
Tanpa terasa hari semakin siang. Reyhan bangun terlebih dahulu dan melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Melihat istrinya yang masih tidur dengan pulas, Reyhan beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
" Mas...!" teriak Syifa.
" Iya, sayang...!" sahut Reyhan dari dalam kamar mandi.
" Cepetan kesini,"
" Sebentar, sayang. Mas baru mandi,"
" Cepetaannn...!"
Reyhan menghela nafas panjang lalu membersihkan diri dengan cepat dan segera melilitkan handuk di pinggangnya.
" Sayang, kenapa teriak - teriak?"
Reyhan menghampiri istrinya yang masih berbaring di tempat tidur dengan memasang wajah marah.
" Sakiittt...! Gara - gara Mas nih!" sungut Syifa.
" Hmmm... maaf, sayang. Sini Mas bantu untuk mandi."
" Gendong ya?"
" Iya, nanti Mas mandiin juga."
Selesai dengan acara mandinya, Reyhan memesan makanan untuk makan siang. Sambil menunggu pesanan datang, Reyhan membuka laptop untuk memeriksa email dari para klien.
" Mas, lagi ngapain sih?"
Dengan jalan tertatih, Syifa memeluk suaminya dari belakang. Rengekan manjanya membuat Reyhan tersenyum lalu memapah sang istri untuk duduk di pangkuannya.
" Kenapa jalan kalau masih sakit?" Reyhan mengecup bibir istrinya.
" Habisnya Mas lebih sayang sama laptop!" sungut Syifa.
" Ya Allah, sayang. Mana mungkin Mas begitu? Mas itu cuma sayang sama kamu."
" Benarkah? Apa buktinya?"
" Butuh bukti seperti apa? Apa mau bikin baby lagi?" goda Reyhan.
" Dasar mesum! Itu aja yang dipikirin."
" Mas udah tidak sabar memiliki anak - anak yang banyak dari sini." Reyhan mengusap lembut perut Syifa.
Syifa menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami lalu kembali memejamkan matanya. Reyhan terpaksa menutup laptopnya kembali dan membiarkan sang istri tidur dengan nyaman.
Setengah jam kemudian, kurir datang mengantarkan makanan yang dipesan Reyhan. Pria itu segera mengangkat tubuh istrinya untuk dibaringkan ke tempat tidur sebelum membuka pintu.
# # #
Malam hari, Reyhan dan Syifa menikmati pemandangan kota dari balkon kamarnya. Reyhan memeluk erat tubuh istrinya agar tidak kedinginan.
" Sayang, mau bulan madu kemana?" tanya Reyhan.
" Syifa sedang malas bepergian, Mas." jawab Syifa.
" Kenapa? Kita bisa pergi kemanapun kamu mau,"
" Disini saja asalkan bersama mas Reyhan, Syifa sudah sangat bahagia."
" Terimakasih, sayang."
Reyhan semakin mempererat dekapannya dan menciumi sang istri dari belakang. Wajah bahagia terpancar dari keduanya yang sedang dimabuk asmara.
" Mas, kapan kita pulang ke rumah ayah?" rengek Syifa.
" Mmm... kapan ya? Beberapa hari ini Mas sibuk, sayang." sahut Reyhan.
__ADS_1
" Mas... ihh! Pokoknya besok Syifa pulang kesana!"
" Sayang, jangan ngambek dong. Tunggu beberapa hari lagi ya?"
" Tidak, pokoknya Syifa mau pulang ke rumah ayah!"
" Tapi mama tadi nyuruh kita pulang dulu ke rumah, sayang. Terus Mas harus gimana dong?"
" Syifa nggak mau tahu, pokoknya Syifa pulang ke rumah ayah!"
Syifa melepas kedua tangan suaminya yang sedari tadi mendekapnya dengan erat. Reyhan tidak mau mengerti dengan keinginannya. Syifa bergegas naik ke tempat tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
" Sayang, jangan marah dong? Ya udah nanti Mas bilang sama mama tidak jadi pulang." bujuk Reyhan.
" Tidak perlu, aku udah nggak minat pergi kemanapun!"
" Ya Allah, sayang. Kenapa jadi marah sih? Mas harus bagaimana lagi?"
" Terserah! Tidak usah mikirin aku lagi."
" Hei... udah dong, Mas akan turuti semua keinginan kamu. Apapun."
" Syifa mau tidur!"
Reyhan menghela nafas pelan lalu ikut berbaring di samping istrinya. Dia membiarkan istrinya tidur tanpa berniat mengganggunya sama sekali.
# # #
Pagi hari, Syifa kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur setelah sholat shubuh.Reyhan tak berani mengusiknya karena takut istrinya kembali marah.
Reyhan duduk di sofa tanpa melakukan apapun. Laptop juga hanya teronggok di meja karena dia tak berani membukanya. Istrinya entah kenapa tidak bisa diluluhkan kali ini.
" Sayang, sarapan dulu yuk? Kita ke cafe di depan."
Reyhan mencoba membujuk istrinya agar tidak marah lagi. Mungkin istrinya marah - marah karena lapar.
" Kamu kenapa sih, sayang? Jangan diam terus, Mas tidak tahu apa yang kamu inginkan."
Karena tak ada jawaban, akhirnya Reyhan keluar Apartemen untuk membeli sarapan. Dia juga menghubungi Ardan dan Sony agar menemuinya di cafe. Setengah jam menunggu, akhirnya dua sahabatnya itu datang.
" Rey, ada apa nyuruh kita kesini?" tanya Sony.
" Iya, Rey. Kenapa Syifa tidak ikut?" timpal Ardan.
" Karena itu aku nyuruh kalian kesini. Syifa dari semalam marah - marah terus tidak bisa dibujuk." kata Reyhan.
" Memangnya kalian bertengkar?"
" Dia minta pulang ke rumah orangtuanya, tapi mama menyuruh pulang ke rumah."
" Gitu aja jadi ribut, kau ajak dulu pulang ke rumahmu setelah itu menginap di rumah Syifa." kata Ardan.
" Dia sudah terlanjur marah, susah sekali merayu dia." keluh Reyhan.
" Telfon tante Salma, hari ini tidak akan pulang. Kita akan bujuk istrimu biar tidak marah lagi." ujar Sony.
" Kalian yakin Syifa bisa dibujuk?"
" Serahkan saja pada kami, semua pasti beres." kata Ardan.
" Ya sudah, aku pesan sarapan dulu buat Syifa. Kalian sudah sarapan belum?" ucap Reyhan.
" Belumlah, masih sepagi ini kau sudah ribut." sahut Ardan.
Setelah pesanan makanan jadi, mereka bertiga kembali keql
Apartemen Reyhan. Saat masuk ke dalam kamar, Reyhan melihat istrinya masih bergumul dengan selimutnya.
" Sayang, ada Ardan dan Sony di depan. Mandi yuk? Habis mandi kita sarapan bersama." Reyhan memeluk tubuh istrinya dari belakang.
__ADS_1
" Mas yang suruh mereka kesini?"
" Tidak, mereka sendiri yang pengen ketemu sama kamu."
" Mas beli sarapan apa?"
" Nasi goreng kesukaan kamu."
" Mas udah mandi?"
" Sudah, sayang. Ayo mandi, Mas tunggu di depan."
" Mas nggak mau temani Syifa mandi?"
Reyhan mengernyitkan dahinya bingung dengan tingkah istrinya yang tadinya judes jadi manja.
" Ya udah, Mas temani mandi."
" Bukannya Mas Rey udah mandi?"
" Asalkan sama kamu, Mas rela mandi sepuluh kali sehari."
" Ish... menyebalkan!"
" Ayo cepetan mandinya, nggak enak Ardan dan Sony sudah menunggu buat sarapan."
Keduanya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum sarapan. Hanya butuh waktu lima belas menit keduanya selesai dan segera keluar untuk berganti pakaian.
" Kakak, Abang...!" teriak Syifa.
" Ish... jangan teriak, nggak sopan." sahut Sony.
" Kakak kenapa sih?"
" Tidak apa - apa, memangnya ada apa?"
" Hmm... Syifa bosan, pengen jalan - jalan sama kakak, boleh ya?" rengek Syifa.
" Hei... itukan ada suami kamu, ngapain ngajak Sony?" tanya Ardan.
" Sama abang juga jalannya, please?"
" Tidak bisa, kakak ada acara lain." tolak Sony.
" Ayolah, kak. Kecuali kalau kakak dan abang udah punya pacar, baru Syifa tidak akan mengganggu kalian lagi."
" Benarkah? Adek yakin tidak akan mengganggu kakak lagi?"
" Iya, asalkan kalian bawa pacar kalian dua jam dari sekarang."
" Apaaa...? Dua jam? Yang benar saja, sayang. Mana mungkin mereka bisa mendapatkan pacar dalam dua jam." ujar Reyhan.
" Tenang aja, Rey. Aku akan bawa gadisku kesini sekarang juga." kata Ardan tegas.
" Aku juga," sahut Sony ragu.
" Kak Sony punya pacar? Siapa?" tanya Syifa kaget.
" Mmm_..."
.
.
TBC
.
.
__ADS_1