
Malam hari,
Setelah makan malam dengan seluruh rombongan, Syifa segera menarik Reyhan menjauh dari yang lain. Wajah imutnya membuat Reyhan pasrah dengan semua keinginan gadisnya.
" Fa, pelan - pelan saja jalannya!" seru Reyhan.
" Cepetan, Mas... keburu malam." sungut Syifa.
" Gadisku yang dulu selalu tegar dan mandiri, sekarang jadi sangat manja dan menggemaskan." batin Reyhan.
Syifa terus menarik lengannya hingga ke tepi pantai. Karena sudah malam, hanya satu dua orang saja yang ada disana menikmati alam yang begitu dingin hingga merasuk ke tulang. Syifa yang merasa lelah berjalan merengek minta di gendong di punggung Reyhan.
" Mas, capek!" rengek Syifa.
" Ya udah, kita kembali ke hotel saja ya?" sahut Reyhan tidak peka.
" Nggak mau, Syifa pengen naik ke batu karang yang tadi!"
" Katanya capek, sayang?"
" Nggak peka banget sih!" sungut Syifa.
" Huft... untung cinta kalau nggak udah aku lempar ke dasar laut." gerutu Reyhan dalam hati.
" Ya udah, sekarang maunya gimana?" tanya Reyhan.
" Gendong!" pekik Syifa.
" Ya Allah, berikanlah hambamu ini kesabaran seluas samudera agar bisa membuat calon istriku bahagia." gumam Reyhan.
" Ya udah, ayo naik." ucap Reyhan lembut.
Syifa segera naik ke punggung Reyhan dengan sangat senang. Ingatannya kembali pada saat ia berumur sepuluh tahun, ayahnya masih sering menggendongnya. Mungkin dengan adanya Reyhan, Syifa bisa sedikit meluapkan kerinduannya kepada sang ayah juga ibunya.
" Rasanya sama," celoteh Syifa tepat ditelinga Reyhan.
" Rasa apa, sayang?" tanya Reyhan.
" Rasanya sama seperti tiga belas tahun yang lalu saat berada di gendongan ayah. Sangat nyaman, terimakasih ya, Mas."
" Iya, tapi kamu nggak boleh merengek seperti ini pada orang lain selain mas, meskipun itu Sony ataupun Ardan."
" Iya, sayangku."
Udara semakin dingin dengan hembusan angin laut yang begitu kencang. Kini Reyhan dan Syifa duduk diatas batu karang. Syifa menggenggam erat tangan Reyhan seakan tak ingin dilepaskannya.
" Sayang, kenapa diam? Mas nggak suka kamu memendam masalah sendiri."ujar Reyhan.
" Mas, sering - seringlah pulang. Syifa nggak mau Mas pergi terlalu lama." ucap Syifa.
" Iya, Mas akan berusaha untuk bisa sering pulang."
" Mas, apa Mas sudah yakin ingin menetap di Amerika?"
" Belum tahu, sayang. Jangan pikirkan itu dulu, kita akan melewati malam ini dengan kebahagiaan. Jangan memikirkan hal - hal lain yang membuatmu bersedih."
" Mas, dingin banget. Jangan jauh - jauh!" rengek Syifa.
" Ya Allah, kekasihku sangat menggemaskan sekali. Jangan sampai khilaf ini." goda Reyhan.
" Awas aja kalau berani macam - macam!" ancam Syifa.
__ADS_1
" Cuma satu macam, sayang." Reyhan tertawa melihat ekspresi wajah kekasihnya yang sangat menggemaskan.
Bosan hanya duduk - duduk saja, Syifa turun ke bawah dan bermain air. Hanya kakinya saja yang masuk ke dalam air karena ia tak ingin semua bajunya basah.
" Sayang, katanya dingin kok malah masuk ke air?" teriak Reyhan.
" Tidak apa - apa, cuma kaki aja yang basah. Mas ikut turun dong," sahut Syifa.
" Dingin, sayang. Nanti tidurnya nggak ada yang peluk soalnya."
" Kan ada kak Sony sama Bang Ardan?"
" Mas maunya dipeluk sama kamu, honey."
" Ish... nggak mau!"
Karena Syifa terus merengek, akhirnya Reyhan turun juga ke air daripada sang gadis ngambek lagi. Waktunya yang sedikit ini, Reyhan berusaha untuk membuat senang kekasihnya saat berada di sisinya.
Saat mereka sedang bermain air, tiba - tiba Ardan dan Sony datang menghampiri. Mereka ikut masuk ke dalam air yang terasa sangat dingin.
" Kalian nggak ngajak kita sih?" kata Ardan.
" Aku pikir kalian tidak suka pantai di malam hari." sahut Reyhan.
" Bilang saja mau berduaan," cibir Sony.
" Memangnya kenapa kalau berduaan? Kalian ini mengganggu saja!" ketus Reyhan.
" Udah, jangan berantem lagi!" seru Syifa.
Syifa menarik lengan Ardan hingga pria itu terjatuh ke dalam air karena hilang keseimbangan. Seluruh tubuhnya basah kuyup dengan air yang sangat dingin.
Mendengar teriakan Ardan, Reyhan dan Sony menoleh kearah sumber suara. Melihat Ardan yang duduk di dalam air, Reyhan dan Sony bukannya menolong malah menertawakannya.
" Maaf, Syifa nggak sengaja." ucap Syifa lirih.
" Ya udah, bantuin abang berdiri!" titah Ardan.
Syifa mengulurkan tangannya untuk membantu Ardan berdiri. Namun keisengan Ardan muncul, dia menarik tangan Syifa dengan kuat sehingga gadis itu tersungkur disampingnya.
" Abaannggg!" pekik Syifa.
" Hahahaa... enak kan basah?" sahut Ardan.
" Ardan! Kenapa Syifa diceburin!" seru Reyhan.
Reyhan membantu Syifa untuk berdiri namun gadis itu malah menarik tangan kekasihnya itu biar ikut basah - basahan. Sementara Ardan dengan cepat menarik kaki Sony sehingga iapun terjatuh.
Mereka berempat jadi basah semua. Sony berkali - kali mengumpat kepada Ardan yang sudah membuatnya basah.
Karena sudah terlanjur basah, akhirnya mereka berempat sekalian berenang dan tak menghiraukan lagi betapa dinginnya air laut itu. Syifa sangat senang melihat Reyhan dan Ardan tidak berantem lagi. Mereka terlihat sangat akur dan bercanda bersama.
" Dan, latihan yuk? Udah lama nggak fight sama kamu." ajak Reyhan.
" Boleh, siapa takut!" sahut Ardan.
" Kita coba di dalam air, kalau di darat sudah biasa." kata Reyhan.
" Ok, aku terima tantanganmu!" seru Ardan.
Syifa dan Sony duduk diatas pasir yang basah untuk menonton pertunjukan menarik antara Reyhan dan Ardan.
__ADS_1
" Rey, antara kau dan dia... siapa yang menang akan mendapat hadiah dari Syifa!" teriak Sony.
" Pasti aku yang menang!" seru Ardan.
" Sombong sekali dia," cibir Syifa lirih.
" Memangnya kau mau kasih hadiah apa, Fa?" tanya Sony.
" Besok aja, Syifa belum siapin." jawab Syifa.
Reyhan dan Ardan mulai pasang kuda - kuda. Karena di dalam air, pergerakan mereka sedikit lambat dan berat. Mereka berdua memang sudah sangat terlatih untuk hal ini. Reyhan melayangkan tendangan dan tepat mengenai perut Ardan hingga pria itu jatuh ke air. Tak sampai disitu, Ardanpun juga membalas serangan Reyhan dengan memberikan pukulan keras di dadanya. Mereka berdua sama - sama kuat, hampir setengah jam tak ada yang menyerah.
" Cukup! Kalian ini cuma latihan jangan nafsu banget begitu." tegur Syifa.
" Maaf, sayang. Terbawa suasana, sudah lama kami tidak bertarung." ucap Reyhan nyengir.
" Yuk pulang, udah jam sebelas." ajak Syifa.
Dengan nafas yang tersengal, Reyhan dan Ardan mengikuti langkah Syifa dan Sony meninggalkan pantai. Saat memasuki hotel, beberapa karyawan yang berjaga malam heran dengan penampilan satu wanita dan tiga pria yang basah kuyup dengan muka yang terlihat pucat.
" Maaf, Tuan. Kalian tidak apa - apa?" tanya salah seorang pegawai.
" Tidak, kami hanya main di pantai tadi." jawab Sony.
" Apa perlu kami sediakan makanan atau minuman hangat agar tidak sakit?"
" Terimakasih, tolong buatkan air jahe saja dan antarkan ke kamar kami."
" Baik, Tuan."
Mereka berempat segera masuk ke dalam lift untuk naik ke kamarnya. Sampai di depan kamar, Reyhan menghentikan langkahnya.
" Sayang, pintunya jangan di kunci. Mas mau mandi di kamarmu saja, kelamaan kau harus bergantian bertiga." kata Reyhan pada Syifa.
" Iya, Mas ambil baju ganti dulu sana."
" Iya, kamu cepetan mandinya, Mas udah nggak tahan kedinginan."
" Ok! Aku masuk dulu."
Reyhan segera masuk ke kamarnya, lalu mengambil baju ganti lengkap dan kembali ke kamar Syifa. Reyhan melepas semua pakaiannya yang basah karena sudah tidak kuat lagi menahan dingin. Dia hanya memakai handuk saja lalu meringkuk di dalam selimut sembari menunggu Syifa selesai mandi.
Tak lama pintu terbuka dan Syifa keluar dengan piyama tidurnya. Dia heran melihat Reyhan yang meringkuk di tempat tidur dengan selimut yang menutup seluruh tubuhnya.
" Mas, kok malah di tempat tidur? Bajunya kan basah?" seru Syifa.
" Eh, sayang. Udah selesai mandinya? Maaf, Mas malah ketiduran."
" Kok tiduran disini sih? Kan selimut dan kasurnya bisa basah." sungut Syifa seraya ingin menarik selimut dari tubuh Reyhan.
" Jangaaannn...!"
.
.
TBC
.
.
__ADS_1