
" Kenangan apa?" ucap Syifa terbata.
Cup!
Reyhan mengecup kening Syifa cukup lama lalu menjatuhkan tubuhnya di samping gadis itu. Tangannya tak berhenti mengusap pelan pipi Syifa dengan lembut.
" Tetaplah bersamaku selamanya apapun yang terjadi. Kita akan menjalani hidup ini dengan cinta dan kasih sayang. Mas akan menjadi orang yang paling beruntung bisa mendapatkan gadis secantik dirimu. Sesuai amanah ayah dan ibu, Mas akan menjaga dan melindungimu."
Syifa hanya diam tak mampu membalas semua ucapan Reyhan. Gadis itu hanya menatap dalam netra sang kekasih lalu memeluknya dengan erat.
" Taksinya mungkin sudah datang, ayo keluar. Kelamaan seperti ini membuat Mas bisa benar - benar khilaf." ucap Rey seraya mendesah pelan.
" Siapa suruh begitu? Dari tadi juga Syifa sudah mengajak Mas keluar."
" Ok! Kita beneran pulang sekarang."
Reyhan mengecup kening dan kedua pipi Syifa dengan cepat lalu beranjak dari tempat tidur diikuti oleh Syifa.
" Huft... untung dia tidak jadi membuat kenangan!" batin Syifa.
" Eh... tunggu, maksud mas Rey kenangan apa ya?" gumam Syifa sambil berpikir dengan keras.
Reyhan yang melihat gadisnya tak jua berjalan, kembali menghampirinya untuk memastikan bahwa kekasihnya itu baik - baik saja.
" Sayang, kenapa malah diam? Ayo pulang, udah sore sebentar lagi maghrib. Mas harus ke Bandara sebentar lagi." ujar Reyhan.
" Mas, tadi... Mas mau ajak Syifa membuat kenangan apa?" tanya Syifa polos.
" Astaghfirullah... kamu mikirin itu?" sahut Reyhan dengan senyum tipis.
" Iya, Syifa tidak paham dengan maksud Mas Rey tadi."
" Nggak usah dipikirin, nanti kalau sudah waktunya pasti juga akan tahu sendiri."
" Ish... Mas bikin Syifa penasaran saja!" desis Syifa.
" Astaga... bisa - bisa aku khilaf beneran kalau berduaan terus dengannya." batin Reyhan frustasi.
" Ayo pulang!"
Reyhan menggandeng tangan Syifa keluar dari kamar karena tak ingin membuatnya semakin frustasi. Gadis itu benar - benar polos atau hanya pura - pura untuk menggodanya.
Sampai di bawah, taksi sudah menunggu. Reyhan langsung membukakan pintu untuk gadisnya lalu ia duduk di sampingnya. Syifa sedari tadi hanya diam, entah apa yang dipikirkannya saat ini sehingga gadis itu bungkam.
" Sayang, mau beli sesuatu?" tanya Reyhan membuka percakapan.
" Tidak, langsung pulang saja." jawab Syifa datar.
" Kenapa... hmm?"
" Tidak apa - apa, aku hanya ingin terbiasa jauh darimu lagi."
Reyhan tak bisa membalas ucapan Syifa, takut nanti salah bicara dan membuat gadisnya marah. Reyhan tidak ingin saat mereka jauh, gadisnya itu dalam keadaan sedih.
Tak berselang lama, mereka sampai di rumah. Syifa langsung menemui papa dan mamanya yang sedang duduk di samping rumah seraya memberi makan ikan.
" Assalamu'alaikum Pa, Ma..." sapa Syifa lalu menyalami keduanya diikuti Reyhan.
" Wa'alaikumsalam, kalian sudah pulang,"
" Iya, Ma. Mau bantu mas Reyhan membereskan barang bawaannya."
" Kau tidak ikut Rey ke New York?" tanya papa.
" Tidak, Pa. Syifa kan juga harus membantu papa di kantor." jawab Syifa dengan tersenyum.
" Iya, Pa. Nanti saja kalau kami sudah menikah, kami pikirkan untuk tinggal dimana." sahut Reyhan.
" Hah... sepertinya ada yang sudah tidak sabar ingin memberikan cucu buat kita, Ma." sindir papa.
__ADS_1
" Itu sih papa yang pengen.!"
" Iya, Rey. Makanya kalian itu harus mempercepat pernikahan kalian agar kami cepat punya cucu." sahut mama.
" Mama ngebet banget, kita aja masih pengen berduaan. Iya kan, sayang?"
" Apaan sih, Mas!" lirih Syifa.
" Ya udah, Ma... Pa kami keatas dulu." ucap Syifa.
" Iya, sayang."
Reyhan menggandeng Syifa masuk ke dalam rumah. Dia terus saja menggoda Syifa yang sedari tadi memarahinya.
" Mas, Syifa mau mandi dulu ya?" ucap Syifa.
" Mas ikut ya?" goda Reyhan.
" Boleh, tapi ada syaratnya." sahut Syifa.
" Yakin, apa syaratnya?" tanya Reyhan antusias.
" Jangan pernah kembali ke New York!" jawab Syifa lalu dengan
cepat menutup pintu kamarnya dan menguncinya.
" Sayaannggg!" teriak Reyhan.
Syifa segera masuk ke dalam kamar mandi mengabaikan teriakan Reyhan di luar kamarnya.
" Ish... dasar gadis nakal," desis Reyhan tersenyum sendiri.
# # #
Reyhan sudah berada di Bandara diantar oleh Syifa dan Deni. Dia terus menggenggam tangan Syifa yang sedari tadi diam dan tak mau menatapnya sama sekali.
" Sayang, Mas pergi dulu ya? Jaga diri baik - baik, Mas titip mama dan papa di rumah." ucap Reyhan.
" Jangan ketus begitu, calon suami mau pergi masa' mukanya cemberut begitu."
" Terus Syifa harus gimana dong?"
" Senyum dong, biar Mas bisa tenang kerjanya."
" Iya, cepetan masuk sana!"
" Baiklah, Mas pergi dulu. I love you, honey..." bisik Reyhan lalu segera memasuki privat jetnya.
" Kak Deni, jaga Syifa...!" teriak Reyhan.
" Siap, Tuan Muda...!" sahut Deni.
" Mas Reyhaannn...! I love you, too..." teriak Syifa seraya melambaikan tangannya.
Reyhan tersenyum seraya membalas lambaian tangan Syifa hingga pintu tertutup rapat.
" Aku akan selalu merindukanmu, Mas." gumam Syifa pelan.
Setelah pesawat siap lepas landas, Deni mengajak Syifa untuk pulang. Deni tahu sekarang ini Syifa sedang bersedih berpisah jauh dari Reyhan.
" Fa, mau makan dulu atau pergi kemana gitu?" tanya Deni.
" Tidak, kak. Pulang saja, besok ada meeting pagi. Papa jarang sekali ke kantor sekarang, kita berdua harus handle semuanya." jawab Syifa.
" Semangat dong, Nona Muda Aditama..." ledek Deni.
" Ish... kakak! Jangan memanggilku seperti itu."
" Benarkan? Kapan kalian menikah?"
__ADS_1
" Belum ada rencana, masih banyak hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu."
" Jangan terlalu lama, nanti Reyhan tergoda cewe bule disana."
" Biarkan saja, aku juga akan cari yang lain."
# # #
Sudah satu minggu Reyhan di Amerika. Setiap hari ia selalu menyempatkan waktu untuk menghubungi Syifa melalui VC. Seperti saat ini, dia sedang di dalam ruangannya setelah meeting dengan klien selesai.
" Assalamu'alaikum, sayang." sapa Reyhan.
[ " Wa'alaikumsalam, Mas. Tumben malam - malam begini VC?" ] sahut Syifa.
" Maaf ya, sayang. Mas baru selesai meeting tadi, kamu udah mau tidur ya?"
[ " Iya, Mas. Pekerjaan kantor lagi banyak, papa juga jarang ke kantor sekarang. Semua proyek Syifa sama kak Deni yang handle. Sepertinya papa sudah mulai lelah bekerja, pengen istirahat di rumah." ]
" Iya, sayang. Tetap semangat kerjanya, nanti Mas akan menghubungi papa untuk membicarakan soal perusahaan."
[ " Mas kapan pulang?" ]
" Mas baru seminggu disini, sayang. Kangen ya?"
[ " Memangnya nggak boleh?" ]
" Tentu saja boleh, sayang. I miss you so much."
[ " Ya udah, Mas hati - hati. Jangan lupa makan." ]
" Iya, sayang. I love you, honey."
[ " Love you too, sayang. Assalamu'alaikum," ]
" Wa'alaikumsalam." jawab Reyhan lalu menutup laptopnya.
Reyhan kembali bersemangat setelah melihat wajah sang kekasih yang sangat ia rindukan. Steven dari tadi menunggu di hadapannya untuk menerima perintah terbaru.
" Boss, adakah tugas baru untuk saya?" tanya Steven.
" Oh iya, sorry... saya lupa ada kamu disini." sahut Reyhan tertawa kecil.
" Oh my God, saya berdiri disini dari tadi tidak keliatan?" batin Steven kesal.
Untung saja bossnya, kalau bukan... sudah Stev lempar dia dari atas gedung S.A Properties. Mana ada sedari tadi dihadapannya bisa dilupakan.
" Iya, Boss. Tidak apa - apa, ada yang bisa saya bantu?" kata Steven.
" Apa ya? Ah, saya jadi lupa sekarang. Pergilah! Nanti jika saya sudah ingat, saya panggil lagi." sahut Reyhan tanpa rasa bersalah.
" Baik, Boss. Kalau begitu saya permisi kembali keruangan saya."
" Hmmm..."
Sampai di luar ruangan Reyhan, Steven menggerutu kesal merasa dikerjai oleh bossnya. Akhir - akhir ini sikap bossnya jadi aneh semenjak kembali dari Indonesia. Cathy yang melihat kakaknya keluar dari ruangan Presdir dengan wajah murampun segera menghentikannya.
" Stev, kau kenapa?" tanya Cathy.
" Boss sudah tidak waras...!" umpat Dteven.
" Hah_...!"
.
.
TBC
.
__ADS_1
.