ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 88


__ADS_3

" Mas Reyhan_..." ucap Syifa sambil menangis.


" Reyhan kenapa?" tanya Ardan.


Syifa bingung harus mengatakan apa. Pasalnya baru tadi pagi ia mencarinya, tidak mungkin ia bilang kalau Reyhan menghilang.


" Fa, apa kalian sedang ada masalah?" tanya Sony.


" Mmm... sebenarnya Syifa menanyakan keberadaan mas Reyhan pada kalian."


" Loh? Memangnya Reyhan pergi kemana?"


" Syifa juga tidak tahu, kak. Lima hari yang lalu mas Reyhan ke rumah lalu berdebat kecil dengan mama. Mas Reyhan marah karena aku membela mama. Sejak saat itu, mas Reyhan tidak ada kabar lagi. Nomornya juga tidak aktif sekarang."


" Mungkin dia sibuk di kantor, Fa." ujar Ardan.


" Tapi Rendi bilang padaku kalau mas Reyhan sudah lima hari ini tidak ke kantor dan juga tidak bisa dihubungi."


" Kau sudah mencarinya kemana saja?"


" Di Apartemen dan rumah lama Syifa, tapi sepertinya mas Reyhan tidak pernah pulang."


" Tenanglah, Abang akan membantumu cari Reyhan." kata Ardan.


" Iya, lebih baik kamu pulang dan istirahat. Lusa adalah hari pernikahanmu, jangan sampai kamu sakit." ujar Sony.


" Apakah mas Reyhan tidak akan datang ke pernikahan?"


" Hei... Reyhan sangat mencintai kamu, jangan berpikir yang aneh - aneh. Reyhan pasti datang untuk meminangmu."


Sony memeluk Syifa dengan erat memberi semangat untuk gadis itu agar tidak bersedih lagi. Ardan duduk di sofa sambil memikirkan kira - kira dimana Reyhan berada sekarang.


" Fa, mungkin gak ya Reyhan ke New York untuk suatu pekerjaan?" tanya Ardan.


" Tidak mungkin, Bang. Besok saja Cathy dan Steven akan datang kesini."


" Ya sudah, Abang antar kamu pulang ya? Jangan terlalu difikirkan, Reyhan memang suka seperti itu."


" Syifa bawa mobil sendiri, Bang."


Setelah berpamitan dengan Ardan dan Sony, Syifa terus mencari Reyhan bahkan sampai keluar kota. Tanpa Syifa sadari, dirinya kini sampai di kota Bogor.


" Mas, harus kemana lagi aku mencarimu? Maafin Syifa sudah membuat mas marah." lirih Syifa.


Tanpa terasa, hari sudah beranjak senja. Syifa tidak tahu harus mencari Reyhan kemana lagi. Dia tidak akan pulang sebelum dapat menemukan calon suaminya.


Malam ini Syifa menginap di sebuah penginapan sederhana di pinggir kota. Dia akan melanjutkan pencarian besok pagi. Syifa merasa sangat khawatir karena Reyhan pergi dalam keadaan marah.


# # #


Pagi hari, di kediaman keluarga Aditama. Semua orang heboh mencari Syifa yang pergi dari kemarin tidak pulang - pulang. Mama Salma menghubungi Deni, Rendi, Sony, Ardan dan Clarissa.


" Tante, kenapa kami semua dipanggil kesini?" tanya Sony.

__ADS_1


" Apa kalian melihat Syifa? Nomornya tidak aktif, Reyhan juga begitu. Tante khawatir terjadi sesuatu pada mereka." ucap mama Salma cemas.


" Begini, tante. Kemarin Syifa datang ke rumah sakit menanyakan keberadaan Reyhan." kata Sony.


" Memangnya Reyhan kemana? Rendi, kau pasti tahu dimana Reyhan."


" Maaf, nyonya. Boss Reyhan sudah lima hari tidak datang ke kantor. Saya tidak tahu kemana perginya karena beliau hanya memberi perintah kepada saya untuk mengurus perusahaan." ucap Rendi.


Papa Hendra menenangkan mama Salma yang panik karena besok pagi acara pernikahan akan diadakan. Apa yang akan terjadi besok jika kedua mempelai menghilang?


" Clarissa, apa Syifa tidak datang ke kost kamu, biasanya dia sering mengantarmu pulang?" tanya papa Hendra.


" Semenjak cuti satu minggu yang lalu, saya dan Syifa belum bertemu lagi, Tuan." jawab Clarissa.


" Deni, biasanya kau selalu kontak dengan Syifa?"


" Iya, Tuan. Tapi terakhir dua hari yang lalu."


" Kalian semua berpencar cari Syifa dan Reyhan. Besok pagi mereka sudah harus ada di rumah ini!" perintah papa Hendra.


" Baik, Tuan."


Semua berpencar untuk mencari kedua mempelai yang hilang. Clarissa ikut dengan Deni karena memang tidak punya mobil dan belum hafal jalanan di Jakarta.


Hingga jam tujuh malam mereka mencari, namun tak ada hasil. Kini mereka berlima berkumpul di sebuah cafe untuk mencari solusi bersama.


" Apa rencana kita selanjutnya?" tanya Deni.


" Saya mau jemput adik saya, Shella." kata Ardan.


" Beneran kamu mau jemput adikku, Son?" tanya Ardan.


" Iya, sekalian jalan saja."


" Baiklah, terimakasih."


Sony hanya tersenyum lalu mengalihkan pembicaraan yang lain. Mereka harus segera menemukan Reyhan dan Syifa.


" Oh iya, masih ada satu tempat yang belum kita datangi." kata Rendi.


" Dimana? Apa kau yakin mereka ada disana?"


" Tidak tahu juga, Boss Reyhan memiliki proyek yang belum dipublikasikan kepada keluarganya. Karena itu adalah untuk hadiah pernikahan."


" Proyek apa?" tanya Deni.


" Proyek pembangunan pasar di dekat rumah lama Syifa."


" Bukankah proyek itu yang sekarang dikerjakan Tuan Hendra?"


" Benar, hanya Tuan Hendra yang tahu jika proyek itu milik Boss Reyhan." kata Deni.


" Ya sudah, kita coba kesana sekarang."

__ADS_1


Setelah selesai makan, mereka bertiga langsung mendatangi tempat dimana Reyhan berada setelah mengantar Clarissa pulang ke tempat kostnya.


Hampir jam sembilan Ardan, Rendi dan Deni sampai di lokasi pembangunan pasar itu. Mereka sangat terpukau dengan megahnya bangunan itu walaupun belum selesai 100%. Bangunan itu terdiri dari lima lantai, dengan dua lift untuk umum dan satu untuk pengangkut barang.


" Kau yakin Reyhan ada disini, Ren?" tanya Ardan.


" Saya sebenarnya tidak yakin, Tuan. Namun apa salahnya dicoba, saya juga baru beberapa kali datang ke tempat ini."


" Kurasa Reyhan sudah gila tinggal di tempat seperti ini." gumam Ardan.


Mereka masuk ke dalam lift di lantai dasar menuju ke lantai lima. Hanya butuh waktu beberapa menit mereka sudah sampai. Ardan dan Deni sangat terpukau melihat design interior yang terlihat mewah. Walaupun hanya dengan warna cat yang mengukir pada dinding - dindingnya, namun lukisan indah menghiasi setiap sudut ruangan.


" Ren, ini ruangan untuk apa?" tanya Ardan.


" Ini lantai paling atas, untuk Resto dan cafe tempat melepas lelah setelah berbelanja." jawab Rendi.


" Yang di ujung sana?" tunjuk Deni.


" Itu untuk kantor para staf disini dan ruangan khusus untuk Boss Reyhan. Beliau sendiri yang merancang design bangunan ini sejak lama."


Mereka berjalan ke ruangan Reyhan yang terlihat sangat mewah. Ardan dan Deni berdecak kagum dengan hasil karya Reyhan. Mereka dulu hanya menganggap Reyhan pria arogan dan tak bisa mengerjakan sesuatu yang penting karena kesehariannya yang tak punya aturan dakam hidupnya.


" Ren, Reyhan tidak ada disini." kata Deni.


" Kita cari ke ruangan yang lain." jawab Rendi.


" Maksudnya?"


" Ren, bukankah ini sudah lantai yang paling atas? Lift juga hanya sampai di lantai ini?"


" Duduklah dulu, biar saya periksa ruangan yang lain."


Saat Ardan dan Deni duduk di sofa, tiba - tiba Rendi menghilang entah kemana. Hampir lima menit menunggu, namun ruangan itu semakin sepi karena tak ada suara derap langkah Rendi lagi.


" Kak, Rendi kok tidak ada?" tanya Ardan.


" Mana ku tahu, semua ruangan ini kaca jadi pasti terlihat jika ada orang." jawab Deni.


" Kak, jangan - jangan_..."


" Jangan - jangan apa! Bicara yang jelas."


" Rendi itu_..."


Belum sempat bicara, tiba - tiba mereka berdua mendengar suara derap langkah kaki seseorang di belakang mereka. Padahal sedari tadi tak ada siapapun disana.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2