
Reyhan yang mendapat kabar Cathy sudah ditemukan bergegas menuju ke rumah Rendi. Dia harus memastikan bahwa gadis itu baik - baik saja dan berharap Syifa juga datang kesana.
" Cathy...!" teriak Reyhan.
" Rey...!" Cathy sedikit berlari menghampiri Reyhan yang baru keluar dari mobil.
" Kau kemana saja? Aku mencarimu semalaman!" nada suara Reyhan meninggi namun dalam waktu sekejap ia memeluk erat gadis itu.
" Maaf, Rey. Semalam aku panik, tidak tahu harus kemana sampai akhirnya bertemu dengan temanmu itu."
Reyhan menatap Ardan yang sedang duduk di teras rumah Rendi bersama Sony. Setelah mengusap pelan puncak kepala gadis itu, Reyhan melepaskan pelukannya. Tubuhnya sangat lelah, ingin rasanya ia pingsan saja agar tubuhnya bisa beristirahat walau hanya sebentar.
" Syifa tidak datang kesini?" tanya Reyhan.
" Tidak, ponselnya juga tidak aktif." jawab Cathy.
Reyhan tak ingin memperpanjang masalah ini. Semua ini memang kesalahannya, seharusnya semalam ia tidak meninggalkan Cathy bersama Sony. Yang penting sekarang ia sudah bertemu dengan Cathy itu saja sudah cukup. Dia ingin beristirahat sebentar, fisik maupun pikirannya.
" Rey, wajahmu sangat pucat. Apa kau tidak tidur semalaman?" tanya Cathy khawatir.
Sony dan Ardan tidak menyangka reaksi Reyhan begitu mengejutkan. Pria yang biasanya dingin terhadap wanita itu begitu peduli dengan gadis bule itu. Tak segan Reyhan juga memeluk gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
" Sial...! Apa mungkin_..." Sony menghentikan ucapannya.
" Kenapa, Son?" tanya Ardan.
" Seandainya Syifa melihat kedekatan mereka berdua seperti ini, menurutmu apa yang akan dilakukan Syifa?"
" Pergi mungkin, sakit hati atau_... Astaga, jangan - jangan_...?" pekik Ardan.
" Itulah yang kupikirkan. Melihat Reyhan yang sangat peduli dan mengkhawatirkan Cathy, aku yakin saat ini Syifa sedang terluka." kata Sony.
" Apa kita cari Syifa sekarang?"
" Tidak, kita selesaikan urusan Rendi dulu. Syifa pasti semakin kecewa jika pernikahan ini batal."
Setelah semuanya siap, rombongan keluarga Rendi berangkat menuju rumah Bella untuk melangsungkan acara pernikahan. Reyhan tidak ikut karena harus mengantar Cathy pulang. Dia bahkan lupa dimana Syifa sekarang karena tubuhnya sangat lelah.
# # #
Syifa berkeliling kota mencari keberadaan Cathy. Demi menyenangkan hati Reyhan, Syifa rela mencari gadis yang entah memiliki hubungan special apa dengan kekasihnya.
Karena sangat lelah dan pikirannya juga kacau, Syifa memilih untuk mencari tempat yang sepi. Dia pergi ke pantai di saat matahari telah meninggi. Biasanya jam - jam seperti ini tidak banyak pengunjung disana.
" Ya Allah, tubuhku sudah lelah. Sampai kapan hatiku terus terombang - ambing seperti ini. Kadang dia begitu tulus mencintaiku, tapi di sisi lain dia juga mengabaikanku karena wanita lain. Apakah aku harus bertahan dengan keadaan ini, ataukah harus ikhlas melepasnya?" batin Syifa.
Semalaman juga Syifa tidak tidur sama sekali. Setelah Reyhan mengantarnya pulang, pria itu langsung pergi lagi mencari Cathy tanpa memperdulikan fisiknya yang sudah sangat lelah. Hati Syifa sangat sakit, apa saat ia tersesat di Amerika dulu, Reyhan juga sangat khawatir seperti itu?
Tanpa sadar, Syifa berjalan ke dalam air yang lebih dalam. Tatapannya kosong ke depan hingga tak sadar hanya tinggal kepalanya saja yang terlihat.
" Nona, apa yang kau lakukan!" teriak seseorang dari belakang yang memegang erat pundaknya.
" Astaghfirullah...!" lirih Syifa sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.
Orang itu adalah Danang, office boy di kantor Syifa. Dia yang kebetulan sedang liburan bersama calon istrinya melihat ada seseorang yang berjalan kearah tengah laut. Berkali - kali diteriaki namun gadis itu tak merespon sama sekali. Akhirnya Danang nekat mengejarnya masuk ke dalam air.
" Nona Syifa, apa yang kau lakukan?" pekik Danang.
__ADS_1
Danang membawa Syifa ke tepian pantai. Calon istrinya dengan sigap membantunya untuk menyadarkan gadis itu.
" Kau mengenal gadis ini?" tanya calon istri Danang.
" Iya, dia sekretaris presdir di kantor tempatku bekerja." jawab Danang.
" Kita bawa ke rumah sakit saja ya, aku khawatir dia kenapa - napa."
" Ya sudah, aku periksa tasnya dulu mungkin dia bawa mobil."
Danang memeriksa tas milik Syifa dan menemukan kunci mobil disana. Dia juga meminta beberapa orang untuk membantunya mengangkat tubuh Syifa ke dalam mobil.
Sampai di klinik terdekat, Syifa langsung mendapatkan perawatan. Tubuhnya sangat lemah karena semalaman tidak tidur dan dari pagi belum makan atau minum apapun.
" Apa ada keluarganya yang bisa dihubungi?" tanya gadis di samping Danang.
" Nona Syifa butuh istirahat. Kita perlu minta ijin padanya untuk menghubungi keluarganya. Sepertinya dia sedang ada masalah."
Tak lama setelah diperiksa, Syifa sadar dengan wajah yang sangat pucat. Kata dokter, Syifa kelelahan dan terlalu banyak pikiran.
" Nona tidak apa - apa?" tanya Danang khawatir.
" Danang? Kaukah itu?" lirih Syifa.
" Iya, nona. Saya Danang, apa Anda butuh sesuatu?"
" Saya ingin tidur," ucap Syifa nyaris tak terdengar.
" Nona, apa yang terjadi? Apa saya harus menghubungi Tuan Deni?"
" Nona istirahatlah dulu, jika sudah membaik akan saya antarkan pulang."
" Terimakasih. Apa itu calon istrimu?" Syifa menatap gadis di belakang Danang.
" Iya, dia calon istri saya namanya Lina."
Lina tersenyum pada Syifa lalu sedikit mendekat kearahnya. Mereka berbincang sebentar hingga akhirnya Syifa tertidur karena pengaruh obat yang diberikan dokter.
# # #
Waktu sudah hampir maghrib, Reyhan terbangun dari tidurnya yang sedari pulang menjemput Cathy tadi. Tenaganya sudah sedikit membaik setelah bisa tidur cukup lama.
" Astagan aku tidur sangat lama." gumam Reyhan.
Saat ingin bangun dari tempat tidur, tanpa sengaja tangannya menyentuh sesuatu. Dia terkejut saat mengambil benda itu.
" Kalung ini? Kenapa bisa ada disini?" gumam Reyhan.
" Astaghfirullah... aku sampai lupa mencari Syifa!" pekik Reyhan.
Reyhan segera berlari menuju kamar Syifa. Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Reyhan langsung membuka pintu dengan kasar.
" Syifa...!" pekik Reyhan.
" Rey...?" bukan Syifa yang berada di kamar itu melainkan Cathy.
" Cathy, dimana Syifa?"
__ADS_1
" Syifa belum pulang, Rey."
" Belum pulang? Astaga... bagaimana bisa aku mengabaikannya." lirih Reyhan.
Reyhan kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri kemudian sholat maghrib. Setelah itu dia segera pergi untuk mencari Syifa. Dia teringat dengan ucapan Syifa tadi pagi yang mengatakan bahwa Cathy sangatlah penting dalam hidupnya.
" Akhh! Apa dia cemburu?" gumam Reyhan.
" Apa aku harus berkeliling kota lagi?" keluh Reyhan.
Tak lama Ardan mengirimkan pesan pada Reyhan menanyakan apakah Syifa sudah pulang atau belum. Setelah Reyhan membalas pesannya, mereka janjian untuk bertemu.
" Rey, duduklah!" kata Ardan.
Sony juga duduk disana dengan wajah lelahnya karena baru selesai melakukan operasi di rumah sakit.
" Ada apa?" tanya Reyhan datar.
" Kau darimana saja? Apa Syifa sudah kau cari?" tanya Sony.
" Tadi siang setelah menjemput Cathy, aku ketiduran karena lelah." jawab Reyhan.
" Kukira kau bisa kupercaya, Rey. Ternyata kau sangat mengecewakan." kata Sony datar.
" Apa maksudmu?"
" Kau sibuk mencari wanita lain hingga lupa untuk makan dan tidur. Sementara sekarang, kau bisa tidur dengan nyenyak saat Syifa menghilang!" bentak Sony.
" Aku juga sudah berusaha untuk mencari Syifa, aku akan terus mencari dia sampai ketemu."
" Percuma, Rey. Kau mungkin bisa menemukan raganya, tapi bukan hatinya." ucap Ardan.
" Sudahlah, aku tidak butuh nasehatmu!" ketus Reyhan.
" Kukira kau benar - benar memprioritaskan Syifa dalam hidupmu, tapi nyatanya kau hanya bisa membuatnya terluka." cibir Ardan.
" Diamlah! Lebih baik kau bantu aku cari Syifa."
" Baiklah, tapi kuharap kau tak kaget dengan perubahan sikap Syifa nanti."
" Yang penting dia harus ketemu dulu, urusan yang lain bisa dipikirkan nanti." kata Reyhan.
Sepanjang perjalanan, Reyhan memikirkan kekasihnya yang entah dimana sekarang. Dia akui memang dirinya yang bersalah kali ini. Karena sibuk mencari Cathy, dia mengabaikan bahkan membentak Syifa tanpa alasan.
" Maafkan aku, sayang. Sudah berulang kali aku melukai perasaanmu." batin Reyhan.
" Rey... bukankah itu mobil Syifa?"
.
.
TBC
.
.
__ADS_1