sekolahan swasta. Semenjak masuk ke sekolah SMA, kebutuhan Syifa semakin banyak dan tentu saja ia tak ingin menambah beban orangtuanya. Syifa bekerja paruh waktu setelah pulang sekolah.
Namun, sejak Syifa berteman dekat dengan Reyhan, Ardan dan Sony, kebutuhan sehari - sehari untuk makan tidak pernah kekurangan. Ibunya juga memiliki stok bahan makanan yang cukup banyak di dapur. Jika Syifa bertanya, katanya itu tunjangan dari sekolah tempat ayahnya mengajar. Janggal sih, tapi Syifa tak ingin ambil pusing karena ia yakin orangtuanya akan memakan makanan halal.
Kembali ke masa sekarang, Syifa sangat beruntung karena semenjak kedua orangtuanya meninggal ia dipertemukan dengan sosok orangtua baru yang juga sangat menyayanginya. Syifa tak pernah menyangka jika orang yang telah merawatnya selama ini adalah orangtua Reyhan.
__ADS_1
" Kenapa melamun... hmm?" dua tangan kekar melingkar sempurna di perut Syifa membuat gadis itu kaget. Lamunannya seketika buyar begitu saja.
" Auwww! Mas... kenapa mengagetkanku?" sungut Syifa.
" Mas udah panggil - panggil kamu tadi beberapa kali tapi kamu tidak dengar, sayang." sahut Reyhan dengan tersenyum manis. Wajahnya sudah tak sepucat tadi pagi.
" Benarkah? Mas pasti bohong,"
Reyhan membalikkan tubuh Syifa lalu menatap lekat wajah gadis itu dengan intens. Senyum simpulnya membuat Syifa merinding dengan posisi saat ini.
" Cantik... aku pasti akan merindukanmu di setiap helaan nafasku." bisik Reyhan.
" Cepatlah kembali, Mas. Aku tidak mau jauh lagi darimu." ucap Syifa pelan.
" Dimanapun aku berada, kau akan selalu dihatiku. Jika kau merindukanku, tutup matamu dan sebut namaku. Rasakan kehadiranku di dalam jiwamu, rasakan belaian kasih dalam desiran angin, percayalah hati kita menyatu." lirih Reyhan.
Syifa tidak mampu berkata apapun, dia hanya menenggelamkan wajahnya pada dada bidang kekasihnya. Gadis itu terisak kecil dalam dekapan Reyhan yang semakin erat.
" Hey... jangan menangis, sayang. Semua pasti baik - baik saja." ujar Reyhan.
" Apa mama tidak keberatan Mas pergi secepat ini?" tanya Syifa.
" Tidak, mama tahu posisiku saat ini. Dulu beliau juga begitu, meninggalkanku demi tanggung jawabnya. Kini aku sadar, mama dan papa bukan tidak sayang padaku. Mereka hanya ingin memberikan masa depan yang terbaik untukku, menjamin kehidupanku agar bisa layak dan mendapatkan pendidikan tinggi." jawab Reyhan.
Syifa meraba kening Reyhan untuk mengecek suhu badannya. Nampaknya pria itu sudah lebih baik dan suhu tubuhnya sudah turun.
" Sudah tidak panas, aku pesan makanan dulu ya habis itu minum obat lagi." kata Syifa.
" Ish... kebiasaan!"
" Hahahaa... kau sangat menggemaskan, sayang. Mas jadi tidak rela meninggalkanmu disini, ikutlah bersamaku ke New York."
" Tidak mau, Syifa lebih senang tinggal sama papa dan mama daripada sama Mas yang mesum ini."
Reyhan mencium kening Syifa sekilas lalu melepaskan pelukannya dan kembali ke dalam kamar. Dia mencari baju ganti di lemari yang sudah lama ia tinggalkan.
" Sayang, cepatlah pesan makanan. Mas udah lapar, soalnya mau makan kamu belum boleh." goda Reyhan.
" Ish... memangnya Mas mau makan apa?" sahut Syifa sebal dengan godaan Reyhan.
" Makan kamu aja deh,"
" Maasss...!"
" Iya, sayang. Terserah kamu aja, jangan ngambek dong."
Reyhan bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri agar tubuhnya lebih fresh. Sementara Syifa merebahkan tubuhnya di sofa seraya menunggu makanannya datang. Entah berapa lama ia bermain ponsel, Syifa tidak sadar jika Reyhan sudah duduk di sampingnya dengan dua piring makanan yang sudah tersedia di meja.
__ADS_1
" Sayang, makan dulu! Main ponsel sampai fokus gitu." kata Reyhan.
" Hah... Mas udah selesai mandinya? Kok makanannya udah datang Syifa nggak tahu?" sahut Syifa bingung.
" Kamu terlalu fokus dengan film horormu itu sampai tidak dengar dari tadi kurir memencet bel." Reyhan mengacak rambut gadisnya dengan gemas.
" Hehehee... udah lama Syifa nggak main ponsel," ucap Syifa nyengir.
" Udah, makan dulu terus pulang. Mau Mas suapin?"
" Tidak usah, Syifa bisa makan sendiri."
Mereka berdua segera makan dengan lahap karena sudah sangat lapar. Sesekali Reyhan menyuapi Syifa yang masih fokus dengan film di ponselnya.
Selesai makan, mereka bersiap untuk pulang ke rumah. Syifa memesan taksi online karena tidak ingin merepotkan orang rumah.
" Sayang, barang kamu udah dibawa semua?" tanya Reyhan.
" Udah, Mas. Mas nggak pernah ajak Syifa kesini waktu masih sekolah? Pemandangan dari sini sangat indah, pasti menyenangkan tinggal di tempat ini."
" Memangnya mau ngapain? Mau berduaan ya sama Mas?" goda Reyhan.
" Ish... kan bisa kesini dengan kak Sony dan Ardan."
" Tapi Mas lebih suka kalau berduaan saja denganmu, sayang." Reyhan mendekatkan tubuhnya ke arah sang kekasih.
" Apaan sih? Mundur sana! Sebentar lagi taksinya datang," Syifa mendorong tubuh Reyhan.
Bukannya mundur, Reyhan malah meraih tubuh gadis itu lalu mendorongnya hingga jatuh keatas tempat tidur. Dengan cepat, Reyhan mengungkung tubuh Syifa hingga gadis itu terperanjat kaget.
" Maasss! Apa yang kau lakukan!" pekik Syifa.
" Kau suka?" goda Reyhan.
" Lepas! Mas keterlaluan!" sungut Syifa.
" Apa kau tidak ingin membuat kenangan disini?" bisik Reyhan.
Syifa menatap tajam kekasihnya yang sedang tersenyum seraya membelai pipinya dengan lembut.
" Kenangan apa?"
.
.
TBC
__ADS_1
.
.