
" Syifa, tolong aku...!" ucap wanita itu.
" Bibik...?" kata Syifa pelan.
Syifa tidak menyangka wanita yang selama ini angkuh dan tak pernah menganggapnya ada, kini bersimpuh di kakinya. Dia tidak tahu maksud kedatangan adik ipar dari ibunya itu.
" Syifa... tolonglah pamanmu." ucap wanita paruh baya itu menghiba.
" Paman kenapa?" tanya Syifa datar.
Syifa sudah tidak pernah menganggap mereka keluarga lagi semenjak orangtuanya meninggal dan dirinya diusir serta dihina dengan sangat tidak manusiawi.
" Dia... dia ditangkap polisi."
" Memangnya paman salah apa?"
" Tidak penting salahnya apa, yang penting adalah dia harus membayar ganti rugi 200 juta agar tuntutannya di cabut."
" Hahahaa... jadi bibik kesini hanya untuk minta uang?" Syifa tertawa lepas.
Semua orang menatap Syifa heran, pasalnya tidak ada yang lucu dari ucapan wanita yang bersimpuh di hadapan Syifa. Syifa tertawa namun tatapan matanya menyiratkan kemarahan.
" Syifa, dia itu pamanmu... adik dari ibu kandungmu."
" Benarkah? Sejak kapan kalian menganggapku keponakan?" ucap Syifa sinis.
Syifa mencoba menahan amarahnya, apalagi di depan kedua orangtua angkatnya.
" Sayang_..." ucap Reyhan lirih.
" Tolong bawa dia pergi dari sini, aku tidak mengenal wanita itu." kata Syifa sambil berlalu masuk ke dalam kamar.
Reyhan menyuruh Sony dan Ardan untuk membawa wanita itu keluar dari rumah Syifa. Walaupun sebenarnya mereka kasihan, tapi tak ada satupun warga yang berani menengahi saat Ardan mengusirnya. Semua warga sudah tahu seperti apa klakuan mereka terhadap keluarga Syifa sejak dulu. Bahkan banyak yang mencibir dan mengejek istri dari pamannya Syifa itu.
" Rey, sebenarnya ada apa ini?" tanya papa Hendra.
" Wanita tadi adalah istri dari pamannya Syifa. Dulu, mereka tak pernah menganggap Syifa sebagai keponakannya. Mereka sering menghina keluarga Syifa karena miskin. Bahkan saat orangtua Syifa meninggal, mereka tidak datang untuk sekedar menghadiri pemakaman kakak kandungnya sendiri. Mereka juga merampas rumah ini dan menjualnya."
" Pantas saja Syifa sangat membenci mereka." ucap mama Salma.
Tak lama, pak RT masuk dan bergabung dengan Reyhan dan yang lainnya.
" Pak RT, memangnya apa yang terjadi dengan pamannya Syifa?" tanya Reyhan.
" Pamannya Syifa itu bekerja jadi buruh pabrik, kemarin dia tertangkap mencuri barang di gudang untuk dijual secara ilegal diluar." jawab pak RT.
" Biarkan saja kalau begitu, mudah - mudahan dia bisa bertobat setelah ini." kata Reyhan.
Malam semakin larut dan semua warga sudah pulang ke rumah masing - masing. Pak RT juga berpamitan untuk pulang.
" Ma, kalian menginap saja malam ini. Syifa pasti ingin sekali menginap disini, Reyhan tidak mungkin menemaninya sendirian." ucap Reyhan.
" Mama tidur dimana, Rey?"
" Rumah ini ada tiga kamar, Rey udah bersihkan semuanya."
" Ya sudah kalau begitu, papa juga lelah pengen cepat - cepat istirahat." kata papa Hendra.
" Kalian berdua juga menginap disini!" titah Reyhan pada dua sahabatnya.
Deni, Rendi dan Bella sudah pulang ke rumahnya sejak tadi. Mereka tidak mungkin ikut menginap karena rumahnya terlalu kecil jika semuanya menginap.
" Rey, kita tidur dimana?" tanya Sony.
" Di ruang tengah, depan tv. Soalnya kalau di kamar tidak muat ranjangnya untuk kita bertiga." jawab Reyhan.
" Ya sudah, aku mau tidur duluan. Kau lihat Syifa dulu sana, dia butuh kamu sekarang." kata Ardan.
" Hmm..." sahut Reyhan.
__ADS_1
Reyhan mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada sahutan dari kekasihnya. Dia segera memutar handle pintu dengan perlahan karena tidak dikunci.
" Sayang, kenapa menangis, hm?" ujar Reyhan melihat kekasihnya duduk di tepi ranjang sambil menangis.
" Kenapa Mas disini? Pulanglah, Syifa pengen disini dulu." kata Syifa.
" Mas tidak akan pergi tanpa dirimu, sayang. Kita akan selalu bersama."
" Apa tindakanku salah dengan mengabaikan pamanku?"
" Tidak, sayang. Dia pantas menerima semua itu sebagai karma dari perbuatannya."
Reyhan membawa Syifa ke dalam pelukannya dan mengusap punggung gadis itu dengan lembut untuk memberikan kenyamanan.
" Apa yang harus aku lakukan, Mas?"
" Tidak ada, sebaiknya sekarang tidur biar besok tidak bangun kesiangan."
" Memangnya mau kemana? Syifa mau tidur seharian disini."
" Huft... jangan menggodaku, mana tahan Mas jika kita berduaan terus di kamar?" goda Reyhan.
" Ish... siapa yang mau berduaan sama Mas dikamar? Syifa mau sendirian aja disini. Kenapa Mas nggak pulang aja sih?"
" Ngapain pulang? Ini rumahku juga, papa dan mama juga menginap disini, terus juga Sony dan Ardan tidur di ruang tengah."
" Mas, Syifa pengen tinggal lagi di rumah ini."
" Mas bilang apa tadi? Jangan membantah, aku ini calon suamimu."
" Iya, Syifa tahu. Tapi sebelum kita menikah, boleh ya... Syifa tinggal disini?"
" Tidak! Apa kau mau meninggalkan mama?" Reyhan mencoba menekan emosinya.
" Tapi, Mas_..."
" Apa kau tidak bisa menurut sebentar saja!"
" Mmmpphh...!" Syifa meronta setelah kehabisan stok oksigen.
" Mas keterlaluan!" pekik Syifa.
" Makanya jadi calon istri itu nurut sama calon suami. Sekarang cepat tidur, Mas capek mau tidur juga."
" Tidur aja sana! Siapa juga yang nyuruh masuk kesini!"
" Ya Allah... apa masih kurang yang Mas berikan tadi?"
" Apaan sih!" sungut Syifa.
" Jangan membuatku marah kalau tidak ingin Mas berbuat lebih dari itu." bisik Reyhan.
Reyhan menuntun Syifa ke tempat tidur. Diusapnya lembut kedua pipi gadisnya lalu menatap matanya dengan lekat. Sebenarnya Reyhan masih merindukan gadisnya itu dan tak ingin jauh darinya. Namun, karena hari sudah kian larut... Reyhan hanya mengecup keningnya sekilas lalu menyuruhnya tidur sementara dirinya langsung beranjak keluar dari kamar itu.
# # #
Pagi - pagi setelah shubuh, orangtua Reyhan kembali ke rumahnya sehingga meninggalkan empat sahabat itu di rumah Syifa.
" Sayang, ke pasar yuk? Beli bahan buat sarapan." kata Reyhan.
" Beli yang udah matang aja sih, Mas. Syifa lagi malas masak." sahut Syifa seperti enggan bergerak.
" Ya udah, Mas keluar sebentar. Bangunin Sony sama Ardan suruh sholat shubuh."
" Mas mau kemana?" Syifa masih fokus dengan film kartunnya.
" Cuma keluar sebentar cari angin."
Reyhan keluar rumah berbarengan dengan bu RT yang juga sedang bersiap untuk pergi.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum, Bu..." sapa Reyhan.
" Wa'alaikumsalam... sendirian saja mau kemana, Rey?"
" Reyhan mau ke pasar, bu. Ibu sendiri mau kemana?"
" Ibu juga mau ke pasar, nungguin suami saya masih di dalam. Kamu jalan kaki ke pasar, Rey?"
" Iya, bu. Soalnya kalau bawa mobil malah ribet nanti parkirnya."
Tak lama pak RT keluar dari dalam rumahnya menuntun motornya ke depan rumah.
" Rey, pagi - pagi begini mau kemana?" tanya pak RT.
" Ke pasar, pak." jawab Reyhan.
" Jalan kaki?"
" Iya, pak."
" Sendiri?"
" Iya, pak."
Pak RT nampak diam sejenak lalu tersenyum seperti memiliki sebuah ide.
" Kalau nak Reyhan mau ke pasar, apa bapak boleh minta tolong?"
" Minta tolong apa, pak?"
" Sekalian saja nak Reyhan ke pasarnya sama istri saya pakai motor ini. Soalnya bapak ada pertemuan di kantor Dinas sosial nanti jam delapan. Kalau harus antar ke pasar dulu tidak cukup waktunya." kata pak RT.
" Inikan hari sabtu, pak? Memangnya ada acara apa?" tanya bu RT.
" Sepertinya mau ada penyaluran dana untuk anak - anak yatim yang kurang mampu. Sekarang tinggal ambil saja karena kemarin bapak sudah menyerahkan datanya ke kantor desa."
" Pak RT perginya gimana kalau motornya Reyhan yang bawa?" tanya Reyhan.
" Motornya ada dua, Rey."
" Ya sudah kalau begitu, mari bu RT." kata Reyhan.
Akhirnya Reyhan membonceng bu RT ke pasar, lumayan tidak capek jalan kaki. Sebenarnya Reyhan ingin sekali jalan berdua dengan Syifa, namun gadis itu malah menolak dan lebih memilih nonton film kartun di rumah.
" Kamu masih ingat jalan ke pasar, Rey?" tanya bu RT.
" Masih, bu. Dulu Reyhan sering mengantar bu Aisyah belanja ke pasar."
" Oh, begitu ya? Untung saja ya, Syifa tinggal dengan orangtuamu semenjak diusir oleh pamannya itu. Setidaknya sekarang gadis malang itu bisa merasakan kasih sayang orangtua."
" Iya, bu. Reyhan juga belum lama tahu jika Syifa tinggal di rumah Reyhan sendiri. Padahal selama lima tahun itu, Reyhan sering pulang ke Jakarta untuk mencarinya tapi tak pernah ketemu."
" Memangnya kalian tidak pernah bertemu di rumah orangtuamu?"
" Tidak, bu. Saya tidak pernah pulang ke rumah orangtua saja."
" Makanya, sering - sering kunjungi orangtua walaupun nantinya sudah berkeluarga. Apalagi kamu itu anak laki - laki, harus bisa bisa menempatkan diri."
" Maksud ibu menempatkan diri?"
" Seorang anak laki - laki meskipun sudah menikah, ia tetap bertanggung jawab terhadap kedua orangtuanya tanpa mendzolimi istri dan anak - anaknya. Harus bisa adil dalam bersikap dan memberi nafkah."
Reyhan mencerna semua ucapan bu RT yang menurutnya sangat bermanfaat itu. Hingga tak terasa mereka sudah sampai di pasar tradisional, tempat berbelanja sayuran.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.