
" Tidaakkk...!!!" teriak Syifa tiba - tiba.
Semua yang ada di ruangan itu terkejut kecuali sang dokter. Beliau sudah diberitahu sebelumnya oleh dokter umum yang berjaga malam.
" Syifaa...!" teriak semua orang di ruangan itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
" Sayang, kau sudah sadar? Sejak kapan?" tanya Reyhan.
Syifa hanya nyengir melihat tatapan tajam keempat pria yang seperti menahan kekesalan.
" Hehehee... sudah dari shubuh tadi." ucap Syifa sambil tersenyum.
" Jangan - jangan yang tadi cubit pinggang Mas itu kamu?" cecar Reyhan.
" Mmm... iya, lagian dibangunin aja susah." sahut Syifa.
" Kenapa nggak bilang kalau sudah siuman!"
Mereka berempat bukannya terharu melihat Syifa sadar, malah yang ada semuanya terlihat kesal dan marah.
" Ish... tahu disambut dengan marah - marah begini mending Syifa tidak usah sadar aja selamanya." sungut Syifa.
Mereka berempat baru tersadar jika sedari tadi tak menampakkan wajah bahagianya dengan bangunnya Syifa dari koma.
" Sayang, jangan bicara begitu. Mas senang kamu sudah sadar."
Reyhan ingin meraih tubuh Syifa namun langsung di tepis dengan kasar oleh gadis itu. Begitupun dengan yang lain, Syifa melarang mereka mendekat.
" Jangan ada yang mendekatiku! Keluar dari sini, Syifa tidak mau melihat kalian!" ketus Syifa.
" Sayang, Mas minta maaf. Jangan marah - marah, kasihan anak kita." ucap Reyhan.
" Anaakkk...!" teriak Deni, Sony dan Ardan serempak.
" Tapi, Tuan... Nona Syifa sedang tidak hamil." kata perawat itu tanpa sadar.
" Mas apaan sih! Siapa juga yang hamil!" ketus Syifa.
" Persiapan kalau nanti kamu hamil, sayang. Belajar dari sekarang untuk tidak sering marah - marah." kata Reyhan sambil nyengir.
" Huft... aku kira beneran hamil!" seru Sony.
" Ya sudah, kalau begitu saya periksa kondisi pasien dulu." kata dokter Darma.
Dokter memeriksa keadaan Syifa lalu menyuruh perawat untuk mengganti perban di kaki dan kepalanya.
" Tinggal masa pemulihan saja, tidak ada luka dalam yang perlu di khawatirkan." kata Dokter.
" Terimakasih, Dokter. Apa Syifa bisa saya bawa pulang ke Jakarta?"
" Bisa, tapi harus banyak istirahat biar kakinya cepat sembuh."
" Baik, Dok. Anak ini tidak akan pergi kemana - mana sebelum sembuh." kata Sony.
" Saya permisi dulu, ada pasien lain yang harus saya tangani."
" Silahkan, Dokter."
Setelah dokter dan perawat pergi, keempat pria itu langsung mengelilingi Syifa.
" Fa, kamu sengaja mengerjai kami?" seru Ardan.
" Tidak, Syifa cuma lagi tidur aja tadi."
__ADS_1
" Kenapa tidak bilang sama, Mas? Kamu malah ngerjain Mas tadi." kata Reyhan.
" Hehehee... lagian dibangunin malah semakin nyenyak tidurnya."
" Sini, Mas kangen sama kamu." Reyhan membawa Syifa dalam pelukannya.
" Mas, Syifa lapar." rengek Syifa.
" Sebentar Mas ambilkan."
" Syifa nggak mau makan itu," rengek Syifa saat Reyhan ingin mengambil makanan diatas nakas.
" Sayang, kamu makan ini dulu. Kalau sudah sembuh baru boleh makan yang lain." bujuk Reyhan.
Sony segera mengambil makanan itu dan menyodorkan sesendok bubur ke depan mulut Syifa.
" Cepat makan, sebelum kakak memaksamu." ujar Sony.
" Kak, apa tidak ada makanan yang lain?"
" Mau Abang saja yang suapi?" bujuk Ardan.
" Fa, makanlah biar cepat sembuh. Kamu tega lihat Andra menangis di rumah cari kakak?" bujuk Deni.
Syifa hanya terdiam sambil memanyunkan bibirnya. Karena tidak tega melihat wajah memelas Deni, Syifa akhirnya mau makan bubur rumah sakit itu.
" Iya, Syifa mau makan itu." ucap Syifa pelan.
" Nah, gitu dong. Mau disuapin sama siapa?" tanya Ardan.
" Gantian aja biar Syifa semangat makannya." jawab Syifa nyengir.
Syifa bersandar pada dada bidang Reyhan agar bisa duduk dengan nyaman. Tubuhnya masih sedikit kaku untuk bergerak. Reyhan hanya bisa diam dengan tingkah Syifa yang terus menggerakkan kepalanya di dadanya sambil menerima suapan dari Ardan, Sony dan Deni.
" Tidak, cuma sedikit kaku saja karena terlalu lama rebahan." jawab Syifa.
" Ya udah, kamu harus istirahat supaya cepat sembuh."
" Syifa pengen pulang, Mas?" rengek Syifa.
" Iya, nanti kalau kamu sudah sembuh kita pulang." kata Reyhan.
" Pulang sekarang,"
" Tapi, sayang_..."
" Tidak apa - apa, Rey. Nanti siang kita kembali ke Jakarta. Aku sudah siapkan helicopter untuk membawa Syifa pulang." kata Sony.
" Benarkah? Kau serius, Son?"
" Iya, sekarang Syifa istirahat dulu. Nanti akan ada yang menjemput kalian ke Bandara. Kami bertiga akan kembali ke Jakarta sekarang. Jaga diri kalian baik - baik, jika benar kecelakaan ini di sengaja berarti nyawa Syifa masih dalam bahaya."
" Terimakasih, kakak. Syifa sangat beruntung memiliki saudara seperti kakak." ucap Syifa.
" Rey, hati - hati..."
" Iya, aku tidak akan meninggalkan Syifa lagi."
" Fa, kami pulang dulu ya? Jangan membuat ulah yang bikin Reyhan kerepotan."
" Kak Sony, kok Syifa ditinggal?"
" Kan sudah ada Reyhan, kakak harus kembali ke Jakarta sekarang. Banyak pasien yang harus kakak tangani disana, Fa."
__ADS_1
" Hmm..."
Reyhan mendekap Syifa semakin erat agar gadis itu merasa nyaman. Setelah Sony, Ardan dan Deni pergi, Reyhan kembali menyuruh Syifa untuk beristirahat.
" Sayang, kamu istirahat dulu. Nanti siang baru kita pulang ke Jakarta." kata Reyhan.
" Mas disini aja ya? Syifa nggak mau sendirian."
" Iya, sayangku."
Reyhan tak bisa pergi kemana - mana karena Syifa yang tidur di pangkuannya. Pria itu tetap memeriksa pekerjaannya dari ponsel pintar yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.
# # #
Siang hari, orang suruhan Sony menjemput Reyhan dan Syifa di rumah sakit untuk diantar ke Bandara. Walaupun masih terasa sakit, namun Syifa masih bisa berjalan dengan satu tongkat. Reyhan mengikuti langkah Syifa keluar dari ruang rawatnya tepat di belakang gadis itu. Sebenarnya Reyhan ingin memapah atau menggendongnya, namun Syifa menolak.
" Sayang, Mas gendong aja ya? Kaki kamu masih sakit." bujuk Reyhan.
" Tidak usah, Mas. Syifa mau berusaha untuk jalan sendiri." tolak Syifa.
" Tapi Mas takut kamu jatuh, sayang."
" Tidak, Syifa masih kuat jalan. Syifa tidak mau merepotkan Mas terus."
" Syifa, jangan pernah berbicara seperti itu lagi! Mas tidak suka kamu bicara yang tidak - tidak." seru Reyhan.
Reyhan yang kesal langsung mengangkat tubuh Syifa seperti menimang bayi. Dia tidak peduli dengan tatapan orang - orang di sekitarnya.
" Mas, turunin Syifa. Malu dilihat banyak orang." rengek Syifa.
" Diam!" sahut Reyhan datar.
Reyhan tetap melangkah memasuki lift untuk turun ke bawah. Dia tidak peduli dengan rengekan Syifa yang meminta turun. Seandainya bukan di tempat umum, pasti Reyhan sudah membungkam mulut Syifa dengan ciumannya. Dia menahan diri untuk tidak melakukannya saat ini.
Reyhan menurunkan Syifa di dalam mobil. Melihat kekasihnya hanya diam saja, membuat Reyhan gemas pengen menjahilinya. Setelah mobilnya melaju di jalan raya, Reyhan merebahkan kepalanya di pangkuan Syifa.
" Mas, kamu ngapain sih?" sungut Syifa.
" Mas ngantuk, sayang. Boleh ya tidur disini sampai ke Bandara?"
" Lutut Syifa sakit, Mas."
" Cuma sebentar, sayang. Mas kangen sama kamu, mumpung cuma berdua bisa bermanja - manja. Nanti kalau sudah sampai di rumah pasti mama melarang Mas seperti ini."
" Bagus dong, biar Mas nggak aneh - aneh!"
" Sayang, kamu tahu Mas ini nggak bisa jauh dari kamu. Jangan pernah jauh dari Mas lagi ya?"
" Hmm... gimana ya? Nanti Syifa pikirkan dulu ya?"
" Sayang...!"
" Iya, Mas. Syifa tidak akan pernah jauh dari Mas Reyhan."
Reyhan memejamkan matanya untuk istirahat sejenak karena perjalanan membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai di Bandara. Syifa dengan lembut mengusap rambut Reyhan sehingga kekasihnya itu tidur dengan lelap.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.