ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 98


__ADS_3

" Syifa hanya ingin membuat kakak bahagia," batin Syifa.


Syifa menggandeng lengan Sony untuk diajak keluar dari ruang kerja dokter tampan itu. Wanita yang sudah bersuami itu tidak canggung sama sekali untuk bergelayut manja di lengan kakak angkatnya walaupun banyak orang yang menatapnya tak suka.


" Dek, tumben banget kamu ajak kakak jalan? Apa suamimu sudah kehabisan uang untuk mengajakmu ke Mall?" ledek Sony.


" Mana kutahu, Syifa tidak pernah tahu sekaya apa Mas Reyhan. Lagian Syifa masih kerja, jadi tidak mengharapkan uang dari mas Reyhan." sahut Syifa.


" Bagaimanapun juga, tugas suami itu memberi nafkah untuk istrinya walau sekecil apapun."


" Hhh... selama Syifa masih bisa melakukannya sendiri, Syifa tidak akan bergantung pada siapapun termasuk suami."


" Dasar keras kepala!"


Sampai di parkiran khusus para petinggi di rumah sakit itu, Sony langsung masuk ke dalam mobilnya diikuti Syifa. Keduanya saling diam beberapa saat sebelum akhirnya Syifa membuyarkan lamunan Sony.


" Kak, diem aja sih. Belum sarapan ya?" tegur Syifa.


" Hhh... kakak lagi mikirin Shella, Dek." sahut Sony.


" Kakak sayang banget ya sama Shella?"


" Iyalah, Dek. Kami sudah lama menjalin hubungan ini, pastilah kakak sayang sama Shella."


" Pantas saja dulu kakak sering ngajak Syifa ke rumah Shella, ternyata diam - diam pacaran sama anak kecil... hahahaa..."


" Lagian kamu lebih memilih Reyhan daripada kakak. Padahal selama ini yang selalu ada buat kamu siapa?"


" Hehehee... kan kakak cintanya sama yang lain, bukan Syifa."


Setengah jam kemudian, mereka sampai di Mall tempat yang diinginkan Syifa. Wanita yang kini sudah berlari menuju butik di lantsi tiga itu berkeliling mencari baju untuk Sony.


" Fa, kenapa cari baju seperti itu? Buat Reyhan?" tanya Sony heran.


" Tidak, ini buat kakak biar terlihat lebih fresh dan tampan." sahut Syifa sambil nyengir.


" Kakak nggak butuh, lebih baik kembali ke rumah sakit."


" Tidak boleh menolak!" seru Syifa.


" Huft... punya adik satu aja keras kepala." gerutu Sony.


Selesai dengan pemilihan baju, Syifa berkeliling di toko perhiasan mencari sepasang cincin.


" Fa, buat apalagi beli cincin? Kenapa tidak sama Reyhan saja?"


" Syifa pengen dibeliin sama kakak." rengek Syifa.


Syifa memilih cincin berlian yang sangat indah. Dia juga menyuruh Sony mencoba cincin pasangannya.


" Fa, jariku sama Reyhan belum tentu sama." kata Sony.


" Pasti sama, ini bisa ditukar lagi kalau tidak pas." sahut Syifa.


Setelah berdebat cukup lama, akhirnya Sony mengalah dan menuruti semua keinginan Syifa. Dia membayar semua belanjaan yang diminta adik angkatnya. Selesai berbelanja, mereka makan siang di restoran sebelum berangkat ke Villa Anton di Bogor.


# # #


Reyhan sudah sampai lebih dulu di Villa bersama Anton, Rendi, Deni dan Clarissa. Mereka akan mengadakan acara kecil di tempat itu.


" Rey, Syifa udah jalan kesini? Kamu yakin istrimu bisa membawa Sony kesini?" tanya Anton.

__ADS_1


" Pasti. Sony tidak akan pernah bisa menolak keinginan Syifa. Mereka sudah seperti saudara dan saling memahami satu sama lain."


" Hebat juga Sony, dia sangat dekat dengan Syifa tapi tidak jatuh cinta." seloroh Anton.


" Memangnya kau yang lihat kucing dibedakin aja suka." cibir Reyhan.


" Hei... cuma istrimu wanita yang bisa membuat aku jatuh cinta."


" Hhh... terserah kau saja. Oh iya, apa anak buahmu sudah bersiap diluar?"


" Sudah, tinggal menunggu mereka datang saja."


Tak berselang lama, orang - orang yang ditunggu Reyhan datang. Mereka hanya tinggal menunggu Ardan dan Sony. Reyhan sempat khawatir juga karena istrinya masih belum datang juga.


" Rey, sebaiknya kita tunggu saja di belakang. Kasihan Clarissa menyiapkan acaranya sendiri." kata Deni.


" Bukannya Rendi juga ada di belakang bantuin dia?" sahut Reyhan.


" Iya, tapi ada baiknya kita membantu sebelum Sony dan Ardan datang."


" Ok, tapi saya mau telfon Syifa dulu udah sampai dimana sekarang." kata Reyhan.


Reyhan berjalan ke teras rumah dan segera membuka kunci layar ponselnya. Dia segera mencari contact istrinya lalu menghubunginya.


" Assalamu'alaikum, sayang."


( " Wa'alaikumsalam, Mas. Ada apa?" )


" Kamu sampai mana? Mas udah sampai di Villa Anton."


( " Sebentar lagi, Mas. Ini masih diluar hutan, tunggu aja dulu." )


" Ya udah, suruh Sony berhati - hati nyetirnya."


" Wa'alaikumsalam."


Setelah selesai menelfon istrinya, Reyhan menyusul yang lainnya ke belakang rumah. Semua persiapan sudah selesai dilakukan.


# # #


Ardan dan Shella datang lebih dulu dibandingkan Sony dan Syifa. Anton yang sengaja menunggu di depan langsung menyuruh Ardan membawa adiknya masuk ke dalam kamar.


" Kak, kita ngapain kesini?" tanya Shella takut.


" Tidak apa - apa, ayo masuk. Kamu di dalam kamar aja, jangan pernah keluar saat kakak belum jemput kamu." titah Ardan.


" Iya, kak."


Tak lama, Sony dan Syifa juga datang. Anton langsung mengajak mereka ke belakang villa bergabung dengan yang lain. Walaupun rasanya tidak nyaman, namun dia terpaksa menuruti Anton.


" Ton, sebenarnya ini acaranya siapa?" tanya Sony bingung.


" Itu, kucingku beranak lima jadi aku adain syukuran deh." celetuk Anton asal.


Reyhan langsung menyambut mereka terutama sang istri yang langsung menghambur ke pelukannya.


" Sayang, Mas kangen nungguin kamu lama." bisik Reyhan.


" Benarkah? Syifa tidak percaya."


" Ya Allah, sayangku. Apa sih yang kamu ragukan dari Mas ini. Semua yang ada pada diriku sudah kamu ambil termasuk_..."

__ADS_1


" Ssttt... jangan ngawur kamu Mas!" Syifa mencubit lengan Reyhan cukup keras.


" Iya - iya, sorry sayangku."


Acara yang ditunggu - tunggu akhirnya datang juga. Sony berdiri di samping Ardan walaupun masih terlihat canggung. Tak ada obrolan hangat diantara keduanya, seperti yang sering mereka lakukan sebelumnya.


" Sayang, acaranya mau dimulai. Mas jemput Shella dulu di dalam, kamu disini dulu ya?" bisik Reyhan.


" Iya, Mas. Syifa sama kak Sony dulu ya?"


" Ya udah, Mas masuk dulu."


Reyhan segera masuk ke dalam villa dan mencari Shella di kamarnya. Setelah gadis itu membuka pintu, Reyhan langsung mengajaknya keluar.


" Kak, ini sebenarnya ada acara apa sih?" tanya Shella.


" Acara kamu, Dek." jawab Reyhan asal.


" Kok acara Shella? Sepertinya Shella ulang tahunnya bukan hari ini deh."


" Eh iya, Dek. Kakak mau tanya serius sama kamu, jawab dengan jujur ya?"


" Soal apa, kak?"


" Apa kamu serius cinta sama Sony?"


" Apa kakak tidak percaya sama Shella?"


" Bukannya tidak percaya, Dek. Tapi kakak ingin kamu mengambil keputusan saat ini juga."


" Keputusan apa, kak?"


" Seandainya Sony melamarmu sekarang, apa kamu sudah siap menerimanya?"


Shella menatap mata Reyhan dengan lekat. Dia ingin memastikan tak ada gurauan dalam ucapan pria yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.


" Tapi kak Ardan gimana? Sepertinya dia tidak setuju kalau Shella sama kak Sony."


" Tidak ada yang bisa menghalangi jika memang kamu serius sama Sony."


" Shella tidak tahu, kak. Apakah orangtua Shella setuju atau tidak dengan hubungan kami."


" Yang penting kamu harus yakin dengan perasaan kamu."


" Iya, kak. Shella yakin jika cinta Shella untuk kak Sony tulus. Kami saling mencintai sudah sejak lama."


" Baiklah, kalau kamu sudah siap. Kita keluar sekarang, ya?"


" Siap untuk apa, kak?"


Reyhan hanya tersenyum lalu menarik lengan Shella menuju ke belakang Villa. Sampai disana, ternyata gadis itu melihat Sony berada tak jauh darinya sedang bersama Syifa, Ardan dan Clarissa.


" Lihat! Mereka juga ada disana." Reyhan menunjuk ke sisi lain yang terdapat beberapa orang sedang berbincang.


" Kakak, kenapa mereka ada disini?" pekik Shella.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2