
" Astaghfirullah...!" pekik Sony dan Ardan kompak.
" Kalian ini kenapa?"
Ternyata yang keluar dari kamar Syifa adalah tante Salma, ibunya Reyhan. Dia juga terkejut melihat Sony dan Ardan berteriak.
" Kenapa Syifa jadi begini?" seloroh Ardan.
Plaakkk!
Sebuah jitakan keras mendarat mulus di kepala Ardan. Tentu saja itu perbuatan Sony.
" Auwww...!" ringis Ardan.
" Maaf, tante. Ardan memang belum sepenuhnya sadar." ucap Sony.
" Maaf, tante. Kami cari Syifa, apa dia ada di dalam?" tanya Ardan.
" Ada, buat apa pagi - pagi cari Syifa?"
" Kami cari Reyhan tante, mungkin Rey sedang bersama Syifa." kata Sony.
" Reyhan? Dari semalam Syifa tidur di kamar tante dan belum bertemu dengan Reyhan." kata tante Salma.
" Beneran, tante? Jadi Reyhan tidak bersama Syifa?"
" Kalian kenapa bertanya begitu? Apa yang terjadi dengan Reyhan?"
" Tidak ada, tante. Mungkin Reyhan sedang jalan - jalan pagi di pantai. Kalau begitu kami mau ketemu Syifa dulu." ucap Ardan.
Tante Salma kembali ke kamarnya karena tadi hanya meminjam mukena Syifa untuk sholat shubuh. Sony segera masuk ke kamar Syifa bersama Ardan untuk menanyakan keberadaan Reyhan.
" Fa, apa kami mengganggu?" ujar Sony.
" Eh, kak Sony? Bang Ardan? Ada apa...? Masuklah." sahut Syifa.
Sony dan Ardan duduk di sofa, sementara Syifa duduk di ranjang. Dia seperti menanti seseorang.
" Fa, apa semalam kau bertemu dengan Reyhan?" tanya Sony.
" Terakhir bertemu di kamar kalian itu. Setelahnya Syifa tidak bertemu lagi dengannya." jawab Syifa datar.
" Semalam, saat kami mengetuk pintu kenapa tidak kau buka?" ujar Ardan.
" Mungkin Syifa sudah pindah ke kamar mama Salma, Bang. Soalnya semalam Syifa tidur di kamar mama hingga shubuh."
" Huft... kenapa liburan kita kacau begini sih?" gerutu Ardan.
" Bang, memangnya mas Rey kemana?"
" Tidak tahu, Fa. Kami pikir dia bersamamu, dari semalam dia tidak kembali ke kamar."
" Dia kemana? Apa dia masih marah sama Syifa?"
" Tidak, Fa. Reyhan justru mencari kamu karena dia sangat khawatir." kata Sony.
Syifa meneteskan air matanya yang sulit untuk di bendung lagi. Mungkinkah Reyhan menjauhinya saat ini? Mungkin saja kekasihnya itu sangat kecewa padanya.
" Kak, aku mau cari Mas Reyhan. Mungkin dia masih di sekitaran sini." ucap Syifa.
" Baiklah, kami berdua akan menemanimu."
" Tidak usah, kak. Syifa bisa pergi sendiri, kok."
" Tidak, kita cari Reyhan sama - sama."
Mereka bertiga beranjak menuju pantai mencari Reyhan. Dia pasti tidak jauh karena ponselnya saja ditinggal di kamar. Begitu keluar dari hotel, Syifa mengedarkan pandangan ke segala arah berharap dapat menemukan orang yang dia cari.
__ADS_1
Terus menyusuri pantai yang dingin, Syifa tetap bersemangat mencari kekasihnya. Dari ujung sampai ke ujung mereka menapaki pasir pantai, keberadaan Reyhan tak juga muncul.
" Mas, kamu kemana sih? Apa masih marah soal semalam?" batin Syifa.
" Fa, istirahatlah dulu. Wajah kamu pucat, nanti sakit." ujar Sony.
Walaupun gadis itu sudah memakai sweather, namun tetap saja tubuhnya kedinginan. Sony melepas jaketnya lalu dipakaikan pada Syifa. Syifa tersenyum kecil pada kakak angkatnya itu seraya melingkarkan tangannya di lengan Sony.
" Terimakasih, kak. Seandainya saja Mas Reyhan bisa sabar dan peka sepertimu_..."
" Eh... tidak boleh bicara begitu, setiap orang itu memiliki sisi baik dan buruk masing - masing. Banyak kelebihan yang dimiliki Reyhan yang tak ada padaku."
Ardan yang sedari tadi hanya diam, menatap jauh ke arah mushola. Ada sosok yang begitu familiar disana sedang berjalan terhuyung.
" Fa, bukannya itu Reyhan?" teriak Ardan.
" Mana, Bang?"
" Itu, di depan mushola." tunjuk Ardan.
" Oh, iya. Itu memang Reyhan, Fa." kata Sony.
" Ayo kita kesana!" seru Syifa.
Syifa berlari diikuti Sony dan Ardan menghampiri Reyhan yang berjalan tak tentu arah.
" Mas Reyhaannn!" panggil Syifa.
Reyhan yang sudah sangat lemah hanya menoleh dan tersenyum kecil. Dia merasa lega karena Syifa sudah bersama dengan Sony dan Ardan. Dia menghentikan langkahnya yang sedikit sempoyongan.
" Mas darimana saja? Kami mencari Mas dari tadi." ujar Syifa.
" Kamu baik - baik saja, sayang? Maaf aku sudah membentakmu semalam." ucap Reyhan lirih.
" Tidak apa - apa, Mas kenapa disini? Sejak kapan?" tanya Syifa seraya meraih lengan Reyhan.
" Mas tidak apa - apa, sayang. Maaf ya, tadi nggak bisa ajak kamu lihat sunrise."
" Kenapa mikirin itu, Mas itu sedang sakit!"
" Maaf ya? Mas terlalu egois dan tidak memikirkan perasaan kamu." Reyhan menarik tubuh Syifa ke dalam pelukannya.
" Kita kembali ke kamar ya? Mas harus istirahat biar nggak sakit."
" Kak Sony, bang Ardan... tolongin Mas Rey kembali ke kamar." pinta Syifa.
" Reyhan kenapa?" tanya Ardan.
" Suhu tubuhnya panas sekali." kata Syifa.
Sony dan Ardan segera memapah tubuh lemah Reyhan masuk ke hotel. Pegawai yang semalam menemaninya masuk ke kamar Syifa melihatnya dan segera menghampiri.
" Tuan, bukankah Anda yang semalam meminta kunci kamar nomor 205? Anda tidak apa - apa?"
" Dia hanya kelelahan saja." jawab Sony.
Syifa yang berada di belakang langsung menghentikan langkahnya tepat di hadapan pegawai hotel itu.
" Mas, jadi dia semalam masuk ke kamar 205?" tanya Syifa.
" Iya, mbak. Semalam saya yang menemaninya, katanya khawatir dengan calon istrinya yang tidak mau keluar kamar. Namun, saat kami masuk tidak ada siapapun disana. Mas itu kemudian mencari ke pantai sendirian." jawab pegawai itu.
" Terimakasih infonya, Mas." kata Syifa.
Syifa segera berlari menyusul Reyhan yang hampir masuk ke dalam lift. Melihat wajah kekasihnya yang pucat, Syifa merasa tidak tega. Sampai di dalam kamar, Sony memeriksa keadaannya lalu memberikan obat penurun panas dan vitamin yang selalu ia bawa kemanapun. Syifa juga diberikan vitamin agar tubuhnya juga lebih kuat.
" Kau istirahatlah dulu, kami akan keluar cari sarapan." ujar Sony.
__ADS_1
" Terimakasih," sahut Reyhan pelan.
" Tidurlah, aku akan carikan sarapan untukmu." ucap Syifa.
" Jangan pergi," pinta Reyhan dengan menggenggam erat tangan Syifa.
" Kamu disini saja, Fa. Nanti aku bawakan sarapan buat kalian." kata Ardan.
" Jangan kasih tahu orangtua kita kalau aku sakit, nanti mama jadi cemas." pinta Reyhan.
" Baiklah, nanti kau ada yang tanya aku bilang saja kalian bulan madu... hahahaa," seloroh Ardan yang langsung mendapat timpukan bantal dari Syifa.
" Pergi sana, berisik!" usir Syifa.
Setelah Ardan dan Sony keluar, Reyhan menarik tubuh Syifa hingga terbaring ke dadanya. Mereka sangat dekat, tak ada celah yang menjadi jarak keduanya.
Reyhan menatap dalam wajah cantik kekasihnya, mengagumi ciptaan Tuhan yang sangat sempurna di matanya. Pelukan semakin erat yang dia lakukan membuat gadis diatasnya menggeliat.
" Mas, lepaskan! Kau harus istirahat," titah Syifa.
" Janji kau tak akan pergi lagi dariku?" ucap Reyhan menghiba.
" Iya, sekarang lepaskan!"
" Iya apa?"
"Iyaaaa... terpaksa." ucap Syifa nyengir.
" Diamlah, jangan gerak - gerak terus." ucap Reyhan sedikit frustasi.
" Kenapa?" tanya Syifa santai dengan memainkan pipi Reyhan.
" Jangan menggodaku, sayang. Apa kau mau tanggung jawab?"
" Tanggung jawab apa?" goda Syifa.
" Mulai berani sekarang ya?"
" Makanya lepasin pelukannya!"
" Tidak, temani Mas tidur. Kamu darimana semalam? Mas cariin kemana - mana tidak ada."
" Syifa di kamar mama, memangnya ngapain malam - malam nyariin?"
Reyhan merebahkan Syifa di sampingnya lalu kembali memeluknya dengan erat. Tak ada kata yang mampu mengungkapkan perasaannya sekarang.
" Maaf, sayang. Aku hanya bisa membuatmu menangis dan bersedih." lirih Reyhan.
" Tidurlah, Mas butuh banyak istirahat. Perginya di cancel aja ya?" pinta Syifa.
" Tidak bisa sayang, lusa Mas ada meeting dengan klien penting."
" Ish... Syifa masih kangen sama Mas Reyhan," rengek Syifa.
" Iya, sayang. Mas juga berat harus jauh dari kamu, tapi pekerjaan ini juga sangat penting."
" Ya sudah, sekarang istirahatlah."
Reyhan memeluk Syifa dengan erat hingga keduanya terlelap ke dalam alam mimpi.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.