
" Istirahatlah, besok akan kuantar kau padanya." seringai pria itu.
" Anda mau kemana, Tuan?" tanya Cathy pelan.
" Saya punya rumah, Nona. Apartemen ini hanya tempat persinggahan saat saya sedang ingin sendiri. Kita juga baru bertemu, tidak mungkin kita menginap bersama disini."
" Anda sangat baik, Tuan."
" Kita wajib menolong orang yang sedang kesusahan, Nona. Tidak perlu kau pikirkan."
" Oh iya, bolehkah saya tahu nama Anda, Tuan?"
" Ah, iya. Sampai lupa memperkenalkan diri, nama saya Ardan." ucap pria itu yang ternyata teman Reyhan.
" Saya Catherine, panggil saja Cathy."
" Baiklah, Nona Cathy... selamat beristirahat. Jangan buka pintu jika ada yang mengetuk. Saya tidak pernah membawa siapapun ke Apartemen ini."
" Baik, Tuan."
" Jangan panggil begitu, panggil saja namaku. Ngomong - ngomong bahasa Indonesiamu lumayan lancar."
" Boss saya yang mengajarkannya, dia orang yang sangat baik."
" Ya sudah, saya pulang dulu." pamit Ardan.
Cathy segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur setelah Ardan pergi. Dia tak menyangka masih banyak orang baik di negara ini walaupun mereka tak saling mengenal.
Sampai di area parkir Apartemen, Ardan masuk ke dalam mobilnya dan mulai menyusun rencana untuk mengerjai sahabatnya. Sebenarnya bisa saja Ardan mengantarkan gadis bule itu ke rumah Reyhan sekarang juga. Namun ia ingin tahu apakah Reyhan peduli dengan Cathy atau tidak.
Ardan segera melajukan kendaraannya di jalan yang sedikit sepi karena malam yang semakin larut. Dia ingin melihat ekspresi Reyhan besok pagi saat bertemu di acara pernikahan teman Syifa.
# # #
Pagi hari, mama memarahi Reyhan habis - habisan karena tidak bisa menjaga Catherine. Bagi orangtua Reyhan, Cathy adalah tanggung jawab Reyhan selama berada di Indonesia karena dialah yang membawa gadis itu pulang.
" Rey, kamu harus temukan Cathy sekarang juga! Kau tahu dia baru pertama kali kesini, jika terjadi apa - apa padanya apa yang akan kau katakan pada keluarganya?" teriak mama Salma.
" Iya, Ma. Rey memang salah, Rey bakalan cari Cathy sampai dapat." ucap Rey sendu.
Reyhan sangat sedih dan khawatir memikirkan Cathy. Pria itu sangat peduli pada sekretarisnya. Syifa dapat melihat jelas kepanikan di wajah Reyhan.
" Ternyata Cathy sangat berharga untukmu, Mas. Apakah kau juga akan bersikap seperti itu seandainya aku yang hilang?" batin Syifa.
Tak ingin mengganggu Reyhan, Syifa mengurungkan niatnya untuk mengajak Reyhan ke rumah Rendi. Syifa pelan - pelan keluar dari rumah tanpa berpamitan karena suasana sedang tidak kondusif.
" Syifaa...!" teriakan keras menggema di seluruh ruangan saat Syifa hendak meraih handle pintu utama.
" Mau kemana kau!" teriak Reyhan lagi.
" Ak... aku... mau ke... ke rumah Rendi, Mas." ucap Syifa terbata.
" Kau ingin pergi tanpa pamit? Bagus, pergi saja! Kau senang melihatku keliaran siang malam untuk mencarimu? Pergilah!" teriak Reyhan lalu pergi ke kamarnya.
Reyhan sebenarnya tak ingin membentak Syifa, namun saat ini pikirannya sangat kacau. Cathy menghilang, dan sekarang Syifa ingin pergi tanpa pamit padanya. Kepala Reyhan rasanya mau pecah saat ini.
" Fa, sebaiknya kau susul Reyhan dulu. Sepertinya hanya kamu yang bisa mengendalikan emosinya saat ini." ujar papa Hendra.
" Tapi, Pa. Syifa takut Mas Reyhan semakin marah." ucap Syifa.
" Tidak, Fa. Sekeras apapun hati Reyhan, dia pasti luluh dengan orang yang dicintainya." kata mama Salma.
__ADS_1
" Ya sudah, Syifa coba dulu."
Dengan ragu - ragu, Syifa melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju ke lantai atas. Mendadak nyalinya menciut saat sampai di depan pintu kamar Reyhan.
" Mas, Syifa masuk ya?" ucap Syifa pelan.
Tak ada sahutan dari dalam, Syifa membuka pintu dengan pelan. Dilihatnya Reyhan sedang berdiri di balkon menatap langit yang cerah.
" Mas_..."
" Biarkan aku sendiri, pergilah!"
" Mas, maafkan aku."
" Syifa, Mas sudah bilang berapa kali supaya kau pergi." suara Reyhan mulai meninggi.
" Syifa tidak akan pergi tanpa Mas Reyhan." ucap Syifa pelan.
" Berhentilah merengek, Fa! Pergi saja sendiri."
" Aku tahu gadis itu sangat penting bagimu, Mas. Tapi apa ini adil untukku? Baru semalam kau berjanji akan bersamaku selamanya, tapi sekarang kau sudah berubah lagi." Syifa berusaha untuk tak menangis di depan Reyhan.
" Syifa, mengertilah keadaanku kali ini saja."
" Aku yang salah, Mas. Seharusnya semalam kita tidak pergi, seharusnya kau temani dia. Aku akan mencari dia untukmu sekarang juga." batin Syifa.
Dengan perlahan Syifa melepas kalung yang baru dipakainya semalam dan menaruhnya di atas nakas lalu keluar dari kamar Reyhan.
Syifa bertekad tidak akan pulang sebelum bisa menemukan Cathy. Syifa tidak tahu seberapa berharganya gadis itu untuk Reyhan.
Sementara itu, Reyhan yang baru sadar dengan ucapan Syifa tadi menyesal karena ia sudah bersikap kasar pada kekasihnya sendiri. Reyhan melihat mobil Syifa sudah keluar dari gerbang rumahnya.
" Aakkhhh! Kenapa malah jadi kacau begini!" erang Reyhan frustasi.
[ " Assalamu'alaikum, Rey." ] sapa Sony.
" Wa'alaikumsalam, Son... apa kau meninggalkan Cathy semalam?"
[ " Iya, Rey. Semalam ada pasien yang harus operasi mendadak jadi aku langsung pergi ke rumah sakit." ]
" Kenapa kau meninggalkannya! Kau tahu dia tidak tahu alamat rumahku, sekarang dia hilang entah kemana!"
[ " Astaghfirullah... Sorry, Rey. Aku lupa soal itu, yang ada di pikiranku hanyalah menyelamatkan pasien."
" Sial kau! Harusnya kau ajak dia ke rumah sakit!"
[ " Maaf, Rey. Aku tidak kepikiran sampai kesitu semalam." ]
" Sekarang kau urus pernikahan Rendi, aku akan mencari Cathy. Jaga Syifa, dia sudah jalan dari rumah."
[ " Baiklah." ]
Reyhan bergegas ke garasi untuk mengambil mobil dan segera melajukannya ke jalan raya untuk mencari Cathy. Ucapan Syifa tadi sebenarnya sedikit menyinggung perasaannya. Mungkin Syifa berpikir dirinya memiliki hubungan lebih dengan Cathy, padahal Reyhan bersikap seperti itu karena menjaga amanah dari Steven untuk menjaga adiknya.
" Syifa, maafkan aku. Pasti kamu sangat kecewa dengan sikapku. Tapi aku juga tidak bisa mengabaikan Cathy yang sekarang entah berada dimana." gumam Reyhan.
Reyhan terus melajukan mobilnya mengelilingi kota, masuk ke tempat - tempat ramai yang banyak dikunjungi orang.
Satu jam kemudian, Sony mengirimkan pesan kepada Reyhan jika Syifa tidak ada di rumah Rendi. Hal itu membuat Reyhan semakin frustasi.
" Syifa, apalagi yang kau lakukan? Kenapa semua jadi seperti ini? Kenapa semua orang mempermainkan diriku?" gumam Reyhan.
__ADS_1
Sementara di kediaman Rendi, Sony datang sendirian karena Ardan belum juga muncul padahal dia yang membawa mahar pernikahannya.
" Apa semuanya sudah siap?" tanya Sony.
" Sudah, Tuan. Kita tinggal berangkat saja dan juga menunggu Syifa."
" Temanku yang membawa mahar juga belum datang, kita tunggu sebentar lagi."
" Sebenarnya saya merasa malu, Tuan. Syifa sudah banyak membantu saya selama ini dan saya belum bisa membalas kebaikannya."
" Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Saya mau menghubungi mereka dulu."
Sony mencoba menghubungi Syifa namun nomornya tidak aktif. Dia juga tidak sedang bersama Reyhan, mungkin saja ada masalah dengan mereka.
Tak lama mobil Ardan masuk ke pekarangan rumah Rendi. Sony berniat menghampirinya sekalian menanyakan keberadaan Syifa. Mungkin saja tadi mereka bertemu di jalan. Saat baru beberapa langkah, Sony terkejut melihat seseorang yang keluar dari mobil Ardan.
" Cathy...?" gumam Sony tak percaya.
" Apa aku datang terlambat?" sapa Ardan.
Sony mengabaikan Ardan dan segera mendekati Cathy dengan tatapan tajamnya. Dia tidak habis fikir mengapa gadis itu bisa bersama Ardan.
" Kenapa kau bisa bersama Ardan?" cecar Sony.
" Semalam tidak sengaja dia hampir menabrakku lalu dia menolongku." ucap Cathy tanpa berani menatap Sony.
" Harusnya kau minta diantarkan pulang bukannya menginap bersamanya."
" Saya tidak tahu alamat rumah Reyhan, ponselku juga rusak."
" Sudahlah, Son. Aku yang menyuruh dia menginap di Apartemenku. Dia terlihat lelah dan shock jadi aku tidak mengantarnya pulang." kata Ardan.
" Apa kau sengaja melakukan itu! Dari semalam Reyhan dan Syifa mencari keberadaan gadis ini dan kau sengaja menyembunyikannya?" geram Sony.
" Aku tidak berpikiran seperti itu," sahut Ardan.
Rendi keluar dari rumah melerai perdebatan Sony dan Ardan. Tidak baik mereka bertengkar di tempat umum.
" Tuan, apa ada masalah?" tanya Rendi.
" Tidak, hubungi calon istrimu tanyakan apakah Syifa disana atau tidak." titah Sony.
" Baik, Tuan."
Rendi menghubungi Bella untuk menanyakan tentang Syifa. Setelah beberapa saat, Rendi kembali menghampiri Sony.
" Tuan, Syifa tidak ada di rumah Bella. Rencananya Syifa akan ikut dari sini, jadi tidak mungkin dia di rumah Bella." kata Rendi.
" Sial...! Satu ketemu satunya lagi hilang." umpat Sony.
Sony segera memberitahukan pada Reyhan bahwa Cathy sudah bersamanya sekarang di rumah Rendi. Namun Syifa belum juga datang.
" Kalau sampai terjadi apa - apa dengan Syifa, semua ini karena ulahmu!" geram Sony pada Ardan yang tidak mengerti akar masalahnya.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.