ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 61


__ADS_3

" Sebentar lagi permainan di mulai." seringai Feli.


Feli masuk ke dalam mobilnya dan menyuruh sang sopir segera menuju Club yang biasa ia kunjungi. Hatinya sedang berbunga - bunga membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia tidak menyadari bahwa obat itu bereaksi dalam tubuhnya sendiri. Dia sudah hampir kehilangan kendali.


" Nona, Anda tidak apa - apa?" tanya sopirnya.


" Cepatlah! Tubuhku rasanya panas sekali." keluh Feli.


" Bagaimana jika kita pulang saja, Nona. Keadaan Anda sedang tidak baik - baik saja."


" Tidak! Reyhan harus bisa menjadi milikku!"


Sementara itu di Cafe, Reyhan langsung masuk ke dalam mobilnya namun tidak mengikuti Feli ke Club. Dia berbelok arah menuju rumahnya diikuti teman - temannya.


Mereka sekarang berkumpul di ruang tamu rumah Reyhan. Pelayan di rumah menyediakan minuman untuk mereka semua.


" Siapkan makanan untuk kami semua!" perintah Reyhan.


" Baik, Tuan."


" Bukannya kau sudah makan, Rey?" ledek Ardan.


" Tapi aku masih lapar, apa kalian tidak lapar?" sahut Reyhan.


" Tentu saja, melibatmu menikmati makanan itu membuatku sangat lapar." kata Sony.


" Bagaimana nasib Felicia, Boss?" tanya Steven.


" Kalian tidak meninggalkan bukti apapun disana, kan? Biarkan dia bersenang - senang sesuai keinginannya itu." jawab Reyhan datar.


" Jika ayahnya tahu, pasti mereka sangat marah pada kita?"


" Tenang saja, saya yang akan berhadapan langsung dengan ayahnya."


Mereka makan bersama dengan tenang. Hanya Cathy yang terlihat bermanja pada kekasihnya, David. Sony dan Ardan hanya bisa saling pandang dan menatap jengah pada sejoli yang tak tahu tempat itu.


Selesai makan, Steven, Cathy dan David berpamitan untuk pulang karena hari sudah semakin larut. Reyhan dan kedua temannya berpindah ke ruang keluarga untuk bergadang sepanjang malam seperti yang sering mereka lakukan saat masih sekolah dulu.


" Rey, kau yakin wanita itu tidak apa - apa masuk ke Club itu?" tanya Sony.


" Biarkan saja, setiap hari juga dia selalu datang ke tempat itu." jawab Reyhan.


" Tapi dia telah meminum obat itu, Rey?" kata Ardan.


" Harusnya kau mendatanginya untuk menghilangkan obat itu. Kau pasti puas dengannya." ledek Reyhan.


" Cihh...! Kau pikir aku serendah itu." teriak Ardan.


" Sudah, lebih baik kita tidak usah membicarakan hal itu lagi. Apa tidak ada topik yang lain?" kata Sony menengahi.


" Oh iya, Rey... Syifa sering hubungi kamu nggak? Akhir - akhir ini dia sangat sibuk dan tidak bisa bertemu." kata Ardan.


" Memangnya kenapa? Tadi pagi aku sudah video call dengannya. Ah iya, harusnya sekarang waktunya aku hubungi dia lagi." ucap Reyhan.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, mungkin Syifa masih sibuk dengan pekerjaannya. Biasanya mereka sudah janjian untuk menelfon setiap jam sembilan.

__ADS_1


" Ish... gara - gara kalian, aku lupa menelfon kekasihku." gerutu Reyhan.


Reyhan segera mengirimkan pesan pada kekasihnya untuk meminta maaf karena lupa menelfonnya tadi. Tak lama ponsel Reyhan berdering tanda ada panggilan video call masuk. Reyhan sangat senang saat melihat siapa yang menghubunginya.


" Assalamu'alaikum, sayang..." sapa Reyhan.


[ " Wa'alaikumsalam, Mas. Kok belum tidur?" ] jawab Syifa.


" Belum, sayang. Tadi ada sedikit pekerjaan diluar, baru aja pulang."


[ " Itu yang lagi sama Mas, siapa? Kok pakai bahasa Indonesia?" ]


" Tuh, para pengacau datang." Reyhan mengalihkan ponselnya kearah Sony dan Ardan.


" Hai, sayang..." sapa Ardan.


" Syifaa...!" sapa Sony dengan melambaikan tangannya.


[ " Kok kalian ada disana sih? Ish... kenapa Syifa tidak diajak?" ] seru Syifa.


" Katanya lagi banyak kerjaan? Besok malam juga kami udah balik ke Indonesia kok." kata Sony.


[ " Jangan lupa oleh - olehnya ya?" ]


" Oleh - oleh apa?"


[ " Patung Liberty... hehehee..." ]


" Abang bawain aja yang ada nyawanya mau? Nih udah ada disini tinggal dibungkus." kata Ardan.


" Sayang, kau pikir Mas ini barang!" sungut Reyhan.


[ " Tanya aja sama bang Ardan, dia yang nawarin." ] sahut Syifa nyengir.


" Udah makan belum?"


[ " Belum, jam istirahat juga masih satu jam lagi. Nanti makan sekalian meeting dengan klien di Cafe, Mas." ]


" Berangkat sendiri apa sama papa?"


[ " Sama kak Deni, Mas. Papa sudah tidak mau mengurus klien jauh, hanya mau di sekitaran Jakarta saja. Yang lainnya Syifa dan kak Deni yang urus." ]


" Sebaiknya kamu cari asisten yang bisa mendampingi pekerjaan papa, sayang. Jadi tidak semuanya kamu yang urus."


[ " Nanti Syifa pikirin dulu, Mas. Soalnya nyari yang cocok buat papa itu susah, udah kayak nyariin calon istri." ]


" Kamu bisa aja, sayang."


[ " Ya udah, nanti malam lagi ya. Syifa udah ditungguin kak Deni takut jalanan macet." ]


" Ok, hati - hati kerjanya sayangku."


[ " Iya, Mas. Assalamu'alaikum... kakak, abang... jangan lupa oleh - olehnya." ]


" Wa'alaikumsalam." jawab ketiga pria itu serempak.

__ADS_1


Reyhan meletakkan ponselnya di meja setelah panggilan tidak tersambung lagi. Dia tersenyum kecil bisa melihat senyum di wajah kekasihnya walaupun hanya lewat media komunikasi.


" Kalian setiap hari melakukan panggilan video seperti itu, Rey?" tanya Ardan.


" Iya, sehari dua kali saat jam kantor dan menjelang tidur malam." jawab Reyhan.


" Kapan kalian menikah?" tanya Sony.


" Nanti kalau sudah waktunya tiba, pasti kami akan menikah." sahut Reyhan.


" Aku tanya serius, Rey! Jangan permainkan Syifa."


" Bukan begitu, Son. Aku hanya ingin menyelesaikan urusan disini dulu. Sampai saat itu tiba, aku hanya ingin kalian berdua menjaga Syifa. Mungkin aku hanya bisa pulang satu atau dua bulan sekali."


" Tapi sampai kapan, Rey? Kau tidak bisa menyuruh Syifa untuk menunggumu yang tidak ada kepastian."


" Siapa bilang tak ada kepastian, cintaku padanya pasti dan tidak akan pernah berubah."


" Bukan itu, Rey. Setidaknya kalian itu bertunangan dulu untuk meresmikan hubungan kalian." kata Ardan.


" Tidak perlu seperti itu, yang penting kami berdua saling cinta dan saling percaya. Aku tidak mau merasa telah memilikinya sebelum terikat dalam pernikahan. Kami memang sangat dekat, tapi aku tidak mau melakukan hal diluar batas yang bisa merugikannya."


" Yakin? Apa kau bisa dipercaya? Bahkan kau mengajaknya menginap di Villa berduaan waktu itu." ucap Ardan.


" Iya, memang kami hanya berdua di Villa itu. Bahkan kami juga tidur satu kamar karena Syifa takkan bisa tidur sendirian di tempat baru." kata Reyhan.


" Yakin kalian tidak melakukan apa - apa di Villa?" cecar Sony.


Reyhan melihat raut wajah Sony yang seakan tak percaya dengan ucapannya. Tidak tahu mengapa, Sony terlalu posesif jika berhubungan dengan Syifa.


" Tenanglah, aku akan menjaga kehormatan kekasihku. Dia adalah masa depanku, tidak mungkin aku menghancurkannya."


Mereka bertiga mengobrol sambil bermain game hingga lupa waktu seperti masa remaja mereka dahulu. Jika sudah bersama, mereka bertiga seakan lupa segalanya.


# # #


Sementara di tempat lain, tepatnya di sebuah Club malam tempat Felicia menunggu Reyhan untuk menghabiskan malam yang panjang. Kini tanpa ia sadari, dirinya sudah berada di sebuah kamar VIP bersama seorang pria yang tak dikenalnya. Mereka berdua sama - sama polos tanpa sehelai benangpun. Hanya selimut yang menutupi tubuh mereka berdua.


Entah berapa jam Feli bersama pria yang berumur sekitar empat puluhan itu melakukan aktifitas panas di dalam kamar itu. Yang Feli ingat, pria dalam bayangannya tadi adalah Reyhan yang mencumbunya dengan begitu ganas. Pergulatan yang panjang seakan tiada henti itu membuat Feli merasa sangat puas walaupun tubuhnya terasa remuk.


Mungkin karena obat itu, hasrat Feli tak bisa tertahan sehingga yang ada dipikirannya hanya Reyhan saja. Feli tersenyum simpul saat pria di sampingnya itu tertidur pulang membelakanginya.


" Kau akan menjadi milikku selamanya, Reyhan." seringai Felicia dengan senyum terkembang sempurna.


Feli mengusap rambut pria itu pelan dengan senyuman yang sulit diartikan. Tak lama, pria itu memutar badannya menghadap Feli yang mengusap lembut kepalanya.


" Apa kau belum puas juga, honey...?"


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2