ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 87


__ADS_3

Reyhan mendengus kesal dengan tingkah mamanya yang memperlakukan dirinya seperti tawanan.


" Ma, sebentar. Ada barang Reyhan yang tertinggal di ruangan papa." kata Reyhan.


" Barang apa? Jangan bohong pada mama!"


" Cuma sebentar, Ma. Tidak sampai satu menit." ucap Reyhan menghiba.


" Ya sudah, cepetan ambil!" kata mama Salma.


Setelah terlepas dari mamanya, Reyhan langsung berlari ke arah Syifa lalu mencium gadis itu dengan cepat tanpa menghiraukan berkas yang berada di tangan berhamburan ke lantai.


" Reyhaannn...!" teriak mama Salma.


" Mas apa - apaan sih!" kesal Syifa.


Reyhan hanya nyengir setelah puas menciumi seluruh wajah kekasihnya.


" Dasar anak nakal, tidak ada sopan santunnya, tidak punya malu!" omel mama Salma sambil menjewer telinga Reyhan.


Papa Hendra dan Deni hanya bisa beristighfar melihat kelakuan Reyhan. Untungnya hanya ada Clarissa yang melihat kejadian itu.


" Aduh, Ma... sakit, jangan ditarik telinga Reyhan." sungut Reyhan meringis kesakitan.


" Kamu tidak malu mencium Syifa seperti itu!"


" Maaf, Ma. Rey janji tidak akan mengulanginya lagi."


Mama Salma langsung menarik putranya itu pergi dari kantor suaminya.


# # #


Satu minggu menjelang pernikahan, Syifa tidak diperbolehkan masuk kantor. Mama Salma tidak ingin Reyhan nekat lagi menemui calon istrinya.


" Ma, kenapa sih Syifa dan Mas Reyhan tidak boleh bertemu?" tanya Syifa.


" Ya tidak apa - apa, Mama pengen aja menjahili anak nakal itu." jawab mama asal.


" Kasihan, Ma. Kata Rendi pekerjaannya berantakan akhir - akhir ini."


" Biarkan saja, dia pikir mama nggak tersiksa ditinggal ke Amerika selama lima tahun dan tak sekalipun pulang."


" Terserah mama saja, Syifa tidak bisa mencegah keinginan mama."


Tak lama, Reyhan datang terburu - terburu masuk ke dalam rumah. Dia tak menghiraukan pelayan yang mengejarnya. Reyhan langsung menghampiri Syifa yang sedang menonton tv di ruang keluarga bersama mamanya.


" Reyhan? Ngapain kamu kesini?" ketus mama Salma.


" Memangnya kenapa? Reyhan nggak boleh datang ke rumah ini." sungut Reyhan.


" Boleh, tapi setelah kalian menikah."


" Mama jangan larang Reyhan lagi, sudah cukup Reyhan pisah sama Syifa!"


" Mas... pelankan suaramu terhadap mama." ucap Syifa.


" Kenapa? Jadi kau lebih membela mama!" bentak Reyhan.


" Bukan begitu, Mas. Syifa hanya_..."


" Diam! Kau sama saja!"

__ADS_1


Reyhan membanting vas bunga yang ada diatas meja lalu pergi begitu saja dari rumah itu.


" Ma, maafin Mas Reyhan ya? Dia hanya sedang lelah dengan banyaknya pekerjaan. Mas Reyhan tidak benar - benar marah." ucap Syifa.


" Tidak apa - apa, mama ke kamar dulu ya." sahut mama Salma dengan senyum yang dipaksakan.


Setelah mama Salma masuk kamar, Syifa juga berlari ke kamarnya sendiri. Airmatanya tak terbendung lagi setelah tadi dibawah berusaha menahannya di depan mamanya.


" Kenapa kau sekasar itu, Mas? Aku masih bisa terima jika kamu membentakku, tapi kenapa harus mama?" lirih Syifa.


# # #


Dua hari menjelang pernikahan, tidak ada kabar sama sekali dari Reyhan. Syifa mulai resah saat mamanya menyuruhnya ke butik untuk mencoba gaun yang baru selesai dibuat.


" Fa, telfon Reyhan untuk menemani kamu fitting baju yang baru jadi kemarin. Mama lagi nggak enak badan, mau istirahat dulu."


" Iya, Ma."


Syifa masuk ke kamarnya lalu menghubungi nomor Reyhan. Namun sudah berkali - kali dicoba nomor Reyhan tidak aktif. Perasaan Syifa mulai tidak enak, takut terjadi sesuatu pada calon suaminya.


Syifa segera menghubungi Rendi, mungkin saja dia sedang bersama dengan Reyhan.


" Assalamu'alaikum, Ren."


[ " Wa'alaikumsalam, Fa. Ada apa telfon jam segini?" ]


" Ini, Ren. Aku mau tanya soal mas Reyhan. Apa sekarang kamu sedang bersamanya?"


[ " Boss Reyhan? Bukankah beliau sudah cuti beberapa hari yang lalu? Sudah ada lima hari kayaknya boss nggak ke kantor, semua pekerjaan aku yang handle saat ini." ]


" Mas Reyhan bilang nggak mau pergi kemana gitu?"


" Ya udah terimakasih, Ren. Assalamu'alaikum."


[ " Wa'alaikumsalam." ]


Syifa duduk di tepi ranjang sambil menyeka airmatanya yang perlahan menetes. Dia sangat khawatir terjadi sesuatu dengan Reyhan karena terakhir kali mereka bertemu, calon suaminya itu pergi dalam keadaan marah.


" Aku harus cari kamu kemana, Mas?" lirih Syifa.


Syifa mengambil tas kecilnya serta kunci mobil lalu bergegas keluar rumah tanpa pamit pada mamanya. Tempat yang pertama kali ia tuju adalah Apartemen. Mungkin saja Reyhan ada disana.


Sampai di depan pintu Apartemen, Syifa mengetuk pintu namun tak ada sahutan.


" Mas, ini Syifa." teriak Syifa.


Karena tak ada jawaban, Syifa membukanya dengan password yang sudah ia hafal.


" Mas, di dalam nggak?" seru Syifa.


Syifa mencari ke setiap sudut ruangan namun yang dicarinya tidak ada. Syifa masuk ke dalam kamar dan juga balkon namun tak ada juga. Hanya ada bunga mawar yang sudah layu bertebaran di lantai balkon.


" Mas, kamu dimana? Maafin Syifa..." lirih Syifa.


Syifa mencari ke setiap ruangan mungkin ada petunjuk tentang keberadaan Reyhan. Syifa tidak akan menyerah begitu saja untuk menemukan calon suaminya.


Syifa menuju ke rumah lamanya karena Ardan pernah bilang padanya kalau Reyhan sering menginap disana. Setengah jam perjalanan, akhirnya Syifa sampai di depan rumah lamanya.


" Assalamu'alaikum," Syifa mengetuk pintu pelan.


Syifa duduk di teras karena tidak memiliki kunci rumah itu. Reyhan yang menyimpannya karena Syifa tidak boleh pergi sendirian ke rumah itu.

__ADS_1


" Syifa, ngapain duduk disitu?" tanya pak RT yang kebetulan lewat.


" Eh, pak RT. Saya cari mas Reyhan." jawab Syifa.


" Reyhan sudah beberapa hari ini tidak pulang kesini. Kalau pulang, pasti mobilnya ada." kata pak RT.


" Ya sudah, pak... kalau begitu Syifa pamit pulang dulu."


" Fa, apa ada masalah antara kamu dan Reyhan?"


" Tidak, pak. Oh iya, jangan lupa datang ke pernikahan Syifa ya? Hanya bapak kerabat dekat Syifa."


" Iya, bapak pasti datang. Tidak usah khawatir, Nak."


" Terimakasih, pak."


Syifa masuk ke dalam mobil lalu melaju di jalan raya tanpa arah dan tujuan. Dia tidak tahu lagi harus mencari Reyhan kemana. Reyhan adalah pria yang tidak mudah berbaur dengan orang lain, tidak ada teman dekatnya kecuali Ardan dan Sony.


Syifa memutuskan untuk mendatangi Sony di rumah sakit. Mungkin saja kakak angkatnya itu mengetahui keberadaan Reyhan.


" Assalamu'alaikum, kak." sapa Syifa.


Syifa masuk ke ruangan Sony dengan memaksakan senyumnya. Dia tak ingin Sony tahu jika saat ini dirinya sedang bersedih.


" Wa'alaikumsalam. Fa, tumben kesini tidak bilang - bilang dulu sama kakak?"


" Maafn kak. Apa Syifa mengganggu pekerjaan kakak?"


" Tidak, duduklah!" titah Sony.


" Terimakasih, kak."


Tak lama Ardan juga datang ke ruangan Sony tanpa ada janji sebelumnya.


" Assalamu'alaikum," sapa Ardan.


" Wa'alaikumsalam." jawab Sony dan Syifa.


" Abang, Syifa kangen." rengek Syifa.


" Sama kakak nggak kangen?" cibir Sony.


" Kakak yang nomor satu!" sahut Syifa.


Syifa memeluk keduanya bersamaan. Walaupun dia tak ingin terlihat sedih, namun airmatanya tetap saja menangis.


" Hei... calon pengantin kenapa? Kok malah menangis sih?" tanya Ardan kaget.


" Fa, bilang sama kakak... kamu kenapa?" ujar Sony.


" Mas Reyhan_..."


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2