ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 74


__ADS_3

" Duduklah!" kata Syifa.


Dengan ragu - ragu, Clarissa duduk berhadapan dengan Syifa. Dia tak berani menatap wajah Syifa yang menatapnya tajam.


" Heh... apa yang kau lakukan?" suara Deni membuyarkan tatapan Syifa.


" Eh, kak Deni. Syifa tidak ngapa - ngapain, cuma lagi baca berkas milik Clarissa."


" Dia siapa?"


" Ini calon sekretaris buat papa, soalnya kita berdua itu sering keluar kantor. Jadi, mulai sekarang harus ada yang standby di kantor untuk mengatur jadwal papa."


" Apa dia bisa diandalkan?"


" Ya dicoba dulu, kak. Jangan mengambil kesimpulan sebelum ada buktinya."


" Ok, sekarang kamu kasih jadwal Tuan Hendra untuk hari ini. Dan kamu, saya tidak mau melihat kau memakai pakaian yang tidak pantas di kantor ini."


" Baik, Tuan." ucap Clarissa.


Deni segera masuk ke ruangan Presdir untuk bertemu dengan Tuan Hendra Aditama.


" Jangan dengarkan kak Deni, dia Asisten Presdir kita Tuan Hendra Aditama. Tapi memang sudah jadi peraturan disini untuk memakai pakaian yang sopan saat bekerja." ucap Syifa dengan tersenyum.


" Iya, Nona."


" Jangan memanggilku begitu, panggil saja Syifa."


" Saya tidak berani, Nona."


" Kenapa?"


" Takut sama Tuan Reyhan." bisik Clarissa.


" Ris, tidak usah takut. Dia hanya bersikap seperti itu pada wanita penggoda saja. Kalau kamu disini niatnya memang ingin bekerja, tidak perlu khawatir. Mas Reyhan sangat menghargai wanita yang bisa menjaga harga diri dan kehormatannya."


" Saya bersumpah akan serius bekerja, Nona. Saya menanggung hidup kedua orangtua saya saat ini. Dulu ayah saya bekerja sebagai buruh pabrik di kota kelahiran saya. Tapi dua tahun lalu, ayah mengalami kecelakaan dan tidak bisa lagi bekerja karena kakinya cidera. Sekarang saya yang menjadi tumpuan hidup mereka, adik saya juga baru masuk SMA."


" Ya sudah, bekerjalah dengan baik disini. Saya akan melihat kinerjamu selama satu minggu ini. Untuk sementara, berkas lamaran kerjamu belum masuk HRD karena jika kamu dipecat, tidak akan ada perusahaan lain yang menerimamu."


" Baik, Nona."


" Clarissaaa...!"


" Eh... iya, Syifa..." ucap Clarissa pelan.


" Selamat bekerja, jadwal hari ini sudah saya tulis. Nanti Mas Rey akan memberitahu apa saja pekerjaanmu."


" Syifa, apa tidak ada yang lainnya?"


" Nanti papa Hendra juga ada, tidak usah takut."


" Baiklah, semangat Clarissa...!" pekik Clarissa menyemangati dirinya sendiri.


Mereka berdua tertawa dan terlihat sangat akrab walau baru bertemu. Syifa bisa merasakan jika Clarissa adalah gadis baik - baik. Dia akan mengawasi Clarissa dalam satu minggu ini untuk melihat kinerjanya.


" Fa, sudah saatnya ke Bandara. Kita berangkat sekarang." kata Deni yang tiba - tiba muncul.


" Astaghfirullah... kak Deni ngagetin aja sih!" sahut Syifa.


" Hmm... cewek kalau udah kumpul pasti gosip." cibir Deni.


" Biarin, Syifa bosen tiap hari gosipnya sama kak Deni terus."


" Ish... mana ada saya gosip, yang ada kamu setiap hari cuma curhat nggak jelas... hahahaa..."


" Ihh... kak Deni gitu sih? Awas aja nanti anaknya mirip Syifa."


" Hahahaa... udah sana pamit sama Reyhan, nanti dia nyariin kalau nggak pamit."


" Ok, papa udah datang kan?"

__ADS_1


" Udah, ada di dalam sama Reyhan."


Syifa mengajak Clarissa masuk ke ruangan Presdir untuk berpamitan dengan papa Hendra dan Reyhan sekalian memperkenalkan Clarissa pada papanya.


" Papa, Syifa mau pamit berangkat meeting sama kak Deni." ucap Syifa.


" Oh iya, hati - hati. Cepat pulang, tidak usah menginap disana."


" Iya, Pa. Syifa sama kak Deni langsung pulang kok. Oh iya, ini Clarissa. Dia yang akan menjadi sekretaris papa, soalnya Syifa sering kerja diluar jadi Clarissa yang akan mendampingi dan mengatur jadwal papa di kantor."


" Papa masih bisa handle sendiri, Fa."


" Jangan menolak, Syifa tidak mau papa lelah kerja sendiri."


" Ya udah, yang penting dia bisa kerja." kata papa pasrah.


Syifa mendekati Reyhan yang masih fokus dengan laptopnya. Pria itu seperti tak terpengaruh dengan suara berisik di sekitarnya. Wajahnya terlihat sangat serius saat sedang bekerja.


" Mas, fokus banget kerjanya?"


Syifa duduk di samping Reyhan dengan mencubit pinggang pria itu. Dia tidak habis fikir dengan kekasihnya yang gila kerja itu.


" Auwww... sayang, kenapa tangannya nakal banget sih?" rintih Reyhan.


" Lagian Syifa dicuekin." sungut Syifa.


" Hmm... katanya mau pergi? Ini udah jam sembilan, nanti ketinggalan pesawat loh."


" Iya, ini juga udah mau pergi kok."


" Mau minta ongkos?"


" Iya, Syifa nanti mau jalan - jalan sebentar disana."


" Minta sama papa sana, pasti banyak duitnya." bisik Reyhan.


" Ish... Mas pelit." desis Syifa.


Reyhan mengacak rambut Syifa karena gemas dengan tingkah gadisnya itu. Dia mengecup kening Syifa dengan lembut lalu tersenyum.


" Tidak apa - apa, Mas. Syifa janji tidak akan terpisah dari kak Deni."


" Jangan menyusahkan dia, patuhi perkataannya. Mas tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu."


" Iya, Syifa akan patuhi ucapan kak Deni."


" Ya udah, Mas antar ke bawah ya? Sebenarnya Mas tidak tenang membiarkan kamu pergi tanpa aku."


" Syifa akan jaga diri dengan baik, Mas."


Reyhan bangkit dari duduknya diikuti Syifa. Setelah pamit dengan papanya, mereka berdua keluar dari ruangan Presdir. Reyhan menggenggam erat tangan Syifa seakan tak ingin jauh darinya.


" Sayang, apa tidak bisa ditunda meetingnya? Mas merasa tidak tenang aja melepasmu pergi." ucap Reyhan.


Kini keduanya sedang berada di dalam lift. Reyhan memeluk erat gadisnya seakan tak ingin melepaskannya lagi.


" Mas, Syifa perginya sama kak Deni. Mas tidak usah khawatir, aku pasti pulang dengan selamat."


" Sayang, Mas tidak mau jauh dari kamu. Cepatlah kembali, Mas pasti akan sangat rindu padamu."


Perasaan Reyhan tidak enak saat melepaskan pelukannya. Dia menatap lekat wajah kekasihnya dengan tatapan sayu.


" Syifa pasti kembali, Mas. Jangan khawatir ya? Syifa perginya tidak lama."


" Iya, sayang. Ingat! Jangan pergi sendirian, harus selalu ada bersama kak Deni."


" Iya, Mas. Sebenarnya Mas ini kenapa sih? Syifa pergi cuma sebentar, nanti malam juga sudah kembali lagi kesini."


" Tidak apa - apa, ya udah kamu jaga diri baik - baik." kata Reyhan berusaha tenang.


Sampai di depan lobby, Deni sudah menunggu di dalam mobilnya. Syifa langsung masuk dan duduk di sampingnya setelah Reyhan melepaskan genggaman tangannya.

__ADS_1


" Kak Deni, tolong jaga Syifa. Jangan biarkan dia pergi sendirian disana." pesan Reyhan.


" Iya, Rey. Saya pasti jaga Syifa, kamu tidak perlu khawatir." kata Deni.


" Ya sudah, kalian hati - hati dan cepat kembali."


# # #


Syifa dan Deni sudah sampai di Bali. Dari Bandara, keduanya langsung menuju hotel tempat mereka meeting dengan klien. Sepanjang perjalanan dari Bandara ke hotel, Syifa menikmati kota Denpasar dari dalam mobil.


" Kak, nanti setelah meeting kita jalan - jalan dulu sebelum pulang ya?" rengek Syifa.


" Iya, tapi tidak usah jauh - jauh dari hotel. Nanti sore kita pulang ke Jakarta." kata Deni.


Sampai di hotel, mereka langsung di sambut oleh klien yang akan bekerja sama membangun villa mewah di Bali.


" Selamat datang pak Deni dan Bu Syifa," sambut klien itu.


" Terimakasih sambutannya pak Arman, bisa kita mulai sekarang?" kata Deni langsung pada intinya.


" Tentu saja, saya sudah siapkan privat room di lantai dua." ucap pak Arman.


Mereka berjalan ke lantai dua menuju privat room. Hotel yang mewah dengan pelayanan yang sangat nyaman membuat tempat ini ramai dikunjungi orang.


" Silahkan duduk,"


" Terimakasih."


Mereka membahas tentang pembangunan beberapa Villa di tepi pantai. Proyek itu akan ditangani langsung oleh Syifa dan Deni. Setelah mencapai kesepakatan dan tanda tangan kontrak sudah jadi, akhirnya Syifa dan Deni pamit karena masih ingin mengunjungi tempat lain.


" Kak, kita mau kemana sekarang?" tanya Syifa.


" Kita ke pasar tradisional yang menjual barang - barang untuk cindera mata." kata Deni.


" Kakak ipar ngidam ya?"


" Iya, dia minta dibelikan kain khas Bali sama beberapa souvenir."


" Sudah berapa bulan, kak?"


" Jalan tiga bulan, untuk permintaannya nggak aneh - aneh seperti saat kehamilan pertamanya dulu."


" Memangnya waktu hamil Andra, kak Vani ngidamnya aneh?"


" Iya, masa' sampai satu bulan lebih tidak boleh tidur sekamar. Mana ada ngidam seperti itu."


" Hahahaa... kasihan sekali kakakku ini." ledek Syifa.


Setengah jam perjalanan dengan taksi, mereka berdua sampai di tempat tujuan. Mereka berkeliling mencari barang - barang yang mereka suka. Mereka berhenti di toko kain di pinggir jalan. Deni sibuk memilih kain untuk istrinya yang menurutnya paling bagus. Syifa hanya melihat - lihat saja diluar sambil mencari barang disukai. Karena tempatnya yang lumayan ramai, Syifa lebih memilih menunggu Deni di tepi jalan.


Deni sudah mendapatkan yang ia cari dan beranjak untuk membayar belanjaannya. Saat hendak mengambil dompet di saku jaketnya tiba - tiba ada suara gaduh diluar.


Braakkk!!!


Banyak orang menjerit diluar membuat Deni penasaran. Diapun berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi disana.


" Ada apa ini?" tanya Deni.


" Ada kecelakaan, pak. Seorang wanita yang berada di tepi jalan tertabrak mobil. Penabraknya langsung kabur setelah menabrak gadis itu." jawab salah satu saksi mata disana.


" Dimana korbannya?"


" Disana, pak."


Deni baru menyadari bahwa Syifa tidak ada di sampingnya. Dia bergegas lari untuk melihat korban tabrak lari tersebut.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2