
Hari - hari Syifa dipenuhi dengan kesibukan di kantor. Akhir - akhir ini pekerjaannya sangat banyak karena papa Hendra mulai mempercayakan sebagian proyek besar pada dirinya.
" Fa, ini sudah jam delapan kau tidak pulang?" tanya Deni.
" Sebentar lagi, kak. Tanggung tinggal sedikit lagi."
" Jangan terlalu dipaksakan nanti malah sakit."
" Tidak, kak. Sedikit lagi juga selesai kok."
" Lihat nih! Dari tadi Reyhan mengirimkan pesan menanyakan kamu. Memangnya ponselmu dimana?"
" Mati, kehabisan daya. Syifa lupa bawa charger tadi pagi."
" Ayo cepat pulang, tidak tahu apa dirumah ada yang nungguin!" gerutu Deni.
" Iya, yang udah punya istri pasti pengennya pulang cepet terus." ledek Syifa.
Syifa membereskan semua berkasnya yang berserakan diatas meja kerjanya lalu mengikuti langkah Deni untuk pulang. Mereka berdua hanya diam, tak ada percakapan sama sekali.
" Kak Deni kenapa diam?"
" Tidak apa - apa, laper aja."
" Mau mampir makan dulu?"
" Tidak, istriku sudah masak di rumah."
" Besok tidak usah jemput Syifa ya kak, Syifa bawa mobil sendiri saja." kata Syifa.
" Kenapa? Mau lembur di kantor sampai tengah malam lagi?"
" Tidak, Syifa hanya tidak mau merepotkan kak Deni."
" Aku sudah berjanji pada Reyhan untuk menjagamu, jadi jangan berulah yang macam - macam."
Syifa diam menatap kosong jalanan di depannya. Kenapa hidupnya sekarang semakin tidak leluasa seperti dulu. Deni, asisten papa angkatnya sudah seperti bodyguard sekarang. Harusnya yang ia jemput itu papa Hendra bukanlah dirinya.
" Kau kenapa? Biasanya banyak bicara?" tanya Deni.
" Tidak apa - apa," jawab Syifa datar.
" Kau memikirkan sesuatu?"
" Tidak."
" Hmmm..."
Tak lama, mereka sampai di kediaman keluarga Aditama. Syifa langsung turun dari mobil tanpa senyum di bibirnya seperti biasanya.
" Terimakasih, kak." ucap Syifa singkat.
" Ya udah, aku langsung pulang. Langsung istirahat, besok kita berangkat lebih pagi untuk mempersiapkan berkas meeting." kata Deni.
" Bukannya tadi sudah selesai, kak. Papa udah tanda tangan semua berkasnya."
" Baru tadi sore berkas itu dibawa Tuan Hendra, jadi belum dipelajari."
" Baiklah, hati - hati di jalan."
Setelah Deni pergi, Syifa segera masuk ke dalam rumah dan menghampiri kedua orangtuanya di ruang keluarga.
" Assalamu'alaikumn Pa... Ma." sapa Syifa.
" Wa'alaikumsalam." jawab papa dan mama.
" Kok baru pulang, Fa? Papa kan sudah bilang tidak usah lembur di kantor. Kerjaan itu tidak akan ada habisnya walaupun kamu lembur sampai pagi."
" Iya, Pa. Tadi hanya ada sedikit berkas yang harus Syifa selesaikan."
" Tadi Reyhan telfon katanya ponselmu tidak aktif, sayang." kata mama Salma.
__ADS_1
" Oh itu... tadi ponsel Syifa mati, Ma. Lupa bawa charger ke kantor."
" Sekarang kamu hubungi dia biar nggak cemas disana."
" Iya, Ma."
Syifa masuk ke dalam kamarnya dan segera mengisi daya ponselnya lalu mandi dan sholat isya'. Rasa lapar membuatnya kembali turun ke bawah untuk mencari makanan di dapur.
" Makan apa ya?" gumam Syifa.
" Non Syifa cari apa?" tanya seorang pelayan mengagetkannya.
" Astaga, bibik. Syifa jadi jantungan nih...!" seru Syifa kaget.
" Maaf, Non. Habisnya dari tadi mondar - mandir saja di dapur."
" Saya mau makan, bik. Tapi bingung mau makan apa."
" Mau bibok hangatkan rendang? Masih banyak, Non. Atau bibik masakin nasi goreng?"
" Mmm... ada mie instan nggak bik? Syifa lagi pengen makan itu."
" Ada, Non.Sebentar bibik masak dulu."
" Terimakasih, bik."
Tak butuh waktu lama, mie instan buatan pelayan sudah jadi. Syifa segera menyantapnya dengan lahap. Dengan topping telur ceplok, sosis, bakso dan ayam suwir membuat selera makannya menggelora.
" Fa, ini ada telfon dari Reyhan. Kamu belum menghubunginya?" ujar mama Salma yang sudah berdiri di sampingnya.
" Hehehee... belum Ma, nanti Syifa telfon pas udah di kamar." kata Syifa nyengir.
" Itu kamu makan apa, Fa? "
" Mie instan, Ma."
" Mana mie'nya. Itu mah campurannya yang banyak, Fa."
" Ya sudah, habisin makanan kamu terus hubungi Reyhan."
" Iya, Ma."
Selesai dengan acara makannya, Syifa langsung ke kamar dan segera mengambil ponselnya yang sudah terisi daya penuh. Gadis itu bergegas menghubungi Reyhan yang sudah berkali - kali menghubunginya.
Panggilan pertama, tak ada jawaban.
Kedua,
Ketiga,
Syifa putus asa karena Reyhan tak juga menjawab telfonnya. Ada rasa kesal juga khawatir dalam hatinya. Mungkin Reyhan juga merasakan hal yang sama saat tadi tak bisa menghubunginya.
" Apa dia marah padaku?" gumam Syifa.
Syifa mengetik pesan untuk kekasihnya yang entah sedang apa sekarang.
" Maaf ya, Mas. Tadi ponsel Syifa mati, lupa bawa charger ke kantor." Syifa lalu mengirimkan pesan itu dan beranjak untuk tidur.
Syifa yang merasa lelah segera memejamkan matanya dengan membalut tubuhnya sebatas dada dengan selimut tebal. Namun belum ada seperempat jam, ponselnya berdering tanda ada panggilan video.
Tanpa membuka matanya, Syifa sudah hafal dimana ia harus menekan tombol penerima panggilan.
" Hallo, siapa ini?" ucap Syifa tanpa membuka matanya.
[" Assalamu'alaikum Sayang, kamu sudah tidur ya?" ] suara itu menyadarkan Syifa dan segera membuka matanya.
" Wa'alaikumsalam. Mas, maaf... Syifa tidak lihat tadi. Syifa pikir bukan panggilan video."
[ " Kamu sakit, sayang?" ]
" Tidak, Mas. Cuma ngantuk aja kok."
__ADS_1
[ " Mas pikir kamu kenapa - napa, dari tadi Mas hubungi kamu tidak bisa." ]
" Maaf, ya? Syifa lupa tadi, soalnya banyak kerjaan jadi tidak sempat pegang ponsel."
[ " Jangan terlalu memaksakan diri, nanti kamu bisa sakit." ]
" Iya. Mas. Oh iya, kapan Mas pulang?"
[" Ya Allah, sayang. Mas pergi baru satu minggu, memangnya udah kangen banget ya?" ] goda Reyhan.
" Memangnya nggak boleh ya kangen sama Mas?" Syifa mengerucutkan bibirnya.
[ " Hahahaa... tentu saja boleh, sayang. Mas seneng banget malah, karena Mas juga sudah sangat rindu ingin melahap bibir manyun itu."]
" Ish... Dasar mesum. Pokoknya tidak boleh lagi!"
[ " Kenapa?, apa kurang lama Mas melakukannya?" ]
" Apaan sih? Syifa marah nih!"
[ " Hhh... iya - iya. Mas tidak akan melakukannya kalau_..." ]
" Kalau apa?"
[ " Kalau tidak khilaf... hehehee..." ]
" Huft... dasar menyebalkan!"
[ " Sayang, Mas sangat merindukanmu. I love you, honey." ]
" Benarkah? Kenapa sepertinya terpaksa begitu ya? Mas yakin mengatakannya?"
[ " Ya Allah, sayang. Mas pulang sekarang juga kalau kamu tidak percaya." ]
" Hehehee... Syifa cuma bercanda, Mas. I love you, too Mas Reyhan sayang."
[ " Huft... jangan merayuku di saat berjauhan." ]
" Kenapa?"
[ " Mas bisa terbang sekarang ke kamarmu dan_..." ]
" Dan apa?"
[ " Sudahlah, sebaiknya gadis cantikku ini tidur. Jangan berkhayal yang macam - macam." ]
" Berkhayal apa?"
[ " Aakkhhh... jangan memancingku, nanti kuberitahu saat Mas pulang." ]
" Syifa jadi penasaran, Mas?"
[ " Ya Allah, sayangku. Cepatlah tidur, Mas ada meeting sebentar lagi." ]
" Ok, by sayangku. Assalamu'alaikum,"
[ " Wa'alaikumsalam." ]
Syifa langsung tersenyum begitu panggilan videonya terputus. Walaupun jarak mereka jauh, namun mereka tak pernah putus dalam berkomunikasi. Hatinya sangat bahagia karena memiliki kekasih yang sangat perhatian dan juga mencintainya dengan tulus.
Syifa memeluk gulingnya dengan sangat erat, seakan itu adalah belahan jiwanya yang sangat ia rindukan. Membayangkan bertemu kembali dengan kekasihnya, membuat jiwanya seakan melayang tinggi ke angkasa. Bersamaan dengan itu, gadis itupun mulai terlelap dalam mimpi yang indah.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1