
" Sebenarnya... Nona ingin_..." ucap Danang pelan.
" Mas Rey...! Ayo sarapan..." teriak Syifa dari teras.
Belum juga Danang selesai bicara, Syifa sudah muncul di hadapannya.
" Iya, sayang. Kenapa teriak - teriak sih?" kata Reyhan.
" Kalian sedang membicarakan apa?" selidik Syifa yang melihat dua pria di hadapannya tampak serius.
" Tidak ada yang dibicarakan, ayo masuk!" sahut Reyhan.
Reyhan merangkul bahu kekasihnya dengan mesra. Gadis itu terlihat sangat cantik pagi ini dengan pakaian kerjanya.
" Udah cantik dan wangi, boleh_..."
" Stop! Jangan banyak tingkah." seru Syifa.
" Mas yang antar ke kantor ya, sayang?"
" Tidak usah, kekasih setiaku udah jemput."
" Sayang...!" rengek Reyhan.
Reyhan terus saja menempel pada Syifa hingga sampai ke meja makan. Dia tidak peduli dengan tatapan aneh Cathy dan kedua orangtuanya.
" Sarapan dulu, memangnya semalam belum puas?" ledek papa.
" Puas apa, Pa?" tanya mama.
" Papa ngaco ngomongnya." sahut Reyhan.
" Semalam boss kemana? Cathy cari di kamar tidak ada, mau pinjam ponsel buat telfon Stev." kata Cathy.
" Ada di kamar, kau saja yang tidak melihatnya."
" Sudah, ayo sarapan dulu. Cathy, nanti kamu ikut mama ke butik sekalian jalan - jalan." kata mama Salma.
" Iya, Mom. Terimakasih." sahut Cathy senang.
Usai sarapan, mereka pergi untuk melakukan aktifitasnya masing - masing. Reyhan ikut Syifa ke kantor karena tak mau berpisah dari gadisnya.
" Maaf ya, Non. Berangkatnya kepagian ya? Jam kerja saya memang satu jam lebih awal dari karyawan yang lain."
" Tidak apa - apa, Nang."
Syifa memasuki lift menuju ruangannya diikuti Reyhan. Belum banyak karyawan yang datang, hanya para cleaning service dan OB.
# # #
" Rey, papa sangat berharap kamu bisa memimpin perusahaan ini. Hanya kamu satu - satunya penerus papa." ujar papa Hendra.
Kini Reyhan sedang berada di dalam ruangan Presdir bersama papanya, Tuan Hendra Aditama.
" Maaf, Pa. Tapi Reyhan sudah punya perusahaan sendiri yang lebih besar dari perusahaan ini. Reyhan tidak bisa meninggalkannya begitu saja."
" Tapi sampai kapan Rey? Papa tidak mungkin selamanya mengurus perusahaan ini sendiri."
" Papa bisa mempercayakan perusahaan ini pada Syifa. Rey yakin Syifa bisa mengelola perusahaan ini dengan baik."
" Tapi, Rey_..."
" Pa, tidak ada bedanya antara Reyhan atau Syifa. Dia adalah calon istri Reyhan, akan menjadi anak papa juga."
__ADS_1
" Papa tidak bisa melakukannya sebelum kalian menikah."
" Rey butuh waktu, Pa. Syifa belum mau jika nantinya diajak pindah ke Amerika. Dia tidak mau meninggalkan papa dan mama."
Papa Hendra memikirkan cara agar Reyhan bersedia menetap di Indonesia dan tinggal bersamanya.
" Rey, papa punya saran untuk masalah kamu."
" Saran apa, Pa?"
" Pindahkan kantor pusat S.A Properties di Jakarta jadi yang di Amerika akan menjadi kantor cabang yang bisa kau serahkan pada orang kepercayaanmu."
" Apa bisa begitu, Pa? Pasti butuh proses yang lama."
" Iya, kau bisa mencari klien disini dan anak buahmu bisa handle klien yang disana. Dan kau juga tidak perlu berpisah dengan Syifa."
" Saran papa bagus juga, Reyhan tidak berpikir sampai kesana. Nanti Rey bicarakan dulu dengan asistenku disana."
" Jangan terlalu lama, takut cinta Syifa semakin goyah tanpa kepastian yang jelas."
Reyhan terkekeh dengan ucapan papanya. Dari kecil memang Reyhan sangat dekat dengan papanya sehingga tidak ada yang bisa ia tutupi dari pria paruh baya itu.
" Syifa tidak mungkin begitu, Pa..."
" Apa kalian sudah_..."
" Papa jangan ngawur, Reyhan tidak mungkin melakukan itu." sahut Reyhan tak terima dengan tuduhan papanya.
" Papa nggak percaya, semalaman dalam satu kamar ngapain aja?" ledek papa Hendra.
" Astaghfirullah... semalam itu Syifa sedang sakit, jadi Rey menemani dia. Reyhan juga tidurnya di sofa kok."
" Hahahaa... iya... iya, anak papa tidak mungkin melakukan hal seperti itu walaupun_..."
" Walaupun bibir Syifa sempat di gigit semut... hahahaa," papa Hendra tertawa dengan puas.
" Ish... kayak papa nggak pernah aja!" dengus Reyhan.
" Memang nggak pernah, orang papa mengenal mama kamu setelah akad nikah."
" Masa' sih? Kok bisa begitu?"
Reyhan jadi penasaran dengan kisah masa muda papanya saat bertemu pertama kali dengan mamanya. Sepertinya kisah mereka sangat menarik untuk diceritakan.
" Dulu, papa kuliah di Singapura. Sama sepertimu, papa tidak pernah pulang selama lima tahun. Papa juga membangun bisnis disana dan cukup sukses. Hingga suatu hari, nenekmu menyusul papa ke Singapura dan memaksaku pulang."
" Hubungannya dengan mama apa?" tanya Reyhan.
Papa Hendra menghembuskan nafasnya pelan sebelum melanjutkan ceritanya. Dia meminum seteguk air putih untuk memperlancar tenggorokannya.
" Saat papa pulang, papa tidak langsung dibawa pulang namun langsung menuju ke rumah seseorang yang nenekmu bilang adalah rumah sahabatnya. Saat memasuki gerbang rumah itu, ternyata sedang ada acara. Papa langsung disuruh masuk dan di dudukkan di depan penghulu untuk mengikrarkan ijab qobul."
" Kenapa papa tidak menolak? Bahkan papa belum pernah melihat mama."
" Apa kau tidak ingat dengan tatapan tajam nenekmu itu? Lebih baik papa ditikam seribu belati."
" Kenapa mama setuju menikah dengan papa?"
" Dia juga tak memiliki alasan untuk menolak karena kata para orangtua, kami sudah di jodohkan sejak kecil."
" Tapi... Papa tidak menyesal kan menikahi mama?"
" Mama kamu orang yang baik, namun obsesinya untuk membangun butik membuatnya lupa akan hal lainnya. Tapi itu tidak masalah buat papa."
__ADS_1
" Tapi papa dan mama kok bisa saling cinta?"
" Yang namanya jodoh tidak ada yang tahu, Rey."
" Huft... terserah papa. Kok Syifa meetingnya lama banget sih?"
Reyhan gelisah menunggu Syifa yang sudah pergi dua jam yang lalu. Katanya meetingnya deket, tapi dia tak kembali juga.
" Kamu ini kayak nggak pernah meeting aja, Rey." kata papa Hendra.
" Tapi ini sudah terlalu lama, Pa."
" Dasar anak muda jaman sekarang!"
# # #
Syifa datang tepat jam istirahat. Dia membawa makanan untuk makan siang dirinya, Reyhan dan papanya. Reyhan sedang mengerjakan beberapa file yang dikirimkan Steven.
" Mas, makan dulu yuk?" kata Syifa.
" Iya, sayang. Ini sedikit lagi selesai." sahut Reyhan.
Syifa menyiapkan makanan diatas meja. Papanya sudah duduk sembari menunggu Reyhan selesai dengan pekerjaannya.
" Lanjutkan nanti lagi, Mas. Nggak enak ditungguin sama papa." bisik Syifa.
" Ok, sesuai titah Anda Nona,"
Mereka bertiga makan dalam diam, hanya Reyhan yang sesekali merengek minta disuapi kekasihnya. Papa hanya geleng - geleng kepala melihat tingkah manja putranya. Selesai makan, Syifa segera membereskan peralatan bekas mereka makan.
" Fa, gimana dengan proyek di Bandung?" tanya papa Hendra.
" Laporan dari pihak lapangan udah mencapai 50%, Pa. Tapi Syifa perlu mengecek sendiri kesana, soalnya pengeluaran bulan ini terlalu banyak di banding bulan lalu."
" Kau curiga ada yang curang?"
" Itulah yang ingin Syifa selidiki."
" Suruh orang lain saja, sangat berbahaya jika kamu yang pergi." kata Papa.
" Tapi kak Deni besok ke Bali, Pa. Siapa yang akan ke Bandung?"
" Menginap nggak sayang? Lusa, Mas sudah harus balik ke Amerika." kata Reyhan.
" Tidak, Mas. Cuma sebentar disana." sahut Syifa.
" Besok Mas temani kesana."
" Beneran, Mas?"
" Iya, sayang. Mas tidak mau kamu pergi sendirian."
Syifa sangat senang bisa bekerja sambil jalan - jalan bersama kekasihnya. Dia berharap semoga semuanya lancar tak ada halangan apapun.
Usai berbincang - bincang, Syifa kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Begitu pula dengan Reyhan dan papa Hendra yang sibuk dengan pekerjaan masing - masing.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.