
Pagi - pagi sekali Syifa sudah bersiap - siap untuk pergi ke Bandung ditemani Reyhan. Selain untuk mengecek proyek disana, mereka berdua juga akan menghabiskan waktu bersama sebelum Reyhan kembali ke Amerika.
" Sayang, udah siap belum? Bawa baju ganti sekalian ya, takutnya nanti kita kehujanan atau apa. Soalnya sedang musim hujan." kata Reyhan.
" Iya, Mas. Punya Mas udah siap semua?" tanya Syifa.
" Siap apanya? Calon istrinya belum nyiapin apa - apa." sahut Reyhan.
" Ya Allah, Mas. Cuma ambil satu baju di lemari apa susahnya sih?" gerutu Syifa.
Syifa mendorong tubuh kekar kekasihnya yang menghalangi jalannya. Pria yang satu itu bukannya membantu malah merepotkan.
" Kalau ada yang bisa disuruh kenapa harus melakukannya sendiri," kilah Reyhan.
Syifa beranjak menuju kamar Reyhan untuk mempersiapkan barang bawaan yang mungkin dibutuhkan disana.
Selesai berkemas, Syifa dan Reyhan bergabung dengan yang lain untuk sarapan sebelum berangkat ke Bandung.
" Boss, Cathy tidak diajak?" rengek Cathy.
" Kamu ambil laptop di kamarku dan kerjakan semua berkas yang dikirim oleh Stev. Saya pulang, semua sudah harus beres." perintah Reyhan.
" Ish... inikan hari liburku." desis Cathy.
" Kau bilang apa?" Reyhan menatap gadis itu tajam.
" Tidak, Boss. Makanannya enak." elak Cathy.
Selesai sarapan, Syifa dan Reyhan langsung berangkat ke Bandung. Jalanan pasti sudah macet karena waktunya semua orang berangkat kerja.
" Sayang, nanti kita mampir ke Villa yuk? Udah lama Mas nggak kesana." kata Reyhan.
" Mas punya Villa di Bandung?" tanya Syifa.
" Punya, tapi sudah bertahun - tahun Mas tidak kesana. Terakhir saat masih SMP, papa dan mama mengajakku ke tempat itu."
" Berarti tempat itu kosong sekarang?"
" Iya, baguskan? Kita bisa menghabiskan malam panjang disana." goda Reyhan.
" Kita tidak menginap, Mas!" ketus Syifa.
" Mas berubah pikiran, sayang. Kita menginap ya?" bujuk Reyhan.
" Tidak!" pekik Syifa.
" Ayolah? Malam ini saja?" rengek Reyhan.
" Nggak mau!" sungut Syifa.
Reyhan tertawa melihat wajah kesal kekasihnya. Aura kecantikannya yang natural semakin menggemaskan.
" Sudah, jangan ngambek. Di Villa itu ada yang jaga, sepasang suami istri yang bekerja disana. Ada anaknya juga, mungkin sekolah SMP sekarang. Dulu, waktu aku bertemu dengannya, anak itu sekitar umur tiga tahunan."
# # #
Syifa dan Reyhan sudah sampai di proyek pembangunan Mall yang berada di pinggiran kota Bandung. Tempatnya memang sangat strategis namun terlihat masih sepi.
" Sayang, apa Mall disini bakalan ramai?"
" Memangnya kenapa? Mas mau bangun Mall disini juga?"
" Tergantung minat masyarakatnya dulu, sebenarnya dari dulu Mas pengennya bikin pasar tradisional tapi dengan gaya modern, sepertinya cukup menarik. Nanti kamu yang mengerjakan proyek pembangunannya, masalah properti dan yang lainnya nanti Mas yang akan handle."
" Memangnya Mas kapan rencana mau bangun?"
" Nanti, setelah kita nikah... hahahaa..."
" Ish... menyebalkan!"
Turun dari mobil, Syifa langsung mencari bawahannya yang bertugas mengawasi jalannya pembangunan proyek itu. Mereka memang sudah janji untuk bertemu hari ini.
__ADS_1
" Selamat datang, Bu Syifa. Mari masuk ke ruangan kerja saya." ucap pegawai itu.
" Terimakasih, pak Lukman." sahut Syifa.
" Anda sendiri saja kesini, Bu? Biasanya pak Deni yang cek lapangan."
" Saya tidak sendiri, dia bersama dengan saya."
" Apakah dia pegawai baru di perusahaan?" tanya pak Lukman.
" Tergantung," jawab Syifa.
" Tergantung apa, Bu?"
" Tergantung bagaimana pekerjaanmu, jika semua berjalan sesuai prosedur kau bisa terus lanjut. Tapi jika ada kecurangan, maka bersiaplah untuk digantikan olehnya."
" Maksud Anda apa, bu Syifa?" tanya pak Lukman gugup.
" Anda pasti paham maksud saya, pak Lukman! Anda harusnya tahu apa yang akan saya lakukan dengan penghianat!" hardik Syifa.
" Bu, saya mohon... jangan lakukan itu," ucap pak Lukman menghiba.
" Katakan apa salahmu!"
" Maafkan saya, Bu. Saya membuat data palsu tentang anggaran bahan bangunan."
" Berapa uang perusahaan yang telah kau ambil!"
" Mmm... 150 juta, Bu."
" Kau tahu hukumannya untuk para koruptor?"
" Maafkan saya, Bu. Saya terpaksa melakukannya."
Reyhan hanya diam saja seraya menyimak percakapan keduanya. Dia tak menyangka calon istrinya sangat tegas saat bekerja. Tak ada rasa takut sedikitpun dalam dirinya untuk menghadapi lawan.
" Semua orang beralasan yang sama dalam melakukan kejahatan."
" Tidak, Bu. Saya berjanji akan mengembalikan uang perusahaan secepatnya. Istri saya sedang dirawat di rumah sakit, saya sangat membutuhkan uang saat ini."
" Astaghfirullah... kau mengagetkanku, sayang." ujar Reyhan kaget dengan tingkah kekasihnya.
" Diam! Jangan ikut campur!" bentak Syifa pada Reyhan.
" Bu Syifa, tolong ampuni saya..." kini pak Lukman berlutut di hadapan Syifa.
" Kuberi waktu dua minggu untuk mengembalikan uang itu atau kau akan mendekam di penjara!" seru Syifa.
" Baik, Bu. Saya akan secepatnya mengembalikan uang itu."
Reyhan meraih tangan Syifa agar gadis itu bisa tenang, namun di luar dugaan tangan Reyhan malah ditepis dengan kasar.
" Sayang, sudahlah. Masalah inikan sudah selesai, tak ada lagi yang harus kau pikirkan." ujar Reyhan.
" Pak Lukman, antar saya ke tempat istri Anda di rawat!" perintah Syifa.
" Hah...? Untuk apa, bu Syifa?" tanya pak Lukman kaget.
" Saya ingin memastikan kau tidak menipuku lagi!" jawab Syifa datar.
" Baik, Bu. Istri saya di rawat di Rumah Sakit X, dia sakit kanker rahim. Jadi satu minggu yang lalu melakukan operasi pengangkatan rahimnya."
Mendengar penyakit istri pak Lukman, tanpa sadar Syifa mengelus perutnya sendiri. Dia bisa merasakan perasaan istri pak Lukman saat ini.
" Anda sudah pernah punya anak?"
" Sudah, Bu. Anak saya dua, umur sepuluh tahun dan yang kecil enam tahun."
" Seharusnya Anda tidak perlu melakukan itu, pak Lukman. Tinggal mengajukan pinjaman ke perusahaan apa susahnya?"
" Maaf, saat itu saya panik tidak berpikir sampai kesana."
__ADS_1
# # #
Menjelang dhuhur, Reyhan dan Syifa sampai di Villa milik keluarga Aditama. Karena sudah lama sekali tidak berkunjung, penjaga Villa itu sampai tidak mengenali Reyhan.
" Assalamu'alaikum, Mang Tofa." sapa Reyhan.
" Wa'alaikumsalam, Den. Cari siapa ya? Kok Aden ini tahu nama mamang?" tanya mang Tofa.
" Saya Reyhan, Mang. Anaknya Hendra Aditama pemilik Villa ini."
Mang Tofa mengamati dengan seksama dari atas sampai bawah membuat Syifa tertawa geli.
" Masya Allah, ini Mas Reyhan? Ya Allah, sekarang sudah dewasa dan semakin kasep..." puji mang Tofa.
" Kita bertemu sepuluh tahun yang lalu, Mang. Jadi sekarang Reyhan sudah tambah tinggi." gurau Reyhan.
" Mas Reyhan ini kemana saja? Sudah lama sekali tidak kesini."
" Reyhan kerjanya jauh, Mang. Jarang pulang ke Jakarta juga."
" Memangnya kerjanya dimana Mas Reyhan?"
" Di New York, Mang."
" Oh... jauh juga ya, yang deket candi Borobudur itu ya Mas?"
" Astaga Mang Tofa... itu Jogja, bukan New York."
Reyhan hanya bisa mengelus dada jika berbicara dengan mang Tofa yang sedikit lambat dalam berpikir. Sedangkan Syifa, jangan ditanya... gadis itu berusaha menahan tawanya sambil bersembunyi di belakang punggung Reyhan.
" Beda ya, Mas?" ucap mang Tofa dengan polosnya.
" Sudah, tidak usah di bahas lagi. Sekarang bi Saroh kemana?"
" Istri saya, Mas?"
" Ya Allah... memangnya mang Tofa punya istri yang lain?"
" Hehehee... satu aja galaknya minta ampun, Mas. Kalau boleh tuker sama mbaknya itu saya seneng, Mas."
" Apaa?" pekik Syifa di belakang Reyhan.
Reyhan hampir jantungan mendengar teriakan Syifa, telinganya berdengung membuatnya pusing.
" Memangnya mamang tidak takut dimarahi bi Saroh kalau mau menikahi yang di belakang saya ini?" goda Reyhan yang langsung mendapatkan cubitan keras di pinggangnya.
" Kalau gantinya geulis seperti ini mah mamang rela, Mas."
" Mamang, sudah ya? Kita lanjut ngobrolnya nanti saja. Sebentar lagi adzan dhuhur, kita sholat dulu." ucap Syifa menahan geram pada dua lelaki di depannya itu.
" Eh, iya neng geulis. Silahkan masuk, biar mamang suruh Saroh membersihkan kamar dulu."
" Silahkan, mang."
Mang Tofa masuk ke dalam Villa mencari istrinya yang sedang beberes rumah. Biasanya pagi atau sore hari bi Saroh beres - beres, namun tadi dia harus menghadiri rapat di sekolah anaknya.
" Mas tega ih! Masa' Syifa di jodohin sama dia?" sungut Syifa.
" Mas cuma bercanda, sayang." Reyhan menggeser tubuhnya mendekati Syifa.
" Nggak lucu!"
" Huft... jangan ngambek, nanti bibirnya di gigit semut lagi." bisik Reyhan.
" Reyhan Aditamaaaa....!"
.
.
TBC
__ADS_1
.
.