
Sudah beberapa bulan berlalu, Reyhan hanya sesekali menghubungi papanya. Reyhan tidak pernah sekalipun berbicara pada ibunya karena takut nantinya dia akan luluh dengan airmata yang pasti akan membuatnya tidak tega.
" Rey, apa kau tidak merindukan orangtuamu? Kau boleh menghindari Syifa, tapi orangtua kamu kenapa harus menerima imbasnya juga." ucap Cathy.
" Sudahlah, Cath. Aku tidak mau membahas masalah ini lagi." sahut Reyhan kesal.
" Rey, kamu tidak boleh egois. Kau pergi dalam keadaan marah dan kecewa waktu itu, pasti mereka sangat mencemaskanmu."
" Mereka baik - baik saja, Syifa bisa menjaga kedua orangtuaku dengan baik."
" Kau sangat keras kepala Mr. Reyhan Aditama," kesal Cathy.
Reyhan hanya tertawa kecil melihat wajah kesal sekretarisnya yang bawel itu. Ada untungnya Catherine yang menemaninya bekerja dan juga selalu ada di saat ia sedang butuh teman. Steven hanya bersamanya saat jam kerja saja, selebihnya ia akan langsung pulang menikmati kebersamaan dengan istrinya, Helena.
David juga tidak mempermasalahkan kedekatan Reyhan dan Cathy karena mereka hanyalah sebatas berteman saja. Cathy sudah cerita tentang kisah Reyhan yang sangat mencintai seorang gadis dari negara asalnya.
" Cath, nanti malam ada acara dengan David?" tanya Reyhan.
" Tidak, kenapa?"
" Aku lagi jenuh, pengen keliling kota."
" Baiklah, nanti pulang kerja kita langsung berangkat."
" Thank you, Cathy. Mulai sekarang, aku akan melupakan Syifa dan memulai lembaran baru disini."
# # #
Sudah enam bulan Reyhan meninggalkan Indonesia. Syifa yang setiap hari tak bisa melupakan Reyhan lebih memilih menyibukkan diri dengan bekerja tiada henti. Setiap hari Syifa menghabiskan waktunya di kantor hingga jam sembilan malam.
Papa Hendra dan mama Salma sangat mencemaskan keadaan Reyhan dan Syifa. Yang satu pergi jauh dan tak mau pulang, satunya lagi gila kerja hingga jarang sekali bisa diajak berkumpul.
" Pa, mama khawatir dengan keadaan Reyhan dan Syifa. Mereka saling mencintai, tapi sepertinya terjadi salah paham di antara mereka." ucap mama Salma.
" Kita harus bagaimana lagi, Ma. Setiap kali papa mau membahas soal Syifa, Reyhan langsung mematikan telfonnya." sahut papa Hendra.
" Syifa juga begitu, pa. Dia mengalihkan pikirannya dengan bekerja sepanjang hari. Syifa sampai berniat keluar dari rumah ini agar Reyhan mau pulang."
" Sepertinya kita harus cari cara agar mereka bertemu, Ma. Papa tidak mau kehilangan keduanya."
" Kita harus bagaimana, pa? Tempat tinggal Reyhan saja kita tidak tahu. Apa usahanya disana juga berhasil?"
" Coba nanti papa cari tahu dari Ardan dan Sony, Ma. Mudah - mudahan mereka punya informasi dari Reyhan."
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam dan Syifa belum juga sampai di rumah. Mama Salma terlihat sangat khawatir dengan keadaan putri angkatnya yang semakin hari semakin murung.
" Ma, berhentilah mondar - mandir! Papa pusing lihat kelakuan mama seperti setrikaan." ujar papa Hendra.
" Papa diam saja! Mama khawatir dengan Syifa, jam segini belum pulang juga."
" Mungkin masih di jalan, Ma."
Tak lama Syifa datang dengan wajah lelahnya. Setelah menyalami kedua orangtuanya, Syifa berniat untuk langsung naik ke kamarnya.
__ADS_1
" Pa, Ma... Syifa langsung ke kamar ya?" ucap Syifa.
" Tunggu, Nak. Mama ingin bicara sebentar sama kamu." ujar mama Salma.
" Ada apa, Ma?"
Syifa duduk di ruang keluarga bersama papa dan mamanya. Hatinya sedikit heran dengan sikap orangtuanya wajahnya terlihat serius.
" Fa, mau sampai kapan kamu seperti ini?"
" Maksud Mama apa?"
" Apa dengan menyibukkan diri dengan pekerjaan bisa membuatmu lupa dengan Reyhan?"
" Ma, Syifa melakukan ini bukan karena ingin melupakan Reyhan. Justru semua ini Syifa lakukan untuk menjaga hati Syifa agar tidak berpaling untuk orang lain. Syifa sadar, ini semua sudah sangat terlambat. Syifa sudah tidak berharap lagi Reyhan akan kembali seperti dulu, tapi Syifa berharap Reyhan akan kembali ke rumah ini untuk kalian."
" Fa, apa kau tahu alamat Reyhan disana?"
" Tidak, Ma. Tapi kemarin kak Deni bilang kalau Reyhan bekerja di sebuah perusahaan disana yang terbilang cukup besar. Teman kak Deni ada yang liburan disana dan sempat melihat Reyhan di gedung kantor bernama S.A Properties."
" S.A Properties? Papa seperti pernah mendengar nama perusahaan itu. Coba kau lihat di google, mungkin ada informasi untuk melacak keberadaan Reyhan. Untuk Reyhan yang lulusan S2 itu, papa yakin dia memiliki jabatan yang tinggi disana."
Syifa membuka laptopnya lalu mengetik S.A Properties di aplikasi google. Syifa mulai mencari alamat kantor dan pemilik perusahaan itu.
" Masya Allah...!" pekik Syifa.
" Ada apa, Nak?" tanya mama Salma.
" Apaaa?!" teriak papa Hendra dan mama Salma bersamaan.
" Iya, lihatlah ini. Foto Reyhan terpampang jelas disini."
Syifa menatap lekat foto di layar laptopnya itu dengan hati yang kian tak bisa diartikan lagi.
" S.A Properties adalah perusahaan baru yang berkembang pesat di negara itu. Papa tidak menyangka Reyhan yang membangun perusahaan itu."
" Pa, Ma... Syifa ke kamar dulu ya? Sudah malam, papa dan mama juga harus beristirahat." ucap Syifa.
" Kamu juga istirahat, sayang." sahut mama Salma.
Syifa membersihkan diri sebentar dengan air hangat lalu naik ke tempat tidur untuk beristirahat. Namun, karena masih penasaran dengan S.A Properties akhirnya Syifa kembali membuka laptopnya untuk melihat profil Reyhan.
Syifa menatap wajah pria yang membuatnya merasa bersalah sepanjang hidupnya. Saat membaca seluruh profil Reyhan, Syifa terpaku dengan motivasi pendirian perusahaan itu.
" Perusahaan ini berdiri untuk seseorang yang memotivasi hidup saya menjadi orang yang mandiri dan sukses. Dia adalah orang yang paling berharga untuk saya, selamanya. Dimanapun dia berada sekarang, semoga selalu dalam kebahagiaan."
Kata - kata itu mengingatkan Syifa saat mereka berpisah lima tahun yang lalu. Reyhan yang mengurungkan niatnya pergi ke Amerika karena tidak ingin meninggalkan Syifa yang saat itu sedang terpuruk karena meninggalnya ayah dan ibu Syifa. Reyhan bersikeras ingin bersama Syifa saat itu.
Syifa yang tidak ingin masa depan Reyhan hancur, membujuk dengan segala cara hingga akhirnya menyuruh Reyhan untuk menjadi pria yang mandiri dan sukses dengan hasil jerih payahnya sendiri.
" Kau sudah berhasil sekarang, Rey. Kau menjadi orang yang sukses dan mandiri. Aku bangga pernah menjadi bagian dari hidupmu. Sekarang aku jadi semakin yakin jika kita tidak berjodoh. Aku merasa tidak pantas untukmu, aku hanya akan menjadi beban bagimu." gumam Syifa sambil mengusap airmatanya.
Syifa senang melihat kesuksesan Reyhan. Tapi disisi lain, dia merasa semakin rendah dan tidak pantas untuk sekedar bertemu dengannya. Tubuh yang terasa lelah membuat Syifa langsung terlelap setelah mematikan laptopnya.
__ADS_1
# # #
Syifa sudah rapi bersiap untuk berangkat ke kantor. Namun saat sampai di lantai bawah, suara teriakan papanya membuat Syifa langsung berlari menghampirinya di kamar.
" Syifaaa!" teriak papa.
" Papa, ada apa?" tanya Syifa.
" Mama... mama kamu pingsan. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit." kata papa.
" Iya, pa. Syifa siapkan mobil dulu ya?"
Syifa berlari keluar rumah mencari orang untuk membantu mengangkat tubuh mama Salma ke dalam mobil. Dengan rasa paniknya, Syifa mempercepat laju mobilnya menuju rumah sakit. Dia tidak peduli dengan umpatan para pengendara lain yang merasa terganggu dengan cara Syifa mengemudikan mobilnya secara ugal - ugalan.
Sampai di rumah sakit, mama Salma langsung dibawa masuk ke ruang IGD untuk diperiksa. Syifa sangat cemas duduk di samping papanya yang sedari tadi hanya diam.
Sepuluh menit kemudian, dokter yang memeriksa mama Salma keluar. Papa Hendra dan Syifa bergegas menghampirinya.
" Dokter, mama saya sakit apa?" tanya Syifa.
" Pasien akan di cek dulu untuk keseluruhannya, jadi beliau harus dirawat inap sampai hasil tes kesehatannya keluar." kata Dokter.
" Apa kami bisa bertemu?"
" Tentu saja, silahkan."
Syifa bergegas masuk diikuti papanya yang sedari tadi hanya menampakkan raut muka sedihnya.
" Mama..." Syifa memeluk mama Salma.
" Syifa, apa penyakit mama parah?" tanya mama Salma.
" Tidak, mama baik - baik saja."
" Tubuh mama sangat lemah, mama takut_..."
" Ssttt! Mama pasti sembuh."
" Fa, boleh mama minta sesuatu padamu?"
" Katakan saja, Ma. Apapun permintaan mama, pasti Syifa kabulkan,"
" Mama minta_..."
.
.
TBC
.
.
__ADS_1