
Keesokan harinya jam 04.30 Arini sudah bangun, dia kemudian menuju kamar orang tuanya yg berada di utara dinding kamarnya
Kamar itu tidak berisi daun pintu hanya di pasang gorden sebagai penutupnya di kamar kecil sederhana itu hanya ada lemari pakaian di dalamnya selain tempat tidur yg berukuran 2×3.5 meter, cukup lebar biar cukup untuk tiga orang. Ayah, ibu dan adik lelaki semata wayang Arini.
Kadang kadang kalau Arini merasa takut dia juga ikut tidur di kamar itu.
"Ayah bangun anterin aku ke kamar mandi!!! " rengek Arini sambil mengguncang tubuh ayahnya beberapa kali sampai Ayahnya terbangun dari mimpinya.
"Duh, ga tau ngantuk ap?? Kenapa tidak pergi sendiri saja???" gerutu ayahnya sedikit kesal.
"Takut, kalau aku berani tidak mungkin aku membangunkan ayah" seperti biasa Arini tidak mau kalah berargumen dari ayahnya.
"Ayo cepet!!!" kata ayahnya seraya bangun dan beranjak dari tempat tidur.
Sedangkan ibu dan adik Arini masih tidur dengan lelapnya kadang kadang terdengar beberapa dengkuran dari nafas ibunya.
"Mungkin ibu sangat lelah dia harus mencari nafkah sampai sore sehingga selama ini tidak sempat mengurusku dan adik, kasian ayah dan ibu selama ini mereka sudah bekerja keras untuk memenuhi isi dapur" gumam Arini dalam hati.
"Cepat sedikit ayah sangat ngantuk, ayah mau melanjutkan tidur" kata ayahnya dengan suara yg sedikit di tekan
"Iya sabar!! " jawab Arini.
Arini sangat tau watak ayahnya karena wataknya hampir persis sama, selain sama sama keras kepala, angkuh, gengsi mereka juga tidak memiliki cukup kesabaran pada diri mereka.
__ADS_1
Apa yang mereka mau harus segera mereka dapatkan, apa yang mereka perintahkan harus segera di laksanakan jika tidak mereka akan ngomel sepanjang hari parahnya lagi mereka bisa ngambek berhari hari tidak bicara dengan orang yang membuat hati mereka jengkel bahkan kadang kadang orang lain yang tidak tau masalahnya pun bisa kena serudukan kemarahan mereka. Sangat tepat jika pepatah bilang buah tak jauh jatuh dari pohonnya.
Dengan watak ayahnya yang seperti itu Arini memutuskan untuk tidak mandi, dia hanya membasuh muka dan kakinya setelah itu menggosok giginya yang di rasa sudah menebal karena berhari hari tidak di gosok
"Arini cepet!!!" perintah ayahnya dari luar kamar mandi.
"Iya.. Ayah sabar dikit kenapa? Aku masih gosok gigi" jawab Arini mulutnya masih penuh busa pasta gigi sehinga suaranya terdengar sedikit aneh.
Dengan cepat Arini berkumur, kemudian meraih handuk yang tergantung di belakang pintu kamar mandi dengan cepat dia mengelap wajah dan kakinya.
"Lama sekali, gak tau orang ngantuk apa??? " gerutu ayahnya saar Arini sudah keluar kamar mandi.
"Iiihhh... Marah marah terus tidak pernah tidak marah setiap di mintain tolong" jawab Arini yang tidak mau kalah dari ayahnya.
Tidak ada yang sepecial dari dandanan Arini kali ini. Rambutnya di jalin dua lalu di isi pita watna merah di ujung jalinanya, dia lakukn sesuai dengan instruksi bapak kepala sekolah SD nya yg menerangkan tentang kerapian saat berpidato di perpisahan kemarin
Setelah siap Arini pun pergi keluar rumah dengan menbawa tas punggung ynag berisi satu buku tulis dan satu pulpen. Hari ini Arini datang ke sekolah baru bukan untuk belajar tp untuk melihat pengumuman saja. Buku dan pulpen itu ia bawa untuk berjaga jaga jika nanti ada hal penting yg harus ia catat.
\*
__ADS_1
Sampai di sekolah SMP dia langsung menghampiri Wati dan Tia yang sudah sampai duluan darinya. Tia dan Wati adalah sepupu yang sebaya dengan Arini. Selama enam tahun mereka lewati di kelas yang sama waktu SD apakah di SMP mereka akan sekelas juga???? Tidak ada yang tau itu.
"Apa kalian sudah melihat pengumumannya?" tanya Arini
"Belum kami menunggumu" jawab Wati
"Kalau begitu ayo kita lihat sekarang!!! " ajak Arini
Ketiga saudara itupun melangkahkan kakinya menuju mading karena menurut informasi dari kakak kelas yang satu dusun dengan mereka, pengumuman itu katanya di tempel di mading yang ada di sebelah selatan kantor guru.
Benar saja di sana sudah di penuhi oleh anak anak baru yang berasal dari belasan sekolah dasar yang berbeda. Mereka juga penasaran ingin tau nasib mereka di sekolah negeri ini.
Tanpa fikir panjang Arini langsung ikut dalam aksi saling dorong di depannya, sedangkan Wati dan Tia hanya bisa tersenyum melihat tingkah Arini yang tidak mau kalah dari anak anak baru lainnya.
Tak lama kemudian Arini keluar dari aksi saling dorong itu, senyuman tiba tiba merekah di wajah jutek dan sangarnya. Waktu kecil Arini memang terkenal galak, jutek dan sangar bahkan dia pernah adu jotos saat kelas enam SD karena berselisih paham dengan teman lelakinya.
"Yyyeeeee....!!! Aku lolos.... Yes! Yes!" teriaknya sambil jingkrak jingkrak saking senangnya dia sampai tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya.
" Lalu kami bagai mana? " tanya Wati dan Tia hampir berbarengan.
"Tenang saja kalian juga lolos" jawab Arini
" Masak??" Wati seperti tidak percaya
__ADS_1
"Iya benar" Arini meyakinkan kedua saudaranya itu.
"Yyyyeeeeyyyyy" teriak mereka kompak sambil berpelukan