ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 68


__ADS_3

Reyhan ikut bu RT berkeliling untuk membeli sayuran. Tadinya ia juga ingin membeli bahan makanan untuk nanti membuat sarapan di rumah Syifa namun tidak diperbolehkan oleh bu RT. Mereka berempat di suruh sarapan di rumah bu RT saja biar tidak repot karena hanya sekali makan saja.


" Bu, masak ayam crispy ya? Nanti Reyhan yang masak." kata Reyhan.


" Memangnya kamu bisa masak?" tanya bu RT.


" Kalau cuma masak gampang itu, bu. Yang susah itu kalau Syifa lagi cemburu, susah dibujuknya." sahut Reyhan.


" Namanya juga perempuan, Rey. Kamu itu harus peka dengan perasaan wanita. Dia itu inginnya di mengerti walaupun tak pernah mengungkapkan keinginannya."


" Susah juga ya, bu?"


" Yang penting kamu itu harus sabar dan mengalah. Wanita itu paling tidak suka jika di bentak. Raganya mungkin terlihat biasa saja, namun hatinya sangat rapuh."


" Begitu ya, bu. Terkesannya egois, tapi mau gimana lagi... memang takdirnya seperti itu."


Karena keasyikan ngobrol, tak terasa kedua tangan Reyhan penuh dengan belanjaan. Dia jadi teringat dengan bu Aisyah yang setiap habis belanja seperti ini pasti membelikannya makanan jajanan pasar.


" Rey... kenapa melamun? Ada yang masih ingin di beli?" tanya bu RT heran.


" Mmmm... tidak, bu. Reyhan hanya teringat dengan bu Aisyah. Beliau sering membelikan jajanan pasar di kios ujung itu." jawab Reyhan nyengir.


" Ya sudah, kamu tunggu saja di motor biar ibu yang beli."


" Maaf, merepotkan ibu. Ambil saja uangnya di saku jaket Reyhan, bu."


" Tidak usah, tadi semua belanjaan kamu yang bayar. Biar sekarang ibu yang membelinya untuk kamu."


" Terimakasih, bu."


Selesai dengan semua barang yang dibutuhkan, Reyhan dan bu RT pulang. Reyhan tidak langsung pulang ke rumah Syifa, melainkan membantu bu RT memasak.


" Sini bu, biar ayamnya Rey yang bersihkan. Ibu masak yang lain saja." kata Rey.


" Ya sudah, ibu mau cuci beras dulu." sahut bu RT.


# # #


Sementara di rumah Syifa, gadis itu sedang memerankan dirinya jadi majikan kejam. Sebagai aksi balas dendam atas penculikan dirinya semalam, kini dua pria tampan itu sedang membersihkan seluruh sudut rumah. Sony harus menyapu dan mengepel lantai, sedangkan Ardan membersihkan teras dan halaman bekas pesta semalam.


Ardan sangat malu karena jadi obyek semangat pagi para ibu - ibu yang sedang bergosip. Harusnya ia tidak menuruti usulan Rendi untuk drama penculikan semalam. Harusnya Rendi dan Reyhan ikut bertanggung jawab atas semua masalah ini.


" Fa, abang boleh istirahat sebentar ya? Lemes nih belum sarapan." rengek Ardan.


" Tidak boleh! Lagian juga tidak ada apapun untuk dimakan. Tunggu Mas Reyhan pulang dulu, mungkin dia beli makanan buat sarapan." ketus Syifa.


" Kalau nanti abang pingsan gimana?"


" Di dalam ada dokter yang siap periksa."


Sementara Sony di dalam juga sedang mengeluh karena sebelumnya ia tidak pernah melakukan hal seperti ini di rumah. Gadis keras kepala itu tidak membiarkannya memakai alat pel yang ada gagangnya. Dia hanya diberi kain pel hongga dirinya harus merangkak saat mengepel lantai. Jangan tanya lagi bagaimana nasib pinggangnya, sudah seperti habis tertindih beras satu ton.


" Benar - benar sial nasibku! Reyhan harus bertanggung jawab dengan semua ini!" geram Sony.


" Fa, Reyhan kemana sih? Pagi - pagi sudah kabur!" gerutu Sony.


" Nggak tahu, beli sarapan mungkin. Tugas kakak sudah selesai?"


" Belum, tinggal ruang tamu saja."


" Cepat bersihkan!"


" Memangnya nggak boleh nafas sebentar aja!" keluh Sony.


" Jangan mengeluh! Jalani semua pekerjaan dengan ikhlas."


" Huh... situ yang dari tadi seperti penjajah." gumam Sony.


" Kakak bilang apa tadi?"


" Tidak bilang apa - apa, mau lanjutin bersihin ruang tamu."


# # #


Sekitar jam tujuh pagi, semua pekerjaan Sony dan Ardan selesai. Mereka tiduran di ruang tengah untuk menghilangkan peluh di tubuh mereka. Diam - diam Syifa tersenyum dan mengambil gambar mereka berdua.


" Sedang apa?" tiba - tiba ada yang memeluknya dari belakang seraya berbisik.

__ADS_1


" Astaghfirullah, Mas...! Ngagetin Syifa aja sih?" Syifa melepas tangan Reyhan dari tubuhnya.


" Lagian kamu ngapain senyum - senyum sendiri nggak jelas?"


" Lihat mereka! Baru disuruh bersihin rumah kecil aja sudah kayak habis perang dunia."


" Mereka tidak pernah kerja kasar seperti ini, sayang."


" Kalau Mas, gimana?" tanya Syifa.


Reyhan duduk di sofa ruang tamu diikuti oleh Syifa. Gadis itu langsung duduk dan menyandarkan kepalanya di bahu Reyhan.


" Mas sudah terbiasa melakukan semua itu, sayang. Semenjak tinggal di Apartemen, Mas melakukan semua pekerjaan rumah sendiri. Membersihkan rumah, mencuci, memasak dan yang lainnya Mas bisa melakukannya." jawab Reyhan dengan tersenyum.


" Kalau merayu para gadis?"


" Jangan bicara hal - hal yang nggak penting, nanti kalau Mas tanggepin kamu ngambek lagi."


" Iya, gitu aja marah."


" Sudah, jangan pernah memikirkan hal - hal seperti itu lagi. Mas minta sama kamu, jangan pernah meragukan cinta dan kesetiaanku walaupun kita jauh."


" Iya..."


" Iya apa?"


" Iya... terpaksa."


" Dasar gadis nakal... Mas mau mandi dulu, ikut nggak?" Reyhan mulai menggoda lagi.


" Mmm... sebenarnya pengen, tapi sayangnya Mas telat. Syifa udah mandi dari tadi." sahut Syifa nyengir.


Reyhan mengacak - acak rambut Syifa dengan gemas. Rasanya tak rela untuk melepas gadisnya walau hanya sebentar.


" Sayang, kamu ke rumah bu RT duluan. Bantuin nyiapin sarapan, tadi kita semua diundang sarapan kesana." kata Reyhan.


" Syifa pikir Mas beli,"


" Tidak, cepetan sana! Nanti Mas nyusul sama Ardan dan Sony."


Syifa membantu bu RT menata makanan di meja makan. Semua makanan terlihat sangat menggoda yang memang sudah kelaparan.


" Bu, makanannya sepertinya enak." kata Syifa.


" Ya pasti enak dong, Fa. Semua ini masakan calon suami kamu." sahut bu RT dengan tersenyum.


" Calon suami? Maksud ibu_..."


" Iya, ini semua Reyhan yang masak. Dia juga yang belanja bahan - bahannya di pasar ujung jalan sana."


" Jadi Mas Reyhan beneran ke pasar, bu?"


" Iya, tadi sama ibu ke pasarnya. Katanya kangen saat - saat mengantarkan ibumu ke pasar. Reyhan memang lelaki yang baik, pengertian dan sayang banget sama kamu."


" Ah, ibu bisa aja. Tidak usah terlalu memuji dia, nanti jadi besar kepala."


" Kalian pacaran sudah dari sekolah dulu ya, Fa? Soalnya Reyhan itu sudah sangat akrab dengan kedua orangtuamu. Terus, waktu kamu menghilang itu, Reyhan sangat sedih."


" Tidak, bu. Kami baru jadian beberapa bulan yang lalu."


" Semoga kalian berjodoh, Fa. Ibu akan selalu kalian berdua semoga selalu diberi kebahagiaan."


" Aamiin."


Tak lama, Reyhan, Ardan dan Sony datang. Mereka sudah terlihat rapi dan segar.


" Wah... sepertinya makan besar hari ini." celetuk Ardan.


" Iya, ayo duduk. Kalian pasti lelah habis beres - beres rumah." kata bu RT.


" Kok ibu tahu?" tanya Sony.


" Tadi ibu lihat Ardan membereskan sampah di halaman. Padahal tadi suami saya itu bilang ada warga yang sudah dibayar untuk membersihkannya nanti.:


" Beneran, bu? Syifa... kau_..." geram Ardan.


Syifa yang ditatap tajam oleh Ardan dan Sony hanya nyengir di balik punggung bu RT.

__ADS_1


" Sudah, lagian semuanya juga sudah terjadi. Mau kalian marahpun pada Syifa, tidak ada gunanya lagi. Memangnya kalian mau berantakin lagi rumah Syifa?" kata Reyhan.


" Awas aja, nanti pasti kubalas!" ancam Sony.


" Lagian, siapa suruh semalam siksa Syifa. Udah dibekap, diikat, mata ditutup... kalian pikir itu tidak sakit!" sungut Syifa.


" Udah, sayang. Sekarang semuanya udah selesai, lebih baik saling memaafkan biar hati tenang." ujar Reyhan.


Syifa yang merasa lebih muda walaupun hanya berjarak beberapa bulan itu berinisiatif meminta maaf terlebih dahulu.


" Kakak, Abang... Syifa minta maaf ya?" ucap Syifa tulus.


" Iya, kakak juga minta maaf soal semalam." kata Sony.


" Abang juga minta maaf, Fa. Tapi ini semua idenya Rendi." sahut Ardan.


" Sudahlah, kita tidak usah bahas itu lagi. Sekarang kita lupakan semuanya dan sarapan biar sehat." kata Reyhan.


" Wahh... sepertinya masakan ibu enak, sering - sering saja masak begini bu, nanti Ardan mampir lagi." seloroh Ardan.


" Bukan ibu yang masak, tapi Reyhan." kata bu RT.


" What? Kamu yang masak, Rey?"


" Iya, memangnya kenapa?"


" Kau pintar juga masak, besok masak lagi ya."


" Memangnya aku pelayanmu!"


Semua sarapan dengan hati gembira, apalagi masakan Reyhan rasanya tak kalah dari masakan restoran besar. Selesai sarapan, Syifa dan bu RT membersihkan peralatan bekas masak dan makan.


" Sayang, mau Mas bantuin cuci piring?" ucap Reyhan.


" Tidak usah, kan Mas udah capek dari pasar terus masak. Kenapa tadi nggak bilang kalau mau masak, kan Syifa bisa bantuin."


" Ya udah, Mas mau bikin kopi dulu." kata Reyhan sambil mencuri ciuman di pipi Syifa.


" Mas Reyhaannn!" pekik Syifa.


" Peace...!" Reyhan mengangkat dua jarinya.


Bu RT hanya tersenyum melihat tingkah para anak muda itu. Kadang marah tapi tak berselang lama akur lagi.


" Kalian itu kenapa tidak menikah saja, biar berantemnya itu di tempat tidur, kan jadinya ibadah." seloroh bu RT sambil tertawa.


" Ibuuu...!" sungut Syifa.


" Benar juga, bu. Apa sekarang aja berantemnya baru besok menikah." sahut Reyhan dengan senyum jahilnya.


" Hah... dasar mesum! Pergi sana!" teriak Syifa.


Bu RT dan Reyhan tertawa melihat wajah Syifa yang memerah bak kepiting rebus. Gadis itu malu bercampur kesal dengan calon suaminya.


Selesai membuat kopi, Reyhan beranjak ke teras dan bergabung dengan Ardan dan Sony.


" Rey, gadis itu gimana? Sampai kapan dia tinggal di Apartemenku? Jika orangtuaku tahu, bisa habis nanti sama irangtuaku." kata Ardan.


" Sehari lagi, Dan. Hari senin nanti aku suruh dia ke kantor dan cari kontrakan baru." sahut Reyhan.


" Jangan lama - lama menyimpan gadis itu di tempatku." ujar Ardan.


" Iya, setelah dia kerja akan kusuruh pindah ke tempat lain." kata Ardan.


" Siapa yang menyimpan gadis?"


Terdengar suara dari belakang mereka yang membuat Sony sampai tersedak dengan kopinya yang masih panas.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2