ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 36


__ADS_3

" Eh, Syifa kemana?" tanya Ardan.


Semua orang saling berpandangan lalu mengarahkan pandangan mereka ke segala arah.


" Tuh anak hobby banget ngilang!" keluh Sony.


" Rey, kau chek in dulu saja. Biar Ardan dan Sony yang mencari Syifa." kata papa Hendra.


" Iya, pa." sahut Reyhan.


Setelah dapat kamar, Reyhan segera menyusul Ardan dan Sony mencari Syifa di pantai. Reyhan sangat khawatir dengan Syifa yang pergi tanpa pamit.


" Gimana? Syifa udah ketemu?" tanya Reyhan pada Sony dan Ardan.


" Belum, Rey. Padahal tadi di tempat parkir masih gandeng lengan aku kok bisa ilang ya?" kata Sony.


" Coba kita kearah sana?" kata Ardan menunjuk ke arah batu karang.


" Sayang, kenapa kamu selalu membuatku khawatir?" batin Reyhan.


Mereka bertiga berjalan menyusuri pantai di tengah teriknya sang surya yang kian meninggi. Saat sedang berjalan, tanpa sengaja Ardan melihat Syifa sedang duduk bersama seorang pria. Mereka terlihat sangat akrab dilihat dari cara mereka berinteraksi.


" Rey, lihat itu!" seru Ardan.


Ardan mengarahkan jari telunjuknya kearah dua orang yang sedang bersenda gurau diatas batu karang.


" Syifa...!" pekik Reyhan dan Sony bersamaan.


Dengan wajah penuh amarah, ketiga pria itu bergegas menghampiri Syifa dan teman prianya.


" Syifa...!" teriak Reyhan.


Syifa merasa ada yang memanggil namanya. Dia menoleh ke belakang dan melihat tiga pria yang menatapnya tajam.


" Mereka siapa, Fa?" tanya pria di samping Syifa.


" Sebentar ya, Ren. Aku kesana sebentar." bisik Syifa.


Syifa segera berlari mendekati Reyhan dan dua sahabatnya. Melihat raut wajah dingin mereka, pasti akan terjadi kehebohan lagi.


" Mas Reyhan, kak Sony, bang Ardan_..." ucap Syifa pelan.


" Diam! Jadi kau mengajakku kesini untuk melihatmu bermesraan dengan pria itu!" bentak Reyhan.


" Mas, bukan seperti itu. Kalian salah paham."


" Kau bilang salah paham? Keterlaluan kamu, Fa!" geram Reyhan.


Rendi, teman Syifa semasa kuliah segera mendekat ketika melihat temannya seperti sedang ada masalah dengan tiga pria asing itu.


" Fa, ada apa? Apa mereka mengganggumu?" tanya Rendi.


" Tidak, Ren. Kau pergilah dari sini." jawab Syifa.


" Jadi ini yang ingin kau temui di tempat ini? Kau membuat kami kecewa, Fa!" hardik Ardan.


" Fa, jadi benar kau janjian dengan dia!" cecar Sony.


" Tidak, Rendi ini_..."


Belum sempat Syifa bicara, Ardan dan Reyhan sudah menghajar Rendi dengan penuh amarah.


" Mas Reyhan, bang Ardan! Apa yang kalian lakukan!" teriak Syifa.


" Kau mau membelanya?!" seru Ardan.


" Kalian salah paham! Jangan pukuli Rendi lagi...!"


Wajah Rendi terlihat memar dan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Perutnya juga terkena serangan dari kaki Reyhan. Syifa menangis seraya menopang tubuh Rendi yang kesakitan.

__ADS_1


" Ren, maafkan aku. Kita ke rumah sakit, ya?" isak Syifa.


Tiba - tiba seorang gadis datang dan langsung berlari memeluk Rendi yang terkapar diatas pasir.


" Ren, kamu kenapa? Fa, apa yang terjadi dengan Rendi?" teriak gadis itu seraya terisak.


" Maafin aku, Bell. Rendi seperti ini karena aku. Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang. Kalian bawa mobil, kan?" ucap Syifa merasa bersalah.


" Iya, kami bawa mobil."


" Ya udah, kita bawa Rendi sekarang."


Reyhan, Ardan dan Sony saling tatap dengan bingung. Kenapa ada gadis lain yang menangisi pria itu juga? Mereka terlihat cukup dekat, apa mereka saling mengenal?.


" Fa, biar aku bantu bawa dia. Aku akan memeriksa keadaannya." ucap Sony.


" Tidak perlu! Jangan berani sentuh dia lagi, aku benci kalian!" pekik Syifa.


Mereka bertiga menatap kepergian Syifa yang berjalan tertatih menopang tubuh seorang pria yang tengah terluka.


" Apakah yang kita lakukan salah?" kata Ardan.


" Aku tidak peduli, dia sudah berani mendekati kekasihku!" sahut Reyhan.


" Bagaimana kalau ini hanya salah paham? Kalian sudah memukul orang yang tidak bersalah." ujar Sony.


" Kita ikuti kemana Syifa pergi!" seru Ardan.


Mereka bertiga segera menyusul Syifa ke tempat parkir. Terlihat Syifa sedang mengemudikan sebuah mobil dengan kecepatan yang agak tinggi.


" Rey, itu mobil yang dikendarai Syifa." tunjuk Sony pada mobil yang baru saja keluar.


" Kita ikuti mereka," kata Reyhan.


Seperempat jam dalam perjalanan akhirnya Syifa berhenti di sebuah klinik. Bella langsung keluar dari mobil dan meminta suster untuk membawa Rendi masuk.


Rendi sedang ditangani dokter, Syifa dan Bella menunggu diluar ruangan. Keduanya cemas dengan keadaan Rendi saat ini.


" Sebenarnya ada apa, Fa? Kenapa Rendi bisa begini?"


" Semua karena ulah temen - temenku yang salah paham. Mereka memukuli Rendi karena mengira aku dan Rendi janjian disini."


" Fa, apa mereka tidak tahu kita ini berteman sejak masuk kuliah dulu?"


" Mereka tidak mau mendengarkan penjelasanku, Bell. Mereka memang suka bertindak gegabah, maafkan aku."


" Sudahlah, Fa. Semua ini bukan salahmu, aku percaya padamu."


Mendengar percakapan Syifa dan temannya, tiga pria itu hanya bisa saling pandang dan merasa bersalah. Ingin minta maaf, tapi saat ini Syifa pasti sedang emosi yang ada malah semakin ngamuk.


" Rey, gimana ini? Syifa pasti marah besar pada kita, tidak akan mau memaafkan kita." kata Ardan.


" Tidak tahu, Dan. Yang pasti dia akan mengamuk padaku." sahut Reyhan sayu.


" Tapi bagaimanapun juga, kita harus meminta maaf pada Syifa dan temannya." ujar Sony.


" Baiklah, aku akan meminta maaf, semua ini salahku." ucap Reyhan.


" Aku juga ikut memukuli dia, jadi aku juga akan meminta maaf." sahut Ardan.


Mereka bertiga mendekati Syifa yang duduk di ruang tunggu pasien, sementara Bella sudah masuk melihat keadaan Rendi.


" Sayang, maaf ya? Aku hanya mengkhawatirkan kamu tadi karena pergi tidak pamit." ucap Reyhan seraya berlutut di hadapan Syifa.


" Pergi! Aku tidak mau melihatmu lagi!" ketus Syifa.


" Sayang, Mas benar - benar menyesal. Mas janji tidak akan terjadi lagi hal seperti ini."


" Kau memang tidak pernah berubah!"

__ADS_1


" Tidak, aku akan berubah demi kamu."


Ardan juga ikut berlutut di hadapan Syifa. Dia juga merasa bersalah atas kejadian tadi.


" Fa, aku juga minta maaf. Aku juga bersalah dalam hal ini." ucap Ardan.


" Aku ingin sendiri, pergilah!" ketus Syifa.


Rendi dan Bella menatap aneh pada Syifa. Selama mereka berteman, tak pernah sekalipun terlihat Syifa dengan pria manapun. Tapi kali ini, ada tiga pria tampan yang mengelilingi Syifa dengan tatapan penuh kasih sayang.


Rendi hanya luar saja, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan. Melihat ketulusan para pria itu meminta maaf, Rendi yakin bahwa mereka sangat menyayangi Syifa.


" Fa, aku tidak apa - apa. Sudahlah, jangan di perpanjang lagi masalahnya." ujar Rendi.


" Kamu tidak apa - apa, Ren? Apa ada luka dalam?" tanya Syifa khawatir.


" Tidak apa - apa, cuma luka luar saja." jawab Bella lalu melirik tiga pria di hadapannya.


" Mereka siapa?" ujar Bella lagi.


" Tidak tahu, ayo kita pergi!" sahut Syifa datar.


" Fa, tidak boleh begitu!" tegur Rendi.


" Kalian berdirilah, jangan mempermalukan diri di tempat umum." kata Rendi pada Reyhan dan Ardan. Sementara Sony duduk di samping Syifa.


" Kami minta maaf soal kejadian tadi, kami benar - benar menyesal." ucap Reyhan.


" Iya, harusnya kami mendengarkan penjelasan Syifa tidak langsung menghajarmu." timpal Ardan.


" Aku tidak memukulmu, jadi tidak perlu minta maaf" sahut Sony dengan santainya.


" Kakak!" sungut Syifa.


" Sudahlah, ini hanya salah paham. Saya tahu kalian hanya ingin melindungi Syifa." ucap Rendi.


" Terimakasih ya, Ren. Kau memang yang terbaik, Bella beruntung sekali punya calon suami yang sabar dan baik hati seperti kamu." puji Syifa.


Reyhan merasa sangat kesal melihat calon istrinya memuji pria lain di hadapannya. Namun jika ia marah, pasti gadisnya lebih ngamuk lagi dibandingkan sekarang.


" Kau terlalu berlebihan, Fa. Oh iya, mereka ini saudara kamu atau_..." tanya Rendi sambil menatap Reyhan.


" Saya, Reyhan. Calon suaminya Syifa, ini Ardan dan Sony teman saya." ucap Reyhan.


" Saya Rendi, teman kuliah Syifa. Kami baru bertemu hari ini secara kebetulan karena semenjak lulus kuliah saya bekerja di Bandung." kata Rendi.


" Senang berkenalan dengan Anda," ucap Ardan.


Mereka saling berkenalan dan berjabat tangan. Rendi yang memang mudah bergaul dengan siapapun cepat akrab apalagi saat mengobrol dengan Ardan dan Sony. Reyhan lebih banyak diam karena dia memang paling tidak suka basa - basi.


Syifa dan Bella memilih untuk jalan berdua menyusuri pantai yang semakin terik. Mereka duduk di bawah batu karang yang besar untuk belindung dari panas matahari.


" Fa, ada yang mau aku ceritakan padamu," ucap Bella sendu.


" Ada apa, Bell? Kau bisa cerita apa saja padaku."


" Begini, Fa. Ini tentang keluargaku, kau tahu sifat papa dan mamaku seperti apa."


" Lalu?"


" Rendi_..."


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2