ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 28


__ADS_3

" Lepas! Jangan peluk aku!" seru Reyhan.


" Rey, kita sudah terlambat ke Bandara," rengek Syifa.


" Aku tidak peduli, pulang saja sendiri. Tidak ada seorangpun yang peduli padaku," ketus Reyhan.


" Ayolah, Rey. Mama udah nungguin di rumah."


" Baiklah, tapi ada syaratnya." seringai Reyhan.


" Apa?" tanya Syifa tanpa menatap Reyhan.


" Menikahlah denganku, maka semua keinginanmu akan kukabulkan."


" Baiklah." jawab Syifa tanpa ekspresi.


" Baiklah, apa?" sahut Reyhan gemas.


" Baiklah... terpaksa." ucap Syifa mengerucutkan bibirnya.


" Aish... jangan menggodaku. Itu bibirnya minta dicium disini?" goda Reyhan.


Syifa langsung mendorong tubuh Reyhan lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan. Reyhan menarik pinggang Syifa hingga mereka tak ada jarak.


" Kau tidak boleh mengingkari ucapanmu tadi," bisik Reyhan.


" Apa aku masih punya pilihan lain?" cibir Syifa.


" Kau memang pilihan terbaikku, sayang."


Reyhan meraih tangan Syifa dan membawanya keluar rumah setelah berpamitan dengan para pelayan untuk menjaga dan merawat rumah dengan baik.


" Kalian lama sekali sih!" seru Sony.


" Sorry, ini adikmu selalu cari kesempatan buat menggodaku." sahut Reyhan.


" Ish... siapa juga yang menggodamu!" ketus Syifa.


" Masuk, sayang. Kau di belakang dengan Sony, ada yang mau aku bicarakan dengan Steven." ucap Reyhan lembut.


" Hmm..." sahut Syifa datar.


Mereka berempat segera meninggalkan kediaman Reyhan menuju Bandara. Steven mempercepat laju kendaraannya agar bisa sampai tepat waktu.


" Stev, kau urus semua pekerjaan kantor dengan Cathy selama aku pergi. Jaga adikmu dengan baik, jangan biarkan dia meeting sendirian." ujar Reyhan.


" Memangnya kenapa, Rey?" tanya Steven.


" Banyak klien baru yang bersikap tidak sopan padanya. Saya tidak mau terjadi hal - hal buruk padanya. Adikmu itu sangat polos dan mudah percaya dengan orang asing."


" Terimakasih, Rey. Ternyata kau lebih perhatian terhadap adikku. Selama ini aku berpikir dia gadis yang mandiri yang bisa menjaga dirinya sendiri."


" Sekuat apapun wanita, dia tetap butuh perlindungan entah itu saudara atau orang - orang terdekatnya."


" Saya tahu itu, makanya saya meminta dia untuk bekerja dengan kita. Oh iya, kapan kembali lagi kesini?"


" Belum tahu, Stev. Kau tahu sendiri, aku sangat lemah jika berhadapan dengan gadisku. Dia tidak akan membiarkan aku pergi secepat itu."


" Harusnya kalian menikah saja, jadi dia bisa ikut menetap disini."


" Nanti aku bicarakan dulu dengan orangtuaku. Syifa belum sepenuhnya bisa menerima cintaku."


" Apa Syifa masih memikirkan antara kau dan dia?"


" Tidak tahu, tapi sahabatku itu akan menikah lusa."


Reyhan dan Steven berbicara sedikit pelan agar Syifa tidak mendengarkan percakapan mereka. Masalah pekerjaan yang harus ditangani Steven sangatlah banyak sehingga Reyhan juga akan memeriksanya lewat email saat di Indonesia nanti.


Tak lama, mobil sampai di Bandara dan mereka segera masuk ke dalam privat jet milik Reyhan.


" Rey, kau menyewa privat jet? Kita kan cuma bertiga, bisa naik pesawat biasa."bisik Syifa.

__ADS_1


" Memangnya kau bisa membeli tiket tanpa kartu identitas?" sahut Reyhan.


" Benar juga, tapi kau bisa pulang duluan saja. Aku akan mencari surat kehilangan dari pemerintahan sini."


" Ribet, nanti kau bisa membuat yang baru di Indonesia."


" Terus, kartu kredit dan yang lainnya gimana?"


" Nanti biar diurus sama bank, lagian isinya juga recehan."


" Jangan menghinaku, mentang - mentang orang kaya!" ketus Syifa.


Syifa yang tadinya duduk di samping Reyhan beranjak menjauh dan duduk di samping Sony.


" Astaghfirullah... ngagetin aja sih, Fa!" seru Sony kaget.


Sony yang sudah hampir mencapai alam mimpi itu terlonjak kaget karena Syifa menduduki kakinya.


" Reyhan jahat...!" sungut Syifa.


" Bisa nggak kalian itu tenang sebentar saja? Apa perlu aku suntikkan obat bius biar kalian diam!" geram Sony.


Reyhan mendekati Syifa dan membujuknya agar tidak marah lagi. Gadis itu memalingkan wajahnya membelakangi Reyhan.


" Sayang, aku kan cuma bercanda. Jangan marah lagi ya? Nih, semuanya buat kamu."


Reyhan menyodorkan black card miliknya kepada Syifa, berharap gadis itu tidak marah lagi padanya. Syifa hanya meliriknya sekilas lalu diam lagi tanpa ekspresi.


" Apa ini masih kurang untuk mengganti semua kartumu yang hilang?" tanya Reyhan.


Syifa yang masih melihat ada beberapa kartu di dalam dompet Reyhan langsung tersenyum kecil. Dia langsung merebut dompet yang masih dalam genggaman Reyhan.


" Semua ini milikku sekarang!" seru Syifa.


" Tapi, Sayang_... jangan semuanya, sisakan satu untukku." ucap Reyhan memohon.


" Bukannya kau sendiri yang bilang, semua milikmu adalah untukku?"


" Iya, tapi_..."


" Sayang, jangan seperti ini. Tidak sopan melemparkan barang seperti itu." ujar Reyhan.


Syifa beranjak menuju kamar yang sudah di siapkan di dalam privat jet itu. Ada beberapa kamar disana, sehingga Syifa masuk ke dalam salah satu kamarnya.


Reyhan mengejar Syifa yang ternyata masuk ke dalam kamar pribadinya. Saat Syifa ingin menutup pintu, dengan cepat Reyhan menahannya.


" Tunggu, sayang." kata Reyhan.


" Pergi! Aku mau sendiri." sahut Syifa.


" Hey... ini kamarku, sayang."


" Ya udah minggir, aku mau keluar!"


Reyhan mendorong tubuh Syifa masuk lalu dia mengikutinya masuk dan mengunci kamar itu.


" Rey...!" pekik Syifa.


" Ambillah, semua ini milikmu. Aku tidak akan mengambilnya sedikitpun. Aku sudah berjanji pada orangtuamu untuk menjagamu dan membuatmu bahagia."


" Aku tidak membutuhkan itu semua!"


" Fa, aku mencintaimu dengan tulus. Apapun yang kau minta, pasti aku kabulkan."


" Jika aku meminta untuk pergi?"


" Aku ikhlas melepasmu jika itu bisa membuatmu bahagia."


Syifa menatap wajah sendu Reyhan yang kini sedang memejamkan matanya. Ada rasa bahagia dalam hati Syifa saat merasakan betapa tulusnya cinta Reyhan untuknya. Syifa meraih tangan Reyhan dan menggenggamnya erat.


" Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku lagi, Rey. Aku tidak punya siapa - siapa lagi selain dirimu." ucap Syifa sambil terisak.

__ADS_1


Reyhan dengan cepat meraih tubuh Syifa masuk ke dalam dekapannya. Akhirnya gadis yang sangat dia cintai itu bisa menerimanya dengan ikhlas.


" Aku tidak akan meninggalkanmu, Fa. Aku sangat mencintaimu."


" Aku juga mencintaimu, Rey. Meskipun jarak kita jauh, tapi aku tidak pernah berhenti memikirkanmu."


Reyhan sangat bahagia malam ini, cintanya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Gadis sederhana yang sudah rela berbagi kasih sayang orangtuanya kini menjadi kekasih hatinya.


" Iya, sayang. Akupun begitu, tak pernah bisa berhenti memikirkanmu. Kau adalah cinta pertama dan akan menjadi yang terakhir."


Reyhan mengurai pelukannya dan menggiring Syifa untuk duduk di tempat tidur.


" Tidurlah, kau butuh istirahat. Besok kita sampai disana pagi, siangnya langsung menghadiri pernikahan Ardan."


" Aku lapar, Rey!" rengek Syifa.


" Mau pesan online?"


" Memangnya kurir bisa terbang kesini!"


" Ya udah, calon istriku yang cantik ini mau makan apa?"


" Apa saja yang ada."


" Untuk kamu semuanya ada disini."


" Benarkah? Apa kamu punya kantong ajaib seperti Doraemon?"


Reyhan sangat gemas dengan wajah imut gadisnya. Jika saja mereka sudah menikah, Reyhan tidak akan segan - segan menerkam bibir mungil yang selalu membuatnya hampir khilaf.


" Huft... kuatkan aku Ya Tuhan, semoga aku tidak khilaf malam ini melihat tingkah calon istriku." batin Reyhan.


" Di dapur ada chef yang akan menyiapkan makanan untuk kita." ujar Reyhan.


" Aku pikir calon suamiku ini ajaib,"


" Jangan berkhayal, aku ini manusia normal. Bisa memakanmu kapan saja." seringai Reyhan.


" Rey, aku sudah sangat lapar. Nanti bisa pingsan kalau tidak makan." rengek Syifa.


" Kau itu calon istriku, jangan memanggilku dengan nama saja aku tidak suka!"


" Terus manggilnya apa?"


" Terserah, tapi jangan nama."


Syifa berpikr sejenak untuk mencari panggilan yang pas buat Reyhan. Gadis itu diam mematung selama beberapa menit lamanya membuat Reyhan semakin gemas saja.


" Gimana kalau Abang?"


" Tidak!"


" Kakak?"


" Aku bukan kakakmu!"


" Terus apa dong?"


" Cari yang lain!"


" Mmm... Mas aja ya? Mas Reyhan Aditama..." ucap Syifa dengan senyum manisnya.


Reyhan menatap Syifa dengan begitu intens. Dia berpikir sejenak tentang usulan calon istrinya itu.


" Mmm_..."


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2