ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 78


__ADS_3

Sudah dua minggu semenjak kecelakaan itu, Syifa sudah kembali dengan kesibukannya di kantor. Reyhan sudah kembali ke New York dua hari yang lalu karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan disana.


Selama Reyhan tidak ada, Deni harus ada bersama Syifa saat berada diluar rumah. Semenjak kasus kecelakaan itu telah diselidiki polisi, ternyata memang kejadian itu di sengaja untuk mencelakakan Syifa.


" Kak Deni, Syifa keluar sebentar ya? Pengen beli cemilan di minimarket." ucap Syifa.


" Suruh OB saja, aku tidak bisa mengantarmu keluar." kata Deni.


" Syifa bukan anak kecil lagi, kak. Cuma sebentar, boleh ya?" rengek Syifa.


" Fa, aku pernah gagal menjagamu. Aku tidak mau terulang untuk kedua kalinya."


" Tapi, kak_..."


" Tolong mengerti dengan posisiku, Fa. Aku bisa kehilangan pekerjaan jika sampai kamu celaka lagi."


" Baiklah, Syifa tidak akan pergi."


" Maaf, kakak hanya menjalankan perintah dari Reyhan dan Tuan Hendra. Kakak melakukan ini demi keselamatan kamu, Fa. Kakak sayang sama kamu sebagai saudara, lakukan ini demi persaudaraan kita."


" Iya, kak. Syifa minta maaf karena tidak patuh dengan kakak."


" Sudah, ayo kembali bekerja. Sebentar lagi ada meeting di cafe depan, nanti sekalian kita ke Minimarket beli cemilan."


" Ok, kalau gitu Syifa selesain berkas ini dulu."


# # #


Malam ini Reyhan sedang memeriksa berkas di ruang kerja rumahnya. Dia ingin menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar bisa segera pulang ke Indonesia.


Reyhan khawatir dengan keselamatan Syifa di Indonesia. Mereka merasa tidak memiliki musuh selama ini. Tapi penyerangan Syifa di Bali adalah sebuah rencana yang telah diatur sebelumnya.


" Sayang, Mas khawatir meninggalkanmu disana sendirian. Kak Deni tidak akan bisa menjagamu 24 jam karena dia memiliki keluarga sendiri yang harus dia jaga." gumam Reyhan.


Walaupun kini Reyhan sangat jauh dari Syifa, namun hati dan pikirannya tak pernah lepas dari kekasihnya itu. Reyhan selalu menyempatkan diri untuk menghubungi Syifa di sela - sela pekerjaannya yang padat.


" Syifa, Mas sangat merindukanmu. Baru beberapa hari kita tidak bertemu, Mas merasa ini sudah bertahun - tahun lamanya." batin Reyhan seraya menatap foto Syifa di ponselnya.


" Boss, kenapa dari tadi melamun? Apa ada yang dipikirkan?" tanya Steven.


" Eh... Mmmm... tidak ada, kau bisa pulang. Kasihan istrimu ditinggal sendirian." sahut Reyhan asal.


" Di rumah banyak orang, Rey. Ada Cathy dan kedua orangtuaku, terus asisten rumah tangga juga ada."


" Hhh... benar juga. Tapi... Helena di kamar sendirian, kan?"


" Sebenarnya ada apa, Rey? Jika ada masalah, ceritakan padaku mungkin aku punya solusinya."


" Memangnya tidak apa - apa kau pulang larut malam?"


" Tidak apa - apa, tadi aku sudah bilang kalau lembur kerja disini."


" Baiklah, aku akan cerita padamu."


Steven mencari posisi yang nyaman untuk duduk sambil mendengarkan curahan hati bossnya. Mungkin sebentar lagi mereka akan jarang bertemu jika Reyhan sudah menetap di Indonesia.


" Stev, dua minggu lalu ada yang berusaha mencelakai Syifa. Dia berusaha untuk membunuh Syifa, bahkan kekasihku itu sempat koma satu hari."

__ADS_1


" Apa pelakunya sudah tertangkap, Rey?"


" Belum, polisi kehilangan jejak pelaku. Aku takut dia masih mengincar Syifa sekarang."


" Apa ada yang kamu curigai?"


" Tidak ada, Syifa bahkan tak memiliki musuh."


" Coba ingat dulu, mungkin kalian pernah memiliki masalah atau bertengkar dengan seseorang dan membuatnya sakit hati."


" Masalah... bertengkar... siapa ya?" gumam Reyhan.


" Mungkin rekan bisnis atau seseorang dari masa lalu?" kata Steven.


" Astaga! Aku baru ingat, Stev."


" Apa?"


" Waktu itu kami bertemu dengan teman sekolah dulu. Gadis itu selalu mengejarku hingga sekarang. Dulu juga dia sempat hampir mencelakai Syifa, dia psycopat."


" Apa...? Cepat hubungi Syifa untuk berhati - hati jika bertemu dengan gadis itu, Rey!"


" Sial...! Kenapa aku tak menyadarinya dari awal." kesal Reyhan.


Reyhan mencoba menghubungi Syifa namun tak ada jawaban dari kekasihnya itu. Berkali - kali mencoba namun tetap tak ada jawaban.


" Hah...! Kenapa Syifa tidak menjawab telfonku." keluh Reyhan.


Reyhan merasa sangat khawatir dengan Syifa. Jika benar Diana yang ingin mencelakai Syifa, berarti nyawa kekasihnya sedang dalam bahaya.


Reyhan mencoba menghubungi Deni namun juga tak ada jawaban. Dia semakin khawatir jika sampai Diana berbuat nekat lagi pada kekasihnya.


" Sabar, Rey. Kau bisa hubungi temanmu yang lain."


" Kau benar, Stev. Rendi pasti bisa mencari Syifa."


" Siapa dia?"


" Dia asistenku disana yang mengurus pembangunan gedung S.A Properties."


" Hmm... kau benar - benar akan meninggalkan negara ini karena seorang gadis?"


" Bukan seperti itu, Stev. Orangtuaku disana, kehidupanku dari lahir juga disana. Aku hanya seorang perantau di negara ini. Kau tenang saja, aku akan sering datang untuk memantau perusahaan. Aku yakin kau bisa mengurus perusahaan disini."


" Kau yakin aku bisa, Rey?"


" Kau yang terbaik, Stev. Setelah kantor pusat di Indonesia aktif, semua klien yang ada disini kau yang tangani. Kau yang akan jadi CEO di kantor ini."


" Sebenarnya aku tak pantas dengan jabatan ini, Rey."


" Kau tinggal pilih, jadi CEO atau kupecat!"


" Huft... baiklah." ucap Steven pasrah.


Reyhan menghubungi Rendi untuk mencari Syifa dan Deni di kantor. Rendi harus bisa menemukan Syifa dalam keadaan aman.


# # #

__ADS_1


Syifa dan Deni sedang meeting dengan klien di Cafe dekat kantor. Syifa sedang berada di toilet saat meeting selesai. Ponsel ia tinggalkan di kursi tempat ia duduk. Deni tahu jika ponsel Syifa sedari tadi berdering namun ia tak berani memeriksanya karena itu adalah privasi.


Sementara Deni, ponselnya tertinggal di kantor karena tadi buru - buru saat berangkat meeting. Klien sudah berpamitan dan pergi dari Cafe itu. Deni sesekali melirik tas selempang mirip Syifa yang sedari tadi bergetar.


Setelah sepuluh menit, ponsel Syifa kembali bergetar. Deni dengan terpaksa mengambil ponsel itu karena takut ada hal yang penting.


" Reyhan? Dia menelfon berkali - kali." gumam Deni.


Deni menekan tombol hijau di ponsel Syifa untuk menerima panggilan dari Reyhan.


[ " Assalamu'alaikum, sayang. Kamu dari mana kok baru angkat telfon Mas?" ]


" Wa'alaikumsalam, Tuan Muda. Ini saya Deni."


[ Kak Deni, kok ponsel Syifa ada sama kakak? Syifa dimana?" ]


" Maaf, Tuan Muda... Syifa sedang di toilet. Kami sedang meeting dengan klien di Cafe."


[ " Tapi Syifa tidak apa - apa, kan? Mulai sekarang kak Deni harus jaga Syifa ekstra ketat. Saya curiga pada seseorang yang sudah menabrak Syifa di Bali." ]


" Benarkah? Ada yang Tuan Muda curigai?"


[ " Iya, nanti jam delapan kita adakan pertemuan virtual dengan Sony dan Ardan. Rendi juga akan membantu kalian." ]


" Baik, Tuan Muda."


[ " Kenapa Syifa lama sekali di toilet? Coba kamu cek sekarang!" ]


" Baiklah, kalau begitu saya matikan panggilan ini, Tuan. Assalamu'alaikum,"


[ " Wa'alaikumsalam." ]


Usai mengakhiri panggilannya, Deni bergegas mencari Syifa di toilet. Dia mengajak seorang pegawai wanita untuk menemaninya ke toilet khusus wanita.


" Tuan, di dalam tidak ada orang." kata pegawai itu.


" Kau sudah mencarinya dengan benar!" ucap Deni panik.


Deni menerobos masuk ke toilet khusus wanita untuk mengecek keberadaan Syifa. Memang benar, di tempat itu tidak ada siapapun.


" Ya Allah, kenapa bisa seperti ini!" kata Deni panik.


" Mbak, apa disini ada cctv?" tanya Deni.


" Ada, Tuan. Tapi hanya di kasir, tempat makan untuk pelanggan dan pintu masuk yang menghadap ke jalan serta tempat parkir."


" Ya sudah, saya akan memeriksa semua cctv. Tolong panggilkan penanggung jawab Cafe ini. Saya akan menghubungi teman saya dulu." kata Deni.


" Baik, Tuan."


Deni menghubungi Rendi, Ardan dan Sony agar segera menyusulnya ke Cafe. Deni curiga jika Syifa saat ini sedang dalam bahaya apalagi setelah Reyhan menyuruhnya untuk menjaganya lebih ketat lagi.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2