
" Siapa yang menyimpan gadis?" ulang Syifa dengan tatapan tajam.
" Eh, sayang... sejak kapan disitu?" ucap Reyhan kaget.
" Jawab aja tidak usah mengalihkan pembicaraan!"
" Sayang, jangan ngambek dong."
Reyhan ingin meraih tangan Syifa namun di tepis dengan kasar oleh gadis itu. Wajah datarnya menyiratkan amarah yang membuat nyali mereka bertiga menciut.
" Fa, dengarkan dulu penjelasan kami." kata Sony.
" Kalian semua sama saja!"
" Sayang, jangan seperti ini dong." ucap Reyhan.
Syifa langsung melangkahkan kakinya keluar dari rumah bu RT dengan tatapan matanya yang tak bisa diartikan. Entah itu marah atau sedih tak ada yang tahu.
Syifa tidak berjalan menuju ke rumahnya, melainkan terus menjauh entah kemana. Reyhan ingin menyusulnya namun di tahan oleh Sony.
" Syifaaa...!" teriak Reyhan.
" Sudah, Rey. Biarkan saja dulu, mungkin Syifa butuh waktu sendiri." ujar Sony.
" Tapi, Son. Syifa hanya salah paham, kenapa dia tidak mau mendengarkan penjelasan kita dulu?" kata Ardan.
" Tunggu dulu, aku hanya merasa ada yang aneh dengan sikap Syifa. Dari raut wajahnya, sepertinya dia tidak marah tapi_..."
" Tapi apa?"
" Dia merasa sedih dan juga rendah diri. Dulu, jika sedang seperti itu... dia merasa tidak pantas berada diantara kita. Dia lebih memilih sendiri dan menutup luka hatinya."
" Kau benar, saat dulu aku datang bersama Cathy... Syifa awalnya juga marah. Tapi saat aku ingin menjelaskan, dia malah terkesan menjaga jarak dan menutup diri. Aku sudah berkali - kali meyakinkan dia untuk percaya padaku, namun sepertinya diapun belum mempercayai hatinya sendiri terhadap aku." kata Reyhan.
" Rey, sebaiknya kalian secepatnya menikah. Biar dia tidak merasa sendirian lagi." ujar Sony.
" Kalau tidak mau, biar aku saja yang menggantikanmu ke KUA." sahut Ardan.
" Apa kau mau kubunuh!" geram Reyhan.
" Hahahaa... aku hanya bercanda, tapi jika kau bersedia melepasnya... aku tidak akan melewatkan kesempatan itu." ucap Ardan.
" Aku mau cari Syifa dulu." kata Reyhan.
Reyhan masuk ke dalam rumah untuk meminta ijin memakai motor bu RT. Mudah - mudahan gadisnya bisa luluh dengan ketulusan cintanya.
Sampai diujung jalan, Reyhan melihat Syifa sedang berjalan sendirian. Saat ingin menghampiri, tiba - tiba ada sekelompok preman yang menghadang gadisnya. Reyhan menghentikan laju motornya tak jauh dari Syifa. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh kekasihnya.
" Sendirian aja, Neng?" kata preman itu sambil mendekati Syifa.
" Saya sedang malas bicara, Bang. Cari yang lain saja, saya buru - buru." jawab Syifa datar.
Keempat pria itu menyeringai dengan tatapan tepat di wajah Syifa. Senyum mereka terkembang sempurna saat melihat Syifa hanya menundukkan kepalanya.
" Abang anterin, Neng? Mau kemana?"
" Ke kuburan, Bang. Boleh saja jika mau ikut, tapi tidak muat jika untuk abang berempat soalnya baru bikin satu lubang." sahut Syifa asal.
__ADS_1
" Apa maksudmu, hah...!" sepertinya salah satu dari mereka paham maksud pembicaraan Syifa.
" Saya yakin abang tahu maksud saya apa,"
" Jangan banyak bicara kamu! Cepat bawa gadis ini ke markas,!" perintah salah satu preman pada temannya.
Saat dua preman itu hendak mencekal tangan Syifa, gadis itu dengan cepat langsung menepis tagan preman itu dengan kasar. Syifa yang tadinya bersikap tenang, kini mulai meluapkan amarahnya dengan tatapan tajam yang mematikan.
" Urungkan niat kalian atau saya akan buat kalian menyesal seumur hidup!" kata Syifa datar.
" Hahahaa... apa kau mau bermain - main dengan kami, Nona?" seringai preman itu.
" Boleh juga, mari kita mulai." sinis Syifa.
Preman itu berusaha untuk menangkap Syifa namun tanpa mereka duga, perlawanan gadis itu sungguh membuat mereka kuwalahan. Syifa bahkan dengan brutal menghajsr para preman itu hingga babak belur. Pukulan dan tendangan yang ia layangkan membuat para preman itu terkapar tak berdaya.
Syifa sudah seperti orang kesetanan, melampiaskan segala kekesalan hatinya kepada preman itu. Dia terus menghajar preman yang sudah tidak berdaya itu sambil mengumpat.
Reyhan tidak percaya gadisnya yang lembut dan imut itu bisa brutal melebihi preman pasar. Jika tidak dihentikan, para preman itu bisa meregang nyawa.
" Sayang, udah. Kau bisa membunuh mereka." ujar Reyhan.
Reyhan memeluk Syifa dari belakang agar gadisnya itu menghentikan aksi brutalnya. Syifa terus memberontak belum puas meluapkan amarahnya.
" Hentikan, Syifa! Kau marah padaku, jangan lampiaskan pada mereka." teriak Reyhan.
" Kalian... cepat pergi dari sini!" perintah Reyhan pada para preman itu.
Syifa berhenti memberontak lalu tubuhnya terasa sangat lemah. Reyhan langsung memapahnya untuk duduk di pinggir jalan.
" Sayang, jangan seperti ini. Percayalah padaku, aku hanya mencintaimu." kata Reyhan lirih seraya mendekap gadisnya.
" Biarkan saja, Mas tidak akan pernah melepaskanmu."
" Syifa mau pergi, Mas!"
" Tidak boleh! Kamu hanya boleh pergi dengan Mas, tidak boleh sendirian."
" Syifa hanya ingin mengunjungi makam ibu dan ayah."
" Iya, tapi Mas ini calon suami kamu. Jangan pergi sendirian terus memukuli orang sampai babak belur seperti itu. Mas tidak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu."
" Hmmm..."
" Ayo ke makam ayah dan ibu, terus pulang ke rumah papa. Sekalian ada yang ingin Mas bicarakan soal wanita yang ada di Apartemen Ardan itu."
" Kenapa tidak bicara sekarang saja?"
" Tapi janji, kamu tidak akan marah ataupun cemburu?"
" Tergantung,"
" Sayang... sudah berapa kali Mas bilang, jangan cepat mengambil kesimpulan sebelum ada penjelasan."
" Ok, Syifa akan dengarkan penjelasan Mas Reyhan."
" Begini_..." ujar Reyhan.
__ADS_1
Reyhan menceritakan tentang gadis yang bernama Clarissa hingga gadis itu bisa menginap di Apartemen Ardan.
" Jadi, Mas pengen Syifa terima dia jadi sekretaris papa?" tanya Syifa.
" Tidak juga, sayang. Kamu tes dulu selama satu minggu. Jika pekerjaan dan kelakuannya bagus, apa salahnya? Yang penting dia itu punya kesopanan dan punya potensi dalam bekerja. Mas tidak mau kamu kelelahan, gimana anak kita mau jadi kalau ibunya terlalu fokus dengan kerjaan."
" Apaan sih, Mas! Kok jadi bahas anak sih?"
Reyhan hanya tertawa kecil seraya menatap kekasihnya yang terlihat sangat cantik pagi ini.
" Kapan kamu siap untuk menikah denganku?" ucap Reyhan serius.
" Mas yakin tidak akan pernah menyesal menikah denganku?"
" Pertanyaan macam apa itu! Apa hubungan kita hanya sekedar lelucon?" kata Reyhan tidak suka.
" Mas, Syifa masih belum siap. Di satu sisi Syifa merasa senang bisa mencintai dan dicintai oleh Mas Reyhan. Tapi di sisi lain, Syifa juga kadang merasa tidak pantas masuk ke dalam keluarga Aditama yang begitu terpandang di seluruh negeri ini. Syifa merasa hanya jadi parasit yang menyusahkan."
" Sayang, semua itu tidak benar. Justru dengan kehadiranmu itu, telah merubah keadaan keluargaku menjadi lebih baik. Kau sudah menyadarkan kami arti pentingnya sebuah keluarga. Jadi, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan keluargaku."
Syifa hanya diam menatap jalanan yang mulai terik. Dia segera beranjak untuk melanjutkan perjalanan ke makam orangtuanya.
" Sayang... kok pergi gitu aja sih? Mas bawa motor, jangan jalan kaki." ujar Reyhan.
Reyhan bergegas mengambil motornya dan mengejar Syifa di depannya. Senyumnya terkembang kala gadisnya melirik dengan acuh.
" Ojek, Neng?"
" Tidak, terimakasih!"
" Gratis, Neng. Tidak usah bayar pakai rupiah."
" Minta dollar, Bang?"
" Tidak, cukup hati eneng aja buat abang. Tidak perlu dollar maupun rupiah." ucap Reyhan nyengir.
" Cuma ada satu, Bang. Kalau eneng kasih, gimana dengan nasib eneng nantinya?"
" Kan bisa dituker dengan hati abang, Neng."
" Huft... gak jelas...!"
Syifa langsung naik di boncengan Reyhan sambil menggelitik pinggang kekasihnya itu.
" Waduh, si Eneng genit juga sampai tukang ojek aja dipeluk - peluk." goda Reyhan.
" Biarin, kan biar gratis... hehehee."
Mereka berdua tertawa sepanjang jalan menuju pemakaman. Syifa semakin mengeratkan pelukannya yang disambut senyum sumringah Reyhan.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.