ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 60


__ADS_3

Reyhan sedang duduk di kursi kebesarannya sambil melamun. Entah apa yang sedang dia pikirkan, kadang tersenyum namun juga mengernyitkan dahinya secara bergantian.


" Hai... boss besar ngelamun apaan nih? Jangan - jangan lagi_..." tiba - tiba Sony datang bersama Ardan mengagetkannya.


" Astaghfirullah... kalian datang darimana?" ucap Reyhan terkejut.


" Hahahaa... tentu saja kami datang dari langit." sahut Ardan sambil tertawa.


" Ish... kenapa tidak mengajak Syifa?" tanya Reyhan.


" Dia sedang sibuk dengan pekerjaannya, tidak bisa keluar kantor." jawab Sony.


" Hhh... sepertinya papa memang memanfaatkannya." kata Reyhan.


" Kau senyum - senyum sendiri kayak orang gila begitu sedang memikirkan apa?" ledek Ardan.


" Tentu saja memikirkan kekasihku, memangnya kalian jomblo sejati... hahahaa..." ejek Reyhan.


Cathy membawakan tiga gelas minuman ke dalam ruangan Reyhan. Dia tersenyum saat melihat Ardan, namun terlihat datar saat di depan Sony.


" Boss, pinjam kartu debit, punyaku ketinggalan di rumah. Cathy mau beli makanan di seberang." bisik Cathy.


" Huh... memangnya aku ini ayahmu," keluh Reyhan namun tetap memberikan kartu debitnya kepada sekretaris manjanya.


" Thank you, Boss." ucap Cathy tersenyum manis.


" Beli buat kami juga sama kakakmu." kata Reyhan.


" Ok, Boss."


Begitu mendapatkan yang dia minta, Cathy langsung melenggang keluar tanpa menoleh lagi ke belakang. Dia bergegas keluar gedung sebelum jam istirahat karena tempat itu akan ramai pengunjung jika jam istirahat tiba.


" Untuk apa dia minta kartu milikmu?" tanya Sony.


" Buat beli makanan, daripada mengacau lebih baik dia pergi." sahut Reyhan.


" Mengacau?" tanya Sony.


" Kalau tidak ada pekerjaan, dia itu hanya menggangguku dengan suara cemprengnya yang tidak jelas itu." kata Reyhan.


" Kau bisa saja, Rey. Wanita secantik itu dianggurin." cibir Ardan.


" Berisik kalian! Aku mau meeting, kalian pulang saja duluan dan istirahat."


Reyhan menghubungi Steven untuk menyuruh sopir kantor mengantar Ardan dan Sony ke rumahnya. Hari ini dia hanya memeriksa beberapa berkas dan meeting nanti setelah jam istirahat.


" Boss, nanti malam ada undangan makan malam dari nona Felicia putri klien kita dari California." kata Steven.


" Saya sudah ada janji dengan orang lain, katakan padanya saya tidak bisa."


" Tapi, Boss... perusahaannya adalah klien terbesar kita."


" Hhh... kita bekerja sama dengan orangtuanya, bukan gadis itu."


" Undangan ini disampaikan langsung oleh Mr. Jackson."


" Siapa saja yang hadir?"


" Hanya kalian berdua, dinner di cafe Star."


" Cih! Saya sudah tahu maksud mereka. Jangan salahkan aku jika perusahaan mereka hancur. Siapkan semuanya dari sekarang, kita jalankan rencananya." seringai Reyhan.

__ADS_1


# # #


Sesuai rencana tadi siang, malam ini Reyhan menghadiri undangan Felicia untuk dinner. Dibantu oleh Sony dan Ardan, Reyhan datang menemui Felicia.


Reyhan booking satu cafe di lantai atas itu agar bisa mengetahui rencana Felicia. Steven berada di ruangan cctv, sedangkan Sony dan Ardan sebagai pelayan.


Reyhan datang satu jam lebih awal agar bisa menyambut Felicia dengan strategi yang sudah diatur. Dia ingin tahu, seberapa berani wanita itu. Reyhan dan yang lainnya saling berkomunikasi lewwat earphone yang terpasang di telinga mereka.


Tak berselang lama, seorang wanita cantik dan seksi datang dengan pakaian yang sangat minim. Dilihat dari jauh saja, Reyhan rasanya ingin muntah karena jijik.


" Hy... Mr. Reyhan, nice to meet you. Saya senang Anda bersedia menghadiri undangan saya." ucap Felicia dengan tatapan menggoda.


Felicia berusaha mendekat ke arah Reyhan berniat untuk memeluknya. Namun di luar dugaan, Reyhan malah sedikit menghindar dan berjalan menuju meja yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Felicia sedikit kecewa karena tangannya hanya bisa meraih udara.


" Terimakasih undangannya, nona Feli. Saya juga senang bisa bertemu dengan wanita secantik anda." kata Reyhan dengan senyum yang sulit diartikan.


Reyhan menarik kursi untuk wanita itu dengan berbagai ledekan dari Ardan lewat earphone. Dalam hati, Reyhan mengumpat pada para sahabatnya yang mengajarkan kalimat memuakkan itu. Dia berjanji akan membalas semua perbuatan mereka saat ini.


" Mr. Reyhan, saya ingin ke toilet dulu." kata Felicia.


" Silahkan, Nona." sahut Reyhan dengan tersenyum.


Sesuai perkiraan mereka, Feli memanggil pelayan untuk mendekat kepadanya. Pelayan itu tidak lain adalah Ardan dan Sony. Mereka segera menghampiri Feli setelah saling melempar senyum devilnya.


" Nona memanggil kami?" tanya Ardan sehalus mungkin.


" Iya, saya ada tugas untuk kalian berdua." ucap Feli dengan senyum sinisnya.


" Apa yang bisa kami bantu, Nona?" kata Sony.


" Campurkan obat ini ke minuman untuk teman saya diatas, dia sedang tidak enak badan tapi susah minum obat."


" Ini obat apa, Nona?"


" Baiklah, kami akan siapkan minumannya. Silahkan menunggu, nona..."


Setelah Felicia pergi, Sony memeriksa obat dan menciumnya sekilas. Dia menarik nafas dalam lalu menatap Ardan.


" Sial, ini obat perangsang." umpat Sony.


" Hahahaa... licik juga j*l*ng itu." seringai Ardan.


" Bagaimana sekarang?" tanya Sony.


" Turuti saja kemauan gadis itu, sekali - kali biar Reyhan merasakan wanita bule." Ardan tersenyum jahil.


" Sialan kau! Aku tidak mau sampai Syifa sakit hati karena masalah seperti ini." geram Sony.


" Tenanglah, kita lihat saja aksi perempuan itu selanjutnya."


Steven memberitahu jika Felicia mengerahkan beberapa anak buahnya diluar agar Reyhan tidak bisa lolos saat menyadari obat itu bereaksi.


Cathy dan David juga ada disana untuk mengawasi bagian yang tidak terekam cctv. Dua sejoli itu nampak begitu riang saat sengaja mengeluarkan ucapan mesra untuk memancing emosi Sony dan Ardan.


" Cathy, tidak bisakah kau diam!" geram Sony.


" Ups! Sorry, saya pikir tidak ada yang dengar." sahut Cathy santai.


" Dav, bagaimana diluar?" tanya Steven.


" Masih aman, Stev. Ada dua penjaga di sisi barat dan timur, di mobilnya ada satu orang lagi."

__ADS_1


Sony dan Ardan segera menyajikan makanan dan minuman ke lantai atas dimana Reyhan dan Feli berada.


" Mr. Reyhan, bagaimana kerjasama perusahaan kita?" ucap Feli basa basi.


" Cukup baik, Nona. Tapi saya tidak tahu bagaimana ke depannya nanti. Semoga tidak ada yang membuat masalah sehingga menghancurkan kerjasama kita."


" Kuharap juga begitu, semoga setelah ini hubungan kita menjadi lebih baik lagi." ucap Feli dengan senyum menggoda.


Feli bangkit dari duduknya dan mendejati Reyhan. Dengan lembut ia memegang kedua pundak Reyhan dari belakang.


" Bagaimana jika setelah ini, kita jalan - jalan sebentar, ada kejutan untukmu nanti yang tidak akan pernah kamu lupakan." bisik Feli.


" Benarkah, kalau begitu kita segera makan dan pergi dari sini." sahut Reyhan.


" Tentu saja, mari kita makan." ucap Feli sumringah.


Acara makanpun dimulai, Reyhan langsung menyantap makanan tanpa menyentuh minumannya sama sekali. Feli dengan gelisah .enatap Reyhan yang hanya fokus dengan makanan di piringnya.


" Mr. Reyhan, kenapa tidak minum?" tanya Feli tidak sabaran.


" Maaf, Nona Feli... saya biasa minum setelah makanan di piring saya habis." kata Reyhan santai.


Feli tidak berselera makan sama sekali. Dia hanya fokus menatap Reyhan yang makan dengan santainya. Feli hanya menyendok sedikit makanannya lalu meminum minuman miliknya hingga tandas.


Reyhan yang melihat Feli belum menghabiskan makanannya hanya bisa tersenyum lalu meraih gelas di hadapannya untuk diminum.


" Minumannya sangat enak, lain kali kita bisa datang lagi kesini." kata Reyhan dengan senyum yang membuat Feli sangat senang.


" Iya, saya juga menyukainya Mr. Reyhan."


Feli mulai merasa tidak nyaman dengan duduknya, begitupun dengan Reyhan yang mulai mengendurkan dasi di lehernya. Feli yang melihatnya pun dalam hati bersorak gembira karena sebentar lagi rencananya berhasil.


" Nona... sepertinya disini gerah, bagaimana jika kita pindah ke tempat lain?" Reyhan mengulurkan tangannya yang langsung disambut Feli dengan kegirangan.


" Baiklah, kita akan pergi kemanapun Mr. Reyhan."


" Tentu saja, mari kita keluar dari sini. Kita lewat pintu samping saja, biar tidak ada media yang melihat kedekatan kita."


" Terserah kau saja," kata Feli yang mulai menatap sayu pria yang menggandengnya.


Sampai di bawah, Reyhan melepas genggaman tangannya lalu menyuruh Feli masuk ke mobilnya sendiri.


" Masuklah ke mobilmu, Feli. Saya akan mengikutimu dari belakang. Kita akan menghabiskan waktu malam ini bersama." bisik Reyhan mengusap pelan rambut pirang gadis di hadapannya.


" Hah... apa yang kulakukan! Sungguh sangat menjijikkan...!" umpat Reyhan dalam hati.


" Kenapa kita tidak satu mobil saja, honey?" rengek Feli dengan tubuhnya yang mulai memanas dengan tatapan yang sangat menggoda.


" Feli, apa yang kau lakukan? Ini di tempat umum, tahanlah sebentar lagi." Reyhan menghindar saat Feli ingin menciumnya.


" Baiklah, kita pergi ke Club dekat sini." kata Feli yang mulai resah.


Feli langsung berjalan ke arah mobilnya dengan tangannya yang mengusap - usap lehernya sendiri merasakan tubuhnya memanas. Dia juga sempat melihat Reyhan yang melakukan hal yang sana. Terlihat Reyhan melepas jas yang melekat di tubuhnya.


" Sebentar lagi permainan di mulai."


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2