
Karena merasa tidak puas pada kepemimpinan Yudha, Dika dan teman temannya selalu saja membuat masalah supaya mereka bisa menyalahkan Yudha.
Seperti waktu itu teman teman yang satu geng sengaja ribut di dalam kelas, walaupun sudah di peringatkan oleh Yudha dan Arian tapi mereka sama sekali tidak memperdulikannya.
Akhirnya Yudha dan Arian hanya bisa duduk pasrah, walaupun dalam hatinya mengandung kekesalan pada teman teman Dika, tapi untuk mencegah keributan Yudha dan Arian pun memilih mengalah dan diam.
Arini kemudian menghadap ke belakang kanannya tempat Yudha dan Arian duduk bersama.
"Urus mereka" bisik Arini.
"Biarkan saja" jawab Yudha pasrah.
"Makanya kalau tidak becus jadi ketua kelas mending mundur saja, ketua kelas apa itu kerjanya cuma duduk. Urus dong teman teman biar gak ribut" ledek Dika tiba tiba
"Aku sudah kasi tau mereka supaya tidak ribut tapi mereka tidak mau mendengarkanku" sergah Yudha
__ADS_1
"Itu artinya kamu memang benar benar tidak becus dan goblok menjadi ketua kelas" hina Dika sambil tertawa terbahak bahak karena merasa sudah puas menghina Yudha.
"Terus siapa ketua kelas yang paling becus dan pintar? Kamu ya? " balas Arini yang sudah tidak bisa lagi menahan mulutnya untuk mengoceh.
"Kamu...... Awas kamu ya Arini" kata Dika sambil menunjuk nunjuk gadis itu dengan jari telunjuknya. Tapi Arini malah tertawa cekikikan menerima ancaman Dika.
"Kamu mengancamku? Hah? Kamu mau memukulku? Ayo sini! Pilih sebelah mananya yang mau kamu pukul. Pukul saja aku tidak usah sungkan dan segan silakan pukul jika memang benar benar urat malumu sudah habis, beraninya cuma melawan perempuan" kata Arini.
"Arya, Ivan! Kalian busa diem tidak dari tadi kalian itu ribut terus, jika kalian mau ribut mending kalian keluar sana!! Keberadaan kalian di sini sangat mengganggu teman teman yang lain tau? Bukannya kalian belajar di dalam kelas malah ribut tidak karuan. Kenapa? Kalian sudah pinter ya? Atau kalian tidak punya lauk di rumah sehingga suka dapat nilai telor (nilai nol) " ledek Arini membuat teman temannya yang lain tertawa cekikikan termasuk Arian dan Yudha yang sedari tadi sudah merasa setres menghadapi kelakuan Ivan dan Aryan
"Astaga mulut wanita ini benar benar berbisa sekali.... "Kata Ivan jengkel.
"Kenapa dengan mulutku? Apa mulutku ada mengeluarkan kata kata salah? Coba kamu bialang kapan terahir kamu dapat nilai di atas empat? Belum pernah bukan?" tanya Arini.
"Makanya belajar biar pintar jangan ribut melulu... Emangnya kamu di kasi apa sama Dika sehingga mau membelanya sampai segitunya?
Ivan pun hanya bisa diam tidak bisa lagi menjawab kata kata gadis itu. Suasana pun menjadi hening setelahnya. Mulut Arini benar benar lemes tak terkalahkan oleh siapapun.
Saat jam istirahat tiba tiba Arian mendatanginya, ini pertama kalinya ia bicara langsung dengan cowok itu setelah kejadian waktu kelas dua dulu.
__ADS_1
"Rin, pinjem catetan matematikamu" pinta Arian. Tanpa menjawab ba, bi, bu, be, bo Arini langsung menyerahkan catatannya pada Arian.
"Makasi.. " Senyum Arian seraya kembali ke tempat duduknya.
"Astaga bisa copot jantungku kalau begini" kata Arini dalam hati. "Untung catatanku rapi kalau tidak kan malu di lihat sama Aryan"
Tulisan Arini memang bagus dan rapi tak jarang temen temennya yang lain juga sering meminjam catatannya.
Semenjak saat itu Aryan dan Arini menjadi semakin sering berkomunikasi bahkan Arian sudah mulai usil pada Arini terkadang saat memasuki kelas Arian sudah melai nyolek tubuh gadis itu. Pertama mencubit tangan Arini lama lama Arian pun berani nyolek pinggang gadis itu. Membuat gadis itu semakin tergila gila pada Arian.
"Kayaknya kalian sudah mulai dekat" bisik Wati.
"Ya, dekat hanya sebatas teman tidak lebih dari itu" jawab Arini
"Tapi sepertinya Arian mulai tertarik sama kamu"
"Tidak mungkin, kamu tidak lihat perbedaan kami? Kayak pangeran sama babu tau?" jawab Arini sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Inget Rin, cinta itu buta dan... "
__ADS_1
"Ya... Konsultan cinta aku udah ngerti" Arini buru buru memotong kata kata Wati karena tidak mau mendengar ceramah anak itu. Arini selalu takut kalau bicara masalah cinta dengan Wati, ia takut jika Wati mengetahui perasaan Arini pada Arian. Dia tidak mau menjadi bahan ejekan satu sekolah.
"Biarkan seperti ini saja, asalkan bisa dekat denganmu dan melihat senyummu setiap hari itu sudah lebih dari cukup buatku Arian, aku takut jika kamu tau kalau aku suka padamu kamu malah akan menjauhiku karena keadaanku dan wajahku yang tidak secantik teman teman yang lain" kata Arini dalam hati