
" Rey... bukankah itu mobil Syifa?" seru Ardan.
Reyhan yang mendengar seruan Ardan langsung menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Ardan. Reyhan memang satu mobil dengan Ardan karena tadi Ardan di jemput Sony saat akan bertemu dengan Reyhan. Sekarang Sony harus kembali ke rumah sakit karena ada pasien yang harus ia tangani.
" Iya, Dan. Cepat ikuti terus mobil itu." sahut Reyhan.
" Rey, bukankah ini arah pulang ke rumahmu?"
" Iya, mudah - mudahan saja dia baik - baik saja."
Ardan menatap sekilas wajah lelah sahabatnya. Tak bisa ditebak apa yang sedang dipikirannya saat ini.
" Rey, apa gadis asing itu sangat penting bagimu dibandingkan Syifa?" tanya Ardan dengan tatapan fokus ke depan.
" Sepenting apapun gadis itu, Syifa adalah kehidupanku. Hanya Syifa yang bisa mengerti keadaanku. Walaupun berkali - kali aku membuatnya kecewa, dia tidak pernah benar - benar marah padaku." jawab Reyhan.
" Dan kau memanfaatkan kebaikannya itu?"
" Tidak, aku sudah berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Namun saat ini aku tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan. Dia selalu menyimpan lukanya sendirian."
" Dia hanya berpura - pura kuat, Rey. Dia masih bertahan selama ini karena orangtuamu. Syifa pernah bilang padaku, walaupun nantinya dia tidak berjodoh denganmu... dia tidak akan pernah meninggalkan orangtuamu yang telah memberikannya kehidupan."
" Mungkin aku memang tidak bisa memahami dia, Dan. Tapi aku berjanji tidak akan pernah meninggalkannya. Dia adalah satu - satunya wanita yang bisa membuatku jatuh cinta."
Tak lama, mobil Syifa memasuki gerbang rumahnya. Ardan juga terus mengikutinya hingga masuk ke dalam. Reyhan segera keluar dari mobil untuk mengejar kekasihnya.
Saat pintu mobil terbuka, ternyata bukan Syifa yang keluar, melainkan seorang lelaki muda dengan penampilan sederhana. Dia segera berjalan memutar dan membuka pintu belakang.
" Hati - hati, Nona."
Pria itu memapah Syifa dengan seorang gadis di sampingnya. Reyhan segera berlari menghampiri Syifa diikuti oleh Ardan.
" Sayang, kamu kenapa?" seru Reyhan.
Syifa tidak menatap Reyhan sama sekali. Tubuhnya yang lemah membuatnya enggan untuk berbicara.
" Lin, antar saya ke dalam." ucap Syifa pelan.
" Sayang, Mas saja yang bawa kamu ke dalam ya?" bujuk Reyhan.
" Ayo, Lin. Saya sudah tidak kuat untuk berdiri." lirih Syifa.
" Baik, Non."
Reyhan yang masih ingin mengejar Syifa ditahan oleh Ardan. Dia membawa Reyhan duduk di taman samping rumah diikuti oleh Danang.
" Rey, aku sudah bilang padamu tadi. Biarkan Syifa istirahat." kata Ardan.
" Dia sepertinya sakit, Dan. Aku harus tahu keadaannya."
Ardan menatap Danang dengan intens, dilihatnya pria itu dari atas sampai bawah.
" Kau siapa?" tanya Ardan pada Danang.
" Saya Danang, Tuan. Office boy di kantor non Syifa."
__ADS_1
" Kenapa kau bisa bersamanya?" tanya Reyhan.
" Sebenarnya tadi siang saya dan calon istri saya sedang di pantai. Tanpa sengaja saya melihat seorang gadis yang hampir tenggelam ke laut. Saat saya menolongnya, saya sangat kaget karena ternyata itu adalah nona Syifa."
" Syifa ke pantai?" tanya Reyhan.
" Iya, Tuan. Sebenarnya tadi saya ingin menghubungi Tuan Deni untuk menjemput non Syifa, namun nona menolak karena tak ingin merepotkan. Kata dokter, nona Syifa kelelahan dan kurang istirahat. Mungkin nona sedang ada masalah karena dia susah makan. Sudah menjadi kebiasaannya jika sedang sedih, nona pasti tidak mau makan."
" Bagaimana kau bisa tahu?"
" Diluar kantor, Nona Syifa adalah teman saya. Dia selalu cerita apa saja tentang masalah hidupnya. Seperti saat Tuan Reyhan meninggalkannya tanpa kabar waktu itu, nona Syifa jarang sekali makan saat berada di kantor. Dia selalu menghabiskan waktunya dengan bekerja hingga malam. Dia sering lembur hingga jam sembilan atau jam sepuluh."
" Kau tahu banyak tentang Syifa, apa kau tahu apa yang dia inginkan sebenarnya?"
" Nona seakan tak memiliki tujuan, Tuan. Dia hanya ingin orang - orang di sekelilingnya bahagia."
" Terimakasih kau selalu menemani Syifa."
Tak lama Lina datang menghampiri Danang. Mereka berniat untuk pulang karena rumah Lina lumayan jauh.
" Bang, kata non Syifa mobilnya suruh bawa aja dan besok minta dijemput saat ke kantor." kata Lina.
Tak ingin memperkeruh suasana, Reyhan mengijinkannya karena sebelumnya juga Danang pernah membawa mobil Syifa.
" Bawa saja, besok jemput dia." kata Reyhan melihat kebimbangan di wajah Danang.
" Baik, Tuan. Kalau begitu kami permisi dulu." ucap Danang.
" Tunggu, saya ikut dengan kalian." kata Ardan.
" Silahkan, Tuan." sahut Danang.
" Sayang, maafkan Mas tidak bisa memahami perasaanmu. Harusnya Mas tidak mengabaikanmu." gumam Reyhan.
Reyhan membelai pipi Syifa lalu mencium kening gadis itu dengan lembut. Tubuhnya sedikit demam dan wajahnya juga pucat. Reyhan mengunci pintu dari dalam lalu ikut berbaring di samping Syifa dengan memeluk gadis itu.
# # #
Tengah malam, Syifa mengigau dalam dekapan Reyhan. Dia terus meronta dari dekapan Reyhan.
" Lepas! Biarkan aku pergi!" gumam Syifa.
Reyhan yang tertidur pulas langsung bangun dan melihat kekasihnya menangis dalam tidurnya.
" Sayang, kau kenapa? Bangunlah." Reyhan mengguncang tubuh Syifa sedikit keras.
Syifa terbangun dan menatap Reyhan yang memeluknya dengan tatapan khawatir.
" Sayang, kau tidak apa - apa?" ucap Reyhan lembut.
" Maaf, aku tidak bisa menemukan dia." lirih Syifa.
" Sayang, jangan pikirkan orang lain. Pikirkan kebahagiaanmu sendiri."
" Lepaskan aku, pergilah."
__ADS_1
" Tidak, Mas tidak akan pernah meninggalkanmu. Mas cinta sama kamu, jangan pernah pergi dariku."
" Aku bukanlah siapa - siapa, ada orang lain yang lebih membutuhkanmu." kata Syifa datar.
" Tapi aku hanya membutuhkanmu, sayang."
Syifa melepaskan pelukan Reyhan dan bergeser sedikit menjauh. Dia ingin bangkit dari tempat tidur namun tubuhnya terasa lemah.
" Sayang, kau mau kemana?"
" Aku lapar, mau cari makanan di dapur."
" Kamu disini saja, biar Mas yang ambil makanan."
" Tidak usah, aku bisa sendiri."
" Tidak ada penolakan, tunggu disini." titah Reyhan.
Syifa mengangguk saja tak ingin berdebat lagi karena tenaganya sudah terkuras habis. Reyhan pergi ke dapur dan membuatkan nasi goreng untuk Syifa dan juga dirinya sendiri karena Reyhan sendiri juga lupa belum makan dari pagi.
Lima belas menit kemudian, Reyhan membawa sepiring nasi goreng dalam porsi besar dan segelas air putih serta teh manis hangat.
" Sayang, makannya jangan di tempat tidur."
Reyhan meletakkan makanannya di meja lalu menghampiri Syifa di tempat tidur. Tanpa seijin gadis itu, Reyhan langsung membopongnya menuju sofa.
" Mas, Syifa bisa jalan sendiri!" pekik Syifa.
" Tidak apa - apa, ini namanya belajar jadi suami siaga." sahut Reyhan nyengir.
" Bukan siaga tapi modus!" sungut Syifa.
" Hahahaa... terserah apa sebutannya, tapi Mas suka melakukannya."
Reyhan mendudukkan Syifa di sofa lalu mengambil nasi goreng untuk menyuapi gadisnya.
" Mas suapi ya?"
" Tidak usah, Syifa bisa sendiri."
" Berikan kesempatan padaku untuk membuatmu bahagia walau hanya sedikit. Mas tidak tahu apa yang sebenarnya bisa membuatmu bahagia, tapi setidaknya beri kesempatan untuk Mas berusaha mewujudkan kebahagiaanmu itu."
" Syifa tidak pantas menerima semua itu, Mas. Kalian sudah terlalu banyak membantu Syifa."
Reyhan menatap lekat wajah sendu kekasihnya. Mungkin ada kekecewaan dalam hati gadis itu dengan kejadian hari ini.
" Apa kau percaya dengan cintaku?" ucap Reyhan.
Syifa hanya diam tak mampu membalas tatapan Reyhan. Apakah saat ini dia meragukan cinta Reyhan? Syifa sangat mencintai Reyhan sehingga dia tidak rela jika pria itu membagi kasih sayang dan perhatiannya pada wanita lain. Apakah berlebihan jika ia meminta itu dari kekasihnya sendiri?
.
.
TBC
__ADS_1
.
.