ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 92


__ADS_3

" Mas, aku menginginkannya sekarang..." bisik Syifa.


Glekk!


Reyhan menjadi gugup sendiri. Niatnya hanya ingin menggoda, tapi justru dia sendiri yang jadi serba salah.


" Sayang, Mas udah ambilkan baju kamu. Pakai dulu biar nggak kedinginan."


" Nanti aja, Mas. Syifa udah nggak tahan." rengek Syifa.


Syifa langsung beranjak dari pangkuan suaminya dan segera berlari ke tempat tidur. Reyhan hanya diam membisu dan tenggorokannya sulit untuk mengeluarkan suara.


" Ya Allah, kenapa istriku jadi sangat agresif begini. Tidak mungkin aku melakukannya sekarang, bisa kacau resepsi nanti malam." batin Reyhan.


" Mas, cepetan!" teriak Syifa.


" Eh iya, sayang."


Reyhan langsung beranjak dan duduk di samping istrinya dengan jantung yang berdetak sangat cepat.


" Sayang, yakin mau sekarang?" Reyhan masih tidak percaya dengan keinginan istrinya.


" Ya iyalah, Mas. Syifa udah nggak tahan nih." rengek Syifa.


" Baiklah jika itu maumu, sayang."


Reyhan segera merapatkan tubuhnya kepada istrinya dan mendaratkan ciuman di bibir mungil itu.


" Mas, apa yang kau lakukan?" Syifa mendorong tubuh suaminya hingga memberi jarak diantara mereka.


" Kenapa bicara begitu? Bukannya kamu yang memintanya?" sahut Reyhan heran.


" Meminta apa? Syifa itu lapar dari semalam belum makan." sungut Syifa.


Huft!


Reyhan mengusap wajahnya dengan kasar. Hasratnya yang tadinya menggebu, menguar begitu saja. Malu bercampur kesal menyatu dalam hati dan pikirannya.


" Sebentar Mas ambilkan." kata Reyhan datar.


Reyhan mengambil piring berisi makanan diatas nakas lalu dibrikan kepada istrinya.


" Cepat makan,"


" Suapin ya? Please...?"


" Hhh... baiklah. Duduk yang benar!" titah Reyhan.


" Kenapa Mas jutek begitu? Mas marah sama Syifa?"


" Tidak, ayo cepat makan."


Reyhan menyodorkan sendok ke depan mulut istrinya namun tak ada reaksi jika istrinya itu ingin membuka mulutnya. Dia hanya menatap sendok itu dengan mata berkaca - kaca. Syifa tidak tahu kenapa suaminya sikapnya berubah dingin padanya.


Syifa segera meraih baju disampingnya lalu berlari ke ruang ganti untuk memakainya. Tanpa sadar airmatanya mengalir tanpa ia tahu apa penyebabnya.


" Sayang, kenapa menangis?"


Reyhan yang heran dengan sikap istrinya yang tiba - tiba diam dan beranjak meninggalkannya. Kini dia semakin kaget saat melihat istrinya menangis di ruang ganti.


" Aku mau sendiri, Mas. Keluarlah sebentar,"


" Kenapa? Aku ini suamimu, apa aku tidak berhak tahu tentang dirimu?"


" Aku tidak apa - apa, Mas."


" Lihat aku! Sekarang katakan apa yang membuatmu menangis!"


" Syifa hanya rindu ayah dan ibu. Seharusnya mereka ada disini sekarang bersamaku."


" Kamu harus ikhlas sayang. Ayah dan ibu sudah bahagia diatas sana. Mulai sekarang, istri cantikku ini tidak boleh bersedih lagi." Reyhan membawa tubuh Syifa ke dalam dekapannya.


" Kenapa nasibku seperti ini?"

__ADS_1


" Mas akan membuat kamu bahagia, udah jangan nangis lagi. Sekarang kamu harus makan biar tetap sehat."


" Mas nggak marah sama Syifa?"


" Marah? Memangnya kapan Mas marah sama kamu?"


" Barusan Mas nggak ikhlas suapin Syifa."


Reyhan tersenyum lalu mencium bibir istrinya dengan lembut. Tangannya semakin erat mendekap tubuh istrinya hingga mereka tak berjarak lagi.


" Mas, hentikan!" lirih Syifa.


" Sayang, sebentar saja. Mas masih kangen sama kamu."


Tangan Reyhan sudah menyusup ke dalam baju Syifa dan mengusap lembut punggung istrinya.


" Mas, jangan begini. Syifa geli tahu nggak?"


" Kamu akan terbiasa nantinya, sayang. Nikmati saja, kau pasti ketagihan."


" Tapi Syifa lapar, Mas."


" Hah... ya sudah, sekarang Mas akan menyuapimu."


Reyhan menggendong tubuh istrinya keluar dari ruang ganti sambil mencium bibir mungil itu tanpa berniat melepaskannya sedetikpun.


" Mas, jangan nakal. Syifa bisa pingsan nih kalau tidak makan secepatnya."


" Iya, sayang. Istriku yang paling cantik ini harus makan yang banyak biar punya tenaga sampai pagi."


" Ish... memangnya Mas punya berapa istri?"


" Ya satulah, cuma kamu satu - satunya istriku. Kenapa bertanya seperti itu?"


" Tadinya katanya aku yang paling cantik, jadi ada juga dong istrinya yang tidak cantik."


" Selamanya kamu adalah satu - satunya istriku. Hanya satu wanita yang bisa menggetarkan hatiku, wanita itu adalah kamu. Tidak akan pernah ada wanita lain yang bisa menggantikan posisimu di hatiku."


Syifa turun dari gendongan Reyhan lalu duduk di di tepi tempat tidur. Dengan telaten Reyhan menyuapinya hingga isi dalam piring itu habis.


Reyhan hanya tersenyum dan membiarkan saja kelakuan istrinya. Dia sendiri kemudian membawa piring bekas makan Syifa ke dapur.


# # #


Malam hari, semua sudah berkumpul di hotel tempat diadakannya resepsi pernikahan Reyhan dan Syifa. Sang mempelai sedang dirias di kamar pengantin.


" Mbak, istri saya make up nya jangan terlalu tebal, dia bukan badut." protes Reyhan.


" Ya Allah, Mas. Bisa nggak sih diam satu detik aja biar mbaknya bisa konsentrasi kerjanya." omel Syifa.


" Ini sudah riasan paling sederhana, Tuan. Mungkin karena wajah nona yang cantik dan putih jadi terlihat lebih cantik lagi. Hanya polesan tipis saja diwajahnya."


" Masa' sih? Saya tidak percaya kalau ini asli."


Reyhan memutar tubuh istrinya lalu menciumi seluruh wajahnya tanpa merasa malu sedikitpun di depan para perias.


" Mas! Kamu ngapain sih? Keluar sana!" omel Syifa karena sangat malu.


" Iya, Mas juga mau keluar. Nanti panggil Mas kalau udah selesai, mau cari Rendi dulu." sahut Reyhan nyengir.


Tak berselang lama, acara pun dimulai. Reyhan dan Syifa berdiri di panggung pelaminan yang sangat megah dan indah. Tamu yang datang sangat banyak karena Reyhan juga mengundang para koleganya dari beberapa negara.


Syifa juga tak kalah terkenalnya di dunia bisnis karena hampir semua proyek besar di perusahaan papanya dia yang handle. Ribuan tamu hadir memberikan ucapan selamat kepada keluarga Aditama.


" Sayang, apa masih lama?" bisik Reyhan.


" Baru jam sepuluh, Mas. Katanya sampai jam sebelas atau dua belas." sahut Syifa.


" Masih lama dong, padahal kaki Mas ini udah hampir lepas." keluh Reyhan.


" Sama, rasanya udah pengen rebahan." sahut Syifa.


" Waktu rasanya lama banget, pergi aja yuk sayang."

__ADS_1


" Jangan macam - macam, Mas. Sudah cukup tadi siang Mas bikin papa dan mama malu."


" Mas akan sabar menjadi patung selama dua jam, jangan khawatir." ucap Reyhan datar.


" Suamiku bisa cemberut juga?" goda Syifa.


" Jangan menggangguku, setelah ini jangan harap bisa lepas dariku!" ancam Reyhan.


Tak berselang lama,Ardan dan Sony menghampiri pasangan pengantin yang sedari hanya mengobrol berdua.


" Heh... kalian kenapa seperti cacing kepanasan gitu?" tanya Ardan.


" Pegel nih dari tadi berdiri terus." keluh Syifa.


" Ya udah, duduk aja dulu. Kakak ambilkan minuman untuk kalian." kata Sony.


" Terimakasih, kak."


Karena tamu sudah banyak yang tidak naik ke panggung, Reyhan dan Syifa akhirnya bisa duduk juga.


" Mau dipijitin, sayang?" tanya Reyhan.


" Nggak, jangan bikin malu deh." sahut Syifa.


" Iya nih, suamimu itu udah putus urat malunya." ledek Ardan.


" Biarin, aku nggak peduli dengan ocehan orang." ketus Reyhan.


Tak terasa malam semakin larut dan para tamu juga sudah pulang. Reyhan mengajak Syifa untuk segera kembali ke kamar karena mereka akan menginap di hotel itu malam ini.


" Sayang, kita ke kamar yuk?" ajak Reyhan.


" Mama sama papa dimana?"


" Udah pulang tadi."


" Kita nggak pulang aja, Mas?"


" Besok aja, sayang. Mas udah nggak kuat kalau harus pulang ke rumah."


" Hmm... besok pulang ke Apartemen dulu ya, Mas? Syifa nggak mau nginep disini."


" Ya udah, besok kita ke Apartemen."


Reyhan menggandeng lengan istrinya masuk ke kamar. Begitu masuk, mereka langsung merebahkan diri di tempat tidur.


" Mas, Syifa mau ganti baju dulu. Ribet dan gerah pakai ini." ucap Syifa.


" Ya udah, tapi tidak usah mandi udah malam. Besok pagi aja mandinya." kata Reyhan.


" Tolong bantu lepasin gaun ini, tangan Syifa nggak nyampe."


" Baiklah, tapi setelah itu Mas dapat jatahnya, kan?"


" Jatah apaan?"


" Jatah apalagi? Ya jatah malam pertama dong?"


" Apaan sih? Cepat lepasin ini!"


Reyhan membantu istrinya melepas gaun pengantin lalu membiarkannya masuk ke dalam kamar mandi. Setelah keduanya selesai berganti pakaian, Reyhan langsung memeluk istrinya di tempat tidur.


" Sayang, apa tidak bisa sekarang?"


Reyhan mencium bibir istrinya dengan lembut tanpa melepaskan pelukannya. Namun saat yang bersamaan, ada yang mengetuk pintu kamarnya dengan keras.


Tok! Tok! Tookkk!!!


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2