
Dengan mata sembab arini merebahkan tubuhnya di atas kasur jemari tangan kanannya meraih bantal guling di sisi sebelah kanannya dia kemudian meluk guling itu dengan erat sambil kembali terisak.
Di kamar 4×4 meter persegi itu dia kembali mengingat masa masa saat dia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Sebenarnya dia sangat membenci masa masa itu, masa masa paling menderita dalam hidupnya. Dia bersekolah tanpa restu orang tua, karena waktu itu orang tuanya sangat miskin jangankan untuk menyekolahkannya untuk makan sehari haripun mereka masih kekurangan. Tapi Arini mempunyai tekad yang sangat kuat untuk bersekolah dia mempunyai uang 450.000 hasil dari bekerja sampingan menjadi tukang angkut pisang dan kelapa di kebun orang. Pekerjaan itu ia lakukan sepulangnya dari sekolah.
Sore itu pamannya, lebih tepatnya sepupu dari ayahnya tiba tiba memanggilnya. Pamannya itu sangat sayang pada Arini terkadang Arinipun sering berlaku manja pada pamannya itu. Saat Arini tau kalau yang memanggilnya adalah paman kesayangannya dengan wajah gembira ia segera menghampiri peria kepala empat itu. Dan meninggalkan teman temannya yg saat itu sedang asik bermain petak umpet di jalan depan rumah Arini. Permainan yang sering di lakukan oleh anak anak di desa dan saat itu jalanannya masih jalan tanah, motorpun jarang orang punya kecuali mereka yang kaya ada beberapa yang memilikinya. Tidak seperti sekarang motor dan mobil banyak yang punya bahkan satu rumah bisa memiliki tiga smpai empat mobil.
"Ada apa paman?? " tanya Arini
"Benar kamu mau melanjutkan sekolah ke SMP? " tanya pamannya
"Iya" jawab Arini dengan pasti
__ADS_1
" Kamu tau jarak rumah dan sekolahmu sangat jauh 8km dari rumah, apa kamu sudah siap dengan segala sesuatunya?? " ada gurat keraguan di wajah paman Darmanta mengingat sifat keponakannya yg sangat manja.
"Sudah, aku akan kost dengan temanku. Satu kamar berdua biar hemat jadi aku hanya akan membayar 175.000 pertahun"
Pamannya pun menganggukkan kepalanya beberapa kali mencoba memahami tekad gadis itu. Gadis yang sangat keras kepala dia rela melawan orang tuanya demi bersekolah bagi sebagian orang desa yg masih berfikiran kolot Arini di cap sebagai anak durhaka yang tidak mengerti dengan keadaan orang tuanya. Tapi bagi pamannya yang fikirannya sudah sedikit moderen dia sangat bangga dengan kemauan keras gadis itu, dia rela berselisih dengan orang tuanya demi mendapat pendidikan yang lebih baik. Jaman sudah semakin maju, persaingan sumber daya manusianya pun pasti akan sangat ketat kedepannya. Jika hanya tamat sekolah dasar mau kerja apa nantinya? Paling paling hanya bekerja sebagai babu. Dan Darmanta tidak ingin karir keponakannya hanya mencuci baju dalam majikannya, atau menyapu dan mengepel rumah orang lain selain rumahnya sendiri dan rumah suaminya kelak.
"Kamu sudah mendaftar? " tanya Darmanta saat dia sudah menghetikan lamunanya.
"Bagus!! Belajarlah dengan rajin jangan menyia - nyiakan perjuanganmu" kata Darmanta, dengan reflek tangan kananya mengusap rambut kusut gadis itu. Gadis yang tidak pernah di rawat, entah mengapa gadis ini juga bodoh merawat dirinya sendiri. Rambutnya kusut karena jarang keramas. Sebulan sekalipun belum tentu ia keramas.
Wajahnya dekil karena jarang mandi, bajunya kotor dan bau karena jarang di ganti dan ada sedikit sobekan di bagian lehernya.
__ADS_1
"Iya paman" senyum Arini gigi kuningnya pun terlihat membuat pamannya sedikit tersenyum entah dengan cara apa lagi dia harus menasehati keponakannya itu supaya mau merawat diri dan hidup lebih bersih lagi. Darmanta kemudian memasukkan tangan kanannya kedalam kantong celana trening hitam yang ia kenakan tangan itu meraih sesuatu yang ada di dalam kantong dan menariknya keluar.
"Ini sedikit uang untukmu, jumlahnya tidak terlalu besar tapi kamu bisa membeli seragam dan sepatu dengan uang ini. " kata Darmanta sambil mengeluarkan uang sejumlah 150.000 mata Arini pun terbelalak baru pertama kali ada orang yang ngasi dia uang sebanyak itu. Itupun dengan cuma cuma tanpa harus mencuci piring, mencari uban atau pekerjaan lain yg sering para bibi dan pamannya suruh itupun dengan upah 1000 rupiah at kadang cuma di kasi es at soto, salah satu kakak ibunya adalah pedagang, selain menjual sembako dia juga menjual es, soto di siang hari dan bubur bali di pagi hari.
"Tidak paman saya tidak bisa menerimanya! " tolak Arini biarpun saat ini dia sangat membutuhkan uang tapi dia tidak ingin menjadi peminta minta dan memberatkan orang lain.
"Cepat terima, jangan keras kepala seperti itu! Ini hadiah paman untukmu, bersekolahlah dengan baik, belajar dengan rajin dan jangan kecewakan orang tuamu termasuk pamanmu ini" kembali Darmanta menyodorkan uang yang sempat di tepis oleh Arini. Arini kemudian menatap pamannya seraya menggeleng.
"Sudah jangan keras kepala lagi cepat ambil!". Perintah pamannya dengan suara yang sedikit di tekan
"Terima kasih paman" senyum Arini dengan mata sedikit berkaca kaca meraih uang itu dan menggenggamnya penuh arti. Sedih, haru dan bahagia bercampur menjadi satu di hatinya.
__ADS_1
Sedih karena meratapi kehidupannya yg miskin, haru karena kepedulian dan kasih sayang pamannya yang begitu besar dan tulus kepada Arini. Dan sebagai anak kecil yg masih polos ia sangat bahagia melihat nominal uangnya yg tidaklah sedikit di tahun 2000 an itu.