ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 83


__ADS_3

Tak lama polisi datang lalu Reyhan dan Anton menjelaskan semua kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka.


Reyhan kembali ke dalam rumah lalu duduk di samping Syifa. Dia merebahkan kepalanya di pangkuan Syifa.


" Mas, Syifa ambilin kompres dulu ya? Wajahnya lebam - lebam gini." Syifa menyentuh pipi Reyhan dengan lembut.


" Cium aja nanti juga sembuh," sahut Reyhan asal.


" Cihh... lebay!"


Anton melemparkan kotak obat kepada Reyhan lalu duduk di samping Ardan.


" Kau tidak apa - apa?" tanya Anton.


" Tidak, kau yang terluka." jawab Ardan.


Sony memeriksa pergelangan tangan Anton yang katanya sakit. Selain itu, dia juga memeriksa Reyhan mungkin ada cidera di tubuhnya.


" Semuanya baik, hanya luka luar saja." kata Sony sambil menepuk pipi Reyhan.


" Auwww...! Sialan kau...!" pekik Reyhan.


" Kakak...! Kasihan mas Reyhan." sungut Syifa.


" Sayang, dia jahat banget padaku." rengek Reyhan manja.


" Ish... lebay!" cibir Ardan.


" Sudah, nggak usah ribut. Kalian istirahat saja dulu, masih ada satu kamar kosong untuk kalian bertiga." kata Anton.


" Kita ambil mobil dulu, takut kemalaman." sahut Sony.


" Bawa aja mobilku, kalau jalan kaki pasti jauh."


" Ok, terimakasih."


Syifa membawa Reyhan ke kamarnya karena pria itu menolak untuk dibawa ke kamar lain. Reyhan sedetikpun tak mau melepaskan Syifa dari pandangannya.


" Mas istirahat dulu, biar Syifa buatin minum ya?"


" Tidak usah, Mas hanya ingin dekat sama kamu sayang."


" Mas, Syifa hanya ke dapur."


" Setiap kali kamu sendiri, pasti ada saja yang terjadi padamu sayang."


" Ya sudah, sekarang Mas tidur, Syifa tidak akan pergi."


" Janji?"


" Iya, Mas."


Akhirnya Reyhan terlelap dalam dekapan Syifa. Gadis itu mengusap lembut kepala Reyhan hingga pria itu merasa sangat nyaman dalam tidurnya.


Setelah memastikan kekasihnya benar - benar nyaman, Syifa keluar dari kamarnya. Dia menuju dapur untuk memasak sesuatu yang bisa untuk mereka makan.


" Fa, kamu ngapain?" tanya Anton yang baru tiba di dapur.


" Eh, Ton... maaf ya aku lancang masuk dapur kamu. Syifa mau bikin makan malam untuk kita semua."


" Aku bantuin ya? Biar cepat selesai terus kita bisa bersantai di belakang rumah ini. Pemandangannya sangat bagus, kamu pasti suka."


" Tapi, Mas Reyhan?"


" Biarkan saja, aku sangat senang saat melihat dia marah."


" Kau ini... jangan mengganggunya terus."


" Memangnya kenapa?"


" Dia makin posesif padaku nantinya dan tidak pernah melepasku lagi."


Anton membantu Syifa memasak agar cepat selesai. Kaki Syifa masih sakit jadi dia belum bisa berjalan cepat.


# # #

__ADS_1


Kini Syifa dan Anton berada diatas batu besar di sungai belakang rumah. Mereka bercerita tentang masa lalu mereka hingga akhirnya bisa bertemu saat ini.


" Ton, main air yuk?" ajak Syifa.


" Kamu saja, dingin airnya malas." tolak Anton.


" Ya udah, aku nyebur sendiri aja."


" Hati - hati, batunya licin. Kakimu juga masih sakit itu." peringat Anton.


" Iya, lama - lama bawel juga kayak mereka bertiga." sahut Syifa nyengir.


Syifa memasukkan kakinya ke dalam air yang dingin itu. Terlihat ada ikan - ikan kecil disana berlarian di sela - sela kakinya. Syifa terlihat sangat bahagia seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Gadis itu tak menghiraukan betapa dinginnya itu dengan duduk di dalamnya dan membasahi tubuh bagian perut ke bawah.


" Fa, nanti kau sakit berendam disitu!" seru Anton.


" Tidak, Syifa hanya ingin menikmati sejuknya air sungai ini. Kapan lagi aku bisa menikmati tempat indah seperti ini." sahut Syifa.


" Kau bisa datang kesini kapanpun kau mau. Naiklah nanti kau demam."


" Sebentar lagi."


Sementara di dalam rumah, Reyhan baru saja terbangun dan tak mendapati kekasihnya di sampingnya. Dia langsung panik dan keluar dari kamarnya mencari Syifa.


" Sayang, kamu dimana?" teriak Reyhan.


Mendengar teriakan Reyhan, Sony dan Ardan langsung bangun dan menghampiri sahabatnya itu yang sedari tadi teriak mencari Syifa.


" Ada apa lagi, Rey?" tanya Ardan.


" Syifa tidak ada di kamar, apa dia pamit pada kalian?" kata Reyhan.


" Tidak, dari tadi kami tidur." ucap Sony.


" Kau sudah cek kamar Anton?"


" Sudah, tapi tidak ada."


" Cari aja di belakang rumah, mungkin mereka ada disana."


Reyhan, Sony dan Ardan berjalan menuju sungai kecil di belakang rumah. Dari jauh terlihat Anton yang duduk diatas batu besar di tengah sungai namun hanya sendirian.


" Rey, itu Anton. Tapi kok sendirian ya?" kata Ardan.


" Iya, Rey. Terus Syifa dimana?" timpal Sony.


" Satu anak itu memang menyusahkan, sedikit - sedikit hilang. Udah kayak anak tuyul aja." gerutu Ardan.


" Hehh... beraninya kau bilang kekasihku anak tuyul!" geram Reyhan.


" Lagian ilang mulu kayak sinyal di tengah hutan."


Reyhan mengabaikan celotehan Ardan lalu berjalan menghampiri Anton.


" Anton, apa kau melihat Syifa?" tanya Reyhan.


" Tuh, lagi berendam kayak bebek dibawah." jawab Anton asal.


Reyhan mengedarkan pandangannya ke bawah dan terkejut melihat Syifa sedang bermain air dibawah.


" Syifaa...! Apa yang kau lakukan?" teriak Reyhan kesal.


Syifa dibawah hanya nyengir melihat tatapan tajam Reyhan yang terlihat sangat marah.


" Fa, kau mau jadi kodok berendam disitu?" seru Ardan.


" Abang sini! Mau mandi nggak?" teriak Syifa.


" Ogah, dingin tahu nggak!" sahut Ardan.


Sony hanya diam namun langsung turun menghampiri Syifa yang masih asyik di dalam air.


" Dek, keluar dari air! Nanti kamu bisa demam." omel Sony.


" Kakak, sebentar lagi ya? Kapan lagi kita bisa menikmati tempat yang indah seperti ini." rengek Syifa.

__ADS_1


" Kau mau Reyhan marah lagi?"


" Kenapa sih? Apa - apa dilarang." sungut Syifa.


" Terserah kamu, Dek." pasrah Sony.


Syifa tersenyum melihat raut wajah Sony yang sepertinya jadi kesal. Dengan wajah imutnya, Syifa mengulurkan tangannya.


" Kak, bantu Syifa berdiri." rengek Syifa.


" Manja...!" gerutu Sony.


Sony meraih tangan Syifa untuk membantunya berdiri. Namun dia tidak sadar jika sedang dikerjai adik angkatnya.


Byuurrr!!!


" Syifaaa...!" teriak Sony geram.


Reyhan, Ardan dan Anton menoleh ke arah sumber suara. Mereka tertawa melihat Sony yang basah kuyup.


" Syifa, apa yang kau lakukan! Kakak basah semua nih?" teriak Sony.


" Hehehee... pasti kakak belum mandi, kan?"


" Dingin, Dek!"


" Kapan lagi kita bisa seperti ini, kak."


" Ya udah, panggil yang lain suruh turun!" titah Sony.


" Ok, Boss!"


Syifa memanggil tiga lelaki yang masih berdiri diatas batu itu agar mau turun. Namun dengan santainya ketiganya menolak dengan alasan yang sama, DINGIN.


" Mas, ayo turun!" teriak Syifa.


" Kamu aja, Mas disini tungguin kamu selesai." sahut Reyhan.


" Abaang, Anton... turunlah!"


" Tidaakkk!" sahut mereka berdua kompak.


" Kalau tidak mau turun, Syifa tidak mau bicara dengan kalian lagi...!"


Mereka bertiga menghela nafas pelan lalu turun ke sungai demi gadis yang mulai ngambek itu. Mereka sudah pasrah dengan kelakuan Syifa yang seperti anak kecil.


" Nah, kalau ramai begini kan menyenangkan." ucap Syifa tersenyum.


" Mas, sini..." rengek Syifa.


Dengan berat hati, Reyhan menuruti keinginan kekasihnya untuk masuk ke dalam air. Syifa mengukir senyumnya seraya memeluk lengan Reyhan.


" Kenapa senyum - senyum begitu, sayang?"


" Syifa seneng bisa bersama lagi dengan Mas Reyhan. Syifa sangat merindukan Mas walaupun kita belum lama berpisah."


" Mas juga sangat merindukan gadis cantik ini." bisik Reyhan.


Reyhan memeluk tubuh kekasihnya dengan erat, seakan tak ingin melepaskannya lagi.


Byuurrr!!!


" Pacaran aja terus...!" teriak Anton.


Mereka berlima dengan riang gembira berlarian di sungai sambil bermain air. Kebahagiaan nampak jelas di wajah mereka walaupun lelah di tubuh sangat terasa.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2