ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 80


__ADS_3

" Aku tidak akan pernah menyesal menyekapmu, Syifa Azzahra."


" Kau...?"


" Ya, dulu aku tidak berani mendekatimu karena ancaman Reyhan. Tapi sekarang, aku bisa menghancurkan dia lewat kamu." seringai seorang pria yang berdiri tepat di hadapan Syifa.


" Anton, apa salahku padamu?"


" Jadi kau masih mengenaliku? Hahahaa... kukira kau sudah melupakanku, Syifa."


" Anton, lepaskan aku. Kita bisa bicarakan ini baik - baik."


" Hahahaa... kau tidak akan kulepaskan sebelum Reyhan hancur."


Syifa tidak menyangka bahwa Anton bisa melakukan ini padanya. Dulu, sewaktu masih SMA... Syifa dan Anton berteman akrab walaupun mereka tidak satu kelas. Anton adalah pria pendiam dan tidak banyak memiliki teman. Syifa sering diajaknya makan di kantin jika Reyhan, Ardan dan Sony sedamg tidak bersamanya.


" Ton, kau orang yang baik. Jangan melakukan kejahatan seperti ini, mana Anton yang dulu sangat baik padaku."


" Diam, Syifa! Bertahun - tahun aku menantikan hari ini. Reyhan tidak akan bisa melindungimu kali ini."


" Apa yang sebenarnya kau inginkan? Kita tidak pernah memiliki masalah, Ton."


" Ya, memang kita tidak punya masalah. Tapi Reyhan, dia yang sudah membuatku seperti ini!" teriak Anton.


" Aku tidak mengerti dengan ucapanmu, Ton. Apa yang sudah Reyhan lakukan padamu?"


" Sudahlah, kau tidak perlu tahu. Ini urusan laki - laki, kau jangan ikut campur."


Syifa benar - benar tidak tahu apa yang dilakukan Reyhan sehingga membuat Anton ingin balas dendam padanya. Syifa harus bisa membujuk Anton untuk bicara dari hati ke hati. Dia tidak ingin ada kekerasan atau tindak kriminal yang bisa berakhir di tangan hukum.


Anton pergi dari ruangan tempat penyekapan Syifa setelah membuka ikatan kaki gadis itu. Sebenarnya bukan ini yang ia harapkan, namun sakit hati yang tersimpan selama bertahun - tahun telah menutup pintu hatinya.


" Boss, apa yang akan kita lakukan pada gadis itu?"


" Biarkan saja seperti itu, jangan diikat lagi cukup kunci pintunya dan jaga dia jangan sampai kabur."


" Baik Boss."


Anton masuk ke dalam kamar di sebelah kamar Syifa. Jika mengingat tentang masa lalunya bersama Syifa, Anton sebenarnya tidak tega melakukan itu. Syifa terlalu baik sebagai teman, cukup perhatian dan tulus tanpa memandang siapa dirinya.


" Maafkan aku, Fa. Karena dendamku pada Reyhan, kau yang harus menjadi korban. Seandainya saja kamu bukan kekasih Reyhan, pasti semua ini tidak akan terjadi padamu." batin Anton.


Anton mencoba untuk memejamkan matanya yang sangat mengantuk dan juga lelah. Dia baru saja pulang dari Jerman untuk mengurus pekerjaannya.


# # #


Syifa nampak termenung di balik jendela yang terpasang jeruji besi di luarnya. Saat melihat keluar, hamparan pepohonan lebat mengelilingi tempat dimana ia sekarang berada.


" Kenapa melamun? Apa kau berniat ingin kabur dari sini?" entah sejak kapan Anton sudah berdiri di samping Syifa.


" Tidak, karena aku tahu kau menjaga tempat ini dengan ketat." sahut Syifa datar.


" Huft... aku merindukan sikap lembutmu yang dulu, bagaimana bisa kamu memilih pria arogan dan kejam itu."


" Bukan urusanmu, yang namanya perasaan itu tidak ada yang tahu. Kita tidak pernah tahu siapa jodoh kita."

__ADS_1


" Benarkah? Apa karena dia kaya kau jadi jatuh cinta padanya?"


" Stop, Anton! Kita berteman sudah lama, aku tidak menyangka kau menganggapku serendah itu!" teriak Syifa.


" Lalu, apa? Kau tak bisa menghargai perasaanku, Syifa!"


" Perasaan? Perasaan apa? Aku tidak mengerti maksudmu!"


" Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Kau memberikan celah untuk hatiku mencintaimu. Hanya kau yang bisa membuatku jatuh cinta, Syifa."


" Ton, dari dulu sampai sekarang aku hanya menganggapmu sebagai teman. Aku tidak pernah tahu kau suka padaku."


" Tentu saja kau tidak tahu, karena Reyhan tak membiarkan aku untuk mendekatimu. Dia selalu mengancamku dan menjauhkanmu dariku!"


Syifa menatap wajah Anton yang terlihat penuh amarah. Pria itu mencintainya dan Syifa sedikitpun tak mengetahuinya.


" Ton, aku minta maaf. Reyhan melakukan itu hanya karena ingin melindungiku. Tolong jangan salah paham, biarkan aku pergi dari sini."


" Jangan bermimpi bisa keluar dari sini sebelum Reyhan menderita!"


" Bolehkah aku bertanya sesuatu, Ton? Jawablah dengan jujur."


" Apa...?"


" Apa kau juga waktu itu yang ingin membunuhku saat di Bali?"


" Membunuhmu? Apa aku terlihat sekejam itu dengan wanita?"


" Aku tidak tahu, Ton. Waktu aku di Bali, ada yang berusaha membunuhku disana. Aku ditabrak dengan sengaja oleh sebuah mobil curian. Pasti semua ini ada hubungannya denganmu."


" Lalu untuk apa kau sekap aku disini? Bunuh saja aku jika itu bisa membuatmu puas!" seru Syifa.


" Diamlah! Aku lelah mau istirahat." kata Anton datar lalu meninggalkan Syifa dengan pintu yang kembali terkunci.


" Anton...! Lepaskan aku, jangan sampai kau menyesal nantinya." teriak Syifa.


# # #


Reyhan, Sony dan Ardan bersiap - siap untuk berangkat ke Bogor. Mereka akan berkeliling ke villa - villa yang ada di puncak untuk mencari Syifa.


" Sudah siap, Rey?" tanya Ardan.


" Iya, ayo berangkat!" jawab Reyhan.


Di perempatan jalan tak jauh dari perumahan tempat tinggal Reyhan, Ardan melihat seorang wanita tengah berada di dalam taksi.


" Rey, bukankah itu Diana?" seru Ardan.


Sony dan Reyhan menatap taksi yang ditunjuk oleh Ardan. Memang benar gadis itu adalah Diana, teman satu sekolah mereka dulu.


" Kalian tunggu disini, aku akan menyeret gadis murahan itu." geram Reyhan.


" Rey, biar aku saja. Kau tetap di dalam mobil." kata Ardan.


Ardan keluar dari mobil karena kebetulan jalanan sedang macet. Dia langsung menghampiri Diana yang hanya berjarak satu mobil dengannya.

__ADS_1


" Hai... kamu Diana, kan?" ucap Ardan dengan tersenyum.


Diana menyipitkan matanya sambil berpikir siapa pria yang ada di hadapannya.


" Maaf, Anda siapa?" tanya Diana.


" Kau tidak mengingatku? Aku Ardan, teman sekolah dulu di SMA."


" Mmm... kau yang sama Reyhan itu? Ah, iya... aku ingat, kau Ardan playboy sekolah." ucap Diana tersenyum.


" Hahahaa... ternyata aku belum dilupakan juga." sahut Ardan nyengir.


" Kamu ngapain disini, Dan?"


" Oh itu, tadi tidak sengaja aku lihat kamu disini. Gimana kalau kamu ikut aku saja, kita bisa mengenang masa lalu bersama." ajak Ardan.


" Apa kau masih sering bertemu dengan Rey?" tanya Diana ragu.


" Dia ada di mobilku sekarang, jangan melewatkan kesempatan." bisik Ardan.


" Baiklah, aku ikut denganmu." sahut Diana girang.


Diana ingin membayar ongkos taksinya sebelum keluar dari mobil, namun Ardan lebih cepat menyodorkan dua lembar uang berwarna merah itu kepada sopir taksi.


" Thank you, Ardan." ucap Diana dengan senyum manisnya.


Ardan hanya tersenyum lalu menggandeng lengan Diana menuju ke mobil Sony. Diana kaget karena bukan hanya Reyhan, disitu juga ada Sony di belakang kemudi.


" Hai... Reyhan, Sony..." sapa Diana.


" Hai... sudah lama tidak bertemu, kau kemana saja?" tanya Sony.


" Mmm... aku ikut orangtua di Jepang. Aku hanya sesekali ke Indonesia untuk mengurus pekerjaan papa."


Sony kembali melajukan mobilnya setelah mobil di depannya mulai melaju pelan. Karena senang bisa bertemu dengan Reyhan lagi tanpa adanya Syifa, Diana lupa kemana tujuan yang harusnya ia datangi. Walaupun hanya duduk di sampingnya tanpa sepatah katapun keluar dari mulut pria dingin itu, Diana merasakan jantungnya berdetak sangat cepat.


Diana masih belum menyadari jika Sony sudah menepikan mobilnya di jalanan yang sangat sepi. Pesona Reyhan mampu menghilangkan akal Diana.


" Sudah puas kau memandangku?" kata Reyhan datar.


Diana tersentak kaget dari lamunannya saat suara datar itu keluar dari mulut Reyhan.


" Rey... ke... kenapa kita berhenti di tempat seperti ini?" tanya Diana gugup.


Seringai di wajah Reyhan membuat nyali Diana menciut. Tatapan dingin dan mematikan serta senyumnya yang terlihat begitu mengerikan membuat seluruh tubuh Diana gemetar.


" Dimana Syifa...!"


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2