
Ardan dan Deni tak berani menoleh ke belakang namun tetap waspada dengan segala kemungkinan yang terjadi. Saat sebuah tangan menepuk bahu mereka berdua, sontak keduanya berteriak dengan suara yang sangat keras.
" Aaaaa....!!!"
" Heh... kalian kenapa!" teriak seseorang di belakangnya.
" Reyhaannn...!" pekik Ardan dan Deni kaget.
Rendi hanya tersenyum kecil dengan tingkah Ardan dan Deni yang ketakutan.
" Rey... ini beneran kamu? Kamu keluar dari tembok apa gimana?" tanya Ardan heran.
" Tidak usah banyak tanya, sekarang mau apa kalian datang kesini?" tanya Reyhan datar.
" Rey, besok itu hari pernikahanmu. Apa Syifa sekarang bersamamu?" tanya Ardan.
" Syifa? Kenapa kau bertanya begitu? Syifa ada di rumah papa, memangnya ada apa?"
" Rey, dengarkan aku baik - baik! Syifa pergi dari rumah kemarin dan sampai sekarang belum kembali katanya mencarimu." kata Ardan.
" Mencariku? Ada apa?" tanya Reyhan.
" Kenapa masih bertanya! Besok pagi kalian itu menikah dan kau tak bisa dihubungi." seru Ardan.
" Boss, kita harus mencari Syifa secepatnya. Kita tidak tahu apa yang terjadi dengan Syifa saat ini." kata Rendi.
" Untuk apa mencariku, bukankah kami baru boleh bertemu saat akad nikah?"
" Syifa mencemaskan dirimu karena pergi dalam keadaan marah. Kemarin dia datang ke rumah sakit dan kami bertemu di ruangan Sony. Dia mencarimu dan tak pernah kembali lagi."
Reyhan mengambil ponsel yang tersimpan di meja kerjanya. Dia segera mengaktifkan ponselnya dan membaca beberapa pesan yang masuk ke ponselnya. Banyak sekali panggilan tak terjawab dari Syifa yang membuatnya merasa bersalah. Ada juga sebuah pesan dari Syifa yang dikirim kemarin pagi.
'Sayangku'
" Mas, kamu dimana? Maaf, Syifa tidak bermaksud membela mama dan mengabaikanmu. Pulanglah, kita bisa bicarakan ini baik - baik."
Reyhan menatap layar ponselnya dengan sendu. Rasa bersalah membuatnya tak bisa berpikir panjang.
" Rey, kau pasti tahu dimana tempat yang ingin kalian kunjungi berdua." kata Deni.
" Tidak ada, kak. Kami tidak ada rencana pergi kemanapun. Biasanya kami hanya menghabiskan waktu bersama di pantai."
" Ya sudah, jangan buang waktu lagi. Kita ke pantai sekarang." sahut Ardan.
" Kenapa selalu seperti ini, baru ditinggal sebentar dia sudah menghilang. Apa kalian sudah lacak GPS di mobilnya?"
" Syifa membawa mobil yang biasa di pakai belanja para pelayan di rumah, mobilnya sendiri sedang service di bengkel."
" Ponselnya tidak aktif, mudah - mudahan kalungnya dipakai." ucap Reyhan.
" Rey, kita coba ke makam orangtuanya dulu." saran dari Ardan.
" Baiklah."
Mereka bergegas menuju ke mobil masing - masing. Namun setelah dipiikir ulang, lebih baik baik mereka membawa dua mobil saja. Reyhan bersama Rendi, Ardan dengan Deni.
" Rey, kau langsung saja ke pantai. Biar aku sama kak Deni ke makam dulu."
" Iya, kalau begitu aku duluan."
__ADS_1
Reyhan langsung menuju pantai di pinggiran Jakarta untuk mencari Syifa. Rendi dengan setia mengikuti setiap langkah bossnya yang sesekali mengumpat pada dirinya sendiri.
Tak berselang lama, Ardan dan Deni sudah datang menyusul mereka. Ardan sesekali juga bertanya pada orang - orang disana.
" Gimana, kak?" tanya Reyhan.
" Tidak ada, Rey. Sepertinya Syifa tidak mengunjungi orangtuanya. Kata pak RT, kemarin pagi memang Syifa datang ke rumah mencarimu." jawab Deni.
" Kita cari lagi di sekitar sini. Ren, masuklah ke hotel dan tanyakan apakah Syifa menginap disana." perintah Reyhan.
" Baik, Boss..."
Hampir dua jam mereka berkeliling pantai namun Syifa tak juga ditemukan. Rendi juga sudah mengecek di semua hotel namun tak ada hasil.
" Rey, sebaiknya kita pulang. Aku yakin Syifa pasti kembali." kata Ardan.
" Tidak! Aku akan mencari Syifa sampai ketemu. Untuk apa aku pulang jika pengantinku saja menghilang."
# # #
Setelah seharian mencari Reyhan di Bogor tidak ada, kini Syifa sampai di villa milik keluarga Aditama di Bandung. Jam sebelas malam, Syifa baru sampai disana. Tempat itu terlihat sepi tak berpenghuni.
Syifa turun dari mobil dan mencoba mengetuk pintu. Berkali - kali memanggil mang Tofa namun tak ada sahutan.
" Apa mang Tofa pulang ke rumahnya ya?" gumam Syifa.
Syifa duduk bersandar di kursi teras karena merasa sangat lelah. Matanya hampir terpejam saat tiba - tiba ada beberapa orang pria membangunkannya.
" Neng... Neng... bangun."
Syifa mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mempertajam penglihatannya. Dia terkejut melihat ada orang di depannya.
" Tidak usah takut, Neng. Kami sedang berjaga malam di area villa sini. Neng ini ngapain disini?"
" Saya mencari mang Tofa, penjaga villa ini pak."
" Si Toha tadi siang pergi ke Jakarta bersama istrinya, Neng. Katanya menghadiri acara pernikahan anak majikannya."
" Mereka perginya hanya berdua, pak?"
" Iya, Neng. Anaknya ditinggal di rumah."
" Apa tidak ada yang datang ke Villa selama beberapa hari ini, pak?"
" Tidak ada, Neng."
Syifa menghela nafas pelan, tidak tahu lagi kemana harus mencari Reyhan.
" Pak, apa di sekitar sini ada bengkel mobil?"
" Tidak ada, Neng. Biasanya ada montir panggilan yang datang kesini itupun di siang hari."
" Sepertinya mobil saya rusak, pak. Besok saya harus sampai di Jakarta sebelum dhuhur."
" Wahh... kalau nunggu benerin mobilnya dulu nggak keburu, Neng. Gimana kalau besok ikut adik saya saja, dia mau antar sayuran ke Jakarta."
" Boleh, pak. Jam berapa berangkatnya?"
" Mungkin setelah shubuh, Neng."
__ADS_1
" Bilang sama adiknya ya pak, saya akan ikut ke Jakarta."
" Sekalian aja Eneng nginep disana daripada tidur diluar begini."
" Terimakasih, pak."
# # #
Syifa sudah bersiap di dalam mobil pick up di samping kursi kemudi.
" Neng, sepertinya terburu - buru sekali ke Jakarta?"
" Iya, Mang. Hari ini adalah hari pernikahan saya. Saya sedang mencari calon suami saya. Mungkin saja dia pulang ke villa ini sebelum pernikahan."
" Jadi Eneng ini datang kesini mencari calon suami? Apa kalian dipaksa menikah?"
" Tidak, Mang. Kami menikah karena keinginan sendiri. Hanya saja ada sedikit kesalahpahaman beberapa hari kemarin."
" Mudah - mudahan tidak macet, Neng. Kita bisa sampai di rumah Eneng tepat waktu."
Sudah hampir jam sembilan mereka masih terjebak kemacetan di kota Bandung. Mungkin karena sekarang hari minggu, jadi banyak wisatawan yang datang ke kota Kembang itu.
" Mang, kapan kita sampai di Jakarta?"
" Tenang, Neng. Nanti kalau sudah di tol pasti lancar."
Sopir pick up itu mencoba mencari celah agar mobilnya bisa bergerak maju. Dia merasa kasihan dengan gadis di sampingnya yang kini tengah gelisah.
" Eneng tidak menghubungi keluarga dulu di Jakarta?"
" Ponsel saya rusak, Mang. Saya juga tidak hafal dengan nomor keluarga saya."
" Yang sabar ya, Neng. Mudah - mudahan diberi jalan untuk bisa sampai di Jakarta dengan cepat."
" Aamiin..."
Sementara di kediaman Aditama, Reyhan sudah pasrah dengan nasibnya. Pernikahannya yang hanya tinggal sebentar itu mungkin akan kandas.
" Rey, nomor Syifa tidak aktif juga?" tanya mama Salma cemas.
" Maafin Reyhan, Ma. Seandainya Reyhan tidak membentak dia waktu itu, pasti Syifa tidak akan pergi."
Reyhan terisak dalam dekapan ibunya. Dia tidak mampu menahan rasa sedih bercampur cemas sendirian. Reyhan butuh sandaran untuk menguatkan hatinya.
" Sudah, jangan menangis. Yakinlah Syifa pasti datang, Rey."
" Syifa tidak akan pulang jika Reyhan tak menjemputnya, Ma."
" Sholat dulu, udah waktunya dhuhur. Setelah itu bersiap - siap, yakin bahwa Syifa pasti pulang. Selama ini dia tidak pernah mengecewakan hati mama dan kali ini mama juga masih percaya padanya.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1