
Reyhan duduk di samping ibunya sambil menunggu Syifa yang belum juga turun dari kamarnya.
" Syifa kok belum turun, Rey?" tanya mama Salma.
" Belum, Ma. Soalnya tadi tidur saat Rey ke kamarnya." jawab Reyhan.
Tak lama, Syifa datang lalu duduk di samping Deni membuat Reyhan menatapnya tajam. Syifa hanya acuh saja lalu mengambil ponsel Deni yang tergeletak di meja. Untuk membuka layar, Syifa menarik tangan Deni untuk menempelkan sidik jarinya.
" Buat apa sih, Fa? Mau cari apa di ponselku?" tanya Deni.
" Ada nomornya Danang, kak? Syifa mau ambil mobil." jawab Syifa.
" Tidak ada, cari aja orangnya di kantor nanti juga ketemu." sahut Deni.
" Sudah, kalian makan saja dulu. Nanti lagi ngobrolnya kalau sudah selesai makannya." seru mama Salma.
# # #
Syifa dan Reyhan ikut Deni ke kantor karena ingin mencari Danang. Sampai di kantor, Deni langsung memberikan beberapa berkas kepada Syifa untuk meeting besok.
" Kak, Syifa baru datang kok sudah dikasih setumpuk berkas!" gerutu Syifa.
" Buat besok, Fa. Klien hanya mau kerjasama jika kamu ikut meeting Tuan Hendra." sahut Deni.
" Huft... tapi sekarang Syifa lagi malas, besok pagi saja Syifa kerjain ini."
" Terserah, itu meetingnya besok siang jam dua."
" Ok, sekarang Syifa mau cari Danang dulu."
Syifa beranjak keluar dari ruangannya menuju pantry mencari Danang yang entah pergi kemana.
" Nona_...!" teriak Danang.
" Hai... aku mencarimu dari tadi." sahut Syifa.
" Kapan sampai di Jakarta? Kenapa tidak minta jemput, nona?"
" Aku sampai tadi pagi di jemput kak Deni. Oh ya, mobilku dimana?"
" Mmm... mobilnya ada di rumah, saya hanya memakainya saat lamaran saja."
" Kenapa?"
" Takut rusak, mobil nona Syifa itu perawatannya mahal. Gaji saya sebulan tidak cukup untuk biaya perbaikan."
" Kamu itu bisa aja, ya udah kita ambil sekarang yuk?"
" Ini masih jam kerja, nona. Tidak enak dengan yang lain kalau pulang duluan."
Syifa berpikir sejenak lalu duduk di kursi yang ada di ruangan pantry itu.
" Ya sudah, nanti pulangnya kita ketemu di lobby."
__ADS_1
" Baik, Nona."
Syifa kembali ke ruangannya namun tak ada Reyhan disana. Pria itu pasti ada di ruangan presdir. Syifa langsung ruangan presdir dan melihat Reyhan tengah menelfon seseorang.
" Mas_..." panggil Syifa.
" Iya, sayang. Sebentar ya?" bisik Reyhan.
Reyhan berbicara sebentar dengan seseorang di seberang telfon. Mungkin klien dari luar negeri karena mereka berbicara dengan bahasa asing.
" Kenapa, sayang?" tanya Reyhan seraya duduk di samping Syifa.
" KTP sama kartu yang lain itu mau diurus kapan?" rengek Syifa.
" Tenang saja, kak Deni yang akan mengurus semyanya besok."
" Bukannya kak Deni sedang sibuk?"
" Dia tidak perlu turun tangan sendiri, sayang. Tinggal suruh anak buahnya saja."
" Huft... baiklah, terus ponsel Syifa gimana?"
" Lusa sampai disini, apa mau beli dulu buat dipakai sementara waktu?"
" Tidak usah, aku tidak punya uang untuk membeli ponsel baru."
Reyhan sangat gemas dengan tingkah calon istrinya. Setelah menggeser tubuhnya semakin dekat, Reyhan langsung menarik Syifa ke dalam dekapannya.
Reyhan memberikan kartu unlimited miliknya kepada calon istrinya. Dia berharap gadisnya mau menerimanya untuk memenuhi segala kebutuhannya sehari - hari.
" Tidak, aku lebih suka memakai hasil kerjaku sendiri. Cukup ponsel itu saja yang kau belikan untukku." tolak Syifa.
" Sayang, kau ini calon istriku. Jadi sudah kewajibanku untuk memberikan semua yang kumiliki untukmu." ujar Reyhan.
" Kan baru calon istri? Belum ada kewajiban untuk itu."
" Sayang, aku ikhlas memberikannya untukmu. Mas sangat mencintai kamu, jangan tolak ya?"
" Baiklah, tapi ada syaratnya."
Reyhan mengernyitkan dahinya lalu mengurai pelukannya dan menatap lekat gadis di hadapannya. Syifa tersenyum kecil seraya memainkan jari - jemari Reyhan.
" Syaratnya apa, sayang?" tanya Reyhan lembut.
" Jangan pergi lagi, Mas. Syifa tidak mau berpisah lagi dengan mas Reyhan." rengek Syifa.
" Sayang, ikutlah ke New York. Kita menikah dan menetap disana."
" Tidak, kasihan papa dan mama kalau kita pergi."
" Sayang, papa dan mama pasti mengerti dengan keadaan kita. Pekerjaan Mas ada disana, tidak bisa ditinggalkan."
Syifa merasa tidak setuju dengan usulan dari Reyhan. Dirinya tidak tega jika harus meninggalkan orangtua Reyhan. Tujuan awal untuk menyusul Reyhan adalah agar bisa berkumpul lagi dengan orangtuanya, bukannya malah dia ikut pergi.
__ADS_1
" Hei... jangan pikirkan itu dulu. Kita jalani saja semuanya dengan hati yang ikhlas, sayang. Oh iya, mobil kamu dimana?"
" Di rumah Danang, Mas."
" Huft... terus gimana dong? Kita harus pergi sebelum maghrib, sayang."
" Memangnya mau kemana, Mas?"
" Mau minta restu sama ayah dan ibu. Sekalian ke rumah pak RT, soalnya lupa belum ngabarin kalau aku sudah ketemu sama kamu. Beliau sangat khawatir saat tahu kamu terusir dari rumah. Pak RT sempat mencarimu selama beberapa hari namun tidak bisa ketemu."
" Oh iya, Syifa lupa. Syifa memang tidak pernah datang lagi kesana semenjak pergi lima tahun yang lalu. Syifa tidak mau lagi mengingat kenangan di rumah itu. Rumah yang Syifa tempati sejak lahir, kini sudah ditempati oleh pamanku."
" Sayang, sebenarnya rumah itu sudah dijual oleh pamanmu. Sekarang sudah ditempati oleh orang lain."
Syifa sangat terkejut dengan penuturan Reyhan. Rumah yang menjadi saksi kebersamaannya dengan kedua orangtuanya sekarang telah dimiliki orang lain.
" Sabar ya, sayang. Mas pasti akan mendapatkan rumah itu lagi untukmu." batin Reyhan.
" Sayang, nanti suruh sopir kantor saja untuk mengambil mobilmu. Sekarang kita naik taksi saja untuk pergi ke makam ayah dan ibu." ujar Reyhan.
" Hmm... baiklah, Syifa nurut saja sama calon suami."
Kecupan hangat di keningnya, membuat wajah Syifa merona merah. Gadis itu masih saja merasa malu walaupun Reyhan sudah beberapa kali melakukannya.
# # #
Reyhan dan Syifa berada di dalam taksi untuk pergi ke makam orangtua Syifa. Reyhan terus menggenggam tangan Syifa sepanjang perjalanan.
" Mas, lepasin...!" bisik Syifa.
" Ssttt... jangan menolakku," sahut Reyhan lirih.
Pukul lima sore, Reyhan dan Syifa sampai di pemakaman. Reyhan langsung duduk di depan pusara diikuti Syifa.
" Assalamu'alaikum, ayah... ibu, Rey datang lagi kesini setelah enam bulan. Dulu Rey sempat putus asa karena tak bisa menjaga dan melindungi Syifa dengan baik. Rey juga tak bisa membawa Syifa datang kesini seperti janji Rey dulu. Tapi hari ini, Rey berhasil membawa Syifa datang menemui ayah dan ibu. Bukan hanya raganya, namun hatinya juga sudah ada bersama Reyhan. Mulai sekarang, Reyhan akan melaksanakan amanah ayah dan ibu. Reyhan tidak akan membiarkan Syifa bersedih lagi." ucap Reyhan seraya menaburkan bunga ke pusara orangtua Syifa.
Syifa terharu dengan ucapan Reyhan. Ternyata selama ini Reyhan sangat mencintainya. Pasti selama ini hatinya terluka karena berkali - kali ia tak membalas cintanya. Syifa sungguh bodoh telah mengabaikan cinta lelaki sebaik Reyhan. Tanpa sadar, air mata menetes dari kedua mata indahnya seraya menggenggam erat tangan pria yang begitu tulus menyayanginya tanpa mampu mengucapkan satu patahkatapun.
" Hey... jangan menangis, ayah dan ibu pasti bahagia melihat kita bersama lagi setelah sekian tahun berpisah." ujar Reyhan lembut.
" Ayah, ibu... restuilah kami. Reyhan sangat mencintai Syifa, begitu juga dengan putri kalian. Reyhan berjanji untuk memenuhi amanah dari kalian. Reyhan takkan mengecewakan ayah dan ibu, terimakasih telah merawat jodoh Reyhan selama ini sehingga dia menjadi wanita yang sempurna di mata Reyhan. Putri kalian telah menjadi gadis dewasa yang berakhlak baik atas didikan kalian semasa hidup. Kalian orangtua yang sangat luar biasa." tutur Reyhan seraya mendekap tubuh Syifa.
Setelah mengungkapkan semua isi hatinya, Reyhan mengajak Syifa ke rumah pak RT dengan berjalan kaki karena taksi yang ia tumpangi tadi sudah disuruh pergi.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1