
" Maksudnya apa, Rey?" tanya Sony.
" Sudahlah, kita berangkat sekarang. Pekerjaanku sangat banyak di kantor." jawab Reyhan datar.
Mereka berdua pergi ke kantor tanpa Steven karena dia ingin mengendarai mobilnya sendiri. Steven langsung berangkat ke kantor dari rumahnya.
Semenjak Steven menikah, Reyhan lebih sering membawa mobil sendiri saat ke kantor. Dia tidak suka memakai sopir.
Sampai di kantor, Reyhan langsung masuk ke ruangannya diikuti Sony. Cathy yang melihat kedatangan bossnya langsung berlari menghampirinya.
" Good morning, boss. What can I do for you?" tanya Cathy.
" Hmmm... Black coffe 2," sahut Reyhan datar.
" Ok! Ada lagi Mr. Reyhan?" goda Cathy.
" Cathyyyy...!"
" Hehehee... tunggu sebentar Boss," Cathy nyengir kuda.
Baru juga dua langkah menuju pantry, gadis itu kembali mendekati Reyhan dan meraih bahu sang Boss.
" Apa lagi?" Reyhan sangat hafal dengan tingkah Cathy yang seperti ini.
" Dia siapa?" bisik Cathy melirik ke arah Sony.
Sony yang sedari tadi diam merasakan tingkah Reyhan dan sekretarisnya yang terlihat sangat dekat. Mereka terlihat bukan seperti atasan dan bawahan pada umumnya.
" Kenalan sendiri, dia masih jomblo." sahut Reyhan.
" Benarkah?"
" Iya, cepat sana. Aku mau telfon David,"
" Reyyy...!" pekik Cathy.
" Sana bikin kopinya!"
Cathy memanyunkan bibirnya sambil melangkah menuju pantry yang ada di ruangan Reyhan. Setelah membuat kopi, Cathy langsung keluar dari ruangan Reyhan tanpa berkata apapun.
" Rey, kau dan dia_..." selidik Sony.
" Kami sudah seperti saudara. Cathy dan Steven adalah orang - orang terdekatku di negara ini."
" Ku pikir kau sudah bisa move on dari Syifa."
" Memang seharusnya begitu kan?"
" Kenapa, Rey?"
" Jika memang tidak berjodoh mau bagaimana lagi, Son?"
__ADS_1
" Jodoh itu sudah ada yang mengatur, Rey."
Reyhan hanya membalas ucapan Sony dengan tersenyum. Dia kembali melanjutkan pekerjaannya yang sudah ia tunda beberapa hari ini.
Sejenak ia melupakan Syifa saat berhadapan dengan puluhan berkas di hadapannya. Ia seakan tenggelam dalam dunianya sendiri saat sedang bekerja.
" Permisi, Boss. Sudah waktunya kita berangkat ke panti. Acaranya akan di mulai setengah jam lagi sesuai jadwal." ucap Cathy.
" Baiklah, suruh Steven menyiapkan mobilnya sekarang. Sebentar lagi saya akan turun."
" Baik, Boss."
Cathy langsung keluar dari ruangan Reyhan untuk mencari kakaknya, Steven di ruangan sebelah.
" Sekretarismu bisa sopan juga padamu," kata Sony.
" Dia selalu profesional saat bekerja, tapi manja seperti anak kecil saat di luar." sahut Reyhan.
" Kau mengenal dia dengan sangat baik rupanya."
" Tentu saja, bertahun - tahun aku mengenalnya. Kekasihnya pun aku tahu, jadi kau jangan ganggu dia."
" Kenapa? Mereka belum menikah, kan?"
" Ish... kita itu berbeda keyakinan dengannya. Kau tidak boleh mendekatinya."
" Hahahaa... aku cuma bercanda, Rey. Aku lebih menyukai produk lokal."
" Ok, aku tidak menyangka kau bisa sesukses ini hanya dalam waktu lima tahun." puji Sony.
" Asal kita berusaha, tidak akan pernah sia - sia." sahut Reyhan.
" Tapi kau tidak berusaha mempertahankan cintamu. Kau meninggalkan dia dalam keadaan terluka."
Reyhan tak menanggapi celotehan Sony. Ia menyibukkan diri membereskan semua berkas di mejanya.
" Boss, mobilnya sudah siap di bawah." seru Cathy.
Cathy menyembulkan kepalanya ke ruangan Reyhan tanpa masuk ke dalamnya. Sering Reyhan memperingatkannya namun hanya ditanggapi dengan kekehan kecil gadis itu.
" Hmmm..." jawab Reyhan datar.
# # #
Syifa sudah siap di depan aula untuk menyambut para donatur bersama para pengurus panti. Tak lama beberapa donatur datang dengan mobil yang super mewah. Pakaian mereka terlihat elegan namun harganya sangat fantastis.
Para tamu menatap Syifa dengan heran karena ini baru pertama kalinya mereka bertemu. Wajah Syifa yang terasa asing bagi mereka membuat gadis itu menjadi pusat perhatian.
Nyonya Theresia yang paham dengan situasi ini langsung memperkenalkan Syifa kepada pada donatur.
" Maaf, Tuan - Tuan. Perkenalkan, ini Syifa. Dia dari Asia, tepatnya negara Indonesia. Gadis ini akan tinggal disini selama beberapa saat sampai urusannya di negara ini selesai." ucap nyonya Theresia.
__ADS_1
Mereka saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri. Hanya dengan sedikit bicara saja, Syifa sudah akrab dengan para donatur.
" Senang bisa berkenalan dengan Anda nona Syifa," ujar salah seorang donatur.
" Saya juga senang berkenalan dengan Anda semua disini. Mungkin saja suatu saat saya membutuhkan bantuan di negara ini, saya bisa meminta bantuan kepada Anda semua." sahut Syifa.
" Tentu saja, Nona. Kapanpun Anda butuh bantuan, silahkan hubungi kami."
" Terimakasih, Tuan. Oh iya, silahkan duduk seraya menunggu yang lain." ucap Syifa dengan tersenyum.
Setelah semua tamu duduk, Syifa kembali ke dalam untuk mempersiapkan anak - anak. Akan ada pentas seni untuk penyambutan para tamu dan juga pembacaan puisi - puisi karya anak - anak itu sendiri.
Syifa menggendong seorang bayi yang umurnya sekitar dua bulan. Kata pengurus panti, bayi itu adalah korban kecelakaan bersama keluarganya. Kedua orangtuanya meninggal di tempat saat kejadian naas tersebut.
" Nyonya, saya akan menjaga baby Jo disini. Suhu badannya sedikit tinggi biar saya yang merawatnya." pinta Syifa.
" Terimakasih, Syifa. Kalau begitu saya bisa mengurus anak - anak yang lain."
Syifa membawa baby Jo ke taman samping aula supaya mendapatkan udara segar di luar ruangan.
" Sayang, nasib kita sama. Orangtua kita sudah tidak ada karena kecelakaan. Aku yakin kamu akan menjadi pria yang sangat tangguh nantinya. Kau harus terus berjuang untuk mdnggapai cita - citamu. Semoga hidupmu selalu bahagia dan bersama - sama dengan orang - orang yang kau sayangi." Syifa mencium baby Jo berkali - kali.
Sementara itu, sedari tadi baby hanya mengedipkan matanya berkali - kali seperti mengerti dengan ucapan Syifa.
" Kau sangat menggemaskan sekali, ingin rasanya aku membawamu pulang."
Syifa kembali berceloteh sendiri sembari menimang anak kecil dalam dekapannya. Kadang ia tertawa namun terkadang raut wajahnya nampak sedih. Melihat bayi malang itu itu mengingatkan dirinya sendiri bahwa sekarang ini iapun benar - benar sebatangkara.
" Seandainya bisa, aku ingin sekali membawamu bersamaku. Sayangnya, untuk bertahan hidup sendiri saja aku tidak yakin mampu. Nasib kita sama, sayang... tidak ada lagi yang bisa kita jadikan untuk tempat bersandar. Tapi aku yakin, hidupmu akan lebih beruntung daripada aku."
Tanpa terasa, air mata Syifa mengalir dengan deras. Hatinya begitu perih, orang - orang yang dekat dengannya kini menjauh. Syifa tidak ingin menjadi perusak kebahagiaan orang yang dia sayangi.
" Baby Jo, semoga kelak kamu bisa mendapatkan orangtua asuh yang bisa membuatmu bahagia. Aku akan selalu mendo'akan yang terbaik untukmu."
Syifa mengayun - ayun baby Jo dalam gendongannya hingga bayi mungil menggemaskan itu terlelap dengan sedikit senyuman di bibirnya. Syifa segera membawa anak itu masuk ke dalam kamar khusus untuk para bayi untuk dibaringkan disana agar tidurnya lebih nyaman.
Setelah meletakkan bayi itu ke dalam box, Syifa berpamitan untuk keluar dan melihat acara di aula yang sepertinya sudah di mulai.
Saat dia melewati lorong - lorong kamar itu, tiba - tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
" Aakkhhh...!!!"
.
.
TBC
.
.
__ADS_1