
" Syifaaa...!" panggil Sony.
Syifa terus melangkah sambil melihat ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari sesuatu. Dia tak mendengar panggilan Sony karena banyaknya orang disana.
Sony dan Ardan semakin mempercepat jalannya untuk menyusul Syifa yang semakin menjauh. Gadis itu tampaknya tak menghiraukan sama sekali bahwa dia tidak pergi sendirian ke tempat itu.
" Fa, kamu kenapa sih?" Ardan mencekal lengan Syifa dengan kuat.
" Auwww...! Abang, sakit!" seru Syifa.
" Kamu kenapa sih kayak gini? Abang minta maaf kalau sudah membuat Syifa marah." kata Ardan.
" Syifa nggak marah sama abang, tapi_..."
" Tapi apa, Fa?" tanya Sony.
" Syifa haus pengen beli minuman." ucap Syifa nyengir.
Ardan langsung memeluk Syifa dengan erat. Dia sangat khawatir jika gadis itu marah padanya. Dalam hatinya, masih ada setitik cinta yang terpendam untuk gadis dalam dekapannya. Walaupun begitu, Ardan tak ingin memperkeruh suasana persahabatan mereka. Syifa sudah memilih Reyhan, jadi dia harus berbesar hati menerima semuanya.
Bagi Ardan, persahabatan jauh lebih penting daripada memikirkan cinta yang belum tentu bisa menjadi jodohnya nanti. Kini Ardan berusaha untuk mengubur dalam perasaannya agar dapat terus menjaga gadis yang sangat dicintainya.
" Bang... abang kenapa?" tanya Syifa heran.
" Abang pengen ajak kamu ke suatu tempat." kata Ardan pelan.
" Kemana? Syifa mau beli minum dulu."
" Biar Sony yang beli, kita tunggu disini saja."
" Iya, Fa. Biar kakak yang beli." kata Sony.
Sony pergi meninggalkan mereka berdua. Ardan langsung menarik lengan Syifa menjauh dari tempat itu. Ardan sedikit berbincang dengan pemandu wisata disana lalu mengikuti arah yang ditujukan pegawai itu.
" Kita mau kemana, bang?"
" Ikut saja, kamu pasti suka."
Tak lama mereka sampai di depan hewan - hewan besar yang jinak itu.Syifa sangat senang seperti ingin menyentuh hewan itu. Tanpa sadar, dia meremas tangan Ardan dengan gemas.
" Kamu mau naik gajah itu, Fa?" tanya Ardan.
" Iya, bang. Syifa pengen banget naik gajah." ucap Syifa bersemangat.
" Mau sendiri apa abang temenin?"
" Temenin, Syifa nggak nyaman kalau hanya berdua dengan pemandunya."
" Ya udah, kamu tunggu sebentar disini."
Ardan meminta pemandu untuk membantu mereka naik gajah. Syifa yang belum naik saja sudah terlihat sumringah dan bersemangat seperti anak kecil. Ardan senang bisa membuat gadis itu kembali tersenyum.
" Bang, naiknya gimana?" tanya Syifa.
__ADS_1
" Nanti ada pemandunya yang mengarahkan, Dek." jawab Ardan.
Tak lama, Sony datang membawa tiga botol minuman di dalam tas ranselnya. Ternyata sudah menjadi kebiasaan empat sahabat itu jika bepergian memang sangat suka membawa tas ransel.
" Minum dulu!" titah Sony.
Mereka bertiga minum dulu sebelum berkeliling naik gajah. Karena mereka bertiga, jadi pemandu tidak ikut naik, hanya memantau dari bawah. Mereka semua orang dewasa jadi tidak masalah jika pemandu itu tidak ikut naik.
" Syifa di tengah ya? Takut jatuh." seru Syifa.
" Iya, anak kecil di tengah saja biar nggak nangis." ledek Sony.
" Abaannggg... kakak tuh!" sungut Syifa.
" Sudah, tidak usah di tanggepin. Diemin aja orang kayak gitu." ucap Ardan lembut.
" Kalau sama Mas Reyhan pasti dimarahi!" gerutu Syifa.
" Oh iya, sampai lupa tidak mengirimkan foto sama Reyhan." seru Ardan.
" Ya udah, kita foto bareng." sahut Sony.
Mereka bertiga mengambil banyak foto untuk dikirimkan kepada Reyhan yang kini sedang terlelap karena di Amerika pasti sudah lewat tengah malam.
Selesai dengan foto - foto, mereka segera berkeliling menikmati pemandangan di area tempat wisata itu. Syifa tampak bahagia sekali. Sejenak ia melupakan pekerjaannya yang tidak akan pernah ada habisnya.
" Kak, pulang yuk? Syifa udah capek banget nih." rengek Syifa.
" Ya sudah, kita istirahat sebentar di mobil." kata Sony.
" Kita mau kemana lagi?" tanya Ardan.
Kini mereka berada di dalam mobil, Syifa merebahkan tubuhnya di jok belakang. Ardan dan Sony duduk di depan dengan menyandarkan punggung mereka yang terasa pegal.
" Terserah Syifa maunya lanjut apa pulang." kata Sony.
" Memangnya kakak mau kemana lagi?" ucap Syifa pelan.
" Ke pantai yuk? Malam ini kita menginap terus pulangnya besok sore." usul Sony.
" Kalau itu, Syifa harus ijin sama mama dan papa dulu, kak. Soalnya nggak ada mas Reyhan." kata Syifa.
" Ya sudah, kita pulang sekarang untuk minta ijin sama orangtuamu." ujar Ardan.
" Terserah kalian, Syifa mau tidur dulu."
Dengan memaksa Ardan melepas jaketnya, Syifa bisa tidur dengan lelap dengan wajah yang ia tutup rapat dengan jaket itu sambil rebahan.
# # #
Satu jam perjalanan, Sony sudah sampai di kediaman keluarga Aditama. Syifa yang berada di belakang masih tertidur dengan lelap.
" Dan, adik kamu gimana nih? Sepertinya dia tidur sangat nyaman." ucap Sony.
__ADS_1
" Bangunin aja, tapi sepertinya rencana ke pantai gagal." kata Ardan.
" Iya, Syifa terlihat sangat lelah. Mungkin dia tidak terbiasa jalan - jalan berkeliling seperti tadi." sahut Sony.
Ardan coba membangunkan Syifa namun tak berhasil. Gadis itu hanya bergumam tidak jelas lalu kembali terlelap. Dengan terpaksa, Sony membopongnya masuk ke dalam rumah.
" Assalamu'alaikum..." ucap Sony dan Ardan.
" Wa'alaikumsalam," jawab mama Salma dari dalam.
" Syifa! Dia kenapa?" tanya mama Salma khawatir.
" Tidak apa - apa, tante. Syifa hanya ketiduran di mobil, susah di bangunin." kata Ardan.
" Ya sudah, langsung bawa ke kamarnya saja biar tidurnya nyaman."
" Iya, tante."
Sony menaiki tangga dengan membopong tubuh Syifa. Walaupun gadis itu kurus namun ternyata berat juga. Dengan nafas yang mulai tersengal akhirnya sampai juga di kamar Syifa di lantai dua.
" Kau sangat lelah, istirahatlah. Besok kita akan bersenang - senang lagi." ucap Sony pelan seraya mengusap pelan kepala Syifa.
Syifa tampak semakin lelap saat Sony menyelimutinya. Gadis itu tersenyum dalam tidur lelahnya.
" Semoga kau selalu bahagia, Fa. Aku yakin Reyhan akan membuatmu selalu tersenyum." gumam Sony.
Sony segera meninggalkan kamar Syifa dan kembali ke bawah bergabung dengan Ardan yang sedang berbincang di ruang tamu dengan tante Salma.
" Syifa nggak bangun juga, Son?" tanya mama Salma.
" Tidak, tante. Mungkin Syifa sedang lelah, tadi berkeliling di kebun binatang." kata Sony.
" Anak itu... sudah dewasa tapi kelakuannya kadang masih kekanakan."
" Tidak apa - apa, tante. Tapi sejujurnya, Syifa adalah gadis yang kuat. Cobaan hidupnya selama ini sangat berat menurut saya. Orangtuanya meninggal dalam waktu yang bersamaan, di pecat dari pekerjaannya dan diusir dari rumahnya sendiri. Dan juga, kami bertiga juga meninggalkannya di hari yang bersamaan. Saya yakin, waktu ini Syifa sangat hancur." ucap Sony.
" Di tambah lagi, sopir tante menabraknya hingga dia terbaring koma di rumah sakit selama setahun. Kasihan sekali putriku, dia tidak memiliki siapapun lagi sekarang. Tante berharap Syifa berjodoh dengan Reyhan agar Syifa tetap berada di sisi tante selamanya." kata tante Salma.
Cukup lama mereka berbincang hingga akhirnya Ardan dan Sony berpamitan sekalian meminta ijin untuk mengajak Syifa jalan - jalan lagi besok pagi.
Beruntung sekali, tante Salma mengijinkan mereka mengajak Syifa liburan lagi. Syifa harus sering - sering diajak liburan agar tidak terfokus dengan pekerjaannya terus.
Sebenarnya, selama lima tahun ini Syifa tinggal bersama keluarga Aditama, dirinya tak pernah meminta apapun. Dia hanya ingin membalas kebaikan keluarga itu dengan bekerja keras di perusahaan dan sesekali juga membantu di butik.
Setelah Ardan dan Sony meninggalkan kediaman Syifa, mama Salma bergegas naik ke kamar putrinya untuk melihat keadaannya.
" Semoga keinginanmu segera terkabul, sayang."
.
.
TBC
__ADS_1
.
.