ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 45


__ADS_3

Lima hari sejak pemesanan perhiasan itu, kini pemilik gerai itu datang langsung untuk mengantarkan barang tersebut kepada Reyhan. Dia tidak mempercayai kurir untuk mengantarkannya karena barang itu sangatlah mahal.


" Permisi, Nona. Saya ingin bertemu dengan Presdir." kata pria paruh baya itu kepada pegawai resepsionis.


" Maaf, Tuan. Apakah sudah ada janji?"


" Saya mengantar barang pesanan Mr. Reyhan dan tidak bisa diwakilkan orang lain. Nona Catherine yang meminta saya mengantarnya kesini."


" Tunggulah sebentar, saya akan menghubungi nona Cathy."


Beberapa saat kemudian, Cathy yang baru pulang dari meeting langsung mengenali pemilik gerai perhiasan itu.


" Tuan, Anda sudah datang?" sapa Cathy.


" Iya, Nona. Saya membawa pesanan Anda kemarin. Saya ingin Tuan Reyhan melihatnya langsung, jika ada yang kurang saya bisa memperbaikinya."


" Baiklah, ikutlah kami keatas supaya kita bisa bicara lebih nyaman." ucap Cathy ramah.


Pemilik gerai perhiasan itu berkenalan dengan Reyhan sekaligus ingin menyerahkan perhiasan milik presdir itu.


" Silahkan dibuka, Tuan. Mudah - mudahan Anda menyukai design saya."


" Itu sudah dirubah designnya sama calon suami saya, Tuan." peringat Cathy.


Reyhan membuka kotak perhiasan itu dan mengambil kalung berlian dengan liontin ber-inisial AA dengan ukiran nama Reyhan - Syifa di sekelilingnya.


" Ini sangat bagus, saya menyukai hasil karya Anda." kata Reyhan.


" Terimakasih, Tuan. Tapi itu semua ide dari calon suami Nona Cathy."


" Kurasa semua sudah terlihat bagus, tidak perlu di rubah lagi."


" Terimakasih, Tuan. Semoga hasilnya memuaskan untuk wanita yang memakai ini."


" Besok antarkan lagi satu set perhiasan yang paling bagus untuk ibu saya, tidak perlu yang khusus yang penting terlihat menarik."


" Baik, Tuan. Besok saya akan membawa beberapa barangnya agar Anda dapat memilihnya langsung."


" Ok, datanglah setelah jam makan siang."


" Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi."


" Silahkan!"


Cathy mengantar pemilik gerai perhiasan itu sampai ke depan lift. Setelah itu, ia kembali ke ruangannya sendiri untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Sementara di dalam ruangan presdir, Reyhan mengamati kalung yang berada di tangannya. Kalung simple namun harganya sangat fantastis. Jika Syifa tahu harganya sangat mahal, pasti gadis itu akan menolak pemberiannya. Harganya yang mencapai Rp.1,5 M itu sengaja dibuat sederhana walaupun di setiap sisinya adalah taburan berlian dan beberapa butir mutiara.


Reyhan tersenyum sendiri membayangkan ia memakaikan kalung itu di leher gadisnya. Tak sabar rasanya ia ingin segera pulang ke Indonesia.


Tanpa Reyhan sadari, Steven masuk membawa setumpuk berkas di tangannya untuk segera di tanda tangani. Steven heran dengan tingkah bossnya yang semakin lama membuatnya pusing.


" Boss, saya mau minta tanda tangan." ucap Steven dengan nada normal.

__ADS_1


Satu kali,


Dua kali,


Tiga kali,


Hingga keempat kalinya, Steven sudah tidak bisa bersabar lagi. Dia tidak lagi memperhitungkan posisinya kali ini. Dengan menghirup nafas panjang, Steven mendekati Reyhan yang sedang tersenyum sendiri.


" Reyhaannn...!!!" teriak Steven sekencang mungkin hingga terdengar sampai ke ruangan Cathy diluar. Ruangan itu memang tidak di senyapkan jika tidak ada pembicaraan penting yang bersifat rahasia.


" Astaghfirullah...!" pekik Reyhan terlonjak dari tempat duduknya.


Cathy yang kaget langsung berlari menghampiri ruangan bossnya takut terjadi hal buruk. Steven dengan santainya langsung duduk di sofa tanpa merasa berdosa sama sekali.


" Hey... ada apa ini?" tanya Cathy bingung.


" Hah...! Beraninya kau berteriak padaku!" hardik Reyhan.


" Maaf, Boss. Saya pikir Anda memakai earphone." sahut Steven dengan tersenyum.


" Kau mau saya jantungan dan mati... hah!" teriak Reyhan penuh amarah.


" Sabar, Boss. Duduklah, minum dulu biar tenang." ucap Cathy mengusap pelan punggung Reyhan.


Reyhan segera minum air mineral yang disodorkan oleh Cathy namun masih menatap tajam Steven.


" Stev, apa yang kau lakukan pada Reyhan!" seru Cathy.


" Aku hanya minta tanda tangan untuk berkas - berkas ini." sahut Steven.


" Maaf, Boss. Tadi sudah berkali - kali saya memanggil boss tapi tidak dengar, ya terpaksa saya teriak." ucap Steven.


" Sekali lagi kau berulah, saya lempar dari atap gedung ini!" geram Reyhan.


" Sekali lagi saya minta maaf, Boss."


" Mana berkasnya?"


" Ini Boss, hari ini juga harus selesai semuanya."


Setelah menyimpan perhiasan miliknya, Reyhan kembali fokus dengan pekerjaannya. Dia tak ingin gadisnya kecewa jika ia gagal meraih kariernya di negeri orang.


# # #


Sudah hampir satu bulan Reyhan di Amerika. Syifa memintanya pulang untuk menghadiri pernikahan Rendi dan Bella. Sesuai kesepakatan di awal, uang mahar 500 juta itu akan diserahkan oleh Reyhan, Ardan dan Sony saat akad nikah dilakukan. Mereka akan menjadi saksi dari pihak mempelai pria agar keluarga Bella tidak berani macam - macam.


Reyhan tidak memberitahu Syifa kapan ia akan tiba di Jakarta. Dia akan memberikan kejutan untuk kekasihnya saat tiba nanti. Kali ini dia pulang membawa Cathy karena gadis itu merengek ingin melihat negara tempat kelahiran Reyhan. Mereka berdua naik penerbangan umum karena rengekan dari Cathy juga.


" Rey, nanti aku tinggal dimana kalau sudah sampai di Indonesia?" tanya Cathy.


" Nanti ada tempat penampungan imigran gelap disana, kau boleh menginap sepuasnya disana." gurau Reyhan namun dengan wajah serius.


" Rey, aku tidak mau tinggal di tempat penampungan. Kau tega sekali padaku," sungut Cathy.

__ADS_1


" Sudah, jangan menangis. Malu dilihat penumpang yang lain."


" Tapi boleh ya tinggal di rumahmu?"


" Huft... baiklah, nanti kau boleh ikut."


" Yeah! Thank you, Boss." seru Cathy.


" Hmm... tidurlah! Perjalanan masih panjang." titah Reyhan.


Cathy segera menyandarkan tubuhnya ke belakang dan mulai berkelana ke alam mimpi. Perjalanan panjang yang sangat melelahkan merupakan pengalaman pertamanya ke negara yang sangat jauh. Cathy tidak pernah menyangka bisa pergi sejauh ini. Kehidupan masa kecilnya yang serba kekurangan membuat dirinya tak ingin berangan - angan terlalu tinggi.


Kehidupannya mulai membaik sejak kakaknya, Steven mengenal Reyhan dan ikut membangun S.A Properties. Sekarang kehidupannya terbilang lebih dari cukup.


Sementara itu, Reyhan yang belum bisa memejamkan matanya lebih memilih bermain game offline di ponselnya. Hanya kegiatan itulah yang bisa ia lakukan jika di dalam pesawat karena ponsel tidak boleh di aktifkan.


Sesekali ia melirik Cathy yang tertidur lelap di sampingnya. Walaupun mereka seumuran, entah mengapa Reyhan memperlakukan Cathy seperti adiknya sendiri. Seperti halnya hubungan Sony dan Syifa.


Ah! Nama gadis itu selalu saja berputar di benaknya. Syifa Azzahra, gadis pertama yang membuat jantungnya berdebar sangat kencang. Reyhan selalu berdo'a agar Syifa juga menjadi wanita terakhirnya.


" Sayang, aku sangat merindukanmu. Tunggulah aku sebentar lagi, kita akan bersama lagi." batin Reyhan.


Reyhan mencoba untuk memejamkan matanya agar waktu tak terasa lama jika ia bisa tidur. Cathy yang banyak tingkah malah menyandarkan kepalanya di bahu Reyhan tanpa sadar.


" Nih bocah malah sandaran sih? Tidak tahu apa kalau dia itu berat." rutuk Reyhan dalam hati.


Tanpa terasa, sudah belasan jam mereka di dalam pesawat. Akhirnya mereka mendarat dengan selamat di Bandara Soekarno - Hatta. Reyhan mengajak Cathy untuk naik taksi karena memang dia tidak memberitahu siapapun tentang kepulangannya malam ini bersama sekretarisnya.


" Rey, negaramu sangat indah!" seru Cathy.


" Welcome to Indonesia, Miss New York..." kata Reyhan dengan bangga mengenalkan tanah airnya kepada warga asing.


" Wow... it's very beautifull." ucap Cathy sumringah.


" Nanti saya ajak jalan - jalan keliling kota bersama Syifa." ujar Reyhan.


" Thank you, tidak sabar ingin segera bertemu dengan Syifa." celoteh Cathy penuh semangat.


Dalam waktu satu jam, mereka sudah sampai di kediaman orangtua Reyhan. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh, mungkin semua orang sudah tidur.


Reyhan masuk bersama Cathy yang sedari tadi menggandeng lengannya karena dia takut dengan tatapan aneh para pegawai di rumah Reyhan.


" Are you okey, Cath?" tanya Reyhan.


" Yes, I'm fine." jawab Cathy singkat.


Cathy terus menautkan tangannya di lengan Reyhan hingga sampai di depan pintu utama. Saat akan membuka pintu, tiba - tiba pintu terbuka dari dalam dan muncullah sosok yang sangat ia kenali sedang menatapnya tajam.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2