
" Auwww...!" pekik Syifa.
Syifa mengira dirinya terjatuh ke dalam air. Namun pada kenyataannya, kini tubuhnya berada dalam dekapan seseorang.
" Sayang, hati - hati. Kamu hobby banget sih kabur!" ujar Reyhan.
" Mas... kok kamu ada disini?" ucap Syifa pelan.
" Kamu mau naik?"
" Iy... iya, Mas."
Ya. Reyhan memang mencari Syifa sedari tadi. Saat ia sedang bersama papa dan mamanya, tiba - tiba Syifa menghilang. Reyhan merasa Syifa sengaja menjauhinya untuk memberinya waktu bersama keluarganya. Dari ucapannya tadi siang, Reyhan mengerti jika Syifa ingin semuanya meluangkan waktunya untuk orangtuanya.
Reyhan bisa melihat dengan jelas raut wajah gadisnya yang terlihat bersedih dan habis menangis. Setelah membantunya naik keatas karang, Reyhan mengajaknya duduk menghadap ke lautan.
" Apa ini yang kau inginkan?" bisik Reyhan.
Reyhan duduk di belakang Syifa dan mendekap gadis itu dengan erat. Dia tahu gadisnya sedang tidak baik - baik saja.
" Apa?" tanya Syifa dengan singkat.
" Kau ingin kami semua berkumpul dengan keluarga kami. Tapi setelah itu terjadi, kau bukannya senang namun bersedih seperti ini. Aku tahu kau merindukan ayah dan ibu. Aku juga begitu, sangat merindukan mereka."
" Aku tidak apa - apa, Mas."
" Menangislah, aku tahu kau butuh sandaran saat ini."
Syifa kembali meneteskan air matanya dalam dekapan kekasihnya. Dia meluapkan rasa rindunya terhadap orangtuanya dengan menangis pada dada bidang Reyhan yang membuatnya nyaman.
" Kenapa mereka pergi begitu cepat? Apa salahku hingga mereka meninggalkanku seperti ini?" isak Syifa.
" Sayang, semua ini sudah takdir. Kamu harus ikhlas ya? Mas akan selalu ada bersamamu, akan selalu sayang padamu selamanya. Kamu harus tahu, banyak sekali yang sayang sama kamu. Papa dan mama juga sangat sayang padamu, jangan pernah merasa sendirian lagi."
" Bagaimanapun juga, aku bukan siapa - siapa. Aku tidak mau merusak kebahagiaan kalian, aku akan berusaha kuat dalam kesendirian ini."
" Tidak, sayang. Kau tidak akan sendiri lagi. Kita akan bersama selamanya."
Reyhan mendekap Syifa semakin erat saat gadisnya itu menangis semakin kencang dan tubuhnya kembali bergetar.
" Kalian semua terlalu baik padaku, bagaimana aku bisa membalasnya."
" Cukup dengan kau bahagia, itu sudah cukup bagiku. Jangan pernah menangis lagi, orangtuaku itu orangtuamu juga. Kasih sayang mereka juga sama seperti kasih sayang yang orangtuamu berikan pada kita."
Reyhan mengusap pelan rambut hitam kekasihnya hingga gadis itu merasa lebih tenang dan berhenti menangis. Tanpa mereka sadari, sedari tadi Ardan dan Sony berdiri di belakang mereka. Mendengarkan semua curahan hati Syifa, melihatnya menangis pilu dalam dekapan Reyhan.
Ardan dan Sony juga menyadari saat Reyhan pergi meninggalkan orangtuanya tadi mereka tidak melihat adanya Syifa. Sony tahu betul bagaimana Syifa, dia selalu berusaha tegar di hadapan orang lain padahal sebenarnya hatinya sangat rapuh.
Ardan dan Sony duduk di samping kanan dan kiri Reyhan yang masih mendekap tubuh Syifa yang kini terlihat tenang dan tak ada pergerakan sama sekali.
" Apa kami mengganggu?" kata Ardan.
__ADS_1
Reyhan menoleh kearah dua sahabatnya lalu tersenyum saat mendapati dengkuran halus kekasihnya.
" Tidak, aku justru senang kita berempat bisa berkumoul seperti ini. Hal yang sudah lama tidak kita lakukan. Lihatlah, kita ternyata sangat egois selama ini. Kita tidak pernah tahu seperti apa kehidupan Syifa selama ini saat kita tinggalkan dulu. Padahal kita tahu, saat itu dia sedang dalam keadaan terpuruk dan hancur dengan kepergian ayah dan ibu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya gadis kita ini saat dia terusir dari rumahnya sendiri."
" Iya, Rey. Aku juga menyesal dengan itu. Seharusnya kita tidak meninggalkan Syifa saat itu secara bersamaan." ucap Sony.
" Pasti dia sangat sedih, hanya kita bertiga yang dekat dengannya. Tidak ada sanak saudara di sampingnya, mereka malah tega mengusir Syifa yang sedang berduka." kata Ardan.
" Sepertinya Syifa tidur?" Sony mengamati gadis dalam dekapan Reyhan yang tak bergerak sama sekali.
" Biarkan saja, dia sedang lelah hatinya. Biarlah sejenak dia tidur dengan nyaman." sahut Reyhan pelan.
Tiga pria itu menatap lautan dengan ombak yang semakin tinggi. Hembusan angin sedikit kencang karena hari semakin senja. Ardan melepas jaketnya lalu disematkan di tubuh Syifa yang mulai merasakan dingin.
" Terimakasih, Dan." ucap Reyhan pelan.
" Tidak masalah, dia adalah permata yang harus dijaga walaupun tak bisa dimiliki. Aku yakin kau lebih pantas berada di sisinya, Rey. Kau punya segalanya yang Syifa inginkan, kau mengerti tentang perasaannya, kau bisa menerima semua amarahnya. Bahagiakan dia demi persahabatan kita." ujar Ardan.
" Iya, Rey. Soalnya aku juga tidak yakin Syifa bisa bahagia jika memilih Ardan." sahut Sony.
" Memangnya kenapa denganku?" ketus Ardan.
" Kita semua tahu kelakuanmu sejak SMP dulu, coba hitung sudah berapa banyak cewek yang kau pacari." sahut Sony.
" Sialan kau! Aku tidak pernah pacaran dengan mereka, kami cuma sekedar jalan saja. Tak pernah aku mengungkapkan perasaan cinta pada seorang gadis kecuali dia," Ardan melirik gadis dalam dekapan Reyhan.
Mendengar suara keributan di sampingnya, Syifa menggeliat di dada bidang Reyhan lalu membuka matanya. Dia kaget karena tiga pria itu menatapnya dengan aneh.
" Aaakkkkhhhh...." pekik Syifa.
" Mas, kok mereka ada disini?" kata Syifa.
" Memangnya kenapa? Belum muhrim tidak boleh berduaan terus." cibir Ardan.
" Siapa yang berduaan? Abang tuh yang tiap hari ganti pacar." sahut Syifa.
" Udah, Syifa sayang. Jangan dengerin ocehan Ardan, sini Mas rapihin rambut kamu." ujar Reyhan.
Reyhan sedikit beringsut mundur agar Syifa dapat duduk dengan tegak. Dia menyisir rambut Syifa dengan jari tangannya.
" Wajahmu pucat, sayang. Apa kau sakit?" tanya Reyhan membelai pipi Syifa.
" Aku tidak apa - apa, Mas." jawab Syifa.
" Sini aku periksa sebentar!" ujar Sony.
Sony memeriksa denyut nadi Syifa lalu menempelkan punggung tangannya di dahi sang adik.
" Kau hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran. Istirahatlah yang cukup, makan yang banyak. Besok aku kirim vitamin ke rumah." kata Sony.
" Mas, kak Sony kayak dokter." bisik Syifa pada Reyhan namun masih bisa di dengar oleh Sony.
__ADS_1
" Kau pikir aku dukun!" Sony mengacak rambut Syifa jadi berantakan lagi.
" Hahahaa... dukun beranak." sahut Ardan.
" Sembarangan! Aku ini dokter specialis jantung!" sungut Sony.
" Tapi kok belum ada pasien yang jantungnya berdebar - debar saat bertatapan dengan Dokter Sony yang tampan ini." ledek Syifa.
" Belum waktunya, aku masih sibuk melayani masyarakat." sahut Sony.
Suasana jadi semakin ramai dengan candaan mereka berempat. Tak terasa senja mulai menampakkan cahayanya yang kuning keemasan pertanda matahari akan segera tenggelam dan siang berganti dengan malam.
" Mas, lihat!" seru Syifa menunjuk ke arah matahari tenggelam.
" Mau foto?" tanya Reyhan.
" Iya, kita berempat ya?"
" Iya, sayang."
Mereka berempat sepertinya paling heboh diantara para pengunjung yang lainnya. Sesekali Syifa berteriak untuk melepaskan beban di hatinya. Reyhan dan yang lainnya sebenarnya merasa malu jadi obyek pandang wisatawan lainnya. Mereka tidak menyangka Syifa bisa heboh seperti ini, padahal dia itu biasanya sangat lembut dan pemalu.
" Fa, diamlah! Kau tidak malu jadi bahan tontonan orang!" geram Ardan.
" Apaan sih, Bang! Syifa lagi menikmati suasana indah pantai ini." seru Syifa.
" Sayang, duduklah sini!" titah Reyhan.
Syifa langsung diam saat Reyhan yang memanggilnya. Dia langsung duduk bersandar di bahu Reyhan dengan tersenyum.
" Mas, nanti malam kesini lagi ya?" bisik Syifa.
" Mau apa, sayang?"
" Syifa pengen menghabiskan waktu lebih banyak sama Mas Rey."
" Baiklah, tapi jangan lama - lama. Mas nggak mau kamu sakit, nanti Mas nggak tenang kerja disana."
" Iya, Mas. Cuma sebentar, tapi berdua saja." rengek Syifa.
" Kalau berdua mending di kamar, sayang." goda Reyhan.
" Ihh... Dasar mesum!" sungut Syifa.
Mereka berempat menikmati suasana pantai hingga maghrib. Senyum ceria tampak terlihat di wajah mereka. Ini adalah kali pertama mereka berempat berkumpul setelah lima tahun lebih berpisah.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.