ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 75


__ADS_3

" Astaga, dimana Syifa? Bukankah tadi dia mengikutiku?" gumam Deni panik.


Deni berlari menghampiri korban. Seketika tubuhnya lemas saat melihat siapa yang tergeletak di jalanan itu.


" Syifaaa...! Bangun, Syifa. Apa yang kau lakukan disini? Kenapa bisa ini terjadi." Deni berteriak sambil menangis.


" Tuan, tenanglah. Kami sudah memanggil ambulance dan lapor ke pihak yang berwajib." kata salah seorang pria disana.


" Syifa, bangunlah! Jangan membuatku khawatir." isak Deni.


Tak lama mobil ambulance datang bersamaan dengan mobil polisi. Deni ikut mengangkat tubuh Syifa ke brankar dan menemaninya di dalam ambulance.


" Syifa, kenapa semua ini bisa terjadi padamu? Apa yang akan aku katakan pada Reyhan? Dia pasti sangat marah karena aku lalai dalam menjagamu."


Deni menggenggam erat jemari Syifa yang semakin melemah. Deni merasa sangat bersalah, harusnya ia bisa menjaga Syifa. Gadis itu adalah tanggung jawabnya, selain partner kerja dia juga sudah menganggap Syifa sebagai adiknya sendiri.


Tak lama, ambulance berhenti di depan ruang IGD. Deni langsung turun dan menemani Syifa hingga di depan pintu IGD.


" Dokter, tolong selamatkan adik saya."


" Tenang ya, Tuan. Saya akan melakukan yang terbaik untuk pasien."


Deni mondar - mandir hampir satu jam menunggu dokter yang memeriksa Syifa. Dia sangat khawatir jika sampai kejadian lima tahun lalu kembali terulang.


" Ya Allah, selamatkan Syifa. Aku akan merasa jadi orang yang paling bersalah jika sampai hal buruk terjadi padanya." batin Deni.


Tak lama ponsel Syifa yang dibawa oleh Deni berdering. Deni melihat nama yang menelfon itu. Pikirannya sangat kacau, dia bingung harus menjawabnya atau tidak. Sampai dering ponsel itu berhenti, Deni hanya menatapnya dengan hati yang terluka.


Beberapa polisi datang menemui Deni untuk memberikan informasi tentang kasus tabrak lari Syifa.


" Selamat siang, Tuan. Apakah Anda keluarga dari korban tabrak lari di dalam?"


" Benar, pak. Korban bersama saya dari Jakarta. Kami sedang ada pekerjaan disini."


" Menurut para saksi di TKP, mobil itu sepertinya sengaja menabrak korban. Ada saksi bahwa pelaku tadinya memarkirkan mobilnya tak jauh dari tempat kejadian."


" Bapak yakin? Tapi kami tidak mempunyai musuh disini. Syifa juga baru pertama kali datang ke kota ini."


" Petugas kami juga sedang melacak pemilik mobil itu sekarang. Untuk perkembangan lebih lanjut, kami akan menghubungi Anda kembali."


" Terimakasih, Pak."


" Kami permisi dulu, Tuan."


" Silahkan."


Setelah polisi pergi, Dokter yang menangani Syifa keluar dari ruangan IGD. Deni yang ponselnya sedari tadi berdering di dalam saku jaketnya urung untuk menjawab panggilan itu.


" Dokter, gimana keadaan Syifa?"


" Maaf, Tuan. Pasien masih kritis, benturan di kepalanya cukup keras. Kini kondisi pasien sedang mengalami koma."


" Tidak, Dokter. Ini tidak boleh terjadi lagi padanya." teriak Deni.


' Tenang, Tuan. Anda harus tetap tenang, kami akan berusaha untuk menyelamatkan nyawa pasien."


" Jika dia tidak selamat, hidupku juga pasti berakhir." gumam Deni.


" Kami akan memindahkannya ke ruang ICU, hubungi keluarga yang lain. Saya permisi dulu, Tuan."


Setelah dokter pergi, Deni mengambil ponsel di sakunya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Reyhan. Mau tidak mau Deni harus memberitahu kepada Reyhan tentang kondisi Syifa saat ini. Pria itu segera menghubungi Reyhan walaupun resiko terburuk akan ia terima.


[ Hallo, kak Deni? Kenapa tidak menjawab telfonku? Apa meetingnya sudah selesai? Dimana Syifa, saya mau bicara dengannya." ] kata Reyhan.


" Maafkan saya, Tuan Muda..." ucap Deni terisak.


[ " Kak? Kak Deni kenapa? Apa yang terjadi? Apa kakak sedang menangis?" ] cecar Reyhan.

__ADS_1


" Maaf, saya minta maaf Tuan Muda... semua ini salah saya," Deni berusaha untuk tegar.


[ " Kak Deni kenapa? Bicara yang jelas!" ] teriak Reyhan.


" Tuan Muda, Syifa mengalami kecelakaan. Sekarang dia koma, maafkan saya tidak bisa menjaganya sesuai perintah Anda."


[ " Apaaa? Kecelakaan? Kak Deni jangan bercanda!" ]


" Maaf, saya sudah lalai menjaga Syifa."


[ " Saya akan datang kesana sekarang, tolong jaga dia." ]


" Baik, Tuan Muda."


Deni masih terisak seraya duduk di kursi ruang tunggu. Tak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain hanya dengan berdo'a.


# # #


Jam empat sore, Reyhan sudah sampai di rumah sakit tempat Syifa dirawat bersama Ardan dan Sony. Mereka bergegas mencari keberadaan Deni.


" Kak Deni, dimana Syifa?" tanya Reyhan khawatir.


" Maafkan saya, Tuan Muda... ini salah saya, saya lalai menjaga Syifa." ucap Deni dengan mata yang masih sembab.


" Kenapa Syifa bisa kecelakaan?" teriak Reyhan.


" Tenang, Rey. Kita dengarkan dulu penjelasan kak Deni." ujar Sony.


Ardan mengintip ke ruang ICU tempat Syifa di rawat. Gadis itu tampak diam dan tak bergerak sama sekali.


" Syifa, kenapa kau seperti ini? Kenapa hidupmu selalu penuh dengan rintangan. Kenapa harus kamu yang selalu mendapat cobaan seberat ini." batin Ardan.


Deni menceritakan secara detail kejadian yang dialami Syifa termasuk informasi dari kepolisian tentang kasus itu. Dia sangat menyesal tidak bisa menjaga Syifa sehingga semua musibah itu terjadi.


" Jadi, menurut para saksi kecelakaan ini di sengaja?" tanya Reyhan.


" Kak, jika memang semua ini di sengaja... berarti orang itu sudah mengikuti kak Deni dan Syifa dari Bandara tadi pagi." ucap Sony.


" Tapi, apa motif mereka melakukan ini pada Syifa? Bahkan ini adalah pertama kalinya Syifa datang ke kota ini." sahut Deni.


" Atau mungkin mereka mengikuti kakak dari Jakarta?" kata Ardan.


" Selama ini tidak pernah ada permasalahan baik itu di dalam kantor maupun diluar. Apa yang dia inginkan dari Syifa?"


" Mungkin saingan bisnis kalian?"


" Tidak, ini pertama kalinya ada proyek di Bali dan baru saja tanda tangan kontraknya. Polisi sedang menyelidiki pemilik mobil itu."


Reyhan melihat Syifa dari luar. Banyaknya alat yang terpasang di tubuh Syifa membuat Reyhan tak sanggup untuk melihatnya secara langsung.


" Kenapa semua ini harus terjadi padamu, sayang. Kita baru saja bertemu, Mas tidak mau kehilangan dirimu lagi. Kau sudah berjanji tidak akan pergi jauh, cepatlah kembali." batin Reyhan.


" Tuan Muda, masuklah. Mungkin dengan kedatangan Anda, Syifa bisa terbangun. Saya takut kejadian lima tahun lalu terulang kembali." ucap Deni.


" Saya tidak tega melihatnya, kak. Kenapa harus Syifa yang mengalami penderitaan ini."


" Masuklah, Rey. Syifa butuh kamu sekarang." kata Sony.


" Baiklah, saya masuk dulu." ucap Reyhan.


" Aku akan menemui dokter yang menangani Syifa, lebih baik Syifa di rawat di Jakarta."


Sony mencari ruangan dokter yang menangani Syifa. Dia ingin tahu keadaan gadis itu yang sebenarnya. Jika perlu, Sony akan memindahkan Syifa ke rumah sakit miliknya.


" Permisi, Dokter. Saya keluarga dari pasien korban tabrak lari, Syifa Azzahra." ucap Sony.


" Silahkan duduk, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


" Saya ingin tahu tentang kondisi Syifa saat ini,"


" Pasien mengalami koma, benturan di kepalanya lumayan keras dan juga kakinya cidera tapi hanya sementara saja karena otot syarafnya masih normal semua."


" Apakah dia akan koma dalam waktu yang lama?"


" Kami tidak bisa memprediksinya, Tuan. Dia baru saja melewati masa kritis, butuh waktu beberapa hari mungkin. Kondisinya masih belum stabil sekarang."


" Bisakah pasien dipindahkan ke Jakarta saja? Kami tidak bisa menjaganya disini, keluarganya di Jakarta."


" Karena ini kasus kriminal, kita harus koordinasi dengan pihak kepolisian dan juga rekomendasi ke rumah sakit yang ada di Jakarta."


" Saya memiliki rumah sakit sendiri, jadi tidak perlu rekomendasi. Siapkan saja proses pemindahannya, saya akan menyewa helicopter untuk membawa Syifa ke Jakarta."


" Anda pemilik rumah sakit di Jakarta?"


" Sebenarnya milik orangtua saya, Healthy Hospital."


" Anda putra dari Tuan Hidayat?"


" Iya, Anda mengenal orangtua saya?"


" Kami satu fakultas saat kuliah di Singapore, ternyata kau menuruni bakat Hidayat. Kau ambil specialis apa?"


" Saya mengambil specialis jantung, Dokter."


" Kau pemuda yang hebat."


" Boleh saya periksa kondisi Syifa?"


" Silahkan,"


Sementara itu di ruang ICU, Reyhan tampak diam menatap Syifa yang terlihat sangat pucat. Rasanya dia ingin menangis, namun takkan ia lakukan di depan kekasihnya. Reyhan harus kuat demi Syifa.


" Sayang, bangunlah... Kau sudah janji hanya pergi sebentar. Kau harus menepati janjimu." ucap Reyhan.


Reyhan menggenggam erat jemari Syifa untuk menyadarkan gadis itu bahwa dia tidak sendiri saat ini. Reyhan yakin kekasihnya itu akan segera bangun dari koma.


" Rey, aku akan periksa keadaan Syifa sebentar." kata Sony yang sudah berada di belakang Reyhan.


" Baiklah, tolong selamatkan dia."


" Teruslah berdo'a, semoga kehadiranmu bisa memberikan semangat dalam jiwanya untuk segera bangun."


Sony mengecek semua mulai dari tekanan darah hingga detak jantungnya. Dia juga mengecek syaraf - syaraf di tubuh Syifa terutama di bagian kaki.


" Semuanya mulai membaik, kondisinya sudah stabil." kata Sony.


" Kapan dia sadar, Son?" tanya Reyhan.


" Tunggulah sampai besok pagi, biarkan dia istirahat."


Di luar ruangan, Deni dan Ardan sedang berbincang dengan beberapa anggota kepolisian yang datang untuk memberitahukan informasi terbaru.


" Pak, bagaimana hasil penyelidikan Anda? Apa sudah ada informasi tentang pelakunya?" tanya Deni.


" Maaf, Tuan. Setelah kami selidiki, ternyata plat mobil itu palsu. Kami belum bisa menangkap pelakunya." jawab salah satu anggota polisi itu.


Deni merasakan tubuhnya mulai melemah. Tak ada harapan untuk bisa menangkap pelaku itu sekarang. Apakah dia harus pasrah? Atau akan terus mencari bukti sendiri tanpa bantuan polisi?


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2