ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 70


__ADS_3

Sampai di pemakaman, Syifa duduk di hadapan makam kedua orangtuanya. Reyhan ikut duduk di sampingnya dengan merangkul bahu gadisnya itu.


Syifa cukup lama terdiam menatap dua nisan di depannya. Mungkin dia sedang berkeluh kesal di dalam hati karena tidak ingin Reyhan mendengar semua curahan hatinya.


Tak berbeda jauh dengan Syifa, Reyhan juga melakukan hal yang sama. Dia terdiam seraya menatap nisan kedua orangtua Syifa.


" Ayah... ibu... Reyhan datang kesini lagi untuk meminta restu untuk menjaga putri kalian. Reyhan berjanji akan membahagiakan Syifa semampu Reyhan. Reyhan sangat mencintai Syifa dan akan melakukan apapun untuknya." batin Reyhan.


" Mas, Syifa_..." ucap Syifa ragu.


" Kenapa, sayang? Panas ya?" sahut Reyhan.


Syifa menggelengkan kepalanya lalu bersandar di bahu Reyhan. Gadis itu nampak ragu untuk mengungkapkan isi pikirannya.


" Mas, Syifa... mau_..."


" Katakan saja, Mas akan melakukan apapun untukmu."


" Syifa mau ketemu dengan wanita yang kau bicarakan tadi."


" Untuk apa, sayang? Biar besok Ardan yang mengantarnya ke kantor biar dia itu tidak merasa diistimewakan. Pokoknya, jika kerjanya tidak bagus jangan dipekerjakan lagi."


" Iya, Mas. Tapi besok Mas juga ikut ke kantor ya? Syifa pengen ditemani sama Mas."


" Iya, sayang. Besok Mas juga ikut ke kantor, Mas akan selalu bersamamu."


" Ya udah, pulang yuk?" ajak Syifa.


" Nggak mau jalan - jalan dulu, sayang?"


" Tidak usah, Mas. Takutnya kak Sony dan Bang Ardan ada kerjaan. Lain kali saja jalan - jalannya."


" Yakin? Mas akan turuti kemanapun sayangku ini ingin pergi."


" Mas kebiasaan, harusnya kalau pertama pulang itu yang dituju orangtua terlebih dahulu."


" Mas tidak mau kekasihku ini merasa dinomorduakan lagi."


" Tidak, Mas. Saat ini Mas tidak punya kewajiban apapun atas diri Syifa. Orangtua itu lebih penting dari apapun juga."


" Iya, sayang. Mas janji, akan adil padamu dan orangtuaku. Kamu jangan pernah merasa sendiri lagi, ya?"


" Iya, Mas. Syifa beruntung dicintai sebesar ini oleh Mas Reyhan."


" Mas juga beruntung bisa mendapatkan cinta gadis cantik ini." Reyhan mengacak rambut Syifa dengan senyum hangatnya.


# # #


Reyhan, Syifa, Ardan dan Sony memutuskan untuk kembali ke rumah masing - masing setelah Syifa pulang dari makam orangtuanya.


Sampai di rumah, Syifa langsung menemui papa dan mamanya di ruang keluarga. Mungkin karena sangat merindukan orangtuanya, Syifa langsung memeluk mama Salma.


" Eh... anak gadis mama kenapa? Apa Reyhan membuatmu menangis lagi?" tanya mama Salma.


" Mmm... tidak, Ma. Syifa habis dari makam ayah dan ibu. Syifa sangat merindukan mereka."


" Jika kamu merindukan mereka, berdo'alah untuk mereka agar mendapatkan tempat yang layak disana."


" Iya, Ma. Oh iya, kok papa tidak kasih kado buat Syifa?" bisik Syifa.


" Kenapa nggak bilang sama papa?" sahut mama.


Papa yang sedari tadi menonton berita di tv mengalihkan pandangannya pada anak angkatnya itu.

__ADS_1


" Ada apa, Fa?" tanya papa Hendra.


" Hehehee... tidak apa - apa, Pa." jawab Syifa nyengir.


" Tadi katanya mau bicara?" timpal mama.


" Ihh... mama, Syifa tidak mau bicara apa - apa." kilah Syifa.


" Ayo ikut papa!" titah papa Hendra.


" Kemana, Pa?"


" Ikut saja."


Papa Hendra berjalan menuju pintu utama diikuti oleh mama dan Syifa. Reyhan yang baru turun dari kamarnya mengikuti mereka dengan heran.


Papa Hendra duduk di bangku taman dengan memainkan ponselnya. Sepertinya ia sedang menghubungi seseorang dan terlihat penuh wibawa dalam ucapannya.


" Kita mau ngapain kesini, Pa? Panas nih, sebentar lagi dhuhur." keluh mama Salma.


" Papa sedang menunggu seseorang, Ma. Sebentar lagi juga sampai kok. Duduk saja dulu, biar tidak capek." ujar papa Hendra.


Reyhan berdiri di belakang Syifa seraya tangannya yang jahil itu tak berhenti memainkan rambut gadis di depannya.


" Mas, kamu ngapain sih?" sungut Syifa.


" Kalian pada ngapain sih disini kayak orang kurang kerjaan saja." kata Reyhan berbisik.


" Nggak tahu, katanya nungguin seseorang. Syifa mau dijodohin kali," sahut Syifa asal.


" Jodohin? Benar, Pa?" teriak Reyhan.


Papa dan mama yang sedang berbincang jadi kaget dengan teriakan Reyhan yang tiba - tiba.


" Pa, memangnya benar Syifa mau dijodohin?" cecar Reyhan.


" Maksud kamu apa, Rey?" tanya papa bingung.


Syifa cuma nyengir di belakang Reyhan yang langsung ditatap aneh oleh mama Salma.


" Syifa bilang papa lagi nungguin orang yang mau dijodohin dengannya," kata Reyhan.


" Hahahaa... kau ini_..."


Belum selesai dengan ucapannya, pintu gerbang dibuka oleh security. Sebuah mobil mewah masuk dengan pelan dan berhenti tak jauh dari tempat papa Hendra menunggu. Tak lama, seorang pria keluar dari mobil tersebut.


" Selamat siang, Tuan." sapa pria itu.


" Ya, apa semuanya sudah beres?"


" Sudah, Tuan. Apakah mau langsung dicoba sekarang?"


" Sebentar, biar anak saya yang mencobanya. Kamu juga sudah bawa bunga yang saya pesan?"


" Iya, Tuan. Ada di dalam mobil beserta surat - surat mobilnya."


" Ambil bunganya dan berikan pada putri saya yang sedang berulang tahun."


" Saya, Tuan? Tapi_..."


" Tidak apa - apa, ini adalah hadiah kejutan dari saya untuk putri tercinta."


Dengan ragu - ragu pegawai showroom itu mengambil buket bunga mawar putih pesanan Tuan Hendra dari dalam mobil. Pria itu berjalan mendekati Syifa dengan senyum yang sedikit dipaksakan.

__ADS_1


" Nona Syifa, selamat ulang tahun. Ini untuk Anda." pria itu sedikit menundukkan kepalanya.


" Untuk saya?" ucap Syifa kaget.


Reyhan yang melihatnya merasa geram dan hampir lepas kendali jika saja mama Salma tak menahannya.


" Sabar, Rey. Jangan sampai Syifa takut dengan sikap arogan kamu itu." bisik mama Salma.


" Tapi, Ma... lihat pria itu,dia memberikan bunga pada kekasih Reyhan." kesal Reyhan.


" Sudah, kita lihat dulu apa yang akan pria itu lakukan pada Syifa."


" Ma, kenapa papa ngelakuin ini sama Reyhan."


" Sabar, anak mama tidak boleh patah semangat."


Terlihat pria itu berbincang dengan Syifa, cukup sopan dan juga ramah. Mereka terlihat berjalan menjauhi Reyhan dan berbincang dengan Tuan Hendra.


" Pa, sebenarnya ini ada apaan sih? Dia ini sebenarnya siapa?" tanya Syifa.


" Dia ini pegawai showroom yang mengantarkan mobil untuk kado ulang tahunmu. Semoga kamu senang dengan hadiah dari papa, Nak." jawab papa Hendra dengan tersenyum.


" Mobil ini buat Syifa, Pa?"


" Iya, sayang. Selama ini kamu sudah berjuang keras untuk membantu papa di perusahaan. Ini hanyalah hadiah kecil yang tidak ada artinya dibandingkan dengan apa yang kamu berikan kepada keluarga kami. Kamu sudah menyatukan keluarga kecil kami yang terpecah - belah."


" Pa, Syifa ikhlas melakukan semua itu. Syifa sayang sama papa, mama dan mas Reyhan. Syifa mendapatkan kebahagiaan di rumah ini, cinta dan kasih sayang kalian tulus seperti orangtua kandung Syifa."


" Kamu gadis yang baik, sudah selayaknya mendapatkan kebahagiaan. Jangan pernah merasa hidupmu sendiri, karena keluarga ini keluargamu juga. Anggap kami sebagai orangtua kandungmu."


" Terimakasih, Pa. Syifa sangat bahagia, hari ini banyak sekali kebahagiaan yang Syifa dapatkan."


Karena sangat bahagia, Syifa memeluk papa Hendra dengan menangis haru. Rasa nyaman merasuk dalam hatinya sama seperti saat dulu dalam dekapan ayah kandungnya.


" Ayah, papa Hendra sangat sayang padaku. Syifa bukannya ingin membandingkan kasih sayang ayah dengan papa, tapi papa Hendra sekarang yang menjaga Syifa menggantikan ayah." batin Syifa.


" Fa, kamu coba mobilnya. Jika ada yang kurang, nanti pegawai ini yang akan memperbaikinya." ujar papa Hendra.


" Syifa coba mobil ini sama dia, Pa?"


" Iya, kan nanti dia yang akan cek dimana letak kesalahan mobilnya yang menurutmu kurang nyaman."


" Ya udah, kalau gitu Syifa coba dulu. Ayo, Mas... kita keliling komplek ini saja." kata Syifa.


Syifa masuk ke dalam mobil di kursi kemudi, sedangkan pegawai showroom itu duduk di sampingnya. Reyhan yang melihatnya semakin marah karena Syifa pergi begitu saja dengan pria itu.


" Pa, kenapa papa biarin Syifa pergi dengan pria itu?" seru Reyhan.


" Memangnya ada yang salah?" tanya papa Hendra.


" Pa, memangnya dia itu siapa? Kok bisa Syifa langsung mau pergi sama dia? Memangnya mereka sudah saling kenal?" tanya mama Salma.


Mendengar pertanyaan istrinya yang bertubi - tubi, papa Hendra malah tertawa. Dia tahu anak dan istrinya itu salah paham.


" Ma, pria itu adalah_..."


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2