ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 57


__ADS_3

Usai sholat shubuh, Reyhan mengajak Syifa jalan - jalan di sekitar Villa. Udaranya terasa masih sangat dingin karena langit masih gelap ditambah mendung berkabut.


" Sayang, kamu masih kedinginan?" tanya Reyhan.


" Iya, Mas. Tapi tidak apa - apa, udaranya segar. Kapan lagi kita bisa menikmati udara pagi seindah ini." jawab Syifa sambil tersenyum.


" Nanti kalau Mas pulang lagi kita menginap disini."


" Beneran, Mas? Tapi ajak kak Sony dan bang Ardan ya?"


" Iya, kalau mereka tidak sibuk. Tidak enak juga kalau berdua aja, kurang ramai."


" Tumben, biasanya tidak suka keramaian?" ledek Syifa.


" Iya... kalau di kamar, pengennya berdua aja sama kamu." goda Reyhan.


" Ish... nggak nyambung!" desis Syifa.


Reyhan menggandeng tangan Syifa yang terasa dingin. Mereka berjalan di sepanjang jalan kecil perkebunan sayur.


" Perkebunan ini punya Mas?"


" Bukan, Mas bukan juragan sayur. Kok kamu bisa mikir ini punya Mas, sayang?"


" Seperti di film - film itu, biasanya pemilik perkebunan punya Villa di dekatnya." celoteh Syifa.


" Akhh... calon istriku korban sinetron juga ternyata. Biasanya seumuran kamu ini sukanya Drakor atau hollywood." sahut Reyhan heran.


" Dulu ibu sukanya nonton sinetron, karena tv cuma ada satu ya terpaksa ikut menikmatinya... hehehee."


" Kalau ingat ibu, Mas jadi merasa menyesal belum sempat membahagiakan beliau."


" Mama juga sayang sama kamu, Mas."


" Iya, Mas juga tahu itu. Tapi mereka berdua beda dalam mengungkapkan kasih sayangnya. Ibu memberikan kasih sayang dengan perasaan bukan dengan materi seperti mama."


" Jangan bicara seperti itu, sekarang mama sudah berubah. Ibu sudah tidak ada, jadi kewajiban kita sekarang adalah membahagiakan mama. Apa Mas tahu, waktu pertama kali Syifa mendapatkan gaji pertama di perusahaan papa? Syifa hanya membeli martabak telur untuk mama. Tapi diluar dugaanku, mama malah menangis terharu karena dia bisa merasakan hasil jerih payah anaknya walaupun hanya makanan sederhana. Mama memiliki banyak uang dan bisa membeli apapun yang beliau inginkan, tapi pemberian dari seorang anak itu bagaikan oase di padang pasir di hatinya."


" Mas tahu, selama ini Mas mengambil jalan yang salah. Tidak peduli dengan perasaan mama dan papa. Mas memang sangat egois."


" Sudahlah, tidak perlu menyesali yang sudah terjadi. Mulai sekarang, belajarlah dari masa lalu untuk memperbaiki masa depan." ucap Syifa.


" Tetaplah bersamaku, sayang. Kamu adalah penyemangat dalam hidupku."


Saat sedang istirahat di pinggir jalan, mereka bertemu dengan bik Saroh yang baru akan datang ke Villa.


" Bik Saroh!" panggil Syifa kencang karena bik Saroh naik motor.


" Neng Syifa sama Mas Reyhan ngapain disini?"


" Lagi jalan - jalan, bik. Bik Saroh dari mana? Kok tidak sama Mang Tofa?" tanya Reyhan.


" Bibik habis dari pasar beli bahan makanan untuk sarapan. Mang Tofa nanti nyusul jalan kaki."


" Loh? Kok jalan kaki, bik? Bukannya rumah bibik jauh dari Villa?"


" Mau gimana lagi, Mas... Mamang itu tidak bisa naik motor, takut jatuh katanya." keluh bik Saroh.


" Wah... bibik keren bisa naik motor, nanti kalau Syifa kesini lagi diajarin naik motor ya bik?" kata Syifa.


" Apa sih, Fa? Tidak boleh belajar naik motor, cukup bisa mobil saja tidak usah aneh - aneh." sahut Reyhan tegas.


Kalau Reyhan sudah memanggilnya dengan nama, sudah dipastikan orang itu sedang serius dan marah.


" Tapi, Mas_..."

__ADS_1


" Tidak...! Tahukan maksudnya kata tidak?"


" Hhh... menyebalkan!"


" Jangan membantah...!"


" Iya... Iya, ayo bik kita pulang. Syifa dibonceng ya? Biar Mas Reyhan pulang sendiri!"


Tanpa persetujuan, Syifa langsung naik di belakang bik Saroh sambil menatap tajam Reyhan agar tidak berbicara lagi.


" Ya sudah, kalian duluan sana." ucap Reyhan pasrah.


Motor mulai melaju perlahan meninggalkan Reyhan yang tampak lesu karena harus jalan sendirian ke Villa. Namun baru beberapa langkah menapakkan kakinya, terdengar panggilan dari belakang.


" Mas Reyhan...!"


Merasa ada yang memanggil, Reyhan balik badan dan melihat mang Tofa bersama anaknya yang memakai seragam SMP.


" Mang Tofa? Baru aja bik Saroh lewat sini tadi mau ke Villa." kata Reyhan.


" Iya, tadi katanya ke pasar makanya saya dan Dino jalan kaki."


" Ini Dino yang kecil itu, Mang?"


" Iya, Mas. Ayo Din, kasih salam sama Mas Reyhan."


Dino mencium punggung tangan Reyhan sambil tersenyum malu. Dia memang tidak ingat pernah bertemu Reyhan karena dulu umurnya masih tiga tahun.


" Pagi, Mas Reyhan."


" Pagi juga, kamu sudah sebesar ini sekarang. Padahal dulu Mas suka gendong kamu." kata Reyhan sambil tertawa kecil.


" Ini kok Mas Reyhan bisa ada disini?"


" Tadi jalan - jalan saja sama Syifa, tapi dia pulang duluan di bonceng bik Saroh. Bukannya Dino kemarin sakit ya?"


" Dino berangkat sekolah sepagi ini?"


" Tidak, Mas. Nanti diantar emak sekolahnya pakai motor." kata Dino.


" Dino bisa naik motor?"


" Bisa, tapi sama emak belum boleh bawa motor sendiri."


" Emak kamu bener, Din. Seusia kamu memang belum boleh membawa motor sendiri, bahaya."


" Iya, Mas."


" Ayo kita ke Villa, pasti bik Saroh sedang masak buat sarapan kita semua." kata Reyhan.


Mereka bertiga jalan beriringan melewati perkebunan sayur yang tadi ditanyakan oleh Syifa.


" Mas, tanah perkebunan ini katanya mau dijual. Katanya, pemiliknya itu mau pindah ke... ke... Kali... Kali apa ya?" ucap Mang Tofa sambil berpikir.


" Kali mana, Mang? Mau renang?" gurau Reyhan.


" Kali Malang mungkin..." kata mang Tofa ragu.


"Hah...! Kali Malang kan deket, Mang. Kenapa harus dijual?" tanya Reyhan heran.


" Astaga, Abah. Bukan Kali Malang, tapi Kalimantan." ucap Dino menepuk jidatnya sendiri.


" Ssttt... tidak boleh begitu sama Abah." bisik Reyhan sambil menahan tawa.


" Apa iya? Namanya udah ganti ya? Kok pak Gubernur kita tidak bilang." kata mang Tofa bingung.

__ADS_1


" Memangnya Abah tahu nama Gubernur kita siapa?" tanya Dino.


Reyhan menutup mulutnya agar tidak tertawa di depan anak dan bapak yang sedang berdebat itu. Perutnya sampai sakit harus menahan tawa sepanjang perjalanan. Dia juga harus menahan buang air kecil karena celotehan mang Tofa.


" Tahulah, orang dulu Abah pernah lihat di tv. Itu pak J*k*w*, kan?" jawab mang Tofa dengan bangga.


" Bukan Abah, memangnya Abah lihat di tv milik siapa?" pekik Dino.


" Udah - udah, tidak usah berdebat. Kita sudah sampai, Mas masuk duluan sudah tidak tahan." kata Reyhan berlari duluan masuk ke dalam Villa.


Saat berpapasan dengan Syifa di ruang tamu, Reyhan hampir saja menabraknya karena tidak fokus. Dia terus berlari masuk ke kamar yang paling dekat dengan ruang tamu.


" Dia kenapa sih, kayak dikejar hantu saja." gerutu Syifa sambil berjalan ke dapur untuk membantu bik Saroh masak.


" Kenapa, Neng? Dari tadi bibik lihatin bicara sendiri?" tanya bik Saroh.


" Itu bik, Mas Reyhan masuk rumah lari - larian kayak dikejar hantu. Mana Syifa hampir ditabrak lagi." sahut Syifa.


" Mungkin ada sesuatu yang penting yang mau diambil, Neng."


" Tapi dia masuk ke kamar yang deket ruang tamu, bik. Cari apa disana, kamarnya kan diatas?"


Tak lama, Reyhan menyusul Syifa ke dapur. Melihat Syifa sedang sibuk memasak, Reyhan menunggunya sambil duduk di kursi samping bik Saroh.


" Kenapa, Mas? Pagi - pagi ngelamun, entar kesambet loh." seloroh bik Saroh.


" Ah... bibik ini bisa aja. Cuma lagi lihatin bidadari masak." sahut Reyhan asal.


" Mas Reyhan bisa aja, pasti seneng punya calon istri cantik dan pintar masak."


" Tapi Reyhan masih ada yang kurang, bik."


" Apa?"


Reyhan membisikkan sesuatu yang hanya bisa di dengar bik Saroh. Mereka berdua tertawa entah apa yang sedang dibicarakan.


" Huss... tidak boleh begitu, kalau sudah menikah itu ya harus diterima apa adanya, nggak boleh mengeluh atau menyesal apalagi itu pilihan sendiri." ucap bik Saroh.


" Seperti bibik dan mang Tofa ya?" gurau Reyhan.


" Ya begitulah, kata orangtua dulu kalau menolak lamaran lelaki itu pamali, jauh nanti jodohnya. Ya terpaksa bibik terima daripada nggak ada jodoh."


" Bibik tidak boleh begitu, yang namanya jodoh itu sudah Allah yang atur. Banyak juga orang yang bertahun - tahun pacaran tidak berjodoh." sahut Syifa sembari duduk di hadapan Reyhan.


" Sayang, sudah selesai masaknya?" tanya Reyhan.


" Sudah, Syifa mau mandi dulu sambil beresin barang bawaan. Kita harus sampai rumah sebelum dhuhur, Syifa ada meeting nanti jam satu."


" Mas ikut mandi ya?"


" Heh... tidak boleh, belum muhrim nggak boleh mandi bareng." ujar bik Saroh.


" Dengerin tuh nasehat bibik!"


" Maksud Reyhan bukan bareng dalam satu kamar mandi, bik. Tapi mandi di kamar yang lain. Bibik negative thinking aja, pasti sering ya sama mang Tofa?" ledek Reyhan.


" Apanya yang sering, Mas?" tanya mang Tofa yang tiba - tiba masuk sama Dino.


" Mmm... itu, Mang_...."


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2