
" Hah...! Tidak waras bagaimana?" cecar Cathy.
" Sikapnya aneh semenjak kembali dari Indonesia." gerutu Steven.
" Dia hanya merindukan kekasihnya, tidak usah berlebihan."
" Kau terus saja membelanya."
" Biarkan saja, kalau sampai si boss pulang lagi aku tidak yakin bisa menghandle perusahaan." kata Cathy.
Baru saja dibicarakan, suara Reyhan sudah menggema ke telinga dua bawahannya. Cathy dan Steven kaget saat Reyhan memanggil nama Cathy dengan lantang.
" Cathyyyy....!"
" Oh my God, ternyata memang dia sudah gila!" umpat Cathy.
" Saya masuk dulu, Stev. Sepertinya bakalan ribet urusannya." ucap Cathy.
" Pergilah sebelum gedung ini roboh dengan teriakannya," sahut Steven.
Cathy bergegas masuk ke ruangan Reyhan tanpa tahu apa yang diinginkan bossnya.
" Boss memanggil saya?" tanya Cathy seramah mungkin.
" Ya, mendekatlah padaku!" titah Reyhan.
" Untuk apa, boss? Saya masih dengar suara Anda dari sini." Cathy masih berdiri berseberangan meja dengan Reyhan.
" Saya tidak menyuruhmu untuk mendengarkan!"
Reyhan beranjak dari kursi kebesarannya lalu mendekati Cathy. Dia memutar - mutar tubuh Cathy seperti boneka saja tanpa menghiraukan gadis itu yang merasakan gedung seakan berputar.
" Boss, kepala saya pusing. Kenapa kau menyiksaku?" keluh Cathy.
" Duduk!" titah Reyhan.
Cathy langsung duduk di lantai karena sudah tak mampu berjalan sampai ke kursi di depannya. Reyhan yang melihatnya segera memapah gadis itu untuk duduk di kursi.
" Baru berapa putaran sudah pusing." cibir Reyhan.
" Saya bukan penari balet yang kerjaannya berputar - putar, boss." sungut Cathy seraya merebahkan kepalanya di meja.
" Berapa tinggi badanmu?" tanya Reyhan.
" Mmm... 172 cm, Boss."
" Carikan dress untuk ukuran tinggi 168 cm!" perintah Reyhan.
" Buat siapa, boss?"
" Apa saya menyuruhmu bertanya baju itu untuk siapa?!"
"Eh, tidak Boss. Hanya ingin tahu saja, dia biasa pakai size berapa. Soalnya berat badan itu berpengaruh nanti muat atau tidak bajunya." ucap Cathy.
" Buat Syifa," jawab Reyhan datar.
" Ada foto terbaru tidak, boss. Biar saya bisa memperkirakan baju yang pas untuknya."
__ADS_1
Reyhan segera membuka galery ponselnya dan mencari foto Syifa yang terlihat seluruh badannya kemudian memberikannya pada sekretarisnya.
" Cantik, pantas saja Boss tidak mau cari yang lain." celoteh Cathy.
" Sudah dilihat apa belum!"
" Sudah, Boss. Mau warna apa? Mungkin Syifa punya warna favorit?"
" Pilih mana saja yang menurutmu cocok buat dia, tapi ingat harus tertutup!"
" Siap, Boss! Saya dibelikan juga ya, Boss?" rengek Cathy.
" Terserah, ambil satu buat kamu dan untuk Syifa belikan dua sama perhiasan terbaik di kota ini. Kalung saja, pesan dengan liontin huruf inisial AA."
" Saya dibelikan kalung juga, Boss?"
" Minta sama David sana! Diakan calon suami kamu, dia yang dapat aku yang rugi. Kebanyakan bawelnya kamu." Reyhan memberikan kartu kreditnya dan mengusir Cathy dari ruangannya.
Keluar dari ruangan Reyhan, Cathy tampak sumringah dengan menimang - nimang credit card milik Reyhan. Steven heran melihat adiknya tersenyum sendiri setelah keluar dari ruangan bossnya.
" Ah, jangan - jangan adikku ikut gila seperti boss." gumam Steven.
# # #
Pulang kerja, Cathy dijemput oleh David seperti biasanya saat kekasihnya itu sedang tidak sibuk dengan pekerjaannya. David adalah pengusaha muda di bidang kuliner. Dia memiliki beberapa Rumah makan di beberapa kota.
" Dav, kita ke butik dulu yuk?" ucap Cathy.
" Mau apa? Bukannya baru dua hari kemarin baru dari Mall?" tanya David.
" Reyhan minta aku carikan baju buat kekasihnya sama perhiasan mewah tentunya." sahut Cathy.
" Hehehee... aku disuruh Rey ambil satu baju apapun yang aku suka."
" Tiap minggu aku udah belikan kamu baju, sayang. Memangnya masih kurang sampai minta sama Reyhan?"
" Bukan begitu, ini cuma sekedar upah saja."
Tak berselang lama, David dan Cathy sampai di butik terbaik di kota itu. Cathy menarik lengan David untuk segera masuk ke dalamnya.
" Sayang, ini bagus - bagus banget." seru Cathy berdecak kagum.
Melihat harganya yang selangit itu membuat Cathy terpukau. David segera menyuruhnya memilih daripada jadi pusat perhatian orang di sekitarnya.
" Dav, harganya sangat mahal. Apa Reyhan mau ya? Soalnya dia itu tipe orang yang tidak suka kemewahan." ucap Cathy minta pendapat kekasihnya.
" Itukan buat kekasihnya, tidak masalah kurasa. Kecuali dia orangnya pelit," sahut David.
" Reyhan bukan orang seperti itu, kemarin waktu pernikahan Stev dan Helena semua biaya ditanggung sama Reyhan."
" Ya sudah, biar aku yang pilih. Kalau dilihat dari fotonya, kekasih Reyhan suka dengan hal sederhana. Jadi kau cari yang motif sederhana tapi elegan. Jangan terlalu glamour, dia bukan artis."
" Kau paham betul soal style wanita, sudah berapa banyak versi yang kau punya?"
" Mulai lagi, cepat pilih gaun yang pas terus kita ke pusat perhiasan di tengah kota." seru David.
Cathy mulai memilih baju untuk Syifa setelah konsultasi dengan pemilik butik itu langsung dengan memperlihatkan foto Syifa. Pemilik toko memberikan stok terbaru yang belum ia pajang karena barangnya baru datang tadi siang.
__ADS_1
" Waw... ini cantik sekali!" seru Cathy.
" Ada beberapa model dan warna yang bisa dipilih. Memang kebanyakan orang Asia menyukai model seperti ini." ucap pemilik butik.
Cathy menjatuhkan Dress pendek warna navy dan gaun panjang warna putih. Sepertinya itu sangat cocok jika Syifa yang memakainya. Cathy sendiri memilih warna biru laut yang merupakan warna favoritnya.
Setelah selesai dengan masalah pakaian, Cathy dan David segera menuju tengah kota ke tempat pusat perhiasan terbaik di kota itu. Karena ingin design yang cantik, Cathy langsung menemui pemilik gerai perhiasan itu.
" Maaf, Tuan. Saya ingin memesan kalung berlian dengan liontin khusus. Apa Anda bisa membuatnya dengan cepat?" ujar Cathy.
" Model seperti apa yang Anda inginkan?" tanya pemilik gerai seraya memberikan katalog pada Cathy dan David.
" Sayang, kira - kira Syifa suka yang mana?" bisik Cathy.
David mengamati semua model dalam katalog itu. Tapi menurutnya, modelnya terlslu besar dan terkesan glamour.
" Tuan, apakah design kalung ini bisa dibuat lebih simple? Soalnya pemakainya tidak suka yang terlalu lebar seperti ini. Coba buat separuhnya saja lalu dengan ukiran nama dan liontin dengan inisial huruf." kata David.
" Bisa, Tuan. Ternyata selera Anda sangat tinggi dan juga design itu sangat bagus. Saya tidak pernah berpikir sampai disana. Silahkan menuliskan nama yang akan diukir di kalung itu dan juga huruf untuk liontinnya." ucap pemilik gerai dengan semangat.
David menyuruh Cathy untuk menuliskan nama Reyhan dan Syifa di dalam sebuah kertas lalu memberikannya kepada pemilik gerai perhiasan.
" Kira - kira akan jadi dalam berapa hari?" tanya Cathy.
" Saya usahakan akan jadi dalam lima hari, Nona. Tolong tuliskan juga alamat untuk pengiriman barangnya nanti."
" Baiklah, kirimkan atas nama Reyhan Aditama. Presdir S.A Properties."
" Astaga, jadi ini pesanan Presdir muda terkemuka itu. Suatu kehormatan bagi saya kedatangan utusan dari Presdir Reyhan Aditama." ucap pemilik gerai perhiasan itu dengan bangga.
Selesai dengan masalah perhiasan, David segera mengajak Cathy makan malam di Cafe dekat gerai perhiasan tersebut.
" Sayang, kapan kau membelikanku perhiasan cantik seperti itu?" rengek Cathy.
" Nanti kalau kita sudah menikah." sahut David santai.
" Ish... aku maunya sekarang?"
" Kenapa tidak minta sama boss kamu yang konglomerat itu?"
" Udah minta, tapi katanya suruh minta sama kamu." ucap Cathy seraya mengerucutkan bibirnya.
" Hahahaa... mana mungkin dia memberikan barang mahal seperti itu padamu."
" Memangnya berapa harganya?"
" Kau takkan sanggup mendengarnya." sahut David.
" Ish... kau ini!" sungut Cathy.
Mereka segera makan setelah pesanan datang. Cathy mendiamkan David karena permintaannya tidak dituruti. Pria itu tidak ambil pusing dengan gadisnya, karena besok juga akan baik lagi seperti semula.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.