
" Kau_...!" ucap Reyhan kaget.
" Apa Mas tidak mau menciumku?" sahut wanita itu dengan senyum manisnya.
Ya, ternyata wanita itu adalah Syifa yang baru datang bersamaan dengan pak penghulu. Syifa hanya punya waktu membersihkan diri lima menit dan berdandan selama lima belas menit saja.
" Sayang, kau sudah datang?" Reyhan memeluk erat wanita di hadapannya.
" Hei... apa Mas tidak malu dilihat banyak orang?" bisik Syifa.
" Biarkan saja, jangan - jangan ini semua ulah kamu ya ngerjain Mas?"
" Eheemmm...!" suara papa Hendra membuat Syifa sangat malu.
Syifa mendorong Reyhan hingga mundur beberapa langkah sembuat para tamu undangan bersorak sambil tertawa.
" Sabar woiii... masih siang!" teriak Ardan.
" Sepertinya udah nggak tahan nih...!" celetuk Anton yang juga berada di pojok ruangan.
" Dasar anak tidak tahu malu!" umpat mama Salma.
Reyhan mengabaikan ledekan para tamu, dia lebih fokus pada wanita yang kini sah menjadi istrinya. Dia langsung menyeret Syifa menuju kamar tamu yang tak jauh dari ruangan itu. Teriakan dan sorakan dari kerabat dan para tamu undangan yang ingin mengucapkan selamat padanya.
" Rey...! Mau kemana kau!" teriak Sony.
" Nanti malam saja ucapan selamatnya!" sahut Reyhan acuh.
Papa Hendra dan mama Salma merasa sangat malu dengan kelakuan putranya. Banyak para tamu undangan yang bertanya - tanya kelakuan Reyhan dan Syifa.
" Maaf ya semuanya, silahkan dinikmati hidangannya." ucap mama Salma.
# # #
Di dalam kamar, Reyhan sudah mengunci pintunya lalu berbaring diatas tempat tidur mengabaikan istrinya yang sedari tadi hanya diam melihat tingkahnya.
" Mau sampai kapan kau berdiri seperti itu terus?" tegur Reyhan.
" Mas, ayo kita keluar. Malu banyak orang disana." rengek Syifa.
" Kau itu istriku, jadi menurut padaku bukan orang - orang diluar sana."
" Tapi, Mas_..."
" Sini, tidur disampingku!" titah Reyhan.
Syifa hanya bisa pasrah dengan tingkah aneh Reyhan yang sekarang sudah sah menjadi suaminya. Dia langsung merebahkan diri di samping suaminya.
Reyhan menatap lekat wajah istri yang baru dinikahinya beberapa menit yang lalu. Entah apa yang ia fikirkan saat ini, namun Reyhan hanya ingin melihat wajah istrinya.
" Kenapa Mas menatapku seperti itu?" tanya Syifa heran.
" Kau hampir saja membunuhku, sayang." lirih Reyhan.
" Maksud Mas apa?"
" Kenapa kau meninggalkan Mas di saat hari pernikahan kita?"
" Syifa nggak pergi, Mas. Buktinya sekarang Syifa ada disini dan sudah menjadi istri mas Reyhan."
" Kemana kamu dua hari kemarin?"
" Syifa_..."
__ADS_1
Syifa menceritakan awal mulanya ia pergi dari rumah mencari Reyhan dan juga kepergiannya ke Bogor dan ke Bandung. Reyhan yang mendengarnya merasa sangat bersalah. Karena dirinya, istrinya sangat menderita dua hari kemarin.
Syifa yang merasa lelah akhirnya malah tertidur dalam dekapan Reyhan. Mungkin Syifa tidak bisa tidur dengan nyaman dua hari kemarin.
" Sayang, maafkan Mas sudah membuatmu seperti ini. Mulai sekarang, Mas tidak akan pernah meninggalkanmu lagi." lirih Reyhan.
Setelah membenahi posisi tidur Syifa agar terasa nyaman, Reyhan beranjak keluar kamar karena masih banyak tamu diluar.
" Hehh... akhirnya keluar juga, Syifa mana?" tanya Ardan.
" Tidur, sepertinya kelelahan dia." jawab Reyhan asal.
" Kau apakan dia sampai kelelahan gitu?" ledek Sony.
" Kalian mau tahu?"
" Tidak! Kau memang tidak punya malu." cibir Ardan.
" Sebentar ya, aku mau sapa para tetangga dulu." ujar Reyhan.
Reyhan berbincang dengan para tamu yang kebanyakan adalah para tetangga. Mereka memang tidak terlalu kenal karena Reyhan tidak pernah ada di rumah. Mereka lebih mengenal Syifa yang baru lima tahun tinggal di rumah itu.
# # #
Jam empat sore, semua tamu sudah bubar tinggal para pelayan yang membereskan rumah. Reyhan kembali ke kamar tamu dimana Syifa berada.
" Sayang, bangun. Udah sore, ganti dulu bajunya." bisik Reyhan.
" Hmm... kok Syifa malah ketiduran, jam berapa sekarang Mas?"
" Jam empat, sayang. Makan dulu biar nggak sakit, nanti malam acaranya sampai jam sebelas loh."
" Maaf ya, Mas. Syifa ngantuk banget." keluh Syifa.
" Syifa malas jalan, Mas."
" Hmmm... manjanya mulai kumat."
Reyhan mengangkat tubuh Syifa menuju kamarnya di lantai atas. Untung papa dan mamanya sudah masuk ke kamar, bisa di bully habis - habisan kalau ketahuan.
" Mas, pasti Syifa berat ya?" tanya Syifa.
" Tidak, karena nanti upahnya juga sepadan." jawab Reyhan sambil tersenyum.
" Upah apa?"
" Jangan dibahas sekarang, nanti malam aja."
" Hmmm..."
Reyhan menurunkan Syifa di tempat tidur miliknya dengan pelan lalu menutup pintu dengan rapat.
" Mandi sana, Mas ambilin makanan dulu dibawah." titah Reyhan.
" Bantuin Syifa lepasin ini dulu Mas," pinta Syifa menunjuk punggungnya.
" Mau dibantuin mandi juga?" bisik Reyhan sembari memeluk Syifa dari belakang.
" Nggak usah, Syifa bisa mandi sendiri."
" Gimana kalau mandi bareng?"
" Bukannya Mas udah mandi?"
__ADS_1
" Mandi lagi juga tidak masalah, asalkan mandi bareng istri tercinta."
" Jangan macam - macam, nantinya jatuhnya kecewa."
" Kenapa?"
" Tidak apa - apa, nanti sekalian ambilin baju ganti Syifa di kamar sebelah ya?"
" Baik, Nyonya. Pelayan yang setia ini akan melayani Anda sampai puas."
" Ish... lepaskan tanganmu!"
Reyhan sangat suka menggoda istrinya. Setelah berhasil mencuri ciuman di pipi istrinya, Reyhan langsung berlari keluar kamar untuk mengambil baju ganti Syifa dan mengambil makanan.
Baru beberapa jam jadi suaminya, kenapa rasanya malah kayak pelayan di suruh ambil ini itu." gerutu Reyhan.
" Kamu ngapain, Rey? Papa perhatikan kamu ngedumel sendiri." tanya mama Salma.
" Nggak apa - apa kok, Ma. Rey ke kamar dulu ya? Mau antar makanan buat putri mama yang manja itu." jawab Reyhan sambil nyengir.
" Jangan lupa, nanti kita ke hotel habis maghrib. Syifa gaunnya sudah ada disana tinggal pakai saja nanti." peringat mama agar Reyhan tidak lupa dengan acara resepsinya.
" Iya, Ma. Reyhan tidak mungkin lupa. Cathy dan Stev dimana, Ma?"
" Mereka sudah diantar Rendi ke hotel supaya menginap disana saja. Memangnya ada apa?"
" Tidak apa - apa, sudah lama Rey tidak bertemu dengan mereka berdua. Oh iya, Ma. Mobil yang biasa dipakai untuk ke pasar ditinggal Syifa di Villa kita yang di Bandung."
" Kok bisa, Rey? Memangnya Syifa darimana kok bisa meninggalkan mobil disana?"
" Besok aja ceritanya, takut suasana hati Syifa tak stabil lagi. Dia terlihat sangat lelah."
" Ya sudah, cepat suruh dia makan."
" Iya, Ma."
Reyhan membawa nampan masuk ke dalam kamar saat istrinya baru keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk saja.
" Sayang, udah selesai mandinya?"
" Udah, mana baju gantiku?"
" Tidak usah ganti, begini saja udah cantik kok."
Reyhan dengan cepat meraih tubuh Syifa sehingga terduduk di pangkuannya. Mereka saling menatap satu sama lain dengan tatapan yang sulit diartikan.
" Sayang, Mas_..."
" Ssttt... jangan bicara apapun." lirih Syifa.
Syifa mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya dengan senyuman yang entah seperti apa membuat Reyhan tak bisa bernafas dengan benar.
" Mas, aku menginginkannya sekarang..." bisik Syifa.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1