
" Ayo masuk, kak." kata Syifa.
" Iya, tapi dia_..." ucap Sony yang melihat raut wajah kekasihnya yang pucat.
" Tidak apa - apa, sudah seharusnya mereka tahu. Syifa akan bantu yakinkan mereka jika kalian memang serius menjalin hubungan ini."
Syifa menggandeng tangan gadis yang bersama Sony. Tampak dingin sekali tangan gadis itu karena gugup dan takut.
" Mas Rey, Abang..." ucap Syifa.
" Shella...?" teriak Reyhan dan Ardan serentak karena terkejut.
Shella, adik kandung Ardan. Gadis itu tak berani menatap wajah Ardan dan Reyhan. Bisa dibilang, Shella sangat dekat Reyhan dibandingkan dengan Ardan dan Sony.
" Son, kenapa kau ajak Shella kesini?" tanya Ardan dengan tatapan tajam.
" Mmm... bisa kita duduk dulu? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." ucap Sony gugup.
Biasanya Sony adalah sosok yang tenang saat sedang berada dalam suatu masalah. Namun kali ini, dia terlihat sangat lemah bahkan di depan gadis yang dicintainya dan juga para sahabatnya. Setelah semuanya duduk, Sony menatap Shella yang kini duduk berhadapan dengannya. Shella lebih memilih duduk di samping Reyhan daripada Ardan, kakak kandungnya sendiri.
Syifa duduk di samping Ardan dan Clarissa, takut pria itu marah dan tidak menyetujui hubungan Sony dan Shella.
" Cepat katakan!" ketus Ardan.
" Maaf, aku dan Shella memang sudah lama pacaran." ucap Sony.
" Sudah lama? Sejak kapan? Bahkan semenjak lulus sekolah kita jarang sekali bertemu Shella." kata Reyhan.
" Maaf, kak. Sebenarnya kami pacaran sejak Shella masih kelas dua SMP." ucap Shella.
" Kelas dua SMP? Dan kau, Sony! Kurang ajar sekali kau berani merusak adikku!" hardik Ardan.
" Bang, tenang dulu. Jangan marah pada mereka, apa salahnya mereka saling jatuh cinta?" ucap Syifa.
" Shella...! Seharusnya kau bilang dulu padaku!" teriak Ardan lagi.
Shella menggenggam erat tangan Reyhan karena takut dengan tatapan tajam kakaknya.
" Sudah, Ar. Biarkan saja, apa salahnya jika mereka saling mencintai? Selama tidak ada hubungan keluarga diantara mereka dan Sony serius dengan Shella, sebaiknya kau restui mereka." kata Reyhan.
" Bang, kamu sendiri tahu seperti apa kak Sony. Dia orang yang bertanggung jawab dan tidak akan pernah menyakiti Shella. Restui mereka, ya? Shella juga sangat mencintai kak Sony." bujuk Syifa.
" Iya, kak. Bila mereka saling mencintai, apa kamu tega memisahkan mereka?" rayu Clarissa.
" Kenapa kalian berdua jadi menyudutkan aku?" sungut Ardan kesal.
Melihat tatapan dua wanita di sampingnya, Ardan merasa tidak tega. Apalagi kedua tangannya di genggam erat oleh dua wanita yang sangat dia sayangi.
" Ayolah, Bang. Syifa jamin mereka pasti bahagia." lirih Syifa.
" Nanti abang pikirkan lagi. Shella, kita pulang sekarang!"
Ardan menarik tangan Clarissa untuk mengantarkannya pulang. Shella mengikuti langkah Ardan setelah mendapat anggukan dari Sony dan Reyhan.
# # #
Kini di Apartemen hanya ada Reyhan, Syifa dan Sony. Syifa membuatkan minuman hangat untuk Sony yang sedang sedih karena kekasihnya harus pergi.
__ADS_1
" Sudah, kak. Bang Ardan hanya butuh sedikit waktu, mungkin dia kaget karena kalian berdua merahasiakan hal sebesar ini padanya."
" Aku hanya menunggu waktu yang tepat, Fa. Aku dan Shella juga jarang sekali bertemu, jadi belum sempat bicara dengan Ardan."
" Son, Ardan pasti merestui hubungan kalian. Aku sangat yakin akan hal itu." kata Reyhan.
" Terimakasih, ya. Kalian berdua mendukungku dalam keadaan seperti ini."
Setelah cukup lama berbincang, Sony segera pamit karena ada panggilan darurat dari rumah sakit. Walaupun sebentar lagi Sony akan diangkat sebagai Dirut di rumah sakit itu, namun dia tetap melayani pasien jika dokter yang lain sedang tidak bisa hadir.
" Sayang, Mas lapar." rengek Reyhan.
Kini mereka hanya tinggal berdua saja menonton tv sambil makan cemilan yang tadi dibeli swalayan dekat Apartemen.
" Syifa belum masak, Mas?"
" Bukannya tadi beli bahan makanan untuk dimasak?"
" Iya, tapi Syifa belum sempat masak."
" Sudah tidak sakit, kan?" tanya Reyhan sambil tersenyum.
" Apanya yang sakit?" sahut Syifa heran.
" Hahh... udah, kamu duduk aja disini biar kakak yang masak."
" Really?"
" Yes, honey."
" Love you too, honey."
Reyhan menarik tangan Syifa sehingga sang istri duduk di pangkuannya.
" Mas, katanya mau masak?" ucap Syifa sambil menahan tangan sang suami yang masuk ke dalam bajunya.
" Ssshhhh...!" desis Reyhan.
" Maasss... hentikan tanganmu!" lirih Syifa
Reyhan yang tak bisa menahan sesuatu yang bergejolak dalam dirinya langsung membopong tubuh istrinya ke dalam kamar.
" Mas makan kamu aja, sayang." bisik Reyhan dengan tatapan yang sulit diartikan.
" Ish... bukannya kita akan pulang ke runah mama?"
" Nanti saja, ini lebih penting."
Reyhan segera merebahkan tubuh istrinya diatas tempat tidur dan segera naik keatasnya. Tatapannya yang sudah berkabut gairah itu membuat Syifa pasrah karena keinginan suaminya tak akan bisa ditolak.
" Aaakkhhh...!"
******* Syifa saat Reyhan menciumi bagian lehernya membuat sang suami semakin gencar untuk menjamah bagian tubuh yang lainnya. Hasratnya yang sudah tak tertahan lagi membawa keduanya berpacu dengan cepat untuk menikmati surga dunia.
" Ish... kau memang hebat, sayang."
Reyhan meracau saat keduanya mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan. Mereka langsung memejamkan mata sesaat setelah menormalkankan kembali nafasnya.
__ADS_1
" Tidurlah, terimakasih untuk hari ini." bisik Reyhan seraya mengecup kening istrinya cukup lama.
# # #
Dua hari semenjak Sony mengungkapkan hubungan specialnya dengan Shella di depan Ardan, kini dia tampak lesu dan tak bersemangat melakukan aktifitas apapun. Dia bahkan mengalihkan jadwal operasi kepada dokter lain karena dirinya sedang tidak bisa fokus takut membahayakan nyawa pasien.
Shella tidak menghubunginya sejak pulang dari Apartemen Reyhan. Nomor gadis itu juga tidak aktif hingga membuat Sony semakin frustasi.
" Gadis kecilku, kenapa kau tidak menghubungiku sama sekali. Biasanya juga kamu yang marah - marah kalau sehari saja tidak memberi kabar." keluh Sony.
Sony ingin sekali datang ke rumah Shella, namun takut Ardan masih marah padanya. Sony hanya tidak ingin orangtua Ardan tahu hubungan mereka sedang tidak baik - baik saja.
" Assalamu'alaikum," sapa Syifa tanpa mengetuk pintu.
" Astaghfirullah... Wa'alaikumsalam. Ya Allah, Dek... ngagetin kakak aja sih? Kalau jantungan gimana?"
" Hehehee... Sorry, kakakku yang tampan dunia akhirat." ucap Syifa nyengir.
" Hhh... mau apa kesini? Kakak lagi nggak mood melakukan apapun."
" Terus kakak ngapain disini? Mending tidur di rumah daripada bengong kayak sapi ompong."
" Jangan ganggu kakak, pulang sana! Suami kamu nungguin tuh!"
" Siapa bilang suamiku nungguin, orang tadi kesini diantar sama mas Reyhan sebelum dia berangkat ke kantor."
" Terus kesini mau apa?"
" Mau ajak kakak jalan - jalan," tutur lembut Syifa membuat Sony mendesah pelan karena pasti gadis itu akan memaksanya.
" Ajak aja suami kamu sekalian honeymoon, kenapa kakak yang diajak?"
" Ayolah, kak. Syifa pengen ke Villa milik Anton yang di Bogor itu." rengek Syifa.
" Berdua saja? Jangan ngawur kamu, nanti Reyhan gimana?"
" Nanti Mas Reyhan juga kesana setelah pekerjaannya selesai. Sekarang kita jalan - jalan dulu ke Mall terus nanti ke Bogor habis waktu dhuhur."
Syifa terus membujuk Sony agar mau ikut dengannya. Biasanya Sony selalu luluh dengan rengekannya apalagi jika sampai dia menangis dan terlihat sedih, Sony dengan cepat akan mengabulkan semua permintaannya.
" Ok, kita berangkat sekarang. Jangan nangis! Dasar cengeng." ketus Sony.
" Terimakasih, kak. Kau kakak terbaik, I love you..."
Syifa memeluk erat Sony dengan binar bahagia yang terlihat jelas di wajahnya.
" Syifa hanya ingin membuat kakak bahagia."
.
.
TBC
.
.
__ADS_1