
" Malam ini? Tapi, Mas... aku tidak mau kau pergi." ucap Syifa pelan.
" Daripada kamu yang pergi, lebih baik Mas saja. Pekerjaan disana juga sudah sering Mas tinggalkan, Fa." ujar Reyhan.
Syifa menatap Reyhan dengan sendu. Dia tak ingin Reyhan pergi secepat ini. Mereka sudah lama terpisah dan Reyhan akan meninggalkannya lagi.
" Ya sudah, terus kapan Mas boleh pergi?"
" Jangan pergi," ucap Syifa menghiba.
" Mas temani ke kantor ya?" bujuk Reyhan.
" Tidak usah, Syifa sudah terbiasa sendiri."
Reyhang menangkup wajah Syifa dengan kedua tangan kekarnya. Tatapan matanya mengisyaratkan betapa tulusnya cinta yang dia berikan kepada gadisnya.
" Mas pasti sering pulang, sayang. Gimana kalau dua minggu sekali? Kita akan menikmati waktu bersama dengan mengisi hari - hari yang indah."
" Memangnya Mas nggak capek?"
" No, everything for you honey."
" Thank you so much, sayangku."
Syifa memeluk Reyhan dengan sangat erat. Senyum diwajahnya merekah bak mawar yang sedang mekar.
" Sarapan dulu, yuk? Telur cantiknya kasihan dianggurin." goda Reyhan.
" Nggak ah, Syifa pengen sarapan di kantor saja." tolak Syifa.
" Ya sudah, Mas ganti baju dulu."
" Jangan lama - lama!"
# # #
Kini Syifa dan Reyhan sudah berada di jalan raya menuju kantor. Syifa melihat ke sekeliling seperti mencari sesuatu.
" Kamu kenapa, sayang? Seperti mencari sesuatu," tanya Reyhan.
" Mmm... Syifa lapar, pengen makan nasi kuning." jawab Syifa dengan wajah memelas.
" Cari dimana, sayang? Mas nggak tahu tempatnya, apa besok aja biar dibikinin pelayan di rumah?"
" Syifa laparnya sekarang, Mas."
Reyhan mencari ke kanan dan ke kiri namun tak juga menemukan penjual nasi kuning. Hingga masuk ke parkiran perusahaan, tak ada makanan yang diinginkan Syifa itu.
" Sayang, kamu masuk duluan biar Mas cari lagi ya?" ujar Reyhan.
" Tidak usah, nanti Mas capek."
" Tidak, Mas juga menginginkannya. Kamu naik duluan sana."
Reyhan mengantar Syifa sampai ke depan lift lalu kembali keluar dan menghampiri security di depan. Setelah berbicara sebentar, Reyhan duduk di kursi pos jaga sedangkan salah satu security itu langsung pergi dengan motornya.
Setengah jam menunggu, akhirnya security itu datang dengan membawa pesanan Reyhan dan juga untuk semua penjaga disitu.
" Terimakasih ya, kamu dapat darimana ini? Saya cari di sepanjang tadi tidak menemukannya." kata Reyhan.
" Ini di perempatan jalan depan, Mas. Deket dari sini tapi antri, banyak sekali pembelinya." sahut security itu.
" Mas ini beneran sopirnya Non Syifa ya?" tanya security yang lain.
" Iya, tapi hanya sementara. Masa uji coba dulu, kalau cocok lanjut kalau tidak ya wassalam..." gurau Reyhan.
Semua malah tertawa dan banyak sekali cerita kebohongan yang diciptakan Reyhan agar bisa berbaur dengan mereka. Tak terasa sudah satu jam di pos keamanan, security yang berjaga malam sudah berganti jam kerja.
" Tuan Muda," panggil Deni yang baru datang.
__ADS_1
Reyhan menoleh ke arah sumber suara dan melihat Deni yang menatapnya dengan heran. Menurut Deni, Reyhan bukanlah orang yang mudah akrab dengan orang yang tidak dikenalnya. Setelah berpamitan dengan yang lainn Reyhan menghampiri Deni.
" Apa sih, kak! Sudah berapa kali Rey bilang jangan memanggil dengan sebutan itu. Semua orang disini tahunya saya hanya sopir Syifa." seru Reyhan saat mereka di dalam lift berdua.
" Maaf, Tuan Muda_..."
" Panggil namaku saja!" perintah Reyhan.
" Baik, Tuan."
" Apaaa?"
" Iy... iya, Reyhan." ucap Deni pelan.
" Good! Jangan membuat kesalahan lagi."
Lift terbuka dan Reyhan segera menuju ruangan Syifa untuk memberikan makanan yang dipesan gadis itu. Terlihat Syifa sudah sibuk dengan laptop di hadapannya.
" Sayang, sarapan dulu biar bersemangat kerjanya." kata Reyhan.
" Dapat nasi kuningnyan Mas?"
" Dapat dong, sayang. Ini Mas udah bawa, kita makan dulu yuk? Mas juga udah lapar."
Reyhan mengajak Syifa ke ruangan papanya agar bisa duduk dengan nyaman. Syifa sangat menikmati makanannya sedangkan Reyhan belum menyentuh miliknya sama sekali. Ini pertama kalinya Reyhan melihat nasi kuning dari jarak dekat. Dari kecil dia belum pernah memakan makanan seperti ini.
" Mas, katanya lapar? Kok cuma dilihatin aja, nggak suka ya sama makanannya?" tanya Syifa.
" Suka kok sayang, ini juga mau dimakan." jawab Reyhan dengan tersenyum.
Reyhan mencoba sesuap lalu menghentikan tangannya yang masih memegang sendok. Syifa menatap heran pada Reyhan yang memasang ekspresi datar.
" Kenapa? Nggak enak ya?" tanya Syifa.
" Kok rasanya begini, sayang. Coba punya kamu dong?" kata Reyhan.
" Gimana, Mas?"
" Cobain punyaku, sama nggak rasanya?"
Reyhan menyuapi Syifa dengan sendoknya dengan senyum jahilnya.
" Rasanya sama, enak kok." kata Syifa tanpa sadar.
" Lebih enak punya kamu." sahut Reyhan.
" Kok bisa?" tanya Syifa heran.
" Makan dari tangan kekasih itu rasanya lebih enak dan nikmat." bisik Reyhan.
" Ish... kau mengerjaiku!" sungut Syifa.
Reyhan menarik Syifa ke dalam dekapannya seraya mengecup keningnya berkali - kali.
" Wajahmu sangat menggemaskan, sayang. Rasanya tidak ingin melepaskan dekapan ini." bisik Reyhan.
" Kapan Mas kembali ke New York?" ucap Syifa sendu.
" Habiskan dulu makanannya, baru nanti Mas kasih tahu."
Reyhan melepaskan pelukannya lalu kembali memakan sarapannya. Tangan kirinya merangkul erat pinggang calon istrinya.
Selesai sarapan, Syifa membereskan peralatan makan lalu kembali duduk di samping Reyhan. Rasanya berat jika harus berpisah lagi dari kekasihnya. Namun di sisi lain, Syifa juga tidak boleh egois. Reyhan memiliki tanggung jawab yang besar dengan perusahaannya, tak mungkin ia menghalangi kepergian calon suaminya.
" Kenapa sih? Cerita kalau ada masalah?" ujar Reyhan.
" Mas jadi pergi nanti malam?" tanya Syifa sendu.
" Tidak, sayang. Mungkin lusa, Mas masih kangen sama kamu dan mama."
__ADS_1
" Ya udah, kalau begitu besok jalan - jalan ya? Pokoknya weekend besok Mas harus temenin Syifa terus."
" Iya, sayang. Mas berangkatnya minggu malam kok. Jadi, selama di Jakarta aku milikmu sepenuhnya."
" Syifa pengen ke pantai, tapi ajak Ardan dan kak Sony. Syifa ingin sekali seperti dulu, selalu jalan berempat."
" Tidak masalah jika mereka tidak sibuk, apalagi Sony. Dia itu seorang dokter, siaga 24 jam untuk pasiennya."
" Tapi dokter nggak cuma satu, Mas. Coba dulu hubungi mereka."
" Iya, sayang. Sabar dong, ini juga Mas mau telfon mereka."
" Ya udah, Syifa kerja dulu. Mas jangan kemana - mana!"
" Siap nona Aditama," ucap Reyhan dengan senyum khas di bibirnya.
# # #
Hari yang di tunggu - tunggu Syifa tiba. Selepas shubuh ia sudah bersiap - siap. Hari ini semua bisa ikut, orangtua Reyhan, orangtua Ardan dan orangtua Sony. Adik perempuan Ardan tidak ikut karena sedang melanjutkan study di Singapure selama satu tahun terakhir ini.
" Mas Rey, udah bangun belum!" teriak Syifa.
" Apa sih, Fa. Masuk aja, jangan teriak - teriak di luar. Mas juga nggak mengunci pintunya." ujar Reyhan saat membuka pintu.
" Hehee... maaf, Syifa pikir Mas belum bangun." sahut Syifa nyengir.
" Ini baru siap - siap. Tolong beresin baju Mas ke dalam tas ransel itu ya?" pinta Reyhan.
" Iya. Eh iya, Mas. Baju - baju di dalam lemari itukan baju anak - anak semua, Mas kenapa masih menyimpannya sih?" tanya Syifa penasaran.
" Bukan begitu, cuma bingung mau diapakan. Lagian Mas nggak ada waktu untuk mengurusnya." jawab Reyhan.
Syifa berpikir sejenak sambil memasukkan baju Reyhan ke dalam tas ranselnya. Tiba - tiba terbersit ide untuk memberskan kamar Reyhan.
" Mas, gimana kalau bajunya disumbangkan aja." saran Syifa.
" Tapi itu udah bekas pakai, sayang?" kata Reyhan ragu.
" Tidak apa - apa, yang penting bersih dan masih layak pakai. Banyak anak - anak diluaran sana yang tidak beruntung seperti kita, Mas. Bolehkan?"
" Terserah kamu saja sayang, kamu urus saja sendiri. Nanti kalau semua baju itu sudah tidak ada, tolong isi lagi dengan pakaian Mas yang baru ya? Jadi kalau Mas pulang tidak perlu bawa - bawa baju lagi."
" Iya, nanti Syifa beresin semua kamar Mas biar lebih rapi lagi."
" Terimakasih, sayang."
Syifa hanya tersenyum lalu menaruh tas Reyhan di atas sofa. Saat hendak keluar dari kamar Reyhan, tangannya ditarik hingga tubuhnya membentur dada bidang Reyhan.
" Auwww! Mas, jangan seperti ini!" sungut Syifa.
" Belum pergi saja rasanya sudah rindu, rasanya Mas tidak akan kuat terlalu lama jauh darimu." tutur Reyhan lembut.
" Ish... Syifa nggak percaya, kemarin aja bisa tuh enam bulan pergi tanpa kabar. Mas tega membuat Syifa sedih setiap hari."
" Maaf, Mas janji hal itu tidak akan terjadi lagi."
Saat Reyhan hendak mencium Syifa, tiba - tiba pintu terbuka. Syifa sangat kaget dan reflek mendorong tubuh Reyhan hingga mundur beberapa langkah.
" Kalian sedang apa?"
.
.
TBC
.
.
__ADS_1