ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
5


__ADS_3

Semenjak kejadian itu Arini menjadi sangat membenci Arian, sudah bagus di bantu tapi peria itu malah mengeluarkan kata kata yang menusuk hati Arini.


Jika mereka berpapasan atau bertatap muka Arini pasti mendelik Arian dengan tatapan sangar dari wajah juteknya membuat peria itu menjadi salah tingkah dan terkadang harus menjauhi Arini karena tidak mau terlibat masalah dengan gadis itu.


Wati yang memperhatikan tingkah aneh keduanya pun tak tahan untuk bertanya pada Arini.


"Kalian kenapa sih??? " tanya wati penasaran


"Siapa?" Arini sedikit bingung dengan magsud pertanyaan Wati


"Ya kamu sama dia" jawab Wati sambil menunjuk Arian


"Tidak ada apa apa"


"Benarkah?? " jawab Wati sedikit ragu


"Kamu kenapa sih? Jangan jangan kamu menyukai anak mama itu.." selidik Arini


"Bukan aku tapi kamu" bantah Wati

__ADS_1


"Aku? Kenapa aku? " Arini kaget mendengar tuduhan temannya itu. " Suka pada si anak mama mana mungkin yang ada benci baru iya. " grutu Arini dalam hati.


"Kenapa kamu bilang dia anak mama sebegitu bencinya ya kamu sama dia??? " tanya Wati lagi


"Benci sih tidak, cuma kesel aja udah bagus kemarin aku tolongin dia eeeehhhh.... Dia malah bilang kalau aku tukang pembuat onar" keluh Arini


Wati yang sudah mulai faham tentang permasalahan temannya itupun hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya.


"Awas lho... Lama lama bisa berubah jadi cinta" ledek Wati


"Cinta sama anak mama itu?? "


"Kalau bukan sama dia terus kamu sukanya sama Dika yang gagah kayak pereman kampung itu?? " nada suara Wati mulai meninggi


"Arian kurang baik apa lagi coba? Apa pernah dia mengganggumu? Menghinamu seperti anak anak yang lain? "


"Tidak" jawab Arini cuek


"Arian bukannya lembek tapi dia hanya tidak mau mencari masalah saja, coba kalau kemarin dia tidak meleraimu dan Dika mungkin kemarin kamu sudah kena tonjok. Dia lebih rela kehilangan uangnya dari pada melihat temannya berkelahi. Harusnya kamu berterima kasi padanya bukan malah mengatainya anak mama"

__ADS_1


"Biarin" jawab Arini tak mau tau


" Beneran cinta baru tau rasa lho... Kamu tau cinta ma benci itu bedanya tipis? Sebanyak apapun kamu membenci seseorang sebanyak itupun kamu akan mencintainya kelak"


Kata kata terakhir dari Wati membuat Arini kaget, seketika ia memalingkan wajahnya ke arah bangku Arian yang berada di pojok kiri kelas. Seketika itu juga pandangan keduanya bertemu, saking kesalnya Arini mendelelikan matanya lebih lebar lagi untuk menindas dan menakuti Arian. Tapi Arian malah tertawa kecil melihat tingkah Arini.


"Sialan berani juga dia melawanku" gerutu Arini. Arini kembali menatap Arian kali ini dengan tatpan yang lembut penuh ke kaguman, belum pernah sekalipun dia menunjukkan senyumnya yang manis dan tatapannya yang lembut kepada siapapun penghuni di gedung SMP ini


"Kita lihat bagaimana reaksimu anak mama, kamu pasti menjadi GR setelah ini, aku ingin lihat sifat aslimu apa mulutmu akan ember seperti anak anak yang lain yang suka menggosipkanku dan menghinaku aku benar benar tidak perduli" kata Arini dalam hati.


Di luar dugaan Arian malah membalas tatapan Arini dengan senyumannya yang manis dan menggoda, membuat jantung Arini berdetak sangat kencang.


"Astaga ganteng juga nih anak, tapi aku tidak boleh kalah darinya, suka padanya? Mana mungkin" Arini kembali memasang senyumnya yang paling manis untuk menggoda Arian, begitupun Arian alhasil selama jam pelajaran berlangsung mereka malah sibuk saling menatap tanpa memperdulikan guru yang sibuk menerangkan materi pelajaran di depan kelas.


 


\\\\\\\


 

__ADS_1


Ternyata Arian tidak seburuk yang Arini kira tidak pernah ada gosip sedikitpun yang ia dengar mengenai dia dan Arian. Hal ini semakin menarik niat jahil Arini, setiap hari setiap waktu dia habiskan untuk memandang laki laki itu di dalam kelas. Bukannya merasa jijik atau kesal seperti laki laki lainnya Arian malah menikmati kejahilan Arini.


Sampai akhirnya Arini sadar kalau Arianlah satu satunya cowok yang bersikap lumayan baik padanya. Hingga akhirnya perasaan aneh itupun muncul, Arini akhirnya mulai merindukan momen dimana ia bisa saling menatap dengan Arian. Akan timbul rasa sedih dalam hatinya bila hari minggu tiba, padahal dulu minggu adalah hari yang paling ia sukai.


__ADS_2