ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 58


__ADS_3

" Mmm... itu, Mang... bibik sering masak makanan yang enak." kata Reyhan nyengir.


" Betul kalau itu mah, istri mamang memang jago masak."


" Ya sudah, Reyhan mau mandi dulu Mang."


" Silahkan, Mas."


Reyhan segera naik ke kamarnya untuk mengambil baju ganti lalu keluar dan mandi di kamar lain. Setelah selesai, mereka berdua turun untuk sarapan dan langsung kembali ke Jakarta.


" Dino, nanti kamu berangkat bareng saya saja sekalian, biar emak kamu beres - beres disini." kata Reyhan.


" Apa tidak merepotkan, Mas?" ucap Dino.


" Tidak, kami tidak buru - buru. Iya kan, sayang?" kata Reyhan.


" Iya, kamu bisa ikut dengan kami." sahut Syifa dengan tersenyum.


Selesai makan, Reyhan dan Syifa langsung berpamitan kepada Mang Tofa dan bik Saroh untuk kembali ke Jakarta. Mereka mengantar Dino ke sekolahnya dulu yang kebetulan satu arah dengannya menuju jalan besar.


" Dino, ini uang jajan buat kamu. Sekolah yang rajin agar suatu saat nanti bisa menjadi orang sukses." kata Syifa saat mereka sampai di depan sekolah Dino.


" Terimakasih kak Syifa, Mas Reyhan." ucap Dino sambil tersenyum.


" Ya udah, cepat masuk biar nggak telat." ujar Reyhan.


" Iya, Mas. Assalamu'alaikum..."


" Wa'alaikumsalam..."


Dino mencium punggung tangan keduanya lalu keluar dari mobil dan berlari menuju pintu gerbang sekolah.


# # #


Sebelum dhuhur Reyhan dan Syifa sudah sampai di Jakarta. Syifa merebahkan tubuhnya sebentar untuk melepaskan penat. Tanpa ia sadari, Reyhan juga sudah berbaring di sampingnya dengan menatap wajah lelahnya.


" Jangan terlalu dipaksakan jika lelah, kau juga butuh istirahat sayang." ucap Reyhan pelan.


" Aakkhhh...! Kapan Mas Reyhan masuk?" pekik Syifa kaget.


" Masya Allah, Mas udah disini dari tadi nggak tahu?"


" Maaf, Syifa benar - benar tidak tahu Mas Rey disini."


Reyhan mengusap pelan rambut Syifa dengan penuh kasih sayang. Dia tidak tega melihat kekasihnya bekerja sangat keras demi perusahaan keluarganya.


" Maaf ya, sayang. Seharusnya Mas yang melanjutkan pekerjaan papa, bukan kamu sampai harus berjuang seperti ini." lirih Reyhan.


" Syifa senang melakukannya, Mas. Mas istirahat saja, nanti malam harus kembali ke Amerika."


" Kamu tidak apa - apa Mas tinggal?"


" Iya, Mas. Syifa baik - baik saja, tidak perlu khawatir."


" Terimakasih. sayang. Mas sangat bahagia mendengarnya."


Syifa hanya tersenyum kecil lalu menggenggam dengan erat tangan Reyhan. Sebenarnya tidak rela jika harus berpisah lagi, tapi Syifa harus bisa bersikap dewasa dalam menghadapi masalah ini.


" Tidurlah, nanti Mas bangunin kalau sudah waktunya berangkat meeting." kata Reyhan.


" Iya, Mas. Syifa sayang banget sama mas Reyhan."

__ADS_1


" Mas juga sayang sama kamu, Syifa Azzahra."


Setelah Syifa terlelap, barulah Reyhan keluar kamar untuk membereskan barang bawaannya. Tak lupa perhiasan untuk mamanya ia bungkus dengan rapi lalu dibawa ke kamar orangtuanya. Entah mengapa, Reyhan merasa canggung untuk memberikannya secara langsung.


# # #


Malam ini Syifa akan mengantar Reyhan dan Cathy ke Bandara. Cathy sampai menangis saat berpelukan dengan mama Salma.


" Mom, Cathy pergi dulu. Jaga kesehatan, jangan terlalu lelah bekerja. I love you, Mom..." ucap Cathy sambil menangis.


" Iya, sayang. Titip Reyhan disana, jangan sampai dia berbuat macam - macam." pesan mama Salma.


Mereka saling berpelukan lalu bergantian dengan Reyhan yang memeluk kedua orangtuanya.


" Ma, Reyhan punya hadiah kecil buat mama. Reyhan taruh di laci meja rias mama." bisik Reyhan saat mereka berpelukan.


" Benarkah? Terimakasih, sayang. Mama pikir mau kasih cucu." sahut mama pelan sambil tersenyum.


" Kalau itu belum waktunya, Ma. Belum boleh sama papa, padahal Reyhan sudah siap dengan prosesnya... hehehee."


" Dasar anak nakal...!" mama Salma menepuk jidat Reyhan saat pelukannya terlepas.


" Kami berangkat dulu, Ma... Pa. Assalamu'alaikum," ucap Reyhan.


" Wa'alaikumsalam."


Deni sudah berada di dalam mobil menunggu Reyhan. Dia yang akan mengantarkannya ke Bandara bersama Syifa.


" Kak Deni, ayo berangkat sekarang." kata Reyhan yang sudah duduk di sampingnya.


Syifa dan Cathy duduk di belakang entah apa yang mereka bicarakan, tapi mereka terlihat sangat akrab. Keduanya kadang tertawa bersama sambil saling berbisik.


" Baik, Tuan Muda." ucap Deni.


" Maaf, Tapi_..."


" Stop! Tidak ada lagi alasan apapun, panggil namaku saja."


" Baiklah," jawab Deni singkat.


" Kak,..."


" Ya?"


" Jaga gadisku, jangan sampai ada yang mengganggunya. Jauhkan dia dari pria yang mencoba mendekatinya." bisik Reyhan.


" Tenang saja, tidak akan ada yang berani mendekatinya selain Danang, Office Boy itu." sahut Deni.


" Kenapa?"


" Karena Syifa selalu bersikap dingin dan tegas pada semua karyawan di perusahaan. Semua menaruh hormat kepadanya."


" Baguslah, saya senang mendengarnya."


Tak lama mereka sampai di Bandara. Reyhan masih memiliki waktu sepuluh menit sebelum pesawat lepas landas. Dia mendudukkan dirinya di samping Syifa yang sedari tadi mendiamkannya.


" Sayang, ada apa?" tanya Reyhan lirih.


" Tidak apa - apa, Mas." jawab Syifa memaksakan senyumnya.


" Jika memang tidak boleh pergi, Mas akan batalkan keberangkatan malam ini."

__ADS_1


" Tidak usah, pergilah. Aku baik - baik saja, jangan khawatir. Jaga diri disana baik - baik. Jangan suka menggoda wanita disana."


" Jadi gadisku ini khawatir jika Mas selingkuh?"


" Tidak!"


" Hmm... percayalah walaupun jarak memisahkan kita, Mas akan tetap setia padamu."


Reyhan mengambil kalung yang kemarin dilepas Syifa. Kalung itu kembali dipakaikan di leher gadisnya.


" Jangan dilepas lagi, itu adalah tanda cinta kita yang telah menyatu. Jaga baik - baik, jangan sampai hilang."


" Memangnya kenapa kalau hilang? Apakah cintamu padaku juga akan hilang?"


" Bukan, sayang aja harganya mahal." gurau Reyhan.


" Memangnya harganya berapa?"


" Tidak diperjual belikan."


" Bantuan pemerintah dong?"


" Hahahaa... benar juga, tapi mana ada pemerintah ngasih bantuan perhiasan. Kamu ada - ada saja sayang."


Reyhan membawa kekasihnya dalam dekapannya yang semakin erat. Seperti biasanya, rasa rindunya sudah terlalu dalam walaupun mereka belum berpisah.


" Mas pasti akan selalu merindukanmu, sayang." lirih Reyhan.


" Syifa juga pasti merindukan Mas Reyhan." ucap Syifa samar.


" Mas janji akan segera pulang dan kita tidak berpisah lagi."


" Maksud Mas apa?"


" Tidak apa - apa, Mas hanya berharap kita bisa bersama selamanya."


Waktu keberangkatan pun telah tiba. Reyhan dan Cathy mulai berjalan menjauh dari Syifa dan Deni. Hanya lambaian tangan yang masih terlihat jelas dari kejauhan.


" Fa, ayo pulang." kata Deni.


" Sebentar, kak. Syifa pengen disini sampai pesawat Mas Reyhan lepas landas." ucap Syifa.


" Tidak usah bersedih, Reyhan itu pergi untuk bekerja bukan cari pacar lagi."


" Ihh... kak Deni! Jangan bikin Syifa sedih dong, besok Syifa bolos kerja nih!"


" Eits...! Mana boleh begitu, besok ada meeting penting dengan klien dan tidak bisa ditunda lagi."


" Huft... sebenarnya Syifa itu pengeennn banget tidur seharian. Rasanya pasti sangat nyaman."


" Tidak usah kebanyakan berkhayal, ayo cepetan pulang!"


Deni menarik lengan Syifa agar mau pulang secepatnya. Besok ada pekerjaan yang sangat penting, jadi Syifa harus mempersiapkan segalanya.


Dengan langkah gontai, Syifa mengikuti langkah Deni menuju tempat parkir. Gadis itu sangat lelah namun masih memaksakan dirinya untuk terlihat kuat di hadapan semua orang.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2