
" Kakak, kenapa mereka bisa ada disini?" pekik Shella.
Shella tidak percaya kedua orangtuanya ada di hadapannya sekarang bersama dengan pasangan suami istri yang tentunya dia sangat kenal, orangtua Sony.
" Ayo... Sony ada disana." kata Reyhan dengan senyum kecilnya.
Mereka segera berjalan menghampiri Sony yang sedang asyik ngobrol dengan Syifa. Sony sendiri sebenarnya juga tidak tahu ada acara apa sebenarnya. Saat Shella berada di hadapannya, Sony cukup terkejut dan menatap ke arah Syifa seakan meminta penjelasan.
" Dek, sebenarnya ini acara apa sih?" tanya Sony pada Syifa.
" Nanti kakak juga tahu." sahut Syifa dengan senyum simpulnya.
" Sayang, semuanya sudah siap?" bisik Reyhan pada Syifa.
" Udah, kita bisa mulai acaranya sekarang."
Reyhan memberi kode kepada Rendi untuk mengajak orangtua Shella dan Sony untuk bergabung di tempat yang sudah disiapkan.
" Papa, Mama... kok kalian ada disini." ucap Sony kaget.
" Memangnya kenapa? Tempat ini sangat indah untuk berlibur. Temanmu memang sangat pandai memilih tempat singgah disini." sahut papanya Sony sambil tersenyum.
" Ya sudah, karena semuanya sudah hadir, kita mulai acaranya sekarang juga. Silahkan dari Tuan Hidayat terlebih dahulu."
Kali ini Deni yang memimpin jalannya acara yang diadakan secara mendadak di Villa Anton.
" Baiklah, sebelumnya saya mengucapkan terimakasih untuk keluarga Shella yang sudah menyetujui diadakannya acara ini." ucap Tuan Hidayat.
Sony dan Shella saling berpandangan, tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.
" Jika melihat dari hubungan putra putri kita ini, saya berharap Anda bisa merestui anak - anak kita."
" Saya sebagai orangtua juga tidak bisa memaksakan keinginan anak. Jika mereka memang sudah serius, saya tidak bisa menghalangi." ucap papanya Shella.
" Tunggu, Pa. Ini sebenarnya ada apa?" tanya Shella.
Ardan beranjak dari duduknya dan segera menarik tangan Shella dan Sony untuk dibawa ke hadapan kedua orangtua mereka.
" Hari ini kalian akan bertunangan." kata Ardan tegas.
" Kakak...?"
" Ardan...?"
Shella dan Sony masih tidak percaya dengan ucapan Ardan. Ditatapnya kedua orangtuanya yang memberikan anggukan tanda mereka mengiyakan ucapan Ardan.
Shella dan Sony seketika langsung memeluk Ardan dengan erat. Tanpa terasa airmatapun mengalir dengan derasnya.
" Kakak nggak bohong kan sama Shella?"
" Tidak, sayang. Kamu adikku satu - satunya, demi kebahagiaan kamu kakak akan melakukan apapun juga." lirih Ardan.
" Terimakasih, Dan. Kamu sudah merestui hubungan kami." ucap Sony merasa lega.
" Jaga hati adikku dengan baik, jangan pernah menyakiti dia sedikitpun." peringat Ardan.
Shella memeluk kedua orangtuanya, begitupun dengan Sony yang terlihat sangat bahagia. Syifa ikut terharu melihat kebahagiaan di depan matanya.
Dengan restu dari kedua pihak, akhirnya Sony melamar Shella secara resmi di hadapan kedua orangtua mereka dan juga para sahabatnya.
" Selamatnya kak Sony, Shella... semoga lancar sampai hari pernikahan kalian." ucap Syifa.
" Terimakasih, Dek. Semua ini berkat kamu yang selalu mendukung keputusan kakak. Oh iya, cincin ini bukannya untuk Reyhan?" kata Sony.
" B*d*h! Buat apa aku beli cincin lagi? Sekarang aku tidak butuh cincin lagi karena bidadariku sudah kudapatkan." sahut Reyhan.
__ADS_1
" Abang kapan melamar Clarissa?" tanya Syifa pada Ardan.
" Nanti aja, Fa. Kerjaan sedang menumpuk sekarang, melamar Rissa itu perjalanannya jauh, harus ke Surabaya." jawab Ardan sambil menggenggam erat jemari kekasihnya.
" Nanti Syifa ikut ke Surabaya ya, Bang?" rengek Syifa.
" Bilang dulu sama bodyguard kamu."
" Enak saja dibilang bodyguard!" gerutu Reyhan.
Mereka semua menikmati makanan yang sudah tersaji di hari bahagia Sony dan Shella. Syifa ssdari tadi menempel terus dengan Reyhan tak mau melepaskan walau hanya sekejap.
" Sayang, Mas mau bicara sebentar dengan Rendi masalah pekerjaan." ujar Reyhan pelan.
" Ikut, Syifa nggak mau ditinggal sendiri." sungut Syifa.
" Hmm... kamu ikutkak Deni atau yang lainnya. Anton juga ada tuh disana."
" Mas kenapa sih? Jangan - jangan Mas selingkuh ya!"
" Ya Allah, istriku sayang. Mas tidak mungkin melakukan itu."
" Terserah, pergi sana!" ketus Syifa.
Syifa merasa sang suami menyembunyikan sesuatu darinya. Biasanya Reyhan tak pernah merahasiakan hal kecil sedikitpun padanya.
" Sayang, jangan marah. Sekarang kita main air di sungai yuk?" bujuk Reyhan.
" Syifa nggak mau pergi sama Mas!"
Syifa pergi begitu saja lalu mencari Anton untuk menemaninya ke sungai. Dia masih kesal dengan suaminya yang tidak mau jujur.
" Anton...!" panggil Syifa.
" Main ke sungai yuk?"
" Suami kamu kemana?"
" Lagi bahas kerjaan sama asistennya."
" Ya udah, tapi aku ganti baju dulu. Kamu juga, sepertinya masih ada baju kamu disini."
" Thank you, Anton."
Setelah mengganti pakaian dengan kaos dan celana selutut, Anton dan Syifa langsung berjalan menuju sungai yang airnya sangat jernih. Anton menuntun Syifa untuk turun ke bawah karena bebatuan yang basah sedikit licin.
" Disini dulu aja, Ton." kata Syifa.
" Ok, duduklah!" titah Anton.
Mereka berdua duduk diatas bebatuan besar. Syifa menikmati percikan air di sampingnya dengan senyum bahagia.
" Hati - hati, Fa. Jangan pergi kemana - mana, nanti kalau ilang repot.
" Kau pikir aku ini masih bocah!"
" Terserah, aku mau tidur dulu sebentar."
Anton merebahkan tubuhnya di batu besar itu karena lelah. Dia hanya mengawasi Syifa tanpa berniat untuk ikut bermain dengannya.
" Ton, kamu belum punya pacar?" tanya Syifa.
" Belum, aku nungguin jandamu. Hahahaaa..."
" Ish... Dasar aneh!"
__ADS_1
" Aneh apanya? Tidak ada hal aneh yang menyangkut urusan hati, Fa."
" Ayo turun ke bawah, main air." ajak Syifa.
" Ayo. Pegang tanganku erat biar nggak jatuh."
Syifa menggenggam tangan Anton menuruni bebatuan terjal menuju ke sungai yang banyak airnya. Airnya sangat dingin tapi menyenangkan untuk bersantai.
Cukup lama Syifa bermain air hingga basah kuyup. Dia tak menghiraukan teriakan Anton yang menyuruhnya keluar dari dalam air.
" Fa, nanti kamu sakit! Keluarlah dari air sekarang." teriak Anton.
" Sebentar lagi, Mas Reyhan juga belum nyariin." sahut Syifa.
" Astaga... benar - benar wanita keras kepala!" gumam Anton.
# # #
Sore hari, semuanya memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Reyhan langsung mengajak Syifa untuk pulang ke rumah papa Hendra. Jika kelamaan tinggal di Apartemen, dia tidak akan mampu untuk melepas istrinya dari tempat tidur.
" Sayang, mau makan dulu nggak sebelum sampai rumah?" tanya Reyhan.
" Makan di rumah aja, Mas. Syifa kedinginan, malas makan diluar."
" Makanya kalau mainan di sungai jangan terlalu lama, nanti kalau sakit yang susah itu kamu sendiri." omel Reyhan.
" Biarin aja, lagian Mas sibuk terus sama Rendi."
" Bukan begitu sayang, proyek ini sebentar lagi selesai jadi setelahnya kita bisa honeymoon."
" Males ah, Syifa banyak kerjaan di kantor."
" Yakin? Kita pulang ke New York, nggak mau?" pancing Reyhan.
" Beneran ke New York? Patung Liberty?" tanya Syifa antusias.
" Kemanapun asal istriku ini bahagia." jawab Reyhan dengan tatapan lembutnya.
# # #
Beberapa hari kemudian,
Reyhan sudah rapi dengan pakaiannya menunggu sang istri yang masih berdandan di depan meja rias. Mereka akan menghadiri peresmian pasar yang diam - diam di bangun Reyhan tanpa sepengetahuan Syifa.
" Mas, memangnya kamu kenal sama pemilik gedung pasar yang baru itu? Kok kita diundang tapi secara langsung?" tanya Syifa.
" Kenal, sayang. Nanti papa dan mama juga hadir, jadi dandanlah secantik mungkin."
" Jadi biasanya Syifa nggak cantik?"
" Cantiklah, istriku tidak hanya cantik parasnya tapi juga hatinya. Mas beruntung punya pendamping hidup yang sangat baik."
" Gombal, ayo kita berangkat!"
Akhirnya keluarga Aditama berangkat menuju peresmian pasar bersama - sama. Reyhan tak perlu membawa mobil sendiri karena di pasar sudah tersedia mobil baru miliknya yang baru beberapa hari lalu dibeli.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1