ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 27


__ADS_3

Malam hari, mereka bertiga sedang bersiap - siap untuk berangkat ke Bandara. Syifa membantu Reyhan mengemas pakaiannya ke dalam koper.


" Fa, jangan terlalu banyak. Lagian aku tidak bisa lama di Indonesia." ujar Reyhan.


" Jadi kau tidak akan menetap di Indonesia?" tanya Syifa dengan tatapan tajam.


" Fa, kau sendiri tahu aku menanggung hidup ribuan karyawan disini. Aku tidak bisa meninggalkan semua ini begitu saja."


" Demi mereka kau akan meninggalkan orangtuamu?"


" Bukan begitu, aku_..."


" Kau juga akan melupakanku demi mereka?"


Reyhan menatap lekat wajah gadis di hadapannya itu. Nampak gurat kekecewaan dalam tatapan matanya. Reyhan tidak tahu harus bagaimana sekarang. Jika ia menetap di Indonesia, bagaimana dengan bisnis yang ia bangun dengan bersusah payah selama ini. Ribuan karyawan juga bergantung hidup padanya.


Reyhan juga tidak bisa meninggalkan Syifa begitu saja, gadis yang sudah menjadi penyemangat hidupnya selama ini pasti akan tersakiti.


" Fa, menikahlah denganku. Kita akan tinggal disini bersama - sama. Membangun keluarga kecil dengan kasih sayang bersama anak - anak kita nantinya." ucap Reyhan.


" Tidak usah memikirkan diriku, kau berhak menentukan jalan hidupmu sendiri. Tujuanku datang kesini hanyalah sebagai ungkapan rasa terimakasih dan baktiku kepada orangtuamu. Aku hanya ingin memenuhi kewajibanku sebagai anak untuk menjalankan amanah orangtua."


" Bukan itu jawaban yang kuinginkan. Jawab aku dengan jujur, apa kau mencintaiku?"


" Apa jika aku menjawabnya, semuanya akan berubah?"


" Tergantung pada hatimu, semua keputusan ada di tanganmu."


Reyhan menghela nafas panjang seraya memejamkan matanya. Sungguh keputusan yang berat jika harus memilih salah satu.


" Fa, aku tidak akan memilih. Semuanya sangat penting bagiku, dirimu, orangtuaku dan S.A Properties. Aku akan adil untuk semuanya."


" Adil?"


" Ya, kau mau kan menikah denganku?"


Syifa berfikir sejenak seraya merapikan pakaian Reyhan yang tidak jadi di packing.


" Aku pikir - pikir dulu ya?" kata Syifa datar.


" Masya Allah, harus bagaimana lagi agar aku bisa mendapatkan hati gadis keras kepala ini." keluh Reyhan.


Reyhan memeluk Syifa dari belakang sehingga pakaian yang ia bawa berhamburan ke lantai.


" Reyhaannn!" pekik Syifa.


" Jawab dulu, aku butuh kepastian darimu."


" Kau aku menolak?"


" Kita tidak akan pulang dan kau jadi tawananku disini selamanya."


" Kalau aku menerima?"


" Kita akan tinggal disini untuk selamanya bersama anak - anak kita."


" Bedanya menolak dan menerima apa?"


" Tidak ada, kau akan bebas jika nyawaku sudah berpisah dari raganya."


Reyhan semakin mengeratkan pelukannya dan menyandarkan dagunya di bahu Syifa. Dia tahu gadis dalam dekapannya itu sudah mulai tenang.


" Lepaskan pelukanmu, sebentar lagi kita berangkat."


" Jawab dulu, sayang."


" Iya," jawab Syifa singkat.


" Iya apa?" tanya Reyhan dengan tersenyum bahagia.


" Iya, terpaksa!" sahut Syifa datar.

__ADS_1


" Kok terpaksa sih, sayang? Yang ikhlas dong?"


" Lepasin dulu, baju kamu berantakan semua!"


" Biarkan saja, itu tugas para pelayan. Bukan nona muda Aditama."


Reyhan menarik lengan Syifa menuju ke tempat tidur dan mendudukkan gadis itu disana. Senyumnya terkembang sempurna mengingatkan Syifa saat Reyhan sedang bersama ayah dan ibunya dulu. Reyhan yang biasanya pendiam dan lebih suka menyendiri, bisa bercanda dan tertawa bahagia saat bersama orangtua Syifa.


" Aku melihat senyum ini lagi setelah sekian lamanya, Rey. Kau tidak bisa menunjukkan senyumanmu ini pada orang lain selain kedua orangtuaku. Sekarang aku bisa melihatnya langsung di hadapanku." ucap Syifa bahagia.


Reyhan menyandarkan kepalanya dalam pangkuan Syifa. Ada kerinduan dalam hatinya saat mengenang sosok kedua orangtua Syifa. Mereka yang tidak punya hubungan darah saja bisa memberikan kasih sayang begitu tulus padanya.


Dulu, sebenarnya Reyhan tahu jika Syifa bekerja paruh waktu setiap pulang sekolah. Namun dia berpura - pura tidak tahu karena takut Syifa tersinggung jika dia ingin membantu keuangan keluarganya.


Tanpa sepengetahuan Syifa, Reyhan sering sekali membawakan bahan makanan seperti beras, minyak dan yang lainnya. Walaupun awalnya orangtua Syifa menolak, namun Reyhan dapat meyakinkan mereka bahwa Reyhan juga sering meminta makan disana dan harus ikut membantu kebutuhan sehari - hari mereka.


" Ayah dan ibu sangat baik, Fa. Sesuap nasi yang mereka berikan padaku tak bisa ditukar dengan bongkahan emas dan permata. Kau ingin mendengar suatu rahasia yang aku sembunyikan darimu dan teman yang lainnya?" ucap Reyhan.


" Rahasia apa?"


" Tapi janji jangan marah, ya?"


" Iya, cepat katakan!"


" Sebenarnya aku tahu kalau kamu kerja part time sepulang sekolah. Bukan semenjak kamu menghilang, tapi saat kita masih sekolah dulu."


" Cuma itu?"


" Tidak, sebenarnya saat kamu sedang bekerja aku sering datang ke rumahmu untuk meminta makan... hehehe," ucap Reyhan dengan senyum kecilnya.


" Kamu sering datang ke rumah?"


" Iya, habisnya aku selalu merindukan masakan ibu. Walaupun sederhana tapi terasa nikmat."


" Pantas saja beras di rumah cepat habis," cibir Syifa.


" Jangan asal, memangnya kamu pernah masak. Kamu pikir beras itu yang beli siapa?" sahut Reyhan.


" Ngasal, beras itu aku yang beli."


" Masa' sih?"


" Beneran, setiap seminggu sekali aku yang membeli bahan makanan. Awalnya ayah dan ibu menolak, namun aku terus memaksanya. Bagaimanapun juga, aku sudah menganggap mereka sebagai orangtuaku. Kewajiban seorang anak adalah mengurangi beban orangtuanya."


" Sekarang kamu tahu kan, betapa pentingnya orangtua bagi anaknya? Selagi kita mampu, jangan pernah mengatakan ' tidak ' padanya."


Reyhan jadi merasa bersalah terhadap kedua orangtuanya. Dia semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di punggung Syifa.


" Jangan pernah tinggalkan aku, Fa. Bantu aku untuk bisa menghapus rasa kecewaku pada papa dan mama. Aku ingin kau selalu ada di sisiku selamanya."


" Iya, Rey. Aku akan selalu ada untukmu, tidak akan pernah meninggalkanmu."


Tak lama, pintu kamar diketuk seseorang dari luar. Biasanya hanya Steven yang berani naik ke kamarnya. Reyhan segera beranjak untuk membuka pintu.


" Stev, kau sudah datang. Semuanya sudah siap?"


" Iya, Rey. Satu jam lagi privat jet lepas landas."


" Apa Cathy ikut?"


" Tidak, tadi dia pergi dengan David."


" Baiklah, kau tunggu di bawah saja. Saya akan turun sebentar lagi."


Reyhan kembali menutup pintu dan menghampiri Syifa yang sedari tadi diam menunggunya. Dengan tersenyum, Reyhan langsung duduk di samping Syifa.


" Sayang, sebenarnya aku ingin bersamamu disini lebih lama tapi kita tidak punya waktu. Kita harus hadir di pernikahan Ardan, dia sangat mengharapkan ada kamu disana."


" Kenapa dia nggak kasih tahu aku kalau mau menikah? Padahal kami sering bertemu, tapi dia merahasiakan pernikahannya dariku." gerutu Syifa.


" Apa kau cemburu?"

__ADS_1


" Udah, ayo berangkat. Aku pengen cepet ke makam ayah dan ibu."


" Iya, sayang. Sini biar barangnya aku yang bawa."


Reyhan turun ke bawah dengan membawa koper dan tas milik Syifa. Sampai di bawah, Reyhan memperkenalkan Syifa dan Steven.


" Stev, ini Syifa. Kau tahu siapa dia, kan?" kata Reyhan.


" Iya, Boss. Senang bertemu Anda, nona Syifa. Saya, Steven. Asisten Reyhan di S.A Properties."


" Kenapa namanya S.A Properties?" tanya Syifa.


Stev dan Reyhan saling pandang lalu tersenyum bersama. Reyhan meraih jemari Syifa lalu menggenggamnya erat.


" Itu adalah nama kamu, sayang. Syifa Azzahra Properties." jawab Reyhan.


" Benarkah? Kau pasti bohong!"


" Aku tidak pernah berbohong, sayang. Perusahaan itu aku bangun khusus untukmu."


" Terserah kau saja!"


Sony sudah keluar dari kamarnya, lalu mereka segera berangkat ke Bandara. Sudah tidak sabar rasanya untuk menginjakkan kaki di tanah kelahiran.


Reyhan terus saja menggandeng tangan Syifa tanpa berniat untuk melepaskannya sedetikpun. Gadis itu terus berusaha melepasnya namun genggaman Reyhan semakin erat.


" Rey, lepasin! Nggak malu apa dari tadi kayak gitu!" sungut Syifa.


" Aku takut kamu pergi lagi, Fa. Aku tidak akan membiarkanmu jauh dariku." ucap Reyhan sendu.


" Heh... ngebet amat sih? Makanya halalin dulu tuh adik kesayanganku!" Sony melepas paksa genggaman tangan Reyhan lalu membawa Syifa masuk ke dalam mobil.


" Apaan sih? Ganggu aja!" ucap Reyhan kesal.


Syifa sudah duduk di depan bersama dengan Steven membuat Reyhan semakin kesal saja.


" Nona, sebaiknya Anda di belakang dengan Reyhan. Dia bisa mengamuk nanti." bisik Steven.


" Biarkan saja, sekali - kali jangan dituruti keinginannya yang tak masuk akal." sahut Syifa.


" Sayang, turunlah! Kau di belakang saja bersamaku." seru Reyhan.


" Apa bedanya sih, Rey? Di depan atau belakang juga sama - sama duduk." sahut Syifa menahan senyumnya.


Reyhan yang kesal langsung pergi kembali masuk ke dalam rumah. Waktu sudah hampir habis tapi mereka malah membuat drama tidak berujung.


" Rey, cepetan! Kita sudah terlambat!" teriak Syifa.


" Nona, saya sudah bilang jangan membuatnya marah. Dia pasti membatalkan keberangkatannya kalau begini." keluh Steven.


" Kenapa kelakuannya seperti anak kecil, suka ngambek." gerutu Sony.


" Ya sudah, aku bujuk Reyhan dulu." ucap Syifa.


Syifa masuk ke dalam rumah mencari Reyhan namun tidak ada. Syifa tanya pada seorang pelayan yang lewat namun tak melihatnya juga.


Saat hendak naik ke atas, tiba - tiba Syifa keluar dari salah satu kamar tamu.


" Rey, jangan marah ya? Maaf," kata Syifa yang langsung memeluk Reyhan.


Reyhan yang tadinya bingung dengan sikap Syifa tiba - tiba memiliki ide untuk mengerjainya.


" Lepas! Jangan peluk aku!"


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2